
Sebuah cafe yang sangat tentram dan ada hanya beberapa pelanggan yang datang di cafe ini. Di kursi dekat jendela terlihat kedua orang pemuda yang canggung disana. Mereka sama-sama bingung ingin membicarakan tentang apa, suasana sangat canggung.
Di atas meja sudah terdapat dua cangkir coffe latte yang hangat. Pemuda berambut panjang sebahu itu menatap pemuda di depannya seksama. Ia hanya diam dengan wajah datar seolah menunggu ia angkat bicara terlebih dahulu. Padahal Pandu ingin sekali Riko yang berbicara terlebih dahulu.
Oh ayolah, jangan membuat masalah sepele menjadi berat. Dengan helaan nafas berat Pandu memulai topik pembicaraan mengingat ia dan Riko, tidak dekat dan jarang sekali mengobrol-- hanya pernah berpapasan saja.
"Rik!"
"Hmm."
"Mari kita mengobrol sesuatu biar tidak terlalu canggung seperti ini."Riko mengerutkan dahinya, menaikkan sebelah alis--memang keadaan disini sangat canggung. Pemuda di hadapannya menyunggingkan seulas senyum tipis mencoba lebih akrab.
"Mengobrol soal apa?"tanya Riko membuka suara.
"Entahlah. Memangnya enakkan kita mengobrol apa?"tanya balik Pandu melipat kedua tangan di atas meja, menatap lawan bicaranya meng-insyarat. Riko kembali terdiam dan berpikir sejenak menatap Pandu.
Pemuda di depannya membuat pikiran Riko kembali berputar mengingat kejadian buruk menimpa Pemuda ini dan juga Lidya. Teman-temannya sekarang masih ada yang di rawat di rumah sakit Adera. Riko sama sekali tidak pernah curhat pada teman-temannya tapi pernah curhat ke Pak Ganda.
Soal peristiwa di masa depan, itu sudah menjadi momok menakutkan bagi Riko.
"Aku bingung. Tidak ada yang menarik untuk di bicarakan."ucap Riko mengalihkan pandang keluar jendela.
Pandu bertaut,"benarkah?"ucapnya memastikan membenarkan posisi duduknya agar nyaman. Jari telunjuk Pandu mengetuk meja pelan sembari melirik ke luar jendela melihat kendaraan dan orang-orang berlalu lalang kesana kemari.
"Apa kau punya cewek yang kau sukai?"tanya Pandu membuat Riko menoleh ke Pandu.
"Tidak."balas Riko santai. Ia sempat terkejut Pandu tiba-tiba mengatakan itu. Entah apa yang merasuki pikiran wakil ketua kelas 10 MM 1 ini.
"Kau yakin itu?tapi tadi saat di rumah sakit kau melirik Lidya dengan tatapan tidak biasa."kata Pandu melirik Riko. Pemuda itu hanya memasang wajah datar seolah tidak merespons pertanyaan Pandu.
"Tidak. Aku hanya melihat saja."balas Riko santai.
Pandu yang mendengar hal itu tertawa membuat Riko menoleh ke Pandu, keheranan. Apa dia salah bicara? Ku rasa tidak. Pandu memelankan tawanya menatap Riko, tersenyum. Ia melihat coffe lattenya yang sama sekali belum ia sentuh sama sekali.
"Tapi aku yakin. Tatapanmu menunjukkan kau suka dengannya. Kau selalu mengawasinya dari jauh, bukan."ucap Pandu membuat Riko terkejut, membelakkan matanya sempurna.
Bagaimana bisa ia tahu kalau aku selalu mengawasinya dari jauh? Tapi itu hanyalah sebagai mata-mata saja. Tidak lebih,batin Riko.
"Kau cemburu?"pertanyaan itu sukses keluar dari mulut Riko. Pemuda itu benar-benar terkejut mulutnya dengan klimisnya mengatakan hal itu. Pasti Pandu akan lebih curiga dan menanyakan banyak hal.
Pandu hanya manggut-manggut,tidak ada mimik wajah marah, "Bagus, kalau gitu?"
__ADS_1
Apa bagus? Ia nggak salah dengar.
Riko memincingkan sebelah matanya,"bagus?"ulangnya dibalas angguk Pandu mantap.
"Ya. Lebih baik kita bersaing secara sehat saja. Sebenarnya aku suka dengan Lidya dari awal masuk kelas MM. Kalau kamu?"ucap Pandu mengakui rasa suka dengan Lidya.
Riko sedikit tersentak kaget mendengarnya. Ia menggaruk tengkuk tidak gatal. "Bagaimana? Aku aja tidak tahu perasaanku sendiri? Mana mungkin aku bilang suka atau nggak."jawab Riko jujur. Obrolan ini terdengar membingungkan.
"Jika kau bingung dengan perasaanmu sendiri. Suatu hari kau akan tahu perasaanmu sebenarnya tepat di depan mata."
"Tepat di depan mata?"
"Iya. Kalau kau melihat ia sedih atau senang. Kau secara tidak langsung ikut sedih dan senang. Itulah awal, aku menyukainya tapi,"ucap Pandu menggantung, mengangkat jari telunjuknya ke atas,"sepertinya aku hanya sebatas pelindungnya."lanjut Pandu.
Ketika Pandu mengatakan itu Riko terdiam lama, kata-kata itu seperti pernah ia dengar begitu jelas. Suara yang selalu tergiang di pendengaran semenjak melihat masa depan, apa yang akan terjadi di bumi ini. Secara tidak sengaja Riko mendengar apa yang dikatakan oleh Pandu, persis.
Kekuatan waktu yang dimiliki Riko sangat hebat. Saking hebatnya Riko selalu di buat bingung. Ia bisa menghentikan waktu, mengulang waktu, menjelajah waktu, melihat masa depan-masa lalu. Semuanya Riko sudah jelajahi dan yang pasti itu bakal terjadi.
Takdir itu ada yang bisa di ubah dan mutlak, tapi kebanyakan mutlak.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Suara tawa jahat berhasil memekikkan telinga Riko dan tersadar dari lamunannya sebentar lagi matahari akan menunjukkan diri. Kobaran api di sekeliling membuat semua gedung-gedung menjadi abu. Matanya masih melihat Lidya yang sudah penuh luka.
"Kau takut melihatku mati di hadapanmu dan di hadapan Lidya?"ucapnya.
Riko menggeleng,"bukan. Aku hanya takut ka-kalau Li--"
"Nggak perlu dipikirkan lagi. Aku tidak akan membuat Lidya lecet sedikit pun. Aku sudah mengatakan di rumah sakit. Ia malah bertanya balik padaku, hehehe."ucap Pandu terkekeh.
"Kau tidak perlu memberitahu. Bayangan masa depan padaku, biarkan itu jadi rahasia yang tidak perlu ku ketahui."Pandu tersenyum kearahnya.
Lidya berusaha bangkit berdiri tapi tidak bisa, luka-luka di sekujur tubuhnya membuat ia sedikit lemas. Ia melihat Keysa perlahan menghampirinya dan berhenti memberikan jarak sekitar 7 meter. Senyuman jahatnya sudah terlihat bahwa dia akan menghabisi dirinya. Lidya sudah berkali-kali memikirkan pangeran tumbuhan tapi tetap saja tidak kunjung datang.
Disisi lain juga keanehan yang sempat terjadi padanya tidak muncul. Seperti kekuatan Aska waktu di hutan belantara, Awalnya kekuatan itu muncul dan menyebabkan mereka ke hutan belantara. Ah, apa Lidya berpikir akan mengalami hal yang sama dengan Aska yaitu kekuatannya akan muncul saat keadaan genting saja.
Matanya melihat sekeliling penuh api dan tidak ada keberadaan teman-temannya yang hilang entah kemana. Keysa menatap tajam Lidya dan mulai merasakan aura tidak sabar untuk membunuh target nya yang selama ini ingin ia dapatkan agar pangeran tumbuhan tidak muncul tepat di hadapannya.
Peperangan yang sempat berhenti 500 tahun serta kekalahannya masih meninggalkan bekas. Ini waktunya untuk membunuh Lidya, penulis imajinasinya sendiri.
"Aku akan membunuhmu!"ucap Keysa tajam, ia mengeluarkan semua kekuatannya.
__ADS_1
Lidya dan Riko yang melihat kekuatan Keysa yang sebenarnya hanya ternganga. Lidya berusaha untuk bangkit berdiri menahan rasa sakit. Keysa sudah mengumpulkan seluruh kekuatan kebencian serta kekuatan tumbuhan Keysa menyerang mengarah ke Lidya.
Gadis itu hanya membelakkan matanya tidak bisa untuk berlari menyelamatkan diri. Riko terkejut, ia berlari seraya mengeluarkan kekuatan, "Halting Time!"serunya kekuatan waktu dari Riko perlahan mengarah ke Keysa.
Sebuah penampakkan yang selama Riko takuti benar-benar terjadi. Kedua kakinya menekuk lutut, tangan yang terulur ke depan perlahan melemas, Riko mengeluarkan kekuatannya terlambat. Lidya berdiri disana masih membelakkan mata tidak percaya.
Kejadian barusan seperti cahaya, tidak bisa melihat secara jelas. Orang yang berdiri di depan Lidya dengan akar tajam yang menusuk tubuhnya menyunggingkan senyuman, tenaga yang masih dimilikinya berusaha menoleh ke belakang berusaha untuk melihat memastikan bahwa Lidya tidak lecet karena akar berduri ini.
"Pa-Pandu!"teriak Lidya.
Kekuatan waktu Riko menghilang. Reaksi Keysa terkejut melihat ada orang yang menghalangi target. Akar-akar itu menghilang. Lidya yang berdiri di belakang Pandu masih shock apa yang dilihatnya. Tubuh pemuda itu perlahan melemas dan kedua kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya.
Saat tubuh Pandu mulai jatuh dengan segera Lidya menangkap tubuh Pandu, duduk memangku kepala Pandu. Pemuda tersebut masih sadar dalam kondisi seperti ini. Ia melihat Lidya menatapnya dengan penuh air mata, ekspresi khawatir, dan marah.
"Apa kau baik-baik saja, tubuhmu nggak lecet kan?"tanya Pandu suara lemah meski begitu telinga Lidya bisa mendengar dengan jelas. Pertanyaan Pandu barusan benar-benar konyol. Jelas-jelas Lidya sudah penuh dengan luka akibat serangan dari Keysa tetapi serangan itu tidak membuatnya mati. Dan saat Keysa mengeluarkan kekuatan paling kuat.
Tuhan malah berkehendak lain dengan mengirimkan Pandu untuk melindungi dari serangan Keysa. "KAU BODOH, HIKS!"teriak Lidya tepat di hadapan Pandu yang mulai melemah.
Keysa ingin menghabisi Lidya tetapi ia urungkan melihat tontonan drama di pertengahan pertarungan, baginya tidak buruk. Jika Keysa menyerang detik ini juga maka ia bisa menang telak atas pembalasan dendam, Pangeran tumbuhan dengan membunuh penulis imajinasinya. Dan juga Keysa akan hidup abadi.
"KENAPA KAU MELAKUKAN HAL BODOH SEPERTI ITU! HARUSNYA AKU YANG ADA DI TEMPATMU!"ucap Lidya bernada tinggi dalam isak tangis. Air matanya begitu deras membasahi pipi mulus Lidya. Pandu hanya bisa tersenyum membiarkan Lidya memarahi dia sepuasnya untuk terakhir kali.
"APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP HA!"Ucapnya lagi, suaranya hampir ingin habis. Matanya memerah karena menangis.
Pandu masih senyum seolah tidak terjadi apa-apa. "Aku kan sudah bilang. Kalau kau lecet maka itu akan jadi urusanku. Apa kau melupakan itu?"ucap Pandu. Lidya hanya bisa diam dalam tangis menatap Pandu yang sudah melemah.
"Teman-teman bilang padamu kan. Kalau kau jangan sampai mati. Jadi aku ini tidak melakukan tindakan bodoh. Jika aku membiarkan kau mati, berarti kau yang bodoh. Kau tidak menempati perkataan dan harapan orang-orang."ucap Pandu seperti membisik.
Tangan Pandu yang melemah berusaha untuk memegang pipi Lidya. Gadis itu membantu tangan Pandu yang ingin memegang pipinya. Saat Pandu memegang pipinya ia merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat dan perasaan yang enggan membiarkan Pandu untuk pergi.
"Sejak awal bertemu, aku menyukaimu. Kenapa aku selalu mengajakmu mengambil kue, mengajakmu di mall nonton bioskop, makan bersama, mengajakmu ke rumah. Karena aku suka padamu."ucapnya membuat jantung Lidya berpacu lebih cepat.
"Lidya, aku akan selalu melindungimu selamanya. I love you."ucapnya samar-samar jelas. Lidya berhasil mendengar kalimat akhir dan Pandu perlahan menutup kedua matanya. Tangan yang menyentuh pipi Lidya terjatuh.
Lidya terbelalak melihat Pandu mati di pangkuannya,"PANDU!"
Teriak Lidya di tengah kobaran api yang melahap semua gedung-gedung kota. Riko yang melihat tersebut juga menangis dan ia tidak bisa mengembalikan Pandu seperti ia mengembalikkan Vin yang kehilangan nyawa. Jika Riko mengulang waktu pun, Pandu sudah berada di posisi tertusuk akar Keysa.
Riko tidak bisa mengundurkan waktu yang lama, ia harus menunggu setegah tahun.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...