Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Lima puluh tujuh:Tentang Yusuf


__ADS_3

   Langit hitam penuh dengan bintang menghiasi langit malam serta ada bulan purnama disana membuat langit terlihat begitu Indah. Beberapa teman-teman Lidya menyiapkan peralatan dan mengeluarkan bahan-bahan makanan yang mereka bawa dari rumah.


  Seulas senyum mengembang dari bibir gadis itu karena ia bisa mengelus kepala anak setengah kucing ini,bernama Keno. "Wah kau lucu sekali. Aku jadi ingin menjadi kucing."kata Lidya terkekeh dibalas kekehan Keno membuat wajah imutnya semakin imut apalagi jika kedua telinga kucingnya itu ia gerakkan.


"Kakak, mau jadi kucing ya?aku bisa loh jadi kucing sepenuhnya tapi kalau ada tanda bahaya. Itu kata Kak Yusuf."kata Keno membuat kekehan kecil Lidya berhenti saat nama itu disebutkan, Yusuf. Ia jadi teringat kenapa ia bisa tinggal di panti asuhan ini ia kira, Yusuf tinggal di rumah nyatanya tidak.


"Hmm,"gumamnya melihat Keno meminta penjelasan tentang Yusuf tinggal di panti asuhan ini sebelumnya ia tidak pernah bilang kalau ia tinggal disini. Hampir semua teman-temannya juga kaget karena Yusuf tidak pernah bercerita sama sekali.


"Ken. Aku mau tanya boleh?"


Keno mengangguk,"tentu saja boleh. Tidak ada yang ngelarang kok."kata Keno sambil mengibas-ngibaskan ekor kucingnya itu.


"Kenapa Kak Yusuf tinggal di panti asuhan?"tanya Lidya membuat Keno menatap gadis di sampingnya itu heran dan bingung. Dahinya berkerut dan menatap langit malam menunggu tahun baru tiba.


"Kakak nggak pernah di ceritain sama Kak Yusuf?"Lidya menggeleng sebagai jawabanya,"tidak."balasnya mengerut.


Keno menghela nafas berat,"Kak Yusuf merasa kesepian dan saat ia pulang ke rumah. Ia selalu diabaikan tidak tahu alasan mengapa keluarganya mengabaikan Kak Yusuf seperti sebagian teman-temannya dan Kak Yusuf bilang. Ia pernah menyukai seorang gadis sampai dekat dengan keluarganya tapi gadis itu malah membuat Kak Yusuf kecewa."jelas Keno berhenti sejenak.


"Ia terus merasa kesepian dan kesepian. Lalu ia dulu sering mampir kesini buat ngajak bermain kami, anak-anak panti. Dengan senang hati Bibi Maya menyuruh Kak Yusuf tinggal atau sering main-main kesini setiap sore. Beberapa hari kemudian Kak Yusuf memutuskan untuk tinggal disini beberapa saat lama-kelamaan ia memutuskan lagi untuk tinggal disini bersama kami."lanjutnya membuat wajah Keno merasa sedih. Ia tahu perasaan Yusuf dan anak-anak panti juga merasakan seperti itu.


Lidya yang terlalu kepo atas informasi Yusuf bertanya kembali ke Keno. "Maaf Ken, kakak telah bertanya seperti itu mengingat orang tuamu juga kan. Anu...kakak minta maaf sekali lagi."


Keno menoleh melihat wajah gadis itu dengan seulas senyum imutnya,"tidak apa-apa kak. Aku senang kok bisa berbagi cerita sama kakak. Setiap hari kalau anak-anak panti sebelum tidur, mereka semua selalu bercerita tentang orang tua mereka dulu. Ada yang masa bayi di buang seperti Saturnus dan Uranus. Mereka berdua kembar yang sekarang seperti diriku,Rubah-human dan Rabbit-human."Keno menoleh kebelakang melihat ternyata rubah dan kelinci itu adalah anak kembar yang sekarang bermain bersama Nando dan Arka.


"Mana yang Saturnus dan mana yang Uranus?"tanya Lidya.


"Kalau Saturnus itu kelinci kalau Uranus itu rubah."jawab Keno. Lidya tersenyum,"wah mereka berdua imut sekali. Haha."


"Oh iya, selain anak panti Saturnus,Uranus, Caca dan kamu memiliki kekuatan. Apakah yang lain juga begitu?"tanyanya dibalas gelengan cepat.


"Tidak, hanya kami berempat saja yang tiba-tiba memiliki kekuatan yang lain tidak. Aku sempat kaget tiba-tiba aku memiliki kedua telinga kucing dan kedua telingaku yang asli tidak ada. Kami bertiga Saturnus dan Uranus berubah bebarengan saat malam ingin tiba. Kami sempat tidak ingin keluar kamar panti dan mulai mengunci diri. Saat jam tengah malam kami memutuskan untuk keluar kamar mencari makan. Demi tidak ingin mereka semua tahu bahwa kami bertiga berubah menjadi hewan setengah manusia."cerita singkat Keno mengingat kejadian awal saat berubah menjadi seperti ini.

__ADS_1


Suara pijakan terdengar dan sebuah tangan menepuk pundak Lidya membuat terkejut, "Aaa!"jeritnya dibalas tawaan kecil dari orang yang mengagetkan Lidya, gadis itu menoleh mendapati Pandu yang tertawa memegangi perutnya. Lidya mengerucutkan bibirnya dan memukul kaki Pandu.


"Eits, Pandu nakal!"kata Lidya. Pandu hanya tertawa dan mencibir bahwa pukulannya tadi sangat lemah tentu saja membuat Lidya bertambah kesal. Ia memalingkan wajah dari Pandu. Pemuda itu behenti tertawa dan berusaha membujuk Lidya supaya tidak ngambek.


"Dih, ngambek. Jangan ngambek lah. Ya, aku salah--minta maaf ya."kata Pandu meminta maaf sambil tersenyum tapi Lidya mengacuhkan perkataan maaf dari Pandu ia masih kesal. Pandu mengigit bibir bawahnya dan mulai duduk di samping Lidya. Keno melihat pemuda berambut panjang dan tampan itu bertanya.


"Kak? Apa kakak dekat dengan kakak ini?"tanya Keno menunjuk Lidya tentu saja Lidya melebarkan kedua matanya mendengar pertanyaan keluar dari mulut Keno.


"Haha, tidak seberapa dekat."jawab Pandu membuat helaan nafas lega dari Lidya. Keno ber'O' ria,"oh kirain. Kak, aku pamit dulu ya mau main sama Saturnus dan Uranus dulu."pamit Keno tersenyum dan pergi menuju ke anak kembar tersebut yang masih bermain sama kedua pemuda yang nampak akrab.


Lidya melihat punggung Keno yang menjauh darinya lalu menoleh kearah Pandu. "Mau apa kau kesini?'tanyanya berubah sinis.


"Jangan galak, mbaknya. Katanya kepo dengan mobilku tadi, aku datang kesini mau nunjukkin sesuatu di mobilku."kata Pandu menjelaskan singkat tujuannya menghampiri Lidya. Dengan berat hati ia mengangguk pelan dan mengikuti Pandu menuju ke parkiran mobil.


  Di halaman depan banyak sekali mobil yang sudah di sulap menjadi tempat perkemahan dan karpet-karpet sudah di tata begitu rapinya. Serbuk biru datang dan menjelma menjadi seorang pemuda pemilik acara open house yang sedari tadi tidak menampakkan dirinya.


Pemuda berjaket biru itu menyapa Lidya, "Hai Lidya!"gadis itu menyapa balik,"Hai Yu-,"ucapnya berhenti sejenak melihat penampilan berbeda dari Yusuf. "Darimana saja kau? Aku tadi sempat mencarimu dan akhirnya aku bermain sama anak panti sambil membantu sedikit yang lain."kata Lidya sedikit mengomeli Yusuf.


  Pemuda tersebut terkekeh,"maaflah. Aku terlau sibuk untuk mengambil barang-barang temanku sebanyak truk besar. Aku yakin kalau kau tahu bawaan ku tadi sebanyak itu kau pasti akan pingsan. Lidya."katanya terkekeh.


Ia tersenyum,"jujur ajalah. Daripada membuat orang kepo?"


"Penampilanmu berbeda loh Suf dan rambutmu sudah tidak berwarna hitam melainkan blonde."kata Lidya jujur kalau di perhatikan apa yang dikatakan olehnya benar.


Penampilan Yusuf berubah beberapa persen dari sebelumnya. Rambutnya yang hitam kini berubah menjadi blonde dan jaket yang dikenakannya tadi adalah warna abu-abu seperti jaket yang waktu di dalam bus, awal pertemuan ia dan Lidya. Sekarang berubah menjadi biru muda.


"Eh kau benarlah. Kenapa aku baru sadar sekarang?"kata Yusuf menyadari bahwa penampilannya berubah. Ia melihat kedua telapak tangannya, "kemungkinan aku terlalu banyak menggunakan sihirku hari ini."ucapnya mengira-ngira bahwa ia hari ini terlalu banyak menggunakan sihir.


  Sebelum-sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Lidya tersenyum,"aku suka loh,penampilan barumu ini?"katanya berusaha membuat temannya ini tidak bingung.


Yusuf yang memerhatikan penampilan barunya dengan perasaan bingung, berhenti. Menatap wajah Lidya dengan kedua pipi merah, "be-benarkah?"tanyanya memastikan dibalas anggukan mantap dari Lidya.

__ADS_1


"Benar. Ya sudah,aku pergi dulu ya."pamitnya melewati Yusuf yang diam memaku.


Dalam hatinya berteriak kencang,apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasakan ada hal yang berbeda saat aku bertemu dengan Lidya. Dengan cepat ia memepercepat langkahnya menuju ke panti.


  Pemuda itu sudah menunggu Lidya yang asik mengobrol dengan Yusuf. Gadis itu langsung bertanya ke Pandu hal apa yang ingin ia tunjukkan dari mobilnya itu.


Pandu tersenyum miring,"sudah selesai dengan ngobrol sama Yusuf?"ucapnya sedikit terkekeh pelan yang masih bisa didengar oleh Lidya.


"Udah kok. Mana yang ingin kau tunjukkan?"tanya Lidya penasaran.


Akhirnya Pandu menunjukkan apa yang ingin ia tunjukkan ke Lidya. Ia membuka pintu bagasi mobilnya dan kursi belakang mobil sudah ia lipat  dengan rapi. Pemuda tersebut mengeluarkan remot dari saku celananya dan menekan salah satu tombol.


Pandu menyuruh Lidya untuk mundur memberikan mobilnya sedikit ruang. Terdengar suara dari mobil tersebut badan mobil di belakang. Lidya berdiri memaku melihat mobil itu sedikit memanjang dan disana ada tempat tidur lipat.


Senyum mengembang di bibir Pandu, "nah mobilku ini cocok buat berkemah."kata Pandu melihat Lidya sweetdrop.


"Wow, itu sangat luar biasa. Bagaimana kau memodifikasi mobilmu ini?"tanyanya berjalan mendekat mobil itu.


"Bantuan dari Arkan."jawabnya.


"Ha? Arkan?"ucap Lidya balik. Tentu saja, ia terkejut mendengar nama Arkan. Pemuda itu begitu pintar ia tidak hanya bisa membuat robot dan bahan-bahan seperti makanan serta produk kecantikan melainkan bisa menjadi montir.


"IQ dia sangat tinggi makanya cerdas."kata Pandu.   


Lidya diam dan yang dikatakan Pandu benar. IQ Arkan sangat tinggi seperti profesor. Di tempat lain dimana Arkan sedang menunjukkan hasil kimianya dengan beberapa teman barunya dan di sini juga ada Shena yang ingin tahu tentang banyak hal, Arkan.


"Aku akan buat petasan dari hasil kimia."ucapnya mencampurkan beberapa cairan ke satu botol kimia yang ada di depannya. Cairan itu berubah menjadi merah dan berhasil disambut oleh tepuk tangan. Ia menoleh ke arah Shena.


"Shen bantu aku membuat petasan ke dalam wadah diikuti dengan yang lainnya ya."ucap Arkan menatap Shena sebentar lalu menghadap ke murid barunya.


Barisan paling belakang, ia melihat sinis dan penuh dengan rasa kebencian.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung.....


__ADS_2