
"Aduh sakit, Pan. Pelan-pelan dong mijitnya!"protes Lidya ke pemuda berambut panjang sebahu itu dan berkali-kali mendapatkan pukulan kecil dari Lidya. Pandu bukannya takut tapi malah tertawa senang.
Charlie dan Iva yang memerhatikan mereka berdua hanya menggeleng sesekali tertawa kecil. Pandu menghela nafas memutar bola matanya malas,"ini udah pelan-pelan Lid. Kamu aja yang nggak tahan sakit."ucapnya meledek memasang wajah datar.
Lidya yang mendengar itu diam lalu menosek Pandu membuat pemuda itu meringis kesakitan, kedua tangannya memegang kepala berusaha melindungi kepalanya dari tosekan Lidya.
"Udah udah. Ampun Lid!"ucapnya membuat Lidya menghentikan tosekannya dan membuat wajah yang bikin Pandu gemas, menggembungkan kedua pipi-- cemberut. Pandu tertawa melihatnya dan mencubit pipi Lidya.
"Sakit Pan!"
"Habis lucu jadi gemes hahaha!"
"Pandu!"teriak Lidya membalas mencubit pipi Pandu. Charlie dan Iva malah tertawa ngakak sampai mereka berempat tidak menyadari kalau Aska dan Nando datang. Mereka berdua terkejut melihat pemandangan yang sangat langkah, keduanya terdiam.
Tanpa basa-basi Nando langsung mengeluarkan toa masjid, "Woi ini rumah sakit bukan rumah kasih sayang!"membuat Lidya dan Pandu menghentikan aksi cubit pipi lalu menoleh bersamaan ke arah pemilik suara.
"Nando!"panggil mereka kompak dan di balas Aska gelengan.
"Ngapain kalian cubit pipi segala?"tanya Aska menunjuk ke arah mereka berdua.
Lidya menatap Pandu sinis lalu membuang muka ke arah lain. "Pandu yang duluan cubit-cubit pipi!"tuduh Lidya dan Pandu terbelakak mendengar tuduhan itu, ia menatap tajam ke Lidya.
"Oh ngaduhin ke abangnya ya!"ucapnya menunjuk ke Lidya tepat di wajahnya. Gadis itu menepiskan tangan Pandu kasar, moodnya hancur saat ini.
"Loh sejak kapan Aska jadi abangnya Lidya?"tanya Nando kebingungan melihat Aska yang senyum-senyum sendiri.
"Lupakan itu ceritanya panjang."tukas Aska berjalan mendekati kedua insang itu. Ia duduk di kursi sebelah ranjang.
"Katanya Tera di culik oleh musuh ya?"tanyanya dibalas angguk pelan Lidya. Gadis itu menghela nafas berat.
"Seandainya aku bisa membantu mereka melawan monster. Tio tidak akan celaka dan Tera tidak akan di culik sama musuh. Apadayaku aku hanya bisa diam, menonton dengan keadaan suara habis."ucap Lidya sedih. Pandu yang ada di samping gadis itu mengacak-acak rambut asal membuat rambut gelombang Lidya berantakan nggak karuan.
"Yang penting kau masih selamat dan nggak ada yang lecet."kata Pandu terkekeh.
Lidya mencekal tangan Pandu yang seenak jidatnya membuat rambutnya berantakan, menatap tajam ke Pandu. "Memangnya kalau aku lecet, masalah?"tanya Lidya nada sewot.
"Masalah lah. Masalah besar malah."jawab Pandu enteng. Mata Lidya menyipit,"Kenapa?"tanyanya membuat Pandu menatap ke Lidya serius.
"Karena itu akan jadi urusanku!"jawabnya yang membuat Lidya tidak mengerti. Aska tertawa membuat kedua joli itu menatap Aska yang tiba-tiba tertawa tanpa sebab. Ia menggeleng pelan.
"Kalian ini."
"Aku jadi takut padamu,Ka. Yang tiba-tiba ketawa sendiri, kau kerasukan ya?"tuduh Pandu dan dibalas tatapan Aska serta mata abunya perlahan muncul. Pandu mendelik takut kalau Aska akan membangkitkan Grey eyesnya.
__ADS_1
Iva menghampiri kakak kelasnya dan mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. "Aku tadi menemukan gantungan kunci ini di Kota Selatan."kata Iva membuat mata Lidya membulat dan senyuman menerkah bahagia.
"Wah gantungan kunci! Thank you Iva."ucap Lidya senang.
"Aku kadang suka heran sendiri. Kenapa perempuan sangat suka sekali sama gantungan kunci?"komentar Nando.
"Karena gantungan kunci itu berkelap-kelip apalagi kalau gantungan kunci itu ada gambar idolanya atau gambar yang imut-imut."jawab Lidya menatap pemuda berambut jambul yang terlihat badboy tapi ia kenal sama Nando. Sebab ia adalah rekan dekat Jay dan Aska lagipula kelasnya juga bersebalahan.
Ruangan kembali hening lalu Lidya menatap ke arah Aska. "Bagaimana keadaan Tio sekarang?"tanyanya nada khawatir membuat Pandu menghela nafas kasar ada rasa cemburu yang tercipta. Charlie yang sedari tadi memerhatikan gerak-gerik Pandu tersenyum miring.
Tubuh Charlie sekarang ada cahaya merah sedikit ada oranye membara. Iva yang melihat cahaya tubuh kakaknya itu angkat bicara.
"Tubuh Kak Charlie, kenapa bisa begitu kak?"tanya Iva membuat Charlie tersenyum menunduk memejamkan mata.
"Ada deh."ucapnya rahasia membuat Iva jengkel seketika cahaya Charlie menjadi warna merah membara membuat pemuda itu melotot ke arah Iva. Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat keunikkan kekuatan Charlie.
'Cahya, kau mudah sekali berubah suasana hati ya, sesuai orang yang kamu sayangi---batin Lidya.
Aska membuka suara menjelaskan keadaan Tio sekarang yang bisa di bilang agak kritis karena sengatan lebah monster itu ada racunnya. Dan obatnya masih belum ada jadi dokter hanya memberikan obat buat menghentikan racunnya sementara waktu.
"Yah, padahal aku sudah janji padanya buat ngambil gantungan kunci ke rumah."kata Lidya tidak mengetahui kalau pemuda di samping kirinya, Pandu. Sedang di bakar api cemburu.
"Sama aku aja. Nggak usah sama yang lainnya!"ucapnya cepat membuat Lidya tidak mengerti dengan sikap Pandu yang suka berubah-ubah.
"Sama aku aja. Tapi lehermu udah baikan nggak? Kalau udah baikan aku bakal nganterin kau ke rumah."ucap Pandu perhatian ke Lidya. Gadis itu memegang lehernya mengecek,apakah ada rasa nyeri atau nggak.
Ia menggeleng,"Nggak!"
Setelah tahu jawaban dari Lidya, pemuda berambut panjang sebahu itu menarik pergelangan tangan Lidya keluar kamar rumah sakit. Semua orang yang ada disana hanya cengo dan saling menatap satu sama lainnya melihat kedua orang itu, pergi tanpa pamit.
"Kenapa sih mereka berdua aneh banget?"komentar Nando melihat kedua punggung mereka yang sudah menghilang di balik pintu.
Aska dan Charlie tersenyum miring,"Remaja di mabuk cinta."ucap mereka berbarengan dengan tawa. Nando hanya menatap kedua laki-laki itu dengan kompaknya menjawab komentarnya.
*Jangan Anggap kami lemah*
Sampai di tempat tujuan. Lidya melihat rumah sederhananya, rasanya ia sudah pergi bertahun-tahun dari rumah. Gadis itu mengajak Pandu masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Keluarlah seorang pemuda yaitu adik Lidya, Awan. Lidya menyuruh Pandu menaiki tangga,masuk ke kamarnya ia akan menjelaskan tentang gantungan kunci itu tanpa babibu Pandu mengikuti langkah Lidya menuju kamarnya.
__ADS_1
Pandu melihat kamar Lidya sangat rapih dan bersih walau meja belajarnya berantakan penuh kertas. Baru pertama kalinya ia masuk ke kamar perempuan. Pandu duduk di tepi ranjang melihat Lidya mencari gantungan kunci lainnya di laci meja belajarnya lalu berbalik menunjukkan empat gantungan kunci.
Yang pertama berada di hutan belantara dan ketiga lainnya saat ada titik tiga waktu itu. Lidya duduk di samping Pandu dan langsung to the point.
"Gantungan kunci ini adalah bagian puzzle yang hilang. Dan cara menemukan bagian puzzle yang hilang itu kita harus mengalahkan monster yang membuat kerusuhan disini. Setelah bagian puzzle terkumpul kita harus menemukan papan puzzlenya yaitu letak papannya adalah pintu imajinasi."jelas Lidya.
Mata Pandu memincing,"Pintu Imajinasi? Apa itu?"tanyanya tidak tahu menahu tentang pintu imajinasi.
Lidya tersenyum menjelaskan kalau pintu imajinasi adalah pintu yang di dalamnya ada surga dan di dalam sana tempat imajinasi-imajinasi yang kini berada di tubuh manusia. Jika imajinasi itu sudah masuk ke dalam tubuh manusia maka manusia itu akan memiliki kekuatan secara tiba-tiba dan sesuai kekuatan imajinasi tersebut. Pintu imajinasi itu segera di kunci rapat-rapat agar imajinasi dan dunia nyata tidak terhubung satu sama lain. Kalau tidak maka yang terjadi seperti ini--kacau balau.
"Kata Joe, karakter imajinasiku. Ia bilang kalau imajinasi-imajinasi keluar pintu imajinasi secara berkelompok dan sesuai banyaknya penulis imajinasi itu. Mereka akan mencari tempat untuk bersemayam di tubuh manusia yang mereka pilih, akan tetapi lihat situasi terlebih dahulu."jelas Lidya. Dahi Pandu berkerut menatap Lidya serius.
"Maksud melihat situasi?"tanyanya.
Lidya menghela nafas,"seperti manusia itu merasa tertekan, sering di bully, lemah atau semacamnya."jawab Lidya seadanya ia tidak tahu harus menjawab pertanyaan Pandu seperti apa.
Pandu mengangguk paham ia melihat kamar Lidya, "tapi mengapa hanya kau saja yang tidak memiliki kekuatan padahal kau sering di bully sama Ferdi, Sarah dan Tina?"
Lidya mengangkat kedua bahu tidak tahu, menggeleng pelan melihat tatapan Pandu seperti menyelidik. "Aku sendiri nggak tahu."menghela nafas pelan.
"Dengar,aku dan Tio memiliki misi yang berbeda jadi aku harus nunggu Tio dalam keadaan baik. Kalau tidak..."ucap Lidya bangkit berdiri menuju jendela yang terbuka menunjukkan langit senja yang sudah tiba dan sebentar lagi malam akan tiba. Lidya menoleh sedikit ke Pandu yang menatapnya diam,"...musuh akan menghancurkan dunia, cepat atau lambat."lanjut Lidya menatap langit senja.
Firasatnya merasa tidak enak bahwa kehancuran akan tiba dan orang-orang yang ia sayangi akan tiada. Air mata perlahan jatuh dari mata kanannya,Tes, jatuh ke lantai.
Pandu berdiri menghampiri Lidya dan berdiri di samping gadis itu, sama-sama menatap langit senja.
"Walau nanti benar-benar serangan besar terjadi di dunia. Musuh yang selama ini bersembunyi entah keberadaannya di mana."ucap Pandu menatap wajah Lidya dari samping beberapa helaian rambutnya di mainkan oleh angin senja.
"Jangan lupain mereka yang berusaha menyelamatkan dunia dari musuh jahat. Yang hanya memikirkan tujuannya sendiri tanpa memikirkan resiko orang-orang tidak bersalah harus kehilangan nyawa. Aku yakin teman-teman di luar sana yang memiliki kekuatan sepertiku akan berjuang untuk merebut dunia manusia seperti sedia kala dari imajinasi jahat. Tidak ada kekuatan dan kejadian aneh, benar-benar normal kembali."Kata Pandu panjang lebar mengeluarkan kata-kata bijak penuh keyakinan.
Lidya menoleh ke arah Pandu sejenak dan kembali menatap langit, kepalanya sedikit menyandar di bahu Pandu. Pemuda itu tersenyum tipis melihat Lidya yang kini sangat khawatir dan gelisah kejadian buruk akan terjadi. Pandu memejamkan mata menunduk menarik nafas panjang, hatinya tiba-tiba sedikit sesak entah kenapa ia hanya bisa menyunggingkan senyum miring tipis.
"Pan!"
"Hmm."
"Gantungan kuncinya tinggal dua, Jangkrik dan misteri. Aku tidak tahu gantungan misteri itu berada di mana? A-aku takut kalau bagian puzzle terakhir itu."ucap Lidya menatap ke depan dengan bibir bergetar dan perasaan takut menjalar ke seluruh tubuh Lidya.
Pandu yang ada di sampingnya berganti posisi memeluk gadis itu dalam dekapannya. Pandu membisik ke telinga Lidya, "Jangan takut. Aku akan selalu menemanimu, aku selalu ada di sampingmu. I will always with you forever Lidya."bisiknya membuat kedua mata cokelat terang Lidya membulat mendengar kata lembut dari Pandu.
Secara tidak sadar Lidya menyunggingkan senyumannya dan akhir-akhir ini ia selalu merasakan ketakutan setelah apa yang terjadi. Musuh itu, Tomma yang tidak ada henti-hentinya menyerang tanpa ada celah sedikitpun. Tidak tahu tujuan apakah dia datang dan menculik Tera, apakah ia menginginkan pangeran tumbuhan untuk memulai perang.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung....