
Vin berjalan terus tiada henti setelah strategi bus mengalami rem blong. Ia berjalan tanpa melihat sekelilingnya tahu bahwa semua orang takut dengannya karena aura negatif yang dimiliki oleh Vin. Bahkan Vin mendengar ocehan anak kecil yang merasakan aura negatifnya saat ia berhenti di jalan lampu merah. "Ada hantu, bu. Aku takut."ucapnya dengan suara masih dibilang lucu. Vin berjalan dan menoleh kearah gadis kecil sekitar umur 4 tahun dengan senyuman manis milik Vin. Gadis kecil tersebut bergidik ngeri.
Inilah yang tidak disukai oleh Vin. Ia dianggap oleh orang-orang hantu dan jika ada ia suasana berubah horor. Vin sendiri tidak tahu mengapa aura negatif itu ada di dalam tubuhnya. Vin juga telah mengabaikan perkataan Lidya padahal ia merasa ingin melindungi gadis itu tapi mengapa?. Ada apa dengan Lidya sebenarnya.
Kedua matanya menatap kedepan melihat ada orang buta ingin menyebrang jalan. Ia melihat sekeliling tidak ada orang yang peduli dengan orang buta tersebut. Vin menghela nafas berat dan berjalan menghampiri orang tersebut:Pria memakai kaos oblong hitam, celana yang sobek, membawa tongkat dan memakai kacamata hitam.
Pria tersebut merasakan sesuatu pada dirinya, merinding tapi ia sama sekali tidak tahu apa itu? Sampai sekujur tubuhnya merinding. "Permisi?"kata Vin yang sudah berdiri di samping pria tersebut.
Pria itu tersenyum. "I-iya, nak."katanya sedikit takut.
"Apa bapak ingin menyebarang jalan? Jika iya, aku bantu."kata Vin sopan membuat seulas senyum pria itu mengembang walau ia masih merasakan aura negatif yang sangat kuat. "Iya, bapak sudah berdiri disini lama. Dan tidak ada seorang pun yang menolong bapak menyebrang jalan."katanya.
Vin tersenyum membuat wajah tampannya terlihat. "Ngomong-ngomong mau kemana? Bapak?"tanya Vin sedikit kepo.
"Bapak ingin mencari seseorang, nak. Bapak tidak ingin mengatakannya lebih tentangnya karena ia sangat misterius dan baik hati. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa."jawab pria itu membuat Vin tersenyum tipis, tidak paham maksud pria ini. Akhirnya Vin membantu pria buta tersebut menyebrang jalan.
Tanpa aba-aba pengendara motor dan mobil berhenti sebab aura negatifnya seolah waktu berhenti. Vin melihat ekspresi orang-orang ketakutan dibalik helm mereka. Setelah sampai di sebrang jalan para pengendara kembali melanjutkan perjalanan mereka. Pria buta tersebut tersenyum kearah Vin, ia memeluk Vin membuat pemuda tersebut terkejut.
Baru pertama kalinya ia dipeluk oleh seseorang saat ia memiliki aura negatif ini. Vin membalas pelukan pria tersebut lalu melepaskan pelukan dengan senyuman bahagia. Mulut pria itu terbuka, "nak. Teruslah berbuat baik pada orang-orang sekitar meskipun semua orang takut padamu."ucap pria tersebut tersenyum.
Vin tersenyum mendengar kata pujian dari pria buta ini, ia merasa sangat dihargai meskipun itu hanya satu orang. "Terima kasih, pak. Atas doanya itu membuatku sangat terharu."jawab Vin mengusap air mata yang disudut matanya. Setelah mengusap air mata Vin menatap kedepan dan pria buta tadi menghilang membuat Vin kebingungan.
"Pak, Bapak!"panggil Vin menoleh kekanan dan kekiri tidak ada tanda pria buta itu. Dahinya berkerut dan ia berpikir positif tentang pria buta tadi dan hati Vin sudah tidak merasa sedih dan kesal karena ucapan pria buta tadi.
Ia tidak menyangka orang yang tidak bisa melihat apapun bisa mengatakan kebaikan orang. Vin yakin kalau pria tadi bisa merasakan aura negatif yang sangat kuat karena ia berada di samping pria itu. Dan untunglah pria itu menerima tawaran Vin dan memberi sebuah cahaya terang supaya ia tidak merasakan sakit dan kesepian.
Ternyata ada orang yang menganggap Vin ada dan tidak menganggap bahwa dirinya adalah hantu apalagi jelmaan setan. Di sisi lain pemuda berjaket biru dengan rambut blonde mengintip dari belakang tembok, melihat Vin sudah merasakan bahagia dari sebelumnya. Ia merasakan senang kalau Vin itu pemuda baik.
"Alhamdulillah. Satu masalah sudah selesai. Tinggal beberapa lagi dan aku akan memberitahu Lidya di waktu yang sangat tepat."katanya tersenyum lebar dan berubah menjadi sinar biru melayang ke udara.
*
__ADS_1
-
-
-
-
*
Vin merasa senang dan ia teringat telah meninggalkan Lidya sendiri, harusnya ia berterima kasih padanya telah berusaha membujuk agar tersenyum. Tapi ia buang sia-sia merasa bersalah pada gadis itu. "Kira-kira bagiamana ya?Lidya?"tanyanya bersandar di dinding toko yang tutup.
"Hei!"sapa seseorang membuat Vin menoleh melihat anak laki-laki memakai kaos oblong dan memakai celana pendek menyapanya, tersenyum manis. Dahi Vin berkerut bingung dengan anak ini, ia merasa heran mengapa ia tidak takut dengannya. Orang-orang yang berlalu lalang disini berjalan cepat karena takut tapi anak laki-laki ini tidak sama sekali.
"Apa kakak murid SMK Cemerlang?"tanyanya masih tersenyum manis.
Vin mengangguk,"iya. Memangnya kenapa?"tanya Vin.
"Apa kakak tidak ingat, aku? Aku yang turun duluan ituloh. Aku sudah menduga kakak sudah lupa tapi dengar-dengar kakak punya aura negatif membuat semua orang takut. Saat aku turun suasana aura negatif kakak memenuhi bus tersebut hingga semua penumpang ketakutan."ucap anak laki-laki itu sangat tahu dengan rinci. Vin terkejut lagi dan mengira bahwa lawan bicaranya adalah seorang penyihir dan bisa melihat masa lalu seseorang serta masa depan.
"Mana kau bisa tahu banyak?"tanya Vin shock. Anak laki-laki itu tertawa melihat Vin. Anak itu tersenyum miring,"Ada deh."katanya.
Mereka berdua berjalan bersama dan sesekali Vin mencuri pandang kearah anak tersebut bisa mengetahui banyak hal tentang kejadian tadi di bus. Ia tidak tahu apa yang benar-benar terjadi, apa mungkin anak ini hanya kebetulan tahu? Disisi lain mungkin ada pihak ketiga. Anak laki-laki yang belum diketahui namanya itu tengah asik memerhatikan pemuda disampingnya, terlihat kebingungan.
"Kakak sepertinya bingung?"ucapnya membuat Vin buyar dengan lamumanya dan mencoba memasang ekspresi biasa, datar dan dingin.
"Nggak, kakak nggak bingung."Elak Vin dari pertanyaan anak ini.
"Oh iya, kita belum kenalan."kata anak itu mengulurkan tangan ke Vin. Vin melirik kearah anak itu yang tersenyum manis, ia merasa anak ini sangat mudah bergaul. Vin menjabat tangan anak tersebut,"Vin Imanuel."
"Abimanyu. Panggil aja Abi atau Bima."kata anak tersebut bernama Abimanyu.
__ADS_1
"Aku panggil Abimanyu aja."kata Vin. Mereka berdua melanjutkan perjalanan tanpa arah tujuan.
"Kak Vin. Kalau kakak sering dijauhi oleh orang-orang, kakak ke sekolahku aja kebetulan kita tetangga. Aku capek dengar teman-temanku ketakutan katanya di sekolah sebelah ada hantu yang menyeramkan. Aku mencoba masuk ke sekolah itu, tidak ada. Tapi--"Abimanyu menceritakan semua tentang suasana di sekolahnya dan tidak sedikit teman-temannya ketakutan dengan aura yang sangat kuat.
"Tapi saat aku lihat tidak ada apapun. Malah aku melihat ada kakak yang nolong teman yang terluka di belakang sekolah itu."lanjutnya membuat Vin berhenti melangkah terkejut kalau ada seseorang yang melihat ia menyelamatkan Lidya dari ketiga murid nakal tersebut.
Vin mengajak Abimanyu mencari tempat duduk supaya bisa enak mengobrol. Lalu mereka duduk di halte terdekat dan kebetulan sekali tempat itu sepi jadi Vin bisa bertanya banyak hal dari Abimanyu ini. "Coba ceritakan semua yang kau tahu,Bi. Dan saat aku menolong teman kakak, apa yang kau lihat awal-awal?"tanya Vin.
Abimanyu tersenyum. "Aku melihat makhluk hitam dengan mata merah dan aura itu benar-benar horor. Bulu kudukku berdiri semua."jawabnya dibalas tatapan Vin serius.
"Mengapa kau tidak lari seperti yang lainnya?"tanya Vin mengintrogasi Abimanyu sampai akarnya.
Dahi Abimanyu berkerut mencoba berpikir awal-awal kejadian itu dengan memegang dagunya. Ia menatap Vin yang serius, menggeleng. "Aku tidak tahu. Aku hanya melihat makhluk itu dan makhluk hitam mengerikan hilang. Nah saat itu aku melihat kakak menolong teman kakak yang terluka. 3 murid lari terbirit-birit ketakutan."jawab Abimanyu mantap.
"Apa kau yakin? Hanya itu yang kau ingat, Bi?"tanya Vin lagi memastikan dibalas anggukkan mantap.
"Yup. Saat itulah aku tidak pernah merasakan aura negatif itu. Dan teman-temanku sering sekali menonton film horor tapi aku hanya merespon biasa saja tidak menakutkan. Semua teriak ketakutan sedangkan aku duduk santai saja."kata Abimanyu memejamkan matanya, melipat kedua tangannya.
Vin memasang wajah datarnya, ia tidak bisa mengintrogasi Abimanyu sampai ujung akarnya. Dan mengapa ia bisa menolak aura negatifnya padahal aura itu sangat besar dan siapapun takut dengan aura tersebut. Namun Abimanyu beda dengan lainnya. Vin memerhatikan Abimanyu yang sedari tadi memejamkan mata dengan tangan dilipat, tidak bergerak.
"Abi,Abimanyu."
Vin menggoyangkan tubuh Abimanyu tapi tidak bisa, tubuh anak itu seolah nancap di sana, duduk pertapa. Vin mencoba melambaikan tangan di wajah Abimanyu tapi tidak bisa. Dahi Vin lagi-lagi berkerut melihat kelakuan aneh dari Abimanyu. Vin menghadap ke Abimanyu duduk bersila dan kedua matanya memerhatikan Abimanyu sampai ia membuka mata.
Menit-menit berlalu dan Abimanyu akhirnya membuka mata, kedua bola matanya berubah menjadi oranye bercampur kuning. Vin menatap kedua mata itu perih, ia cepat-cepat mengalihkan pandang kearah lain sambil meringis,"awh perih!"ucapnya mengucek kedua matanya.
Lalu kedua mata Abimanyu kembali seperti normal kembali yaitu berwarna cokelat matang. "Kakak harus dekat denganku terus. Soalnya aura negatif kakak tidak aktif kalau dekat denganku."kata Abimanyu tiba-tiba membuat Vin melongo.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1