Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Delapan Puluh Tiga:Kepribadian lain Cantika


__ADS_3

      Kedua langkah kakinya terus berjalan cepat ini harus di selesaikan dan tidak akan menimbulkan nyawa seseorang yang tidak bersalah. Mungkin imajinasi-imajinasi itu memasuki tubuh manusia agar mereka seperti terlahir kembali. Atau mungkin membantu untuk menghabisi imajinasi jahat. Ia menuju lantai atas dimana kelas kakak kelas Cantika berada sesekali melihat ke pintu setiap kelas dan tidak sengaja menabrak seorang gadis memprotes.


"Jalan itu lihat-lihat dong!"protesnya menggertakkan gigi menatap Lidya kesal.


"Kau sama saja seperti gadis jelek itu. Sama-sama payah!"ucap gadis tersebut lalu melewati Lidya. Gadis itu segera mengintip jendela melihat Cantika duduk termenung dan tidak ada salah satu temannya yang mendekatinya.


Lidya mengucapkan salam dan meminta izin masuk buat menghampiri Cantika. Saat mengatakan itu Lidya di tatap aneh serta ada kekehan kecil membuat ia sama sekali tidak mengerti padahal kakak kelasnya itu biasa saja tidak ada aneh. Apa mungkin perkataannya benar bahwa Cantika sering di ejek temannya sebab wajahnya yang jelek.


  Suara kursi terdengar mendekat ke bangku Cantika, gadis itu menoleh melihat Lidya tengah tersenyum tipis ke arahnya.


"Mengapa kau ada disini,Lid?"tanya Cantika pelan lalu memalingkan wajahnya, air mata terus membasahi pipi. Lidya tersenyum tipis, "Jangan sedih, kau pasti akan segera mengetahui siapa itu Jimin."hiburnya dibalas gelengen tidak mungkin dari Cantika.


"Tidak. Itu tidak akan terjadi sebab aku sudah merasa kalau aku itu hanya sebuah lumut yang hanya bisa menjadi parasit dan di caci maki oleh orang-orang di sekitarku."ucapnya pelan.


Lidya menjadi gelisah dan khawatir melihat kakak kelasnya ini lalu datanglah gadis yang tadi Lidya tabrak kembali ke kelas.


"Ooo ternyata kau ingin bertemu gadis jelek ini. Dia itu tidak pantas mendapatkan teman mending kau pergi dari dia. Aku kasihan sama adik kelas yang menjadi teman gadis jelek ini."ucapnya mengejek Cantika lirikkan tidak suka terlihat jelas. Lidya yang melihat ekspresi yang sangat di bencinya itu kesal.


Rasanya ingin sekali memukul mulutnya yang kelewatan sampai penuh darah tetapi sayangnya ia tidak akan melakukan hal sekeji itu.  Ia bangkit berdiri menatap tajam gadis tersebut, menunjuk.


"Jangan mengejek Kak Cantika seperti itu!"tegasnya.


"Dia itu tidak melakukan kesalahan pada kakak. Harusnya kakak itu tahu dan berpikir dewasa sedikit bahwa manusia itu mahluk sosial. Mana bisa manusia itu hidup sendiri tanpa orang lain. Coba saja kakak di posisi Kak Cantika pasti lebih menyakitkan."lanjut Lidya penuh penekanan.


Gadis tersebut tertawa terbahak-bahak kalau adik kelasnya ini membela gadis bermuka jelek. Ia memberitahu kebiasaan buruk Cantika pada Lidya tetapi masalah bodoh bagi Lidya, persetanan.  Sekarang ia tidak peduli dengan apa yang di bicarakan oleh kakak kelasnya yang tidak tahu diri.


"Aku ingin sekali memukul kakak tapi kakak adalah kakak kelasku. Mana mungkin aku melakukan hal itu karena masalah sepele."kata Lidya akhirnya perkataan yang selama ini di unek-unek keluar. Gadis tersebut masih tertawa dan menyuruh semua yang berada di kelas tertawa.


Tawa itu tawa ledekkan menggelegar memenuhi kelas 11 Akuntansi 1. Cantika yang hanya diam berdecih ia memejamkan mata sudah tidak kuat menahan ledekkan dari teman-temannya dalam hatinya lebih baik ia mati daripada hidup yang penuh orang membencinya.


"Bener kan begitu Cantika. Kau sebaiknya tidak sekolah disini lebih baik sekolah di make up saja meski di sekolah make up wajahnya tetap jelek. Kan dia jelek sejak lahir."ucapnya membuat volume tawa semakin keras. Lidya mengepalkan kedua tangannya melihat Cantika menunduk tanpa ada balasan atas perkataan temannya ini.


"DIAM SEMUA!"ucap Cantika membuat tawaan mereka diam seketika. Melotot karena suara Cantika tidak seperti biasanya, suaranya berganti menjadi seorang laki-laki. Lidya yang ada di sampingnya terkejut dan merasakan ada sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.

__ADS_1


  Cantika bangkit berdiri dan menatap mengarah gadis yang sedari tadi mencaki maki Cantika tanpa henti dan menciptakan tawa hina. Ekspresi Cantika berbeda jangankan ekspresinya penampilan rambutnya juga berbeda lebih cenderung acak-acakan seperti laki-laki.


Gadis di hadapannya takut dengan perlahan mulutnya terangkat,"a-ada a-apa yang terjadi padamu Cantika?"ucapnya.


Cantika tersenyum miring membuat Lidya sedikit menganga dalam pikirannya ini gawat!.


"Cantika hahaha. Kau sekarang tidak berhadapan dengan Cantika melainkan...Jimin."ucapnya terkekeh menarik kasar gadis itu dan membawanya ke belakang lalu mendorong tubuh gadis itu kasar menatap tembok. Cantika mencekal kera baju.


"Aku sudah muak mendengar semua makianmu menghina Cantika, sekarang,"ucapnya mengangkat tubuh gadis itu sedikit sampai kedua kakinya tidak menyentuh lantai. Semua murid ketakutan dan menelan ludah kasar, Lidya menahan nafas melihat pemandangan tidak enak tepat di depan matanya. "Sekarang giliranmu Fena. Giliran kau yang merasakan apa yang Cantika rasakan."lanjutnya mendorong gadis itu ke samping kanan membuat suara berisik tercipta.


  Lidya menutup mulut dengan kedua tangannya. Ini adalah kepribadian ganda seseorang. Kepribadian ganda bisa timbul karena lingkungan yang di sekitarnya tidak baik atau sering di perlakukan tidak baik pada orang-orang sekitar membuat orang itu sedikit depresi dan mencoba untuk melupakan apa yang terjadi pada masa lalunya. Dengan cara mengeluarkan kepribadian lain tanpa di sadari oleh pribadi asli.


Setahu Lidya itu yang pernah ia baca disebuah artikel. Mungkin ini sudah kelewatan jadi Cantika tanpa sadar menyebut nama pribadi lain dengan nama yang sering ia sebut Jimin. Namun, mimpi yang dikatakan Cantika itu apa?.


Cantika ingin memukul Fena yang sudah meminta ampun tidak akan menghinanya lagi tetapi kepribadian bernama Jimin itu seolah tidak mengampuninya. Ia ingin meluncurkan tinjuannya dengan cepat Lidya melompat ke atas meja dan menahan kuat pergelangan tangan Cantika.


  Lirikkan tidak biasa mengarah ke Lidya, "Lepaskan! Dia harus di kasih pelajaran kalau tidak ia tidak bakal kapok!"ucapnya mencoba melepaskan genggaman kuat dari Lidya.


"Tidak! Ia sudah meminta maaf dan memohon ampun, Jimin. Jadi kau harus melepaskannya."ucap Lidya tegas memanggil nama Jimin. Menoleh mengarah ke Lidya bahwa perkataannya itu dapat di pegang lalu mengalihkan pandang mengarah ke Fena yang sudah menangis dalam diam dan beberapa luka kecil di tubuhnya.


  Ia menoleh melihat pergelangan tangan dingenggam oleh Lidya yang mencegah hal yang tidak diinginkan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanyanya dan kembali berdiri, Cantika sama sekali tidak mengingat apapun melihat semua teman-temannya menatap ia takut. Lidya melepaskan genggaman tangannya ia membisu tidak ingin mengingatkan Cantika bahwa sosok kepribadian lain berada di tubuh kakak kelas ini.


Di sebabkan hatinya terus tertekan dan menbuat si pemilik tidak bisa menahan sehingga pribadi lain seperti menguasai raga Cantika.


"Tidak ada apa-apa."kata Lidya gugup.


  Kemudian ketua kelas Melviano dan beberapa anggota osis datang bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Beni menghampiri Lidya dan Cantika.


"Ada apa disini?"tanyanya sambil mengintip di belakang ada yang terluka.


"Siapa pelakunya?"tanya Melvi dingin langsung to the poin.

__ADS_1


Cantika menghela nafas kasar,"aku!"ucapnya meski ia sama sekali tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi tapi ia merasa bahwa ia penyebabkan semua ini.


Melvi menatap wajah Cantika datar, "Kau harus ikut kami di BK!"perintahnya. Lidya ingin mengatakan sesuatu di balas Cantika senyuman tipis seolah semua akan baik-baik saja.


"Jangan khawatir."ucapnya mengikuti beberapa osis.


"Ben. Kak Fena harus di bawa ke UKS untuk mengobati lukanya."kata gadis yang memiliki tag name Rika.


"Bawa dia!"titah Beni.


Setelah beberapa osis sudah pergi kini tinggal Beni dan Lidya yang masih berada di kelas 11. Beni menoleh ke Lidya.


"Kau bisa membuat laporan masalah ini?"


Lidya menggangguk dan berjalan beriringan dengan Beni menuju ke kelas. Sampai di kelas mereka berdua di sambut oleh murid lainnya yang selalu ramai sampai depan kelas.


"Ben. Apa urusannya sudah beres?"tanya Elle menghampiri mereka berdua.


"Sudah."kata Beni singkat.


"Apa yang terjadi pada Kak Cantika? Tadi ia kayak gimana jadi aku memanggil osis."kata Elle.


"Oh jadi kamu yang manggil mereka?"tanya Lidya dibalas angguk.


"Karena aku sudah tidak tahan jadi aku langsung melaporkannya dan aku tadi menguntitmu dari belakang. Aku pikir kau sedang sedih, Lid."Ucap Elle sebuah pengakuan membuat Lidya tersenyum tipis.


"Haha nggak apa-apa kok. Aku tadi sudah tahu Jimin itu siapa?"celetuknya membuat Elle penasaran sedangkan Beni bertanya-tanya.


"Jimin? Jimin siapa?"tanya Beni tidak mengerti.


"Aku tidak bisa menjelaskan biarkan itu sebuah rahasia."kata Lidya berjalan santai menuju ke bangku.


Lalu datanglah Aska dan Pandu menyuruh semuanya duduk di bangku masing-masing sebentar lagi akan ada pembagian surat untuk masuk ke SMA Strength. Semua murid berseru ria.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2