
Di hari baru dan sekolah baru setiap pagi mereka semua di kumpulkan di lapangan yang luas sebab semua murid disini campuran. Nama sekolah baru SMA Strength tetapi ada banyak murid di bawah umur seperti anak SMP dan SD. Kemungkinan Pak Ganda sengaja mengumpulkan anak yang memiliki kekuatan imajinasi.
Lidya berbaris paling depan dan melihat Pak Ganda serta beberapa anggota osis berada di sisi kanan-kiri. Dahinya berkerut karena tidak ada guru yang mendampingi Pak Ganda tentu saja membuat heran Lidya. Setelah selesai mereka semua di suruh ke kelas masing-masing.
Di kelas No Elements dimana tempat Lidya dan beberapa murid yang tidak beruntung seperti dirinya. Ia mengedarkan pandang ke seluruh sudut kelas memang yang tinggal hanya beberapa murid saja, kurang dari 10 orang. Cantika yang ada di sebelah bangku Lidya bertanya.
Kelas ini sangatlah kacau, papan tulis kotor sepertinya papan itu udah lama nggak terpakai,bangku-bangkunya tertata tidak rapih serta cat dinding putihnya juga kotor.
"Kenapa kita di masukkan ke kelas No Element?"tanyanya dibalas gelengan pelan.
"Entahlah Kak. Aku sendiri tidak tahu. Kemungkinan murid yang disini tidak memiliki kekuatan bagiku juga tidak seperti itu. Buktinya di sini ada Eric."kata Lidya menoleh ke belakang melihat Eric tengah asik menggambar di bukunya.
Disini ada 4 perempuan dan sisanya adalah laki-laki. Suara ketukan pintu terdengar membuat semuanya menoleh mengarah ke seorang pemuda yang tidak asing lagi di mata Lidya, itu Charlie. Ia memasuki kelas No Element buat mencari adiknya.
"Kak Charlie!"ucap seorang anak kecil sekitar umurnya masih SD.
"Jangan membuat Kakak khawatir. Kau selalu saja merasa gelisah."ucapnya menatap adiknya itu lalu ia menoleh mengarah ke Lidya.
"Eh Kak Lidya."panggilnya tersenyum sumringah membuat tubuh Charlie mengeluarkan sinar.
Lidya tersenyum tipis,"Charlie. Udah lama nggak ketemu. Apa itu adikmu?"tanyanya menunjuk ke anak perempuan di sampingnya.
Charlie mengangguk,"iya. Dia adalah adik angkatku tapi aku sudah menganggap ia adik kandungku. Namanya adalah Iva."ucapnya memperkenalkan Iva.
"Hai Kak!"sapanya ramah dan Lidya membalas sapaan Iva dengan ramah juga.
"Ya sudah. Kamu nanti sama Kak Lidya aja, dia baik kok."kata Charlie sebelum pergi meninggalkan kelas dibalas anggukan mantap dari Iva. Perempuan itu menghampiri Lidya dan bertanya banyak hal tentangnya. Charlie tersenyum dan pamit keluar kelas.
Tidak lama kemudian murid berseragam osis datang, seroang pemuda bermanik kuning menatap semua murid dengan seksama. Ia menghela nafas kasar dan ingin mengeluh karena ia harus mengajar di kelas rendahan. Tetapi dengan cepat membuang pikiran negatif tersebut sebab ia sendiri pernah di posisi mereka.
"Perkenalkan namaku adalah Deo. Aku adalah pengguna Yellow Eyes dari Elements Eyes. Pasti kalian punya teman yang memiliki mata tergolong Elements Eyes. Dari buku yang pernah aku baca sebelum kejadian ini terjadi. Aku pernah membaca buku berjudul Power Eyes yang di tulis oleh Diana Azzahra Renita. Di buku tersebut disana ada beberapa elements yang sesuai warna mata."jelasnya panjang lebar dan terkesan ia serius.
Deo menceritakan semua apa yang ia rekam sebelum kejadian ini terjadi. Masalah penulis buku itu membuat Lidya ingin bertemu orang itu ia bisa menjadi narasumber yang unggul sebab ingat kekuatan apa saja yang tersembunyi di balik kekuatan Elements Eyes.
__ADS_1
Di papan tulis sudah ada deretan nama Elements Eyes yang pernah ia dan temannya baca di sebuah artikel. Arkan angkat tangan dan berkata ke Deo, "apakah di kelas lain ada pengguna Elements Eyes,White? Karena elements eyes itulah yang hampir punah dan tidak ada satupun orang yang bertemu pengguna mata itu."ucapnya membuat semua penasaran.
"Maaf. Aku juga belum pernah melihat ada yang pengguna Elements Eyes Itu. Ada pertanyaan?"tanya Deo.
"Kalau boleh tahu. Apa pengguna Elements White Eyes?"tanya Arkan lagi ia terlalu kepo dengan kelompok elements eyes.
"Kekuatan White Eyes adalah bisa menggunakan kekuatan seluruh mata sebab disana ada kornea mata ungu, kornea tersebut dengan cepat bisa mempelajari sesuatu dengan cepat serta matanya bisa berganti-ganti sesuai orang yang memiliki mata itu inginkan."jelas Deo membuat Lidya tertegun mendengar kehebatan kekuatan White Eyes pantas saja pengguna mata itu di Buru sebab kekuatannya membuat iri semua orang.
"Sekarang perkenalkan diri kalian mulai dari belakang pojok kiri!"perintah Deo menunjuk seorang pemuda berwajah malas dan rambut berantakan seperti tidak terurus.
"Namaku adalah Radit Lorenzo."ucapnya singkat dan dingin.
"Keahlian?"
"Aku bisa membuat tipuan."ucapnya singkat.
Kemudian berganti ke seorang gadis memiliki rambut keriting, kulitnya cokelat,"Namaku Tya Firnanda Adianto. Keahlianku adalah tidur."ucapnya membuat semuanya melongo. Belum beberapa detik kemudian ia ambruk.
Iva memiliki keahlian bermain gelembung. Seorang pemuda berwajah separuh topeng memiliki keahlian membuat topeng dan menunjukkan beberapa topeng di dalam tasnya. Dia bernama Veno, pemuda bertopeng. Lalu Cantika yang sama sekali tidak memiliki kemampuan apapun atau bidang apapun. Lidya yang terakhir hanya bisa menjawab.
"Aku adalah manusia tanpa memiliki kekuatan bisa dibilang aku orang yang terpilih di sekolah disini."ucapnya santai.
"Kenapa kau bisa datang kesini padahal kau sama sekali tidak memiliki keahlian maupun kekuatan. Kau juga Cantika."ucap Deo setengah marah memerhatikan kedua gadis itu bergantian. Ia menghela nafas kasar.
"Maafkan aku yang kasar ini."ucapnya meminta maaf.
Setelah sesi memperkenalkan diri dan sesi tanya jawab. Deo tersadar bahwa tidak ada satu laki-laki yang tidak hadir di kelas.
"Harusnya ada delapan orang disini. Tapi disini tidak ada."ucap Deo sedikit kebingungan ia pamit keluar kelas untuk melapor ke Pak Ganda.
Di belakang sendiri ada tikus putih yang berdiam diri di sana saat osis itu pergi. Ia berlari cepat keluar kelas dan Cantika menyadari keberadaan tikus itu semua menjerit dan beberapa pemuda ingin menangkap tikus itu gagal karena larinya sangat cepat.
"Ternyata di sekolah ini ada tikus."gerutu Veno melihat Tya belum bangun juga padahal tadi ada keributan disini.
__ADS_1
"Tidak kusangka kalau aku satu kelas sama gadis kebo."celetuk Veno membuat semuanya tertawa.
"Biarkan saja. Ia memang begitu suka tidur."jawab Radit dingin dan mengalihkan pandang ke arah lain.
Lidya merasa kalau teman barunya itu memiliki kepirbadian yang unik.
Tikus putih itu berlari cepat masuk ke celah pintu kemudian berubah wujud menjadi manusia. Ia melihat perpustakaan yang tidak ada penjaga serta pintunya tertutup rapat. Pemuda tersebut mengelilingi rak buku berharap bisa menemukan buku untuk menutup kembali pintu imajinasi. Ia tidak mau sampai menghilangkan banyak nyawa akibat rasa kekepoannya dulu setelah meninggalnya neneknya.
Buku di pinggangnya itu adalah buku yang membuat pintu imajinasi terbuka lebar dan tidak ingat untuk kembali menutup sehingga berapa orang masuk ke sana dan membuat sebuah permohonan atau semacamnya yang tidak ia ketahui sehingga pintu imajinasi itu tidak bisa tertutup.
"Bagaimana caranya aku bisa menutup kembali pintu imajinasi itu?"ucapnya pada dirinya sendiri menatap buku yang berada di pinggangnya.
-
-
-
-
-
-
Sebuah bel darurat berbunyi Deo yang ingin masuk ke kelas mengurungkan niat karena ia harus kembali. Semua murid di setiap kelas menatap bel darurat dengan tatapan tidak mengerti. Bel darurat itu sepeti bel pemadam kebakaran kemudian terdengar suara dari spiker yang ada di masing-masing kelas dan di koridor.
"Semuanya harus siap-siap mental, fisik dan kekuatan karena ada penyerangan monster di tiga titik kota. Kalian semua harap berkumpul di lapangan terima kasih."
Arkan mengecek ponselnya dan berusaha menghack sementara informasi sekolah untuk mencari tahu tiga titik mana yang di Serang oleh musuh. Arkan menyuruh semua melihat di layar ponsel masing-masing dan memberikan penjelasan singkat kalau musuh benar-benar memancing banyak anak yang memiliki kekuatan di lokasi berbeda.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung..
__ADS_1