
Suara derap kaki menaiki tangga terdengar jelas. Aska tidak ada henti-hentinya menghibur hati Lidya menyuruh gadis itu tersenyum dan Lidya mengucapkan terima kasih banyak atas hiburannya. Suasana hati Lidya kembali senang seperti sedia kala, ia masuk kembali kedalam kelas.
Suasana kelas yang berenergi negatif dan menyeramkan ketika Lidya masuk kedalam kelas tersebut. Aura negatif yang memenuhi kelas hilang begitu saja, aura perlahan mengarah kembali ke tubuh laki-laki yang duduk di pojok itu. Di dalam kelas menjadi sedia kala. Beni yang menatap tajam kearah teman-temannya dan membawa penggaris di genggamnya terlihat kebingungan. Tidak hanya Beni saja murid lainnya pun ikut kebingungan melihat secarik kertas yang mereka tulis berisikan peraturan baru dari ketua kelas.
Sarah dan Tina yang tadi merasa takut kini bernafas lega,tubuh mereka tidak merasakan merinding lagi. Tina merlirik kearah kanan, melihat ekspresi Lidya menjadi semangat kembali membuat gadis bernama Tina itu benci. Pikirnya Lidya akan terus memasang wajah sedih dan tidak akan pernah memasang wajah senang.
Laki-laki yang duduk di pojok bernama Vin Imanuel melihat gerak-gerik Tina yang merasakan rasa kebencian pada Lidya. Ia tahu persis Tina sangat benci dengan Lidya tetapi Vin sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa selain mengeluarkan aura negatif buat menakut-nakuti mereka. Vin disini juga sebagai parasit di sekolah dan dikelas ini tidak ada yang menganggap keberadaan Vin sama sekali tapi ia sadar, harus menerima kenyataan.
Ia tidak tahu mengapa aura negatif berada di dalam tubuhnya dan membuat orang yang berada didekatnya ketakutan. Jangankan saja ia duduk disamping orang ketika bertatapan orang itu bakal lari duluan padahal wajah Vin tidak seburuk beruang. Vin malah tampan dan membuat para gadis mudah terkesima. Namun, karena aura negatif ini ia merasa hidupnya tidak adil.
Jam berlalu dan waktunya istirahat datang. Lidya menunggu Lina datang ke kelasnya buat menjemputnya untuk makan siang tapi ada sedikit perubahan sekarang. Lina tidak menampakkan diri diambang pintu,apa mungkin ia tersinggung dengan perkataan waktu itu. Menyuruh menyusul Jay di kelas sebelah. Lidya mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya, dibukannya ternyata ada pesan dari Lina.
Lina Ak1
Lid, aku tidak istirahat ya. Maaf, soalnya aku lagi ngerjain akuntansi nih, banyak banget. Jadi sorry ya:(
Dengan cepat Lidya menjawab,
For Lina Ak1
Tidak apa-apa, Lin. Aku akan istirahat sendiri. Good luck!
Balasnya segera meletakkan ponselnya kembali kedalam sakunya. Ia mengambil buku kecil dan pulpennya lalu membawanya keluar menuju kantin. Saat perjalanan di kantin ia ditabrak oleh pemuda berseragam akuntansi. Saat ia menabrak Lidya, mulutnya bergetar,"Ma-Maafkan aku. Aku ti-tidak sengaja."ucapnya membantu Lidya berdiri.
Lidya mengambil bulpen yang terjatuh lalu melihat ekspresi pemuda itu sangat ketakutan, tubuhnya bergetar. "Iya, tidak apa-apa. Asalkan jangan diulangi lagi ya?"ucapnya memperingatkan pemuda itu.
"Sekali lagi maaf."katanya dibalas angguk Lidya kemudian pemuda tersebut lari entah kemana kelihatannya buru-buru banget. Lalu Lidya kembali berjalan menuju ke kantin untuk menulis sebuah cerita lagi.
Tidak jauh dari sana,ada Sarah,Ferdi dan Tina yang diam-diam membuntuti Lidya daritadi. "Kita harus membuatnya jera. Gara-gara dia, dikelas kita ada peraturan tetap."kesal Tina ingin membuat Lidya menderita. Ferdi diam sejenak dan ia punya ide bagus. Ferdi membisik pada Sarah dan Tina lalu tos.
Lidya sudah duduk dibangku kantin dengan tenang, ia ingin membuka buku catatannya secara tiba-tiba ada tangan yang menindih tangannya seolah mencegah Lidya membuka buku catatannya. Lidya menoleh ternyata Sarah tengah tersenyum bahagia.
"Hai Lidya!"sapanya sangat ramah membuat Lidya menjerit bingung dalam hati dengan tingkah laku Sarah. Lidya mencoba tersenyum dan membalas sapaan Sarah,"Hai Juga."
Sarah duduk berhadapan dengan Lidya masih tersenyum manis. Itu menbuat Lidya takut dengannya. "Lid, aku minta tolong dong."ucap Sarah tiba-tiba lemas tidak bersemangat lagi.
Lidya mengerit dan bingung harus menganggapi bagaimana. "Tolong apa?"tanya Lidya.
"Tolong bantu nyariin dompetku yang hilang."kata Sarah lemas. "Kok bisa?"kata Lidya terkejut. Sarah menggeleng tidak tahu lalu ia memegang tangan kanan Lidya,memohon. "Bantu aku nyariin ya."ucapnya mengeluarkan puppy eyes nya memohon. Lidya ingin menolak permintaan Sarah tapi disisi lain tidak tega melihat Sarah kehilangan dompetnya. Pasti di dompet itu banyak uangnya.
Dengan berat hati, Lidya mengangguk mengiyakannya. Sarah terlihat girang dan memastikan bahwa Lidya benar-benar menolongnya. "Apa benar?"
__ADS_1
"Iya."balas Lidya cepat membawa buku catatannya di pelukan. Sarah dan Lidya berjalan beriringan,Sarah melirik kearah Lidya dengan senyuman miring.
"Hmm kira-kira kau menyadari dompet mu hilang dimana?"tanya Lidya.
Sarah melihat keatas berpikir. "Aku tadi jalan dibelakang sekolah, jalan-jalan. Nah disitu aku tersandung batu dan jatuh lalu aku kembali berjalan menuju toilet. Saat ingin ke toilet aku menyadari kalau dompetku tidak ada. Mungkin dompet ku terjatuh saat aku tersadung di belakang sekolah."Sarah bercerita musibah yang dialaminya. Lidya mengangguk-angguk mendengar cerita Sarah.
Mereka berdua sudah sampai di belakang sekolah yang sepi dan ada tembok antara dua sekolah, SMK Cemerlang dan SMP Negri. Sarah mulai mencari dompetnya dan Lidya juga mulai mencari dompet Sarah yang hilang. Disisi lain ada dua makhluk yang sudah siap dengan rencana yang udah disiapkan.
"Maaf Sar. Dompetmu tidak ketemu. Aku sudah mencarinya."kata Lidya sedih karena ia sudah mencari keseluruh tempat tapi tidak ada wujud dompet itu. Sarah cemberut, "ya, nanti aku nggak bisa pulang kalau dompetnya nggak ketemu."ucap Sarah sedih.
"Hmm, bagaimana kalau kita ke ruang bk?"usul Lidya tersenyum.
Tina dan Ferdi berjalan mendekat berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun. Sarah yang tahu kembali memasang wajah sedihnya,pasrah. "Baik kalau gitu, aku akan ke ruang bk."katanya.
"Bagus."
Tiba-tiba kaki Lidya di jegal dari belakang membuat Lidya jatuh tersungkur dan buku kecilnya itu jatuh. Lalu suara tawa menggelegar.
"Hahahahahaha!"
Lidya yang tidak mengerti pun kebingungan. Tina,Ferdi dan Sarah tertawa terbahak-bahak melihatnya terjatuh tersungkur.
"Eh gadis lugu! Mudah sekali kamu tertipu dan percaya aja ke Sarah kalau dompetnya hilang."kata Tina mencibirnya, tersenyum miring. "Asal kau tahu ya, Sarah itu tidak membawa dompet."lanjut Tina.
"Nggak ada gunanya kau minta tolong di tempat sepi ini."ucap Ferdi memukuli Lidya. Gadis itu menangis. Setelah sudah puas memukuli Lidya sampai wajahnya dan tangan penuh luka. Ferdi menyuruh Sarah dan Tina minggir. Kedua gadis itu minggir masih menatap Lidya yang tidak berdaya.
Ferdi tersenyum miring,"aku akan mengakhiri hidupnya. Karena aku sudah senang membuatnya menderita."ucap Ferdi begitu kejam bak psycopat. Lidya yang mendengar itu mendelik dan mendongak melihat Ferdi mengangkat kakinya ingin menginjak Lidya habis-habisan.
Tiba-tiba suasana menjadi suram. Cuaca yang awalnya cerah benderang menjadi mendung, gelap. Tina dan Sarah melihat sekeliling berubah total. Suasana menjadi merinding. Ferdi berusaha tidak tepancing suasana yang begitu seram seperti di kelas tadi. Ia kembali mengangkat kakinya dan menurunkan kakinya dengan keras ke perut Lidya. Namun, kaki Ferdi merasa mati--tidak bisa bergerak.
"Ayo Fer. Kau kata akan mengakhiri kehidupannya. Mengapa kau malah diam saja."kata Tina memeluk tubuhnya sendiri supaya tidak merinding.
"Cepat Fer. Dan kita segera pergi dari sini. Kau tahu,ini sangat menyeramkan."kata Sarah ketakutan.
Ferdi berusaha menurunkan kakinya ke perut Lidya tapi ia tidak bisa. "Apa yang terjadi?"tanyanya pada diri sendiri. Lidya yang duduk menunggu Ferdi menginjaknya pun bingung. Dan cuaca cerah tadi menghilang tergantikan awan mendung sangat gelap. Serta suasana bak horor, tubuh Lidya merinding seperti pemuda beraura negatif itu melewatinya.
Apa mungkin?
blush!!
Tubuh Ferdi terhuyung kebelakang dan jatuh, ia merintih kesakitan dan kedua gadis yang melihat itu mendelik. Sebuah asap hitam datang didepan Lidya dan asap itu membentuk manusia. Rambut berwarna cokelat dengan kedua bola mata hitam, giginya bertaring seperti harimau, ia juga memiliki cakar yang panjang. Barang siapa yang mengancamnya,siap-siap mendapatkan cengkraman maut.
__ADS_1
Mereka bertiga melihat makhluk mengerikan itu menelan ludah masing-masing. Tubuhnya terus merinding seperti melihat hantu. "Apa yang kalian lihat?lawan aku kalau berani?"ucapnya lantang. Kalimat yang terucap dari laki-laki itu membuat mereka lari terbirit-birit ketakutan kembali ke dalam kelas. Pemuda itu melirik mereka bertiga yang lari ketakutan.
Pemuda itu menatap kedepan dan memejamkan matanya menarik semua aura hitam(negatif)kembali masuk kedalam tubuh pemuda itu. Langit yang hitam sekarang kembali cerah benderang, suasana bak horor kembali sedia kala. Setelah selesai mengembalikan aura hitam(negatif). Pemuda itu bertampilan seperti pada umumnya,kedua mata hitam kembali cokelat, kuku tajamnya kembali sedia kala.
Pemuda bernama Vin itu berbalik dan duduk disebelah Lidya yang duduk lemas. Wajah dan tubuh gadis itu penuh luka. "Bertahanlah, aku akan membawamu ke UKS."ucap Vin perhatian sama Lidya. Gadis itu menatap pemuda tersebut tersenyum, ia menutup matanya membuat Vin bertambah panik.
"Lidya, jangan buat aku tambah panik!"pekiknya kebingungan. Ia menggendong Lidya dan Segera dibawah ke UKS secepat mungkin.
Vin tidak menyadari kalau Lidya tadi membawa buku catatannya. Buku itu tergeletak disana.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Lidya sudah terbaring diatas ranjang dan Vin bingung harus ngapain. Ia tidak berani meminta tolong pada orang lain karena orang itu bakal lari melihat aura negatifnya. Kata kebanyakan orang Vin itu hantu yang hidup didunia nyata. Ia juga tidak bisa membiarkan Lidya terbaring lemah seperti ini. Entah mengapa ia merasa ingin melindungi Lidya dariapapun ,apa mungkin Lidya adalah gadis yang sangat sabar meski ia harus mendapatkan bully.
Vin keluar dari uks mencari bantuan untuk mengobati luka Lidya yang bisa dibilang parah. "Lain kali aku tidak akan membiarkan mereka melarikan diri."ucapnya geram.
Vin melihat ada dua gadis sedang berjalan santai, ia segera menghampiri mereka meminta tolong. Akan tetapi kedua gadis itu sudah melarikan diri sambil berteriak ketakutan padahal Vin belum mengatakan apapun pada mereka. Ini yang tidak ia suka, Mereka semua menganggap Vin makhluk paling menyeramkan.
Mungkin ini sebab aura negatif yang ada di tubuhnya. Vin terus menerus meminta tolong pada murid lainnya tapi kebanyakan kabur melarikan diri membuat pemuda itu mengeluarkan air mata. Satu tetes jatuh membasahi pipi mulusnya. Apa segitukah tuhan mengutuknya? Dijauhi oleh orang-orang padahal ia tidak ngapa-ngapain.
"Lidya,bertahanlah."ucap Vin mencari orang yang bisa membantu mengobati luka Lidya.
Pemuda itu keluar dari sekolah demi mencari pertolongan, banyak sekali murid yang kabur jika didekati oleh Vin. Pemuda tersebut berlari meminta warga sekitar akan tetapi kebanyakan mereka bersembunyi.
Ditempat lain dibelakang sekolah dimana ada buku catatan milik Lidya mengeluarkan sinar benderang berwarna putih memenuhi buku itu. Buku tersebut terbang melayang ke udara dan melesat terbang ke UKS. Buku itu terbuka mengeluarkan sinar putih lalu sinar tersebut menjelma menjadi seorang dokter yang sangat cantik dan dokter itu memiliki sayap seperti malaikat.
Ia tersenyum dan berkata,"aku akan menyembuhkanmu lukamu."ucapnya mengayunkan telunjuk jarinya, mengeluarkan cahaya. Cahaya putih itu masuk kedalam tubuh Lidya dan secara perlahan luka fisik itu menutup. Dokter tersebut menghilang seperti Asap.
Pemuda yang sudah lelah mencari bantuan kembali dengan wajah lesuh. "Ma-maafkan A--"ucap Vin yang ingin meminta maaf pada Lidya tiba-tiba teurungkan. Ia terkejut melihat luka diwajah Lidya tidak ada, Vin tersenyum.
"Ya allah terimah kasih. Kau telah mengirimkan orang yang menyembuhkan luka Lidya. Siapapun orangnya aku harap ia sehat selalu dan selalu selamat."ucap Vin berdoa. Ia senang sekali melihat keajaiban ini.
Sudah lama Vin tidak sebahagia ini biasanya ia sangat pelit tersenyum, bicara dan kebanyakan memasang wajah datar. Jari tangan Lidya mulai begerak dan gadis itu ingin membuka matanya. Vin dengan cepat segera pergi dari UKS ia tidak ingin aura negatifnya membuat Lidya ketakutan.
Lidya terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling, UKS--pikirnya kebingungan. Seingat Lidya, ia ditolong oleh seorang pemuda tapi pemuda itu berada di mana?Lidya memegang wajahnya tidak sakit lagi dan tangannya yang penuh luka, tidak ada luka. Ia tersenyum dan sangat senang bisa sembuh total. Lidya tidak tahu pemuda itu mengobati lukanya seperti apa yang jelas ia sangat berterima kasih dan suatu hari ia bisa membalas kebaikannya.
Lidya menoleh mendapati buku catatan yang tidak jauh dari tempatnya. Diambilnya buku itu dan ditulis sesuatu.
Terima kasih pemuda yang telah menolongku tadi semoga kebaikanmu bisa berguna pada orang lain.
Lidya tersenyum.
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...