
Semua murid berhamburan keluar kelas karena jam istirahat sudah tiba. Sesuai yang dikatakan Lidya kemarin ia akan mengajak Elle mengelilingi sekolah SMK Cemerlang. Lidya sangat bersemangat mengajak Elle mengelilingi sekolah. Kedua gadis tersebut keluar kelas dengan sigap Lidya memulai menuju ke pojok kanan sekolah.
Sepanjang perjalanan Lidya menjelaskan semua dan ruangan-ruangan yang ada. Elle mengangguk mengerti melihat ruangan ekstrakurikuler dan ruangan osis yang selalu ramai. Mereka berdua juga bertemu dengan ketua osis,Melviano. Elle sempat menganga melihat ketampanan ketua osis dan merasa dingin saar ketua osis itu melewatinya.
Lidya tersenyum mengatakan,"Kak Melvi bukan hanya osis biasa. Dia adalah osis yang kuat dan memiliki kekuatan hebat yaitu es."jelas Lidya membuat Elle terkejut menoleh melihat mata gadis itu yang sama sekali tidak berbohong dengan ucapannya.
Itu artinya bukan Elle doang yang memiliki kekuatan aneh melainkan beberapa anak yang memiliki kekuatan aneh secara tiba-tiba. Lidya kembali mengelilingi sekolah dan menjelaskan terus terang. Lalu mereka berhenti menatap lapangan yang penuh anak laki-laki bermain bola dan disana ada kelompok Jay dan juga ada beberapa anggota osis ikut main.
Elle menghela nafas sejenak melirik mengarah Lidya tentang masalah kekuatan. Ia sangat kepo bagaimana bisa manusia biasa secara tiba-tiba mendapatkan kekuatan aneh dan juga hebat. "Lid, aku mau mengatakan sesuatu padamu masalah kekuatan yang kau maksud tadi."ucapnya serius.
Lidya menoleh bentar ke teman barunya itu, mengangguk kembali menatap ke depan. "Tanyain aja. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu."
"Bagiamana bisa manusia biasa mendapatkan sebuah kekuatan secara tiba-tiba? Dan itu pun tidak sepenuhnya orang memiliki kekuatan."tanya Elle membuat Lidya bungkam mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut Elle.
Ia tidak mau semua orang tahu bahwa kekuatan-kekuatan itu muncul karena pintu imajinasi terbuka lebar-lebar membuat penghuni disana keluar dari pintu tersebut dan bersemayam di tubuh manusia biasa. Membuat orang itu mendapatkan kekuatan atau orang tersebut harus disakiti dengan kekerasan sampai tidak berdaya. Dan imajinasi tersebut masuk ke tubuh orang itu memberikan kekuatan kalau orang tersebut tidak lemah seperti orang lain pandang dari luar.
Elle menunggu jawaban dari Lidya,"jadi kenapa orang biasa secara tiba-tiba mendapatkan kekuatan dan itupun tidak semua orang yang berada di bumi ini,"kata Elle melipat kedua tangannya, menunduk,"aku ingin sekali tahu tentang itu."
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu."jawab Lidya singkat.
"Apa disini juga ada murid yang memiliki kekuatan?"
"Ada. Hanya beberapa murid saja, tidak seluruh murid SMK Cemerlang."jawab Lidya lagi.
Elle merasa sedih tidak bisa menguak penyebab kekuatan itu berasal,dari dulu ia setelah mendapatkan kekuatan aneh di tubuhnya. Sangat penasaran asal usul kekuatan itu dan pernah bertemu dengan orang asing tetapi tidak sebegitu jelas dimatanya. Yang ia ingat adalah...
"Kau akan tahu sendiri kenyataan yang menurutmu aneh."
Hanya itu saja yang bisa di sampaikan oleh orang asing itu, tidak lebih. Dan perkataannya pun tidak bisa dimengerti olehnya "tahu sendiri kenyataan". Keduanya dilanda keheningan begitu lama, mereka sama-sama sibuk memikirkan sesuatu.
Langit biru begitu cerah banyak awan yang menghiasi langit biru itu membuat terkesan indah. Murid-murid seperti biasa melakukan aktivitas masing-masing di jam istirahat, ada yang duduk santai di tepi lapangan, bercanda, bermain bola atau menatap ke depan--melamun.
__ADS_1
"MANA PEMUDA BERNAMA JAY GEORGE!"teriak seseorang membuat Lidya dan Elle terkejut, tidak hanya mereka berdua saja yang terkejut mendengar teriakan itu. Tetapi semua murid yang ada di lapangan dan murid tengah asik bermain bola juga terkejut, semuanya menoleh ke sumber suara yang berasal dari sudut kanan sekolah.
Disana ada beberapa murid laki-laki dengan gagahnya berjalan menuju ke tengah lapangan setelah berteriak kencang memanggil nama Jay. Elle melebarkan kedua matanya, berkali-kali berkedip.
"Kenapa orang itu berteriak?"tanyanya dibalas gelengan pelan Lidya.
"Aku tidak tahu."jawabnya singkat. Lidya melihat apa yang sebenarnya terjadi padahal ia berharap di tahun ini tidak ada kejadian aneh lagi seperti tahun kemarin yang tiba-tiba beberapa orang mendapatkan kekuatan aneh disebabkan oleh pintu imajinasi yang terbuka tidak bisa ditutup kembali.
Tapi sekarang, apa yang akan terjadi di tahun ini. Kepala Lidya merasa jenuh dan beharap semua berakhir dengan cepat. Kembali ke masa lalu dimana semua menjalani hidup tanpa adanya kekuatan. Lidya mau tidak mau terlibat dalam masalah imajinasi yang semakin lama bertambah banyak.
Pemuda bernama Alvan kembali membuat rusuh sama seperti waktu itu, ia menantang Jay lagi. Mimik wajah Alvan terlihat sangat marah, tangan kanannya mengepal bahwa tandanya ia memang siap untuk menantang Jay yang merebut tingkat kepopulerannya.
Ia berdiri tegak di tengah lapangan, matanya menelisik ke semua orang. "Mana pemuda bernama Jay itu?"tanyanya penuh tekanan kesal.
Di belakang dekat gawang berdirilah Jay bersama kedua temannya yang selalu pergi bersama Jay; Aska dan Nando.
"Anak itu minta apa lagi sih pasti masalah tahun lalu itu."ucap Nando yakin, ia sangat kesal bertemu dengan Alvan. Kakak kelas yang baginya sangat bodoh hanya karena Jay lebih populer darinya di permasalahkan menjadi besar seperti ini.
"Dasar kakak kelas caper."komentar Nando.
"Mana anak yang sok ganteng itu! Sini keluar! Jangan sembunyi. Aku tahu, sebenarnya kau itu pengecut! Dan tidak pantas menjadi bintang di sekolah ini."ucapnya lantang mencaci-maki Jay.
Entah kenapa malah Nando yang sangat kesal mendengar kalimat itu dan ingin menonjok kakak kelasnya hingga terpental jauh.
"Sini berdiri di hadapanku! Aku menantangmu Jay George. Masalah kemarin belum kita selesaikan."ucapnya lantang dan tersenyum miring.
"Aku akan menantangmu bermain sepak bola."ucapnya lagi.
Saat kalimat terakhir Alvan,pemuda tersebut tidak berbicara lagi. Suasana kembali hening. Jay berjalan menghampiri Alvan yang berdiri di tengah lapangan dengan perasaan kesal, marah menjadi satu. Alvan melihat pemuda pengecut itu memperlihatkan batang hidungnya setelah ia berteriak kencang di tengah lapangan.
"Aku menerima tantanganmu Kak Alvan."kata Jay sampai di depan Alvan.
__ADS_1
Alvan melihat manik cokelat Jay, ia benar-benar membuat hatinya yang kesal menjadi adem tapi dengan cepat ia mengalihkan pandang dari mata itu. Dan menyakinkan hatinya bahwa ia ingin menantang Jay dengan jaminan kepopulerannya kembali.
Tentu saja Jay menghela nafas kasar mendengar taruhan yang baginya itu tidak ada gunanya.
"Tidak masalah. Kalau aku menang kau harus sadar dengan perilakumu Kak Alvan. Aku tidak meminta apapun hanya itu saja."kata Jay santai.
Alvan mengangguk mantap,"ok, aku terima. Kalau aku menang kepopuleranku harus kembali."ucapnya melihat Jay berbalik mencari anggota pemain sedangkan Alvan sudah menyiapkan anggotanya.
Alvan berbalik badan tersenyum miring,aku akan menantangmu dalam permainan sepak bola... Yang tidak biasa yaitu melakukan kecurangan.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Di belakang sekolah berdiri pemuda bernama Vin yang mengobrol santai bersama Abimanyu. Mereka berdua sesekali tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon yang mereka ciptakan.
Abimanyu melihat Vin lalu menyenggol lengan kakak kelasnya itu,"Kak. Kakak kok tidak pernah mengobrol sama teman kakak lainnya padahal teman kakak hebat-hebat loh."ucapnya dibalas gelengan pelan.
"Tidak. Mereka tidak nyaman denganku karena aura menyeramkan dari tubuhku. Kau tahu kan."kata Vin melirik ke Abimanyu.
Mereka berdua menatap langit biru yang cerah. Anak SMP, Abimanyu merasa sesuatu ke anehan, ke anehan yang berhubungan dengan kekuatan paling menakutkan. Ia melirik ke Vin bentar tetapi kekuatan Vin tidak seperti yang dirasakan olehnya.
Vin berjalan ke depan tatapannya melihat ke kanan-kiri seperti ada sesuatu yang tidak beres. "Abi. Kau merasakan sesuatu?"
"Iya. Seperti aura paling menyeramkan."
"Apa itu dari kekuatanku?"tanya Vin serius menoleh ke adik kelasnya. Menggeleng sebagai jawaban,"tidak."
"I--ini tidak bisa kujelaskan secara rinci."ucap Abimanyu. Kedua matanya berubah menjadi orange segera Vin mengalihkan pandang ke arah lain.
Pemuda itu mengeluarkan kekuatannya mencoba mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Bayangan hitam berdiri di hadapan Vin membentuk seperti kucing dan bayangan kucing tersebut berlari masuk mengarah ke sekolah tetangga SMP.
Abimanyu memanggil Vin menyuruhnya untuk kembali ke sekolah, takut kalau terjadi apa-apa sebab aura yang sangat pekat itu dari SMK. Mata Vin memincing.
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung....