Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Tujuh puluh empat:Penguntit


__ADS_3

   Mereka berdua membeli makanan ringan dan duduk santai di kursi. Lidya menyantap kentang gorengnya sedangkan Pandu meminum susu cokelat.


  Lidya melihat sekeliling semakin malam, mall ini sangat ramai ia pikir ramainya di jam sembilan pagi sampai sore ternyata tidak seperti dibayangkan.


"Lid. Bentar lagi kita menuju ke bioskop bentar lagi filmnya di mulai."ucapnya dibalas angguk Lidya.


Sebelum Pandu bangkit berdiri Lidya meluncurkan pujian dengan penampilan baru Pandu terutama gaya rambutnya. "Penampilanmu sangat menarik kalau begini. Jujur saja, terlihat rapih."ucap Lidya tersenyum manis.


Pandu mendengar pujian dari Lidya menatap gadis itu tidak percaya dan kedua pipinya memerah. Banyak sekali pengunjung mulai memasuki film yang mereka tonton. Lidya melihat koridor penuh pajangan film dan sempat terkejut melihat ada film horor untung saja Lidya tidak sampai teriak hanya terpenjat kaget.


  Pemuda itu menoleh kebelakang menyuruh untuk masuk ke dalam setelah tiketnya ia beri ke pegawai mall itu. Ruangan yang sedikit gelap hanya ada beberapa lampu yang menyala. Pandu mencari nomor bangku, tepat letakknya berada di tengah-tengah nomor F3 dan F4. 


  Lidya duduk di bangku tersebut menatap layar besar di hadapannya menampilkan beberapa cuplikan film seraya menunggu penonton lain datang. Perjalanan waktu bioskop mulai penuh dengan penonton lalu datang beberapa pegawai menawarkan minuman dan popcorn.


  Pandu membeli dua popcorn kemudian semua lampu dimatikan. Layar besar mulai menampilkan opening filmnya. Pandu menoleh mengarah ke Lidya,"nikmati filmnya ya."ucapnya seperti menandakan sesuatu buat Lidya.


  Gadis itu mendapatkan sebuah feeling buruk pada film yang mereka berdua tonton. Ia melirik ke Pandu yang menikmati makan popcorn, Lidya kembali menatap film.


    Di pertengahan film suasana menegangkan terjadi. Semua penonton merasakan tegangan dahsyat, suara menyeramkan menggema membuat bulu kuduk merinding. Lidya menatap layar besar itu fokus melihat seorang gadis sebagai pemeran utama di film itu menelusuri ruangan besar yang gelap, hanya sebuah senter kecil di genggamannya.


Kedua matanya terpejam menahan rasa takut, kembali terbuka masih tidak ada terjadi apa-apa. Di dalam hati Lidya mulai menggerutu kesal karena Pandu memberikan sebuah kejutan yang menyeramkan.


  Senter di genggaman gadis itu tiba-tiba terjatuh kelantai dan mati. Tinggal kegelapan yang ada, suara yang Lidya benci kembali berbunyi.


Hueng!


Semua penonton semakin menegang, ada yang fokus, pura-pura tidur,bersembunyi di balik punggung sebelah. Tangan Lidya menggenggam tangan Pandu erat, Pandu melihat tangannya di genggam oleh Lidya.


Ternyata Lidya ini orang penakut,batinnya tersenyum miring.


Pandu memegang tangan Lidya dengan tangan kanan membuat Lidya menoleh, tersadar kalau ia memegang tangan Pandu saking takutnya. Keduanya menatap layar lebar itu, masih tidak ada tanda-tanda hantu muncul.


Suara menyeramkan tiba-tiba menghilang dan layar menjadi hitam. Semua orang masih fokus dan menegang.


  Tiba-tiba muncul wajah menyeramkan dan suara backsound kembali terdengar volume keras. Membuat semua orang terkejut dan berteriak. Lidya refleks memeluk Pandu dari samping, tubuhnya sedikit begetar karena takut. Mata pemuda itu terkejut bukan main, ia tidak menyangka mendapatkan pelukan seperti ini.


"Terimalah ini iblis yang keji!"geram gadis itu mengeluarkan sebuah sihir zodiak.


  Saat suasana menegangkan sudah mereda, Pandu menyuruh Lidya untuk kembali menonton. Perlahan Lidya melepaskan pelukannya dan berkata maaf. Ia kembali melihat film itu, jantungnya sudah berdetak kencang akibat scene menyeramkan tersebut.


    Film sudah berakhir semua penonton perlahan keluar dari bioskop. Lidya melirik sinis ke arah Pandu yang terkekeh kecil. Ia menepuk bahu Pandu membuat Pandu mengadu kesakitan.


"Duh, duh, sakit Lid."


"Biarin, salah sendiri ngajak film horor."ucap Lidya membuang muka, ngambek.


"Maaf. Kan tadi filmnya juga ada penyihirnya, genre fantasi. Mana aku tahu kalau musuhnya iblis menyeramkan seperti itu."ucap Pandu jujur tetapi Lidya masih memalingkan wajah, kesal.


Pandu menghela nafas kasar,"okay-okay. Sekarang, kau minta apa?biar aku yang belikan sebagai tanda maaf."ucap Pandu ke Lidya, membelikan apapun yang di sukai oleh Lidya.


"Aku tidak mau, apa-apa."Lidya masih dalam pendiriannya, ngambek. Tanpa babibu ia bangkit berdiri meninggalkan Pandu disana lalu Pandu menyusul gadis itu dan melontarkan maaf berkali-kali.


   Pandu mencekal tangan Lidya,"tunggu. Maaf kalau filmnya terlalu menyeramkan habis kata mbak-mbak begitu,"ucapnya jujur,"mana mungkin kan aku tanya ke kamu, film kesukaan genre apa. Itu tandanya tidak suprise."lanjutnya nada penyesalan.


Lidya yang mendengar suara penuh penyesalan dari orang yang selama ini terlihat serius, ceria, perhatian dan terkadang menyebalkan. Bisa berkata seperti ini membuat Lidya terkekeh kecil mendengarnya. Pandu yang mendengar kekehan kecil Lidya, bingung.


"Kenapa kau tertawa?"tanyanya bingung.

__ADS_1


Lidya berbalik menghadap ke Pandu, tangan kananya masih di genggam oleh Pandu. "Hahaha, kau sangat lucu kalau menyesal begitu. Aku sampai tidak bisa menahan tawa."ucap Lidya masih tertawa.


Pandu terkejut mendengarnya tidak disangka kalau Lidya juga bisa menipunya membuat melontarkan perkataan akan menuruti apa yang ia pinta. "Ja-jadi tadi?"


"Aku mengerjaimu."kata Lidya tertawa lepas dan berlari keluar dari tempat zona bioskop. Pandu tidak habis pikir panjang ia mengejar Lidya.


"Lid, tunggu!. Awas saja kau! Kalau dapat."teriak Pandu mengejar Lidya tidak penting mereka menjadi sudut pandang pengunjung Mall.


  Lidya berhenti masih tertawa membayangkan ekspresi Pandu tadi sangatlah lucu seandainya ia foto ekspresi itu akan menjadi hiburan tersendiri saat tidak melakukan apapun. Sebuah tangan melingkar di pinggangnya terasa, ia melirik ke belakang melihat Pandu menangkapnya.


"Kena kau! Dasar gadis nakal!"ucapnya penuh geram.


Kini giliran Lidya yang meminta maaf ke Pandu,"maaf Pan. Aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi lepaskan aku!"pinta Lidya berusaha melepaskan pelukan Pandu.


"Nggak akan. Nanti kau akan kabur lagi."ucap Pandu.


Kedua pipi Lidya memulai memanas,"nanti orang-orang disini melihat kita."alasan yang masuk akal.


"Itu nggak penting. Biarkan saja."kata Pandu masih dengan pendiriannya.


"Lepaskan!"


*Jangan Anggap Kami lemah*


     Restoran ayam yang penuh dengan pembeli terlihat Lidya dan Pandu tengah menikmati makanan dekat dengan jendela,Lidya melihat luar jendela yang menyuguhkan pemandangan malam sangatlah Indah. Lampu-lampu yang menyalah membuat kesan keindahan tersendiri rasanya ia ingin naik ke atas gedung melihat ke bawah keindahan malam hari dengan banyak lampu.


Pandu juga mengikuti arah pandang Lidya. "Hmm,bagimana kalau diluar sana ada banyak lampion yang terbang di langit? Itu pasti indah."celetuk Lidya membayangkan bayangannya akan terjadi.


Pandu tersenyum melihat Lidya sejenak dan kembali menatap luar jendela. "Tentu saja indah. Melihat lampion-lampion terbang di langit malam,"katanya berhenti sejenak, dahinya sedikit berkerut,"coba tebak ini. Apa yang jauh lebih indah dari lampion?"


"Dia itu sangat indah saking indahnya dan kuat terhadap apapun. Memiliki sifat pemberani saat musuh datang. Tetapi kalau masalah nonton film horor ia tidak cukup berani."lanjutnya membuat Lidya menoleh ke arah Pandu dengan tatapan tajam, setajam silet.


Pandu yang merasakan aura dari Lidya hanya terkekeh. Lidya melipat kedua tangannya, "jadi kau hanya ingin meledekku dengan kata-kata manis gulamu begitu."simpulnya kesal. Pandu detik itu juga tertawa kecil tidak peduli tatapan tajam dari Lidya.


"Tau aja. Tapi tujuanku tidak mengejekmu tahu."


"Mengejek tetaplah mengejek, Pan."


"Okay-okay. Sebenarnya jawaban dari tebakanku itu adalah benda yang jauh lebih indah dari lampion..."ucap Pandu menggantungkan kalimatnya membuat Lidya bertambah penasaran, ia menatap Pandu serius dengan mengisyaratkan beritahu aku secepatnya.


Pandu tersenyum penuh arti melanjutkan kalimatnya,"...adalah dirimu, Lidya."


  Seketika Lidya tertegun mendengar apa yang diucapkan oleh Pandu. Ia diam membeku melihat pemuda itu dengan santainya berucap manis.


"Kau itu indah, pemberani seperti Raja hutan, kau tidak peduli dengan angin yang selalu mengguncangmu untuk pergi atau jatuh ke bawah. Kau gadis yang kuat padahal waktu itu kau sering di bully sama Tina,Sarah dan Ferdy tapi kau tetap tegar. Sampai akhirnya mereka sudah kapok."jelas Pandu secara rinci.


"Kau benar. Mereka bertiga sudah tidak mengangguku lagi tapi terkadang mereka itu masih bandel dan akhirnya mereka dapat hukuman dari sekertaris Anggi."kata Lidya menahan tawa mengingat kejadian dimana mereka bertiga dikejar oleh cakra tajam milik Anggi. Pandu juga ikutan tertawa.


  Lalu pemuda itu melirik jam tangannya sudah menunjukkan angka sembilan. Ia mengajak Lidya pulang saat sampai di ambang pintu mereka bertemu Lina dan Jay, mereka sama-sama terkejut.


"Jay!"ucap Pandu melotot.


"Lina!"ucap Lidya terkejut.


Lina dan Jay juga ikutan terkejut melihat mereka berada disini.


"Kalian. Kalian kenapa ada disini?"tanya Lina dibalas gelengan oleh Lidya.

__ADS_1


"Tidak-tidak. Harusnya kami berdua yang bertanya, kalian berdua kesini selesai bersenang-senang?"tanya Lidya menatap mereka berdua.


"Oh, kami selesai nonton bioskop sebelum pulang, aku akan mentraktir Lina makan."jawab Jay tersenyum membuat Lidya sedikit pengaruh dengan kekuatan yang dimiliki oleh Jay.


"Apa kalian juga?"tanya Jay balik dibalas angguk mereka berdua kompak.


  Kemudian Lidya dan Pandu pamit ke Lina dan Jay. Tidak jauh dari sana terdapat orang yang selalu mengawasi gerak-gerik Lidya. Ia terus mengawasi gadis itu dari jauh dan mengirimkan sebuah informasi penting pada seseorang.


  Ia mengikuti mereka berdua dari kejauhan. Pemuda berambut panjang itu berhenti melangkah ada sesuatu yang janggal seperti ada orang penguntit. Lidya menatap Pandu penuh tanda tanya.


"Ada apa?"


Pandu menoleh kebelakang tapi tidak ada seseorang yang membuntuti mereka. Itu membuat Pandu merasa aneh, ia yakin kalau ada seseorang yang menguntit----matanya menjadi was-was dan menyuruh Lidya jalan, diikuti oleh Pandu.


Aku yakin kalau ada penguntit--batinnya.


   Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Lidya. Gadis itu membuka pintu mobil dan melambaikan tangan ke Pandu. Lidya berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumah. Pandu sengaja tidak melajukan mobilnya terlebih dahulu sebelum Lidya benar-benar masuk ke dalam rumahnya.


"Apa aku tadi hanya perasaanku saja?Ada seseorang yang menguntit dari belakang. Hmm."Pandu bermonolog, berpikir keras. Menghela nafas sejenak, ia segera menuju kembali ke dalam rumah.


    Di dalam kamar, Lidya segera berbaring di tempat tidur menatap langit kamar yang hampa. Lampu kamar sengaja ia matikan biasanya lampu kamarnya selalu menyala tapi kali ini tidak. Lidya mengecek ponselnya terlihat beberapa notif dari aplikasi dunia oranye. Banyak pembaca menyuruhnya untuk lanjut menulis cerita itu.


  Namun, Lidya masih tidak mood kemungkinan besok ia akan melanjutkan menulisnya. Ia mengirimkan pengumuman ke dalam aplikasi tersebut hanya beberapa detik terkirim sudah ada pembaca yang membalas pengumannya membuat seulas senyum tipis terukir di sudut bibirnya.


  Di letakkan kembali ponsel di atas nakas dan mengisi daya. Gadis itu segera menutup kedua matanya karena sudah lelah. Seseorang melihat Lidya dari jendela kamar, dahinya berkerut dan segera pergi sebelum ada orang lain menyadari keberadaannya.


-


-


-


-


-


-


-


   Bangunan berukuran sedang yang sudah terbengkalai, kumuh, dinding penuh corat-coret. Pemuda mengenakan jaket putih datang memasuki bangunan sudah tidak berpenghuni itu, ia melihat seorang gadis tengah menunggu kehadirannya.


Merasa orang yang sudah ia tunggu datang, ia berbalik dengan senyuman Menerkah.


"Sudah mendapatkan informasi gadis itu?"tanyanya.


"Belum. Tapi aku tadi ngelihat ia bersama teman cowoknya jalan-jalan di mall. Aku yakin, mereka berdua sangat dekat."ucap pemuda itu dingin.


"Aku mau kau, mencari informasi banyak tentangnya. Aku ingin tahu, apakah ia membuat imajinasi yang akan membunuhku di masa depan. Jika ia memang si pembuat imajinasi itu, bawa ia datang kesini biar aku habisi sehingga imajinasinya yang lain ikut menghilang dari sini dan kau akan mendapatkan keuntungan sesuai janji waktu itu."jelas gadis itu dengan seringai menyeramkan.


  Pemuda itu hanya menatap datar dan mengangguk mengiyakan. Kemudian ia pergi meninggalkan gadis itu seorang diri di bangunan itu.


Mulutnya angkat bicara,"dan keberuntunganmu adalah kekuatan waktumu akan hilang selamanya. Jadi kau tidak akan pernah bisa membalikkan waktu seperti membalikkan telapak tangan. Kembali dari nama Kehancuran."ucapnya tertawa jahat dan tiba-tiba tubuhnya mengeluarkan aura yang sangat hitam,lalu munculah beberapa monster pohon menyeramkan di belakang gadis itu.


"AKU AKAN MENGHABISIMU PANGERAN JOHNNY MULAI PENULIS KARAKTERMU. JADI AKU MELAWANMU DENGAN CARA TIDAK LANGSUNG KARENA KAU SUDAH MATI BERSAMA PENULIS KARAKTERMU PLUS TEMAN-TEMAN IMAJIMASIMU LAINNYA, HAHAHA!"


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


__ADS_2