Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Empat Puluh Tujuh:Kevin dan Farah


__ADS_3

Setelah menemukan kelompok hilang yang terjadi di perkemahan sebelah,SMP. Kedua pangkat sekolah itu kembali tenang seperti sedia kala yaitu bersenang-senang dan menyiapkan yang lainnya sebab besok adalah hari terakhir mereka semua.


  Bagi sebagian murid perkemahan liburan sekolah ini sangat menyenangkan dan menegangkan karena ada banyak sekali kejutan seperti tadi. Mereka kira hanya permainan biasa namun nyatanya itu adalah permainan untuk melatih orang yang memiliki kekuatan.


    Gadis berambut panjang bergelombang yang diikat asal duduk termenung mengetuk sampul buku yang ada di pangkuannya, bingung harus menulis apa di buku kecilnya ini selain cerita khayalannya. Lebih tepat sekarang tokoh khayalannya sudah real.


Fandra melihat Lidya duduk sendirian menatap depan kosong, ia duduk di samping Lidya mencoba mengamati ekpresi gadis itu yang terlihat kebingungan dan  harus melakukan aktivitas apalagi nanti. Pemuda itu tersenyum,"Lid. Tumben banget kau sendirian disini?"tanyanya sedikit basa-basi.


"Aku ingin butuh ketenangan saja. Lagipula besok udah pulang dan kita menjalani kemah ini merasa senang."kata Lidya terus memandang kedepan melihat semua murid melakukan aktivitas masing-masing seperti menyiapkan makanan untuk makan siang nanti.


Fandra menghela nafas panjang menatap kedepan, menekuk kedua lutut. "Perkemahan ini penuh dengan kejutan besar,Lid."jawab Fandra singkat dan Lidya menoleh kearah pemuda disampingnya.


"Iya, ada latihan buat kekuatan anak-anak yang di buat oleh Pak Ganda. Aku sempat terkejut lagipula aku kan tidak mempunyai kekuatan jadi aku harus was-was."jawab Lidya membuat Fandra hanya tersenyum tipis tidak setuju apa yang dikatakan oleh Lidya barusan.


Fandra menceritakan semua yang terjadi pada dirinya sendiri, secara tiba-tiba ia memiliki kekuatan awalnya tidak percaya ia punya kekuatan tapi kelamaan ia percaya dan harus mengeluarkan kekuatan itu saat keadaan genting. "Jujur saja, aku sebenarnya tidak memiliki kekuatan kok hanya saja, aku pintar  terhadap apapun itu saja."lanjutnya. Lidya mengamati wajah Fandra yang begitu serius memberitahu kekuatannya yang sama sekali Lidya tidak tahu, apa kekuatan Fandra.


  Dari dua hari yang lalu Fandra adalah pemuda normal, tidak memiliki kekuatan apapun seperti beberapa murid lainnya. Lidya yakin kalau yang ikut perkemahan ini ada 70 persen memiliki kekuatan. Jika diingat-ingat kekuatan itu dari makhluk imajinasi yang keluar dari batu gapura yang kini masih terbuka selama 10 tahun dan tidak akan tertutup.


"Hei kalian berdua!"ucap seseorang lantang dari belakang mereka berdua. Fandra dan Lidya menoleh mendapati Vana memasang wajah kesal.


"Ada apa Van?"tanya Fandra tersenyum.


"Farah dan Kevin. Mereka tidak pernah akur tuh gara-gara mereka nempel terus seperti ada lem di tangan mereka. Bening tidak bisa menggunakan kekuatan harapannya dan yang lain sudah berusaha untuk melepaskannya tapi tidak bisa."jelas Vana serius memandang Fandra dan Lidya bergantian.


  Di dalam tenda keduanya saling membuang muka, tidak bisa melakukan apaun selain diam. Farah udah kesal dengan sikap Kevin yang selalu menolak melakukan apapun padahal ia kasihan melihat Selena dan Bening harus menyiapkan semua makan siang, Vana mencuci piring dibantu lainnya.

__ADS_1


Selena ikut khawatir dan takut melihat kedua temannya yang tidak bisa di lepaskan tangannya. Lalu datanglah Fandra dan Lidya, mereka berdua melihat Kevin dan Farah membuang muka satu sama lain.


"Mereka kenapa?"tanya Lidya ke lainnya.


"Farah ngambek dan Kevin tidak mau mengikuti arahan ketua. Kata Kak Zaidan kan kita harus kerja sama tapi itu tidak akan dituruti oleh Kevin."jawab Agung seolah tahu dengan keadaan,"pantas aja, kemarin-kemarin Kevin menghilang tidak ada di tenda dan membantu yang lain."lanjut Agung lagi dibalas tatapan tajam dari Kevin.


Lidya diam memikirkan sesuatu, ia menatap pada dua temannya yang menempel entah karena apa mencoba mencari solusi yang tepat. Kata Agung tadi, Kevin tidak mau bekerja sama dengan lainnya dan sering menghilang sedangkan Farah adalah ketua kelompok ini jadi ia harus bersikap seperti ketua kelompok seperti kelompok lain. Lidya menjentikkan jari membuat semua menatap kearah gadis membawa buku catatan kemana-mana.


"Bagaimana kalian berdua, Farah dan Kevin berkerja sama. Lagipula besok terkahir kita kemah dan akan pulang jadi sekarang adalah hari terakhir kita berkema disini."kata Lidya mengucapkan solusi yang bagus membuat semua mengangguk setuju kecuali Farah dan Kevin.


Farah berdecih kesal,"itu tidak akan mudah untuk dilakukan. Apalagi dengan pemuda malas ini!"protes Farah tidak setuju dengan solusi yang dibuat oleh Lidya, melirik sinis Kevin. Pemuda berambut hitam acak-acakan itu hanya menatap datar teman-temannya dan dalam hatinya sedikit kesal harus menempel di tangan Farah. Coba saja kalau ia tidak menjadi pelindung ketua dari permainan itu, ia tidak akan menempel bersama gadis ini.


"Sudah kubilang, aku tidak suka dengan kemah."ucap Kevin dibalas pelototan dari Vana.


"Hei Kev!aku dengar itu. Aku juga tidak terlalu suka dengan kemah tapi kelamaan aku menyukainya. Tidak lama, kau akan merasakan itu!"omel Vana dengan raut wajah menyeramkan, tangan dilipat di dada. Kevin menghela nafas kasar.


   Tenda milik Lina banyak sekali berdatangan para gadis dari kelompok lain dan seperti biasanya mereka ingin melihat Jay membuat Lina semakin lama akan naik darah melihat gadis-gadis itu. Shena hanya menggeleng dan ia membantu Lina untuk menyuruh para gadis-gadis itu pergi, selama permainan tadi Shena tidak membantu apapun malah ia melihat Lina bisa mengeluarkan pedang entah darimana pedang itu berhasal dan ia bisa mengalahkan Kak Hilda. Gadis tersebut melihatnya dengan kedua mata ketika ia dan kelompoknya melintas di jalan yang lain, tidak sengaja melihat pertarungan Kak Hilda dan Lina.


Shena menepuk bahu Lina,"kau adalah gadis cantik yang kuat dan pemberani. Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri untuk melindungi ketua Jay George."goda Shena membuat kedua pipi Lina merah padam. Ia menjadi salah tingkah akibat perkataan Shena yang sudah berlebihan.


"Jangan goda aku,Shen!"teriak Shena memukul bahu gadis itu tapi pukulan Lina tidak mempan di bahu Shena. "Pukulanmu masih pelan seperti gadis pada umumnya."ledek Shena membuat mata Lina berapi-api menatap Shena yang udah kelewatan menghina.


"Apa yang kau katakan barusan!"protesnya berkacak pinggang. Shena terkekeh geli,"tidak ada kata replay."ucapnya santai membuat Lina ingin mencabik-cabik Shena tapi gadis berambut hitam berponi itu sudah lari lalu Lina mengejarnya seperti tikus dan kucing.


"Berhenti kau Shen!"teriak Lina kencang.

__ADS_1


   Terlihat Farah dan Kevin berjalan berdua melihat semua kelompok asik memasak, menyiapkan makan siang. Gadis itu ingin membantu teman-teman tapi tidak bisa karena masalah sepele yang menjadi besar. Ia sendiri tidak tahu kenapa tangan Kevin bisa menempel di tangannya, tidak bisa lepas.


  Kepala sekolah SMA Negeri satu melihat semua muridnya bekerja sama lalu beliau melihat ada satu couple remaja yang melihat sekeliling, tidak membantu teman lainnya. "Hei kalian berdua!"teriak Pak Ganda membuat Kevin dan Farah kaget mendengar teriakan keras dari kelapa sekolah Negeri satu. Ganda menyuruh pasangan itu datang padanya.


"Ada apa Pak?"tanya Kevin dibalas pelototan menyeramkan dari Pak Ganda.


"Apa kau bilang barusan tidak sopan!"teriak Pak Ganda tepat didepan muka Kevin. Farah yang ada disampingnya hanya bisa memejamkan mata tidak berani melihat kepala sekolahnya sedang mengeluarkan amukan singa.


Ganda berdiri tegak melihat kedua anak didiknya yang enak-enak jalan berduan. "Ish kalian ini, tidak membantu kelompok sendiri malah jalan berduaan dengan tangan menggenggam."kata Ganda salah paham sama mereka berdua.


"Eh Pak, bapak salah. Kami berdua sebenarnya ingi--"


"Ingin apa? Ingin berkencan di siang bolong?"potong Ganda membuat mereka berdua terkejut dan ada beberapa murid yang mendengar itu, mulai bergosip.


"Kalau begitu sebagai hukuman, kalian harus mencari bunga warna-warni di wilayah terlarang dan bawa bunga itu kesini!"perintah kepala sekolah, Ganda dengan wajah murka. Kevin dan Farah terkejut bukan main mendengar hukuman dari Pak Ganda yang terdengar tidak masuk akal.


Kevin mengerit bingung,"memangnya ada bunga warna-warni dalam satu tumbuhan?"ucapnya tidak percaya dibalas tatapan tajam dari Ganda membuat Kevin merasa kecil di hadapan kepala sekolah sendiri.


"Apa aku pernah bercanda memberi arahan pada anak didikku?"Kevin dan Farah menggeleng.


"Kalau begitu kalian pergi ke wilayah terlarang Drak Shadows 36!"


  Yusuf yang berada tidak jauh dari tempat berdiri Pak Ganda, Farah dan Kevin terkejut mendengar hukuman mereka berdua harus pergi ke tempat terlarang yang baru saja mereka masukki. Dan sekarang Pak Ganda menyuruh ke tempat terlarang itu lagi.


"Aku harus mengikutinya."ucap Yusuf sedikit khawatir pada mereka berdua. Yang jelas kekuatan Kevin tidak penting, menurut Joe dalam diri Yusuf.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung.....


__ADS_2