
Semua murid SMA Strength sudah bersiap-siap untuk berperang besok dan memilih menghabiskan waktu dengan orang terdekat. Gadis berambut bergelombang yang duduk sendirian di bangku kelas sembari mengetuk pensil di genggamannya ke meja. Sepertinya gadis itu tengah berpikir keras dan sering melamun di dalam kelas.
Firasatnya buruk sangat buruk apalagi besok adalah peperangan imajinasi dengan Keysa. Ia malah merasa kalau peperangan besok itu biasa saja karena persiapan teman-temannya sudah matang dan siap di luncurkan. Tapi ada rasa janggal di dalam hatinya itulah membuat pikiran Lidya terganggu. Pensil biru itu memukul pelan kepalanya berusaha berpikir, apa yang menjagal hatinya dan kenapa perasaannya memburuk?.
"Aduh,aku merasa tidak enak!"kesalnya menyerah berpikir keras dan akhirnya memilih menaruh kepala di kedua tangannya. Kemarin sudah pusing menyusun rencana dan strategi tapi sekarang ia merasakan firasat buruk yang dalam.
Sebuah gelembung sabun mengarah banyak ke arah Lidya membuat gadis itu mengangkat kepalanya dan menoleh mendapati Iva, adik Charlie tersenyum ke arahnya.
"Kak Lidya!"panggilnya menghampiri Lidya dan menarik kursi di sampingnya.
Iva memerhatikan wajah Lidya lekat dan menebak kalau Lidya merasa tidak enak serta ragu untuk berperang besok. Lidya mengangguk mengiyakan dan mengelus kepala Iva, ia jadi teringat Keno--anak panti asuhan.
"Va. Apakah kakakmu siap untuk melawan besok?"tanya Lidya sekadar basa-basi daripada harus mengingat firasat yang ingin menghantui pikiran Lidya, apa yang terjadi besok.
Iva tersenyum mengembang,"Ya, dia sangat senang sekali dan tidak sabar untuk melawan musuh jahat itu!"ucap Iva dengan semangat membuat Lidya sedikit terhibur.
Lalu Lidya mengajak Iva berjalan menuju ke perpustakaan SMA Strength. Sudah dua minggu ini perpustakaan itu sudah kembali terbuka dan tidak sedikit murid masuk ke perpustakaan untuk membaca. Mereka berdua masuk ke dalam perpustakan dan Iva berlarian ke perpustakaan menuju ke rak buku yang berisi kisah dongeng.
Lidya melihat sekeliling begitu banyak buku-buku di rak dan pengunjung perpustakaan disini. Padahal awalnya yang datang kesini adalah Tio lalu Lidya. Gadis itu berdiri melihat-lihat buku fantasy lalu berjalan sedikit maju ada judul buku yang menarik perhatiannya.
Di ambilnya buku tersebut masih terlihat bagus nan mulus seperti baru. Judul bukunya tertulis "Api Balas Dendam" dilihatnya cover buku itu penuh gambar api dan di tengah api ada manusia yang ada didalam api itu. Dibalik buku itu, membaca sinopsis.
Mulut Lidya membaca pelan sinopsis buku tersebut. Bahwa buku ini mengisahkan tentang seorang gadis SMA yang kehilangan orang terdekatnya, orang yang di sayanginya. Mereka di bunuh oleh seorang misterius di hari yang sama dan waktu berbeda.
Pacarnya mati di sore hari sedangkan orang tuanya mati di malam hari.
__ADS_1
Kepala Lidya manggut-manggut dan merasa kalau kisah ini begitu menyeramkan serta menyakitkan. Lidya yang hanya membayangkan sedikit saja sudah ngeri akan tetapi ia juga penasaran dengan kisahnya. Di sisi lain sadar kalau bukan waktunya membaca buku tapi waktunya menyelamatkan dunia dari imajinasi jahat.
"Siapa penulis buku ini ya?"tanyanya pada dirinya sendiri membalikkan buku lagi dan melihat ke bawah judul buku itu mendelik mengetahui nama penulis tersebut.
Dinata Roro Ayu
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Sedangkan kelompok pemburu monster Jangkrik telah melanjutkan perjalanan mencari mangsanya tersebut. Ilham berjalan memimpin pasukannya terlihat wajah salah satu pemuda itu tidak semangat harus mencari monster jangkrik itu. Zaidan, kakak kelas Pandu sedaritadi memerhatikan adik kelasnya ini murung tak bersemangat.
"Hei Pan. Murung saja, apa ada masalah?"tanya Zaidan membuka suara.
Pandu hanya bisa menggeleng menganggapi pertanyaan Zaidan. "Kalau nggak ada masalah. Kenapa wajahmu selalu murung begitu?"tanya Zaidan lagi berjalan mengikuti Ilham. Pandu hanya diam tidak menjawab membuat Zaidan menghela nafas kasar sedikit kecewa.
Gadis bernama Muntia itu menatap kompasnya yang ujung jarum kompas tersebut ada warna hitam lalu merah, bolak-balik berganti warna. Tidak hanya itu saja arah jarum kompas tersebut berputar sangat cepat tidak terkendali membuat mata cokelat gadis itu membulat sempurna.
Sedangkan Ilham yang melihat itu hanya memandang kompas tersebut biasa saja. "Mungkin kompas petunjuk arahnya rusak. Buang saja kompas itu."ucapnya dibalas lirikkan sinis dari Muntia.
"Enak saja. Kompas petunjuk aura kegelapanku sangat handal tahu! Dan tidak pernah rusak. Kalau begini..."omel Muntia ke Ilham belum sempat Muntia melanjutkan kalimatnya.
Zaidan melihat sekeliling mereka sudah di kepung banyak anak muda serta anak-anak. Mereka--kelompok Ilham tidak bisa merasakan kekuatan kuat dari mereka yang mengepung jalan menuju ke monster jangkrik.
"Kenapa aku tidak bisa merasakan kekuatan mereka?"gumam Zaidan membuat Pandu melotot. Ia pernah dengar kalau ada yang disebut 'Imagination Alone '.
Pemilik kekuatan imagination alone itu sangat mudah dikelabui oleh musuh dan kekuatan mereka yang bisa dibilang cenderung kesepian. Jadi aura dan kekuatan mereka tidak bisa tertedeksi apalagi kalau salah satu dari mereka, Imagination alone. Memiliki kekuatan yang agak tinggi, bisa gawat.
__ADS_1
Lemah dari yang lemah akan menjadi lebih berbahaya. Tanpa babibu mereka Alone Imagination menyerang kelompok Ilham.
Ilham dengan segera memanah mereka tapi ada yang memiliki kecepatan kilat sehingga pergerakannya tidak bisa dibaca oleh Ilham. Anak itu sudah berada di belakang Ilham dan memukul pemuda tersebut hingga terjatuh.
"Sial!"umpat Ilham berusaha bangun.
Pandu melawan mereka para Alone Imagination dengan tingkat keseriusan dan berpikir keras. Pandu berhasil melumpuhkan musuh dengan mudah akan tetapi tiba-tiba ia terjatuh tanpa ada setuhan dari musuh. Menoleh mendapati seorang gadis yang berdiri diam di sana.
Lalu tubuh Pandu tiba-tiba terangkat ke atas dan gadis itu tersenyum miring membuat Pandu geram. Muntia yang melihat temannya kesusahan ia mengangkat tangan ke atas membaca mantra sihir.
"Senjata jarum kompas!"serunya keluarlah sebanyak enam jarum kompas yang berada di sisi tubuh Muntia. Kedua matanya tertuju ke arah gadis yang ingin mencelakai Pandu.
"Seraplah kekuatannya hingga habis!"perintahnya seketika keenam jarum tersebut menuju ke arah gadis itu, kekuatan Alone Imagination. Jarum tersebut berhasil menancap ke tubuh gadis tersebut membuatnya tumbang dan Pandu mendarat mulus ke tanah dengan nafas ngos-ngosan.
Kemudian ada dua remaja anak kembar menyerang Pandu bersamaan. Pandu yang belum siap melawan akhirnya terjatuh memegangi perutnya menatap kedua anak kembar, laki-laki dan perempuan di depannya. Memang aura mereka menggebu-gebu dalam 'balas dendam' tanpa disadari oleh mereka kalau sebenarnya mereka hanyalah budak musuh untuk mengulur waktu lebih panjang.
Pemuda itu bangkit sambil mengusap tanah di sudut bibirnya, ada rasa perih disana akibat serangan musuh.
Kalau begini caranya, aku dan lainnya tidak bisa mencari monster jangkrik buat mendapati gantungan kunci itu, batin Pandu kesal harus meladeni mereka para Alone Imagination.
Ia tidak tahu seberapa besar jumlah mereka yang tergolong Alone Imagination.
*Jangan anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1