
"Kau sudah tidak bisa kabur lagi, musuh!"ucap Anggi berdiri tepat di depan musuh. Gadis tersebut menatap kedua gadis yang sudah menangkapnya dalam kondisi seperti ini. Roro memegang dadanya masih menahan sakit.
"Kau harus ikut dengan kami berdua!"titah Anggi lagi pada gadis di hadapannya. Roro menunduk menyunggingkan senyuman miring dalam kondisi sakit ia masih saja menyempatkan tersenyum miring, mengejek musuh di hadapannya serta berpikir bahwa "tidak semudah itu kalian menangkapku. Apalagi memerintahkanku untuk ikut dengan kalian!" seperti itu lah permikiran Roro saat ini.
"Kalian mau pergi atau kalian akan menjadi mainan baruku?silahkan pilih, ergh."ucapnya menyuruh Anggi dan Lina memilih salah satu pertanyaan yang di lontarkan oleh musuh.
"Dalam kondisi seperti itu. Kau masih saja membuat dua pilihan yang harus kami pilih salah satu. Apakah kau tidak kehabisan akal sehat?"ucap Anggi geram melihat musuh yang sama sekali tidak melihat kondisi tubuhnya yang tidak baik.
"Cih! Aku tidak peduli dengan kondisi tubuhku apalagi penyakitku yang tiba-tiba kambuh. Yang penting adalah..."ucapnya berdecih menatap kedua gadis di hadapannya serius,"...kalian berdua mati!"serunya menunjuk ke arah Lina bersamaan sesuatu yang menyatuhkan Lina dan Roro.
Anggi yang ada di sebelah Lina melotot menoleh ke musuh. "Apa yang kau lakukan pada temanku!"ucapnya lantang. Roro menyeringai ia berusaha bangkit berdiri, rasa nyeri pada jantungnya sudah tidak terasa lagi. Kedua matanya menjadi ungu membuat Anggi melotot tidak percaya.
"Aku hanya ingin bermain saja."ucap Roro santai menggerakkan Lina layaknya boneka. Lina tiba-tiba menendang Anggi tanpa di perintah. Anggi berhasil menghindar dengan tatapan tidak percaya.
Ja-jadi dialah yang mengendalikan semua orang!--batinnya.
Lina mengeluarkan kekuatan berubah menjadi kesatria, gadis itu terlihat memberontak tidak ingin menyerang temannya sendiri tetapi ia tetap saja tidak bisa melakukan hal itu. Roro mengarahkan Lina berlari ke gadis sialan itu.
Lina menutup mata dan menarik pedang, mengayunkan ke arah Anggi. Gadis itu melotot.
Sring!
Anggi menahan pedang Lina menggunakan tangan kanannya tetapi ia merasakan keanehan sebab mendengar ada besi lain yang menghalangi pedang Lina agar tidak mencelakainya sedikit pun. Anggi yang menatap bawah mata melebar perlahan menoleh ke tangan kanannya, terkejut.
Di tangan kanannya terdapat seperti armor yang bisa melindungi tangannya dari benda tajam tanpa ada goresan di armor tersebut. Ia mencekal tangan Lina dengan tangan kirinya dan membantingnya.
Lina merasakan rasa sakit lalu ia bangkit lagi menoleh ke belakang melihat Anggi. Ia kembali menyerang Anggi dengan mengayunkan pedang tanpa henti dan Anggi selalu menghindari serangan Lina yang bertubi-tubi sesekali menahan serangan dengan armor yang melindungi lengan kanannya.
Roro yang melihat pertarungan antara teman sangat bahagia ia tidak kuasa menahan tawa jahatnya. Bagi Roro ini adalah sebuah hiburan yang menarik. Gadis tersebut menatap serius dan menjatuhkan Anggi dengan pedang yang sebentar lagi mengenai leher mulusnya itu.
Air mata Lina terus mengucur, ini bukan kemauan dirinya melawan temannya sendiri. Anggi melihat wajah Lina yang sangat sedih bahwa tubuhnya di kendalikan orang lain seperti boneka. Sungguh kejam. Ia menahan nafas sejenak melihat benda lancip dari ujung pedang yang tinggal beberapa senti akan menancap tepat di lehernya.
__ADS_1
Nafas Lina naik turun ia ingin menjauhkan pedang di genggamannya dari Anggi. Apa daya ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya sesuai pikirannya. Roro tersenyum.
"Wah sungguh menarik perkelahian tadi. Aku sangat menikmatinya."ucapnya melihat kedua gadis itu yang saling tatap menatap sedih dan takut.
"Aku ingin sekali membunuh gadis berambut pendek itu yang seenaknya mengejek kalau tubuhku itu keadaan tidak baik."ucapnya dingin mengejek Anggi yang sekarang tidak bisa apa-apa sebab pedang dari gadis bertubuh barbie itu menguncinya. Jika ia bergerak pedang itu tidak segan-segan menggores lehernya.
Anggi sangat jengkel mendengar hal itu dari musuh keras kepala tidak memperdulikan kesehatan tubuhnya dan malah memaksa serta membuat orang lain menderita akibat kekuatan milik-nya.
Tersenyum miring,"baiklah. Tunggu apalagi musuh! Katanya kau ingin membunuhku tapi kenapa kau malah menghentikan keinginanmu untuk membunuhku ha!"ucap Anggi lantang mengejek Roro, ia melirik sedikit ke arah Roro yang diam di sana memandang mereka berdua yang terhenti.
Angin semilir menerpa wajah Roro membuat helaian rambut hitamnya sedikit bertebangan. Tatapan mata ungunya serius ke depan.
"Apakah kau ingin aku mati atau kau ingin aku hidup agar aku selalu mengejekmu?"ucap Anggi lagi membuat Roro ingin sekali membunuh gadis menyebalkan itu tanpa banyak pertanyaan dan jawaban. Roro menggerakan tubuh Lina lagi dan mengangkat pedang ke atas lalu menancapkan ke perut Anggi.
Lina menutup kedua matanya tidak bisa melihat secara langsung kematian temannya tanpa ada perintahnya. Ia tak henti-hentinya menangis.
"JANGAN! JANGAN! JANGAN!"Teriak Lina lantang menyuruh pengendali boneka tersebut menghentikan mengendalikan dirinya seperti boneka serta mengurungkan niat membunuh Anggi.
Lalu pedang tersebut turun ke bawah.
"Portal perpindahan!"
Srek!
Roro melotot tidak percaya melihat ada portal yang tiba-tiba muncul membawa pergi gadis sialan itu. Lina yang masih menutup matanya dalam tangis perlahan membuka matanya perlahan melihat tidak ada keberadaan Anggi disana serta ujung pedangnya sama sekali tidak ada darah yang menodai pedangnya itu. Tentu saja membuat helaan nafas lega.
"Siapa yang mengangguku!"serunya tidak terima kalau ada orang campur tangan urusannya. Kedua matanya melihat sekeliling tidak ada orang sama sekali selain ia dan sekarang bersama gadis yang kini memakai pakaian bak kesatria.
Roro menggertak giginya kesal masih tidak terima bahwa ada orang lain yang menganggunya. Padahal sedikit lagi ia akan membunuh gadis itu dan akan membuat imajinasi di dalam tubuhnya keluar. Ia berusaha untuk bersabar dengan semua ini.
"Tidak apalah. Aku akan membunuh gadis ini dengan tangannya sendiri."ucap Roro tertawa jahat. Lina yang mendengar hal itu membulatkan kedua matanya tidak menyangka kalau musuh ini adalah seorang iblis sungguhan.
__ADS_1
Pedang tersebut terangkat dan ujungnya mengarahkan ke perutnya sendiri. Tentu saja ini membuat Lina terlihat sangat cengeng tidak seperti layaknya seorang kesatria sungguhan.
Aku tidak berhak menjadi seorang kesatria kalau aku sendiri terus menangis seperti bayi--batinnya
"Jay, help me!"ucap Lina memohon agar Jay, pemuda yang di cintainya datang melonongnya sama seperti ia saat bermain game di kemah saat itu. Ia tidak akan pernah mau melihat Jay terluka sedikit pun.
Tangan Lina dengan sendirinya begerak sendiri tanpa perintah dari pemilik tangan tersebut. Roro tersenyum miring sebentar lagi ia akan berhasil mengusir imajinasi yang menghalangi jalan Keysa.
Sebuah portal ungu kembali, membuat kedua mata Roro melotot tidak percaya dalam hati terus menggerutu lagi-lagi ia gagal. Roro mencoba untuk melukai gadis tersebut tetapi genggaman tangan kedua pemuda itu sangatlah kuat.
Kedua mata Roro menatap ke pemuda tampan memakai anting sebelah. Pemuda tersebut tersenyum membuat terkesima dan pikirannya sudah berhubung pada pemuda itu.
'Lepaskan kekuatanmu dari gadis ini'
Saat ada suara lembut dalam pikiran Roro, ia melepaskan kendali kekuatan bonekanya dari Lina. Gadis itu melepaskan pedang dan membuat suara besi itu ke tanah. Perlahan mata Lina terbuka dan melihat dua orang pemuda, Jay dan Nando datang menyelamatkannya.
Mereka mencekal tangannya agar pedang tersebut tidak menusuk perutnya. Gadis itu menoleh melihat musuh sudah di kendalikan oleh kekuatan Jay.
"Katakan padaku kau memiliki tujuan apa?"tanya Jay serius ke Roro.
"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu!"serunya tidak menjawab pertanyaan Jay padahal pemuda tersebut sudah menghipnotis musuh dan ia bisa menggali informasi musuh lebih dalam.
"Sepertinya musuh kita di atas level."kata Jay menyadari membuat Roro tersenyum melihat pemuda tampan tersebut yang bisa menghipnotis dia dan bisa menyuruhnya untuk melepaskan kekuatannya dari gadis itu.
Sial--umpatnya.
"Hahahaha."tawanya tiba-tiba. Mereka bertiga siap siaga. Jay melirik ke Lina yang masih takut meskipun wajahnya sekarang berubah senang dan serius.
"Lin. Sebaiknya kau harus disisiku. Aku tahu kalau kau sebenarnya masih trauma atas kejadian barusan."ucap Jay perhatian ke Lina membuat pipi Lina bersemu merah.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...