Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode dua delapan:Penghijauan (1)


__ADS_3

"Itu seperti salju indah sekali."komentar Fitri yang berada di samping Lidya.


  Tera melihat banyak sekali bunga disini rasanya ia ingin membawa semua tanaman ini ke rumahnya tapi ia ingat kalau di rumah perkarangannya sangat kecil dan disana hanya ada beberapa bunga yaitu; bunga Kamboja, kaktus dan krokot hanya itu yang bisa ia rawat dan di pandang setiap saat.


Anggi merasa senang melihat pohon kecil yang memiliki ujung daun berwarna kuning. "Indah sekali. Aku beli yang ini aja."katanya dan di hampiri oleh penjual bunga itu mengambil bunga yang diinginkan oleh Anggi. Lidya menghampiri Anggi yang sudah membeli bunga dipilihnya. Tera memilih bunga krokot untuk ditanamkan di halaman sekolah jika ia mengambil di rumahnya, sangat sayang takut kalau tumbuhan tersebut terluka.


Setelah selesai membeli tumbuhan buat hari kamis menanam tumbuhan,mereka berempat berjalan pulang di perjalanan mereka bertemu Lina yang mengayuh sepeda menggonceng gadis cantik dikepang dua.


"Hai Lidya!"sapanya menghentikan sepeda ontelnya bentar.


"Oh hai juga Lin!"sapa Lidya balik tersenyum. "Kau mau kemana?"tanyanya.


"Mau beli bunga buat menanam dan Kay mau beli boneka buat ulang tahun sepupunya jadi dia bareng aku."jawab Lina menoleh mengarah ke gadis bernama Kay yang tersenyum kikuk.


Fitri tersenyum,"kira-kira sepupu Kay umurnya berapa?dikado boneka."tanyanya.


"Umurnya baru enam tahun."jawab Kay tersenyum ke Fitri.


"Ya sudah ya, aku buru-buru banget."ucap Lina segera melanjutkan tujuan membeli tumbuhan dan membeli boneka bersama Kay. Mereka berempat mengangguk dan melambaikan tangan ke Kay dan juga Lina. Setelah itu mereka berempat melanjutkan berjalan yang sangat jauh karena mereka sudah tidak memiliki uang untuk menaiki kendaraan.


Saat di pertengahan jalan dua batang hidung muncul membuat langkah mereka berempat berhenti melihat Tina dan Sarah datang dengan senyuman penuh arti. Dahi Fitri berkerut, "mau apa kalian berdua disini? Apa kalian tidak capek mencari gara-gara?"ucap Fitri sedikit kesal.


"Wow wow! Belum apa-apa kami berdua udah disemprot aja."ucap Tina menoleh kearah Sarah menyunggingkan senyum miring.


"Ya wajar ajalah disemprot karena kalian adalah nyamuk, penganggu!"Anggi menimpali perkataan Fitri. Lidya dan Tera hanya diam menatap Sarah dan Tina.


  Tina melihat tas kresek hitam berada di tangan Anggi dan tumbuhan yang berada di tas kresek itu sangat menonjol keluar dengan daun setengah kuning. Menurutnya pohon kecil itu indah dan harus di musnakan,pikirnya. Dan ia menoleh di tas kresek putih yang dibawah oleh gadis asing dimatanya membuat daya tarik ingin menginjak-injak tumbuhan mereka. Tina berbisik ke Sarah. Tatapan mata Fitri terus mengamati gerak-gerik mereka berdua yang dalam hatinya ingin melakukan hal buruk.


Sarah melihat mereka berempat bergantian dan ia melihat barang bawaan mereka. "Wah apa yang kalian bawah kelihatannya indah sekali tumbuhan yang kalian pilih."kata Sarah merasa senang. "Bolehkah aku melihatnya."pinta Sarah seperti anak kecil yang ingin melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Ti-tidak perlu! Lebih baik kalian pergi dari sini daripada menghalangi jalan kami!"tegas Fitri pada mereka berdua. Dalam hati Lidya,Sarah sangat baik dalam melakukan adegan drama seperti ini tapi itu semua tidak menimbulkan efek pada Fitri. Mungkin ia sudah tahu, wajah dua milik Sarah.


"Please. Aku hanya ingin melihat tumbuhan kalian lalu kami akan pergi."ucap Sarah cemberut sebal.


Tina melirik ke Sarah sejenak. "Tuh, temanku Sarah ingin melihat tumbuhan kalian sejenak aja tidak boleh. Padahal dia kan setelah melihat tumbuhan kalian kami akan pergi jika kalian tidak---"belum sempat Tina mengatakan bicaranya Tera menyodorkan tumbuhannya, Krokot ke Tina.

__ADS_1


"Ini silahkan dilihat, bunganya Indah loh."kata Tera tersenyum ramah. Fitri dan Anggi melotot tidak percaya kalau Tera akan menuruti permintaan mereka berdua. Tina mengambil tas kresek yang berisikan bunga krokot milik Tera dengan senyuman ramah.


"Terima kasih!"balas Tina sok ramah. Bibir Fitri mayun melipat kedua tangan di dada, menunggu.


Sarah dan Tina melihat bunga krokot tersebut tersenyum. Mereka berdua memuji bunga tersebut, "bunganya sangat indah jadi aku pengen beli bunga ini juga!"kata Sarah dibalas angguk Tina.


"Iya, aku juga berpikir seperti itu."balasnya,"bunga yang sangat indah pantas untuk diinjak!"lanjut Tina menjatuhkan kresek berserta isinya itu ke tanah lalu diinjak-injak sama mereka berdua, Sarah dan Tina.


  Keempat gadis itu melotot melihat mereka berdua menginjak tumbuhan itu ke tanah. Fitri mendorong Sarah dan Tina ke belakang, "kalian berdua maunya apa sih? Tumbuhan tidak bersalah diinjak-injak seperti itu!"protesnya dibalas tawa jahat mereka berdua.


"Kami mau menindas kalian karena kalian mau berteman dengan gadis bisu dan jelek itu!"kata Tina penuh penekanan sambil menunjuk kearah Lidya.


Jleb!


Jantung Lidya seolah berhenti ketika mendengar itu dari mulut Tina. Ia tidak tahu mengapa gadis itu seolah menyimpan dendam pada Lidya sehingga apa yang ia punya ditindas dan mendapatkan kata 'Bully' dari Tina bersama teman-temannya.


Fitri menatap tajam ke arah Tina, "kau! Kau adalah iblis berwujud manusia Tin. Anak yang tidak pernah bersalah padamu, kau jadikan sebagai sasaran. Apa jangan-jangan kau punya masalah pribadi sehingga kau mengunci Lidya supaya dia tidak bisa bahagia."kata Fitri begitu rinci setengah membentak Tina.


Tina tersenyum miring menatap Fitri lamat-lamat ternyata orang yang berhadapan dengannya adalah orang paling peka dengan keadaan. Jadi ia harus berhati-hati. Sarah memegang tangan Tina mengajak gadis itu pergi dari sini,Tina tersenyum tanpa mengatakan apapun lalu mereka pergi.


Fitri menydorokan tas kresek putih ke Tera. "Ter,maafkan mereka berdua ya? Mereka berdua adalah bad girl dikelasku jadi aku mewakili mereka untuk meminta maaf."ucapnya tersenyum tapi Tera tidak berkutik dan diam begitu saja membuat Fitri dan Anggi saling beradu pandang.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Hari kamis telah datang dimana kegiatan penghijauan telah siap dilaksanakan. Para murid SMK Cemerlang berkumpul di lapangan dan kepala sekolah membuka kegiatan ini dengan semangat dibalas sorakan meriah dari semua murid. Disisi lapangan banyak sekali tanah,pupuk sekaligus pot bunga untuk tempat tanam. Dan ada tempat buat tanam menanam seperti sekop, tempat untuk menyiram bunga dan cangkul.


"Mari kita melakukan penghijauan!"


"Yeah!"


Semangat para murid berkobar di pagi hari yang cerah ini. Semua murid bubar barisan dan berkumpul di tempat masing-masing buat menanam tumbuhan, disini juga akan penilaian seperti kekompakan dan kerja sama. Para gadis begitu asik menanam tumbuhan masing-masing ketika sampai memberi pupuk, semuanya ogah dan menyuruh para pemuda yang mengambil pupuk itu sekaligus memasukkan pupuk ke dalam pot.


"Dasar cewek sukanya nyuruh-nyuruh cowok pas bagian yang tidak enak."gerutu Beni dibalas pukulan pelan dari Anggi,"enak aja kalau ngomong!"


Lidya menanam pohon kecilnya di depan ruang kantor di bantu oleh Pandu. Pemuda tersebut sesekali menoleh kearah Lidya, gadis itu yang sadar Pandu memerhatikannya berkata,"lihat apa Pandu?"tanyanya dibalas kekehan kecil Pandu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku hanya lihat kalau dibahu mu ada belalang."ucap Pandu santai. Lidya yang mendengar itu melotot dan ia menjerit mencari belalang yang dimaksud oleh Pandu. Pandangan yang lainnya menuju ke Lidya yang bingung dan tidak sedikit murid bergosip.


"Lihatlah dia, mencari perhatian orang saja dengan teriak-teriak gitu."


"Iya,kau benar!"


"Mana belalang nya?"ucap Lidya panik dan berusaha mencari wujud belakang itu. Seketika Pandu tertawa lepas melihat kelakuan konyol Lidya. Gadis itu melihat Pandu tertawa terbahak-bahak tanpa dosa. "Jangan-jangan kau mengerjaiku ya!awas aja ***."kata Lidya mengepalkan tangannya. Pandu segera berlari dan Lidya mengejarnya sampai dapat.


"Pandu!"


Disisi lain terdapat idola SMK Cemerlang siapa lagi kalau bukan Jay. Pemuda satu ini sedang asik menanam bunga tapi sering sekali teman gadis di kelasnya dekat dengannya sampai Jay risih. Aska dan Nando seperti bodyguard Jay pribadi namun sayangnya mereka berdua selalu saja kualahan dan Jay ingin lari dari gadis-gadis gila ini.


Ya tuhan, apa ini anugerah atau kutukan?--batin Jay terus menerus mengatakan hal itu.


Lalu Lina datang dan mengusir mereka gadis-gadis itu,menyuruh mereka semua fokus menanam bukan fokus ke Jay. Lina sangat senang suasana menjadi tenang kembali dan ia tidak akan risih lagi.  "Mereka sudah pergi dan fokus menanam."katanya tersenyum ke Jay lalu pergi melanjutkan aktivitasnya menanam di kelompoknya. Jay menatap punggung Lina yang semakin lama menjauh. Ia tidak tahu, kalau Lina datang semua gadis-gadis itu pergi seperti saat pulang sekolah waktu itu.


Aska menepuk pundak Jay pelan,"tadi siapa? Apa itu pacarmu Jay?"tanya Aska menggoda.


"Enak aja kalau bicara. Itu bukan pacarku!"Jay membalas penolakan tegas bahwa Lina itu bukan pacarnya tapi itu sangat tidak mungkin terjadi. Aska terkejut mendengar perkataan Jay barusan,"seriusan? Padahal dia cantik lo seperti Model."kata Aska menggaruk kepalanya tidak gatal.


  Tera melihat semua murid begitu asik menanam tanaman dan ada juga yang bercanda dan juga jail. Ia melihat Lidya sedang asik kejar-kejaran dengan seorang pemuda dan Tera tidak kenal dengan pemuda tersebut.


Pak Arlan berteriak kencang,"Pandu!Lidya jangan main kejar-kejaran. Nanam tumbuhan kalau tidak ada kerjaan bantu yang lain!"protesnya sama kedua Joli tersebut, mereka hanya bisa terkekeh dan mengangguk mengiyakannya.


Membuat Tera tertawa melihat kedua orang itu. Lalu ia datang ke kelompoknya untuk menaman bersama saat Tera duduk disana tatapan teman-temannya tidak suka dengan kehadiran Tera lalu mereka pergi begitu saja mencari tempat lain. Tera bingung pada mereka tidak pernah bicara padanya dan menganggap dirinya tidak berguna.


Tumbuhan-tumbuhan yang ada di depan Tera bergoyang-goyang menyentuh punggung tangan Tera membuat gadis itu melihat tumbuhan krokot dengan bunga berwarna oranye. Itu saja membuat Tera senang. 


"Aku ingin mendapatkan teman yang bisa menerima aku apa adanya."ucapnya pada tumbuhan tersebut. Gadis itu mengambil pot yang tidak jauh darinya, mengambil tanah yang sudah disediakan oleh pihak sekolah,diambil sedikit pupuk organik lalu krokot itu ia pindahkan ke dalam pot kemudian di tutup kembali dengan tanah.


Seulas senyum terukir jelas di bibir Tera,ia melirik ke kanan dan ke kiri melihat semuanya tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Tera membuat tumbuhan krokotnya menari seperti ular dengan ujung jarinya yang mengeluarkan sinar hijau.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2