Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode dua puluh enam:Masuk ke dalam permainan labirin


__ADS_3

  Kedua mata Lidya terbelalak dan buku yang ia pegang dikembalikan ke tempatnya, kedua kakinya melangkah mundur. Ludahnya ia telan, apa yang ia pikirkan. Selalu saja ia melihat pemuda berambut blonde memakai layaknya kesatria berwarna merah marron terlihat di celah-celah rak. Lidya menghela nafas panjang dan melangkah maju dan mengambil buku yang sempat ia pegang ingin membaca 'petualangan itu menyenangkan'. Saat ia mengambil buku tersebut pemuda yang tadi menghilang itu membuat Lidya menarik nafas lega. Ternyata itu hanya halusinasiku saja,batinnya.


Ketika ia berbalik ingin pergi ke kursi untuk membaca didepan tapi tubuhnya menabrak benda tinggi yang ada didepannya. Lidya mengelus dahinya dan bergumam pelan,"aduh apalagi yang aku tabrak?"ucapnya melihat ke depan satu yang dilihat pakaian yang gagah, kepalanya mendongak melihat seorang pemuda tampan berdiri dihadapannya tersenyum.


"Aa!"teriak Lidya ketakutan, ia melangkah mundur  namun sayangnya terjatuh. "Auh!"ringisnya mengelus pantat yang mencium bin perpustakaan. Pemuda yang dihadapan Lidya itu tertawa terbahak-bahak tanpa dosa membuat Lidya memasang wajah kesal.


Pemuda yang sama sekali tidak dikenal Lidya mengulurkan tangannya. Gadis itu menatap tajam ke pemuda itu tidak ada sopan santun, ia menerima uluran tangannya dan berdiri. "Siapa kau?"tanya Lidya ketus, mengalihkan pandang kearah lain.


Pemuda yang ternyata memakai jas berwarna merah itu terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Lidya. "Kau tidak ingat aku?"tanyanya langsung dibalas,"Tidak!"seru Lidya dan berjalan melewati pemuda yang menurutnya tidak jelas tiba-tiba mengatakan hal itu.


"Eh tunggu? Apa kau yakin? Kau tidak mengenal ku?"tanyanya lagi nada sedikit kecewa. Lidya terus berjalan mengacuhkan pemuda tersebut.


Pemuda blonde tersebut mengeluarkan pedang bercahaya merah dan perpustakaan luas ini berguncang hebat. Rak-rak buku tiba-tiba berganti posisi menjadi lebih rapat. Lidya terkejut melihat semua ini, ia melihat sekeliling semua rak-rak buku menghalangi jalannya dari segelalah arah.


"Ada apa ini?"tanyanya bingung melihat sekeliling menjadi jalan buntu dan bangunan perpustakaan hilang tergantikan kegelapan seperti ia menuju pemandangan surga yang ternyata mimpi. Lidya memastikan bahwa ini adalah mimpi saat ia mencubit pipinya sakit ternyata ini nyata, benar-benar nyata.


"Dimana ini!"teriak Lidya masih memegang buku 'petualangan itu menyenangkan'. Tiba-tiba buku yang ada di pegangan Lidya terbang dan hilang menjadi sebuah pedang berwarna kuning. Pedang tersebut jatuh dan pedang tersebut menancap tidak bisa di cabut dengan kedua tangan Lidya. Lidya berusaha untuk mencabut pedang itu tapi tidak bisa. Gadis itu melihat kedua telapak tangan memerah dan mengibas-ngibaskan.


"Susahnya!"ucapnya.


Pedang tersebut seolah menjauh dari Lidya,"eh pedang tunggu!"teriak Lidya tapi pedang tersebut sudah menghilang ditelan kegelapan ini.


  Lalu muncul beberapa kalimat didepan gadis itu. "Selamat datang di labirin yang berisikan monster level satu sampai level tertinggi. Kamu harus mencari pedang yang ada di dalam labirin ini. Satu labirin ada lima pedang. Beberapa pedang itu palsu jadi kamu harus mencari pedang yang asli untuk keluar dari labirin ini. Semoga sukses!"


Tulisan tersebut tiba-tiba menghilang dari hadapan Lidya. Gadis itu sangat ketakutan dan bertanya-tanya mengapa ia bisa berada di sebuah labirin yang gelap tidak ada cahaya sedikit pun. Lidya berkali-kali menghela nafas panjang berusaha tidak ragu dan takut. Ia menganggap semua ini adalah permainan, ya permainan.


"Aku akan mengakhiri permainan ini!"ucapnya menatap kedepan yang benar-benar gelap. Ia berlari kecil masuk kedalam labirin saat Lidya melintas dinding-dinding labirin ada sedikit cahaya kuning saat berlari kecil, kakinya menginjak sesuatu seperti jelly dan mengeluarkan bau busuk seperti kotoran hewan.


Lidya menutup hidung dan melihat apa yang ia injak. Sebuah cairan jelly berwarna cokelat mengotori sepatunya, ia memejamkan mata merasa jijik. Lalu ada suara yang gemerisik seperti bersembunyi di semak-semak. Lidya menatap keseliling dan melihat ada makhluk berbentuk seperti bola yang mengarah ke arahnya dengan melompat-lompat.


Lidya menoleh kekanan dan kekiri tidak ada benda apapun yang akan menjadi senjata memukul bola itu. Bola kecil itu berhenti di hadapan Lidya dan warnanya ternyata sama persis seperti yang ada di injaknya. Makhluk itu behenti melompat, dahi Lidya berkerut dan mendekati bola itu ketika ingin mendekati makhluk tersebut tiba-tiba makhluk itu meledak dan reflesks Lidya melompat mundur. Cairan cokelat itu membentuk menjadi bola kecil-kecil dan melompat mengarah ke Lidya. Gadis itu berlari mencoba melarikan diri dan ia juga tidak tahan dengan bau menjijikan seperti kotoran hewan. Bola-bola tadi meletus lagi dan semakin lama semakin banyak. Lidya berhenti dan berbalik menghadap ribuan makhluk bola menjijikan tersebut.


Ia terpaksa menendang makhluk kecil itu atau melemparnya entah kemana yang penting mereka semua tidak mengejarnya lagi. Lidya terus menendang bola cokelat bau seperti permainan bola sepak. Dan tidak sedikit bola-bola itu meledak menjadi dua bagian, tiga bagian. Gadis itu mengeluarkan keringat dan nafasnya naik turun ini terlalu banyak. Ia sekuat tenaga menendang bola itu melambung ke udara.


Salah satu dari ribuan bola ada satu bola yang melambung tinggi di udara dan secara tiba-tiba bola yang didepan Lidya berhenti seperti permainan yang di pose. Lalu bola-bola itu menghilang seperti debu kemudian muncul tulisan berwarna merah. "Maulidya Wahyu Fatmawati telah mengalahkan Bom Cokelat Ball. Setiap kali mereka meledak, mereka akan menjadi tiga bagian sekali meledak. Musuh level satu terkalahkan. Maulidya Wahyu Fatmawati naik ke level dua."


Lalu seperti tadi kalimat itu hilang dari hadapan Lidya dan ia mendengar suara gesekkan seperti bagian labirin terbuka mempersilahkan masuk. Lidya berlari kecil menuju labirin level dua. Suasana berubah seketika menjadi kota cahaya merah, semuanya berwarna merah.


Lidya berjalan santai sambil melihat sekeliling was-was takut kalau ada monster lebih besar dari level pertama. Semakin tinggi levelnya semakin besar monsternya. Meow, Meow, Meow. Terdengar suara kucing lucu, Lidya tersenyum dan kedua matanya mencari keberadaan kucing itu.


Lidya sangat menyukai binatang yang imut seperti kucing.


Kedua telinganya mendengar suara kucing dari jalan lurus kakinya terus melangkah mengikuti suara kucing itu dan langkahnya berhenti saat melihat jalan pertigaan kota. Lidya harus menggunakan indera pendengarannya...


Meow Meow Meow


Suara kucing menggemaskan itu lagi asal suara kucing berasa dari jalan sebelah kiri dan Lidya mengarah ke jalan sebelah kiri. Gadis itu melihat kucing lucu tengah duduk dengan puppy eyes yang menggemaskan dan mengeluarkan suara yang lucu.

__ADS_1


Meow.. Meow..


Lidya mendekati kucing itu dan jongkok mengelus-elus bulu kucing, kelihatannya kucing itu suka dielus-elus oleh tangan lembut Lidya. "Ih lucunya jadi pengen adopsi deh."ucapnya tersenyum dan terus mengelus bulu kucing itu. Tiba-tiba mata kucing itu menjadi merah tanpa diketahui oleh Lidya dan kucing tersebut menggigit tangan Lidya membuat gadis itu terkejut, mengibas-ngibaskan tangannya yang secara tiba-tiba menggigit tangannya.


"Auh, apa yang kau lakukan pus."kata Lidya mengelus punggung tangan kanannya.


Kucing yang awalnya bertubuh kecil seperti kucing pada umumnya dan sekarang menjadi raksasa dengan kedua mata merah, kuku besar dan tajam. Lidya yang melihat itu mundur. 


"Meow!"ucap kucing itu dengan suara dua kali lebih besar dan menyeramkan. Lidya berlari melarikan diri dari kucing raksasa itu, ia tidak bisa melawan kucing tersebut tanpa senjata. Ia melewati labirin tanpa arah jelas dan kucing itu terus menerus mengejar Lidya sekali mengeluarkan suara menyeramkan.


Kucing itu ingin menginjak Lidya dengan cepat Lidya berguling menghindari kaki besar itu. Tubuh Lidya menabrak dinding labirin dengan cepat bangkit mencari pedang dan ada jalan lain ia masuk kedalam sana. Sebuah cahaya kuning bersinar terang Lidya berlari dan ternyata ada pedang yang menancap ke tanah sama persis seperti tadi. Lidya memegang pedang itu dan mencoba menariknya keluar, ia mengeluarkan sekuat tenaganya dan berhasil terjabut dari tangannya. Seulas senyum terlukis di wajahnya.


Ia menatap kedepan dan berlari kembali menghadap kucing raksasa tersebut. Sampai didepan raksasa besar dengan kepercayaan diri Lidya berkata,"Aku akan membunuhmu dengan pedang yang ada di tanganku ini!"ucapnya yakin.


Kucing besar itu menatap kearahnya dan mengangkat tangannya ingin menginjak Lidya sampai penyet. Lidya menunggu kaki itu datang dan ia akan menancapkan pedang di genggamannya menancap di kakinya dan kucing raksasa itu akan tumbang.


Saat sudah dekat Lidya menancapkan pedang itu ke kaki kucing tersebut namun pedang itu menghilang seperti abu membuat Lidya kaget. Kaki kucing itu menginjak Lidya tapi ada sesuatu yang kurang. Lidya berhasil menahan serangan musuh dengan menahan kaki yang lebih besar dari ukuran tubuhnya.


"Ini benar-benar menyenangkan ternyata pedang itu palsu."ucapnya menahan kaki kucing raksasa tersebut. Ia tidak kuat menahannya lebih lama lagi,"lama-lama berat juga nih."gumamnya mencoba membayangkan kalau ini adalah lomba angkat besi.


"Aku akan menang!"serunya dengan jiwa berkobar-kobar dan kucing raksasa itu menambah kekuatan ingin menindas tubuh kecil Lidya. Lidya tersenyum licik dan mengapa ia tidak kepikiran dari tadi.


"Jurus menggelitik kaki kucing!"ucapnya percaya diri, Lidya menggelitik kaki kucing raksasa dan kucing raksasa tersebut  berhenti seperti makhluk bom cokelat ball lalu tak lama kemudian  menghilang seperti debu.


Sebuah tulisan muncul didepan mata Lidya. "Maulidya Wahyu Fatmawati telah mengalahkan kucing raksasa dengan kelemahan digelitik kakinya. Level dua berhasil dan Kamu naik level dua. Sekarang labirin terkahir level tiga dimana banyak jebakan disana. Hati-hati."


Tulisan itu menghilang lagi membuat Lidya jengkel. "*****. Aku tidak dikasih senjata atau apa kek. Aku takut kalau ada monster lagi dan aku harus menemukan titik lawan yang mustahil. Baru pertama kali aku menggelitik kaki kucing bukan perutnya meow."kata Lidya datar dan menirukan suara kucing di akhir kalimatnya. Lalu ia melanjutkan perjalanan menuju labirin level tinggi yaitu level tiga.


"Aku tidak boleh memilih pedang yang salah karena kalau aku mengambil pedang palsu maka aku terjebak dalam jebakan."kata Lidya melihat keempat pedang dihadapannya. Jangan sampai salah milih, batinnya lagi.


Ia berjalan kedepan memilih pedang yang ada di tengah-tengah. Kedua tangan memegang pedang dan sekuat tenaga mencabut pedang tersebut.


Sling!


"Yeah aku berhasil!"serunya bahagia. Tiba-tiba ada sebuah panah yang banyak mengarah ke Lidya. Lidya mendelik dan bersembunyi dibalik pohon. Ia melirik pedang di genggamnya kesal dan melemparkan pedang itu kesegalah arah. Merasa panah-panah itu berhenti,Lidya mencoba mengintip dari balik Batang pohon itu sebuah panah hampir mengenai matanya. Untung saja refleks Lidya kembali bersembunyi memegang dadanya yang kini menjadi dagdigdug.


Sekarang tinggal tiga pedang berwarna kuning disana. Lidya harus berhati-hati lagi memilih pedang itu kedua matanya menatap tajam pedang yang sebelah kanan ada daya tarik yang kuat disana tidak tahu apa. Pasti itu adalah pedang asli,batin Lidya yakin. Berjalan mendekati pedang tersebut sampai di pedang itu Lidya menghela nafas panjang memegang pedang tersebut dan menariknya keluar.


Zling!


Cahaya kuning keluar dari pedang tersebut, kedua pedang yang tidak dipilih olehnya secara tiba-tiba menghilang membuat seulas senyum terlukis di wajah Lidya. Terdengar ada suara seperti suara ular, kedua mata membulat dan berbalik kebelakang banyak sekali ular-ular yang berjalan mengarah ke Lidya. Ternyata di level tiga---level paling tinggi di labirin penuh dengan jebakan.


Lidya mengayunkan pedang cahaya kuning ke udara membentuk lingkaran besar lalu ia menancapkan kembali ke tanah. Perlahan cahaya kuning itu merambat ke dalam tanah dan membuat ular-ular itu menjadi debu. Lidya sangat bahagia.


"Uh akhirnya selesai juga menaklukkan jebakan di level paling tinggi ini."ucapnya menarik nafas lega.


"Tidak semudah itu kau menang di dalam labirin monster ini."ucap seseorang, Lidya menoleh mendapati pemuda berambut blonde memakai baju zirah merah dengan pedang yang sama seperti di pegang oleh Lidya tapi bedanya dia merah sedangkan Lidya kuning.

__ADS_1


"Siapa kau?"tanya Lidya pada pemuda itu. Ia melihat samar-samar wajah pemuda tersebut yang terlihat mencolok hanya baju zirah dan rambutnya kalau wajahnya masih samar-samar gelap disebabkan tidak ada cahaya terang disini.


"Kalau kau ingin keluar dari labirin ini. Kau harus mengalahkanku dan mengetahui namaku. Baru kau boleh keluar labirin ini jika kau tidak bisa menebak siapa aku? Maka kau akan terjebak selamanya di labirin ini sampai ke level tertinggi sesungguhnya."jelas pemuda tersebut tersenyum miring kearah Lidya.


Dahi gadis itu berkerut menatap pemuda yang ada didepannya mengejek dirinya. Ia tidak tahu pemuda itu siapa? Tapi kalau dipikir-pikir ia pasti mengenal musuhnya. Apa Lidya hilang ingatan?tentu saja jawabanya adalah Tidak.


"Jadi level tiga ini bukan level paling tinggi dilabirin."ucap Lidya dibalas gelengan,"tentu saja bukan."


"Kalau kau ingin tahu semuanya? Mari kita bertarung."ucapnya bersiap-siap menyerang Lidya. Gadis itu ragu selama ini ia tidak pernah bertarung apalagi menggunakan pedang layaknya kesatria.


Pemuda yang didepannya mulai berlari mengangkat pedangnya ke udara dan mengarah ke Lidya. Gadis itu menahan serangannya dengan pedang. Kini mereka bertatapan dengan jarak dekat, "jangan harap kau bisa melukaiku."kata Lidya dingin. Ia mendorong pemuda itu hingga kedua kaki galahnya mundur tiga langkah.


"Ternyata kau kuat juga, Lidya."ucapnya setengah mengejek.


"Kau mengenalku tapi aku tidak mengenalmu."ucap Lidya mengayunkan pedang dan pemuda itu menyerang balik pada Lidya. Keduanya terlihat unggul dalam pertarungan pedang. Mereka saling terhuyung kebelakang.


Pemuda itu dan Lidya berlari saling menyerang beradu pedang membentuk X. Kedua matanya menatap tajam dengan artian musuh atau teman.


"Apa kau belum mengenalku?"


Seulas senyum tipis terlihat di bibir mungil gadis itu,"sepertinya sedikit kalau..."ucapnya menggantung dan kaki kanannya menginjak kaki pemuda tersebut hingga lengah dan ini adalah kesempatan Lidya untuk tahu siapa pemuda ini.


Lidya menjatuhkan pedang lawan hingga terjatuh beberapa meter darinya lalu menjegal kaki lawan. Pemuda tersebut jatuh duduk dan Lidya menodongkan pedang mengarah ke lehernya. Mata cokelat terang pemuda itu menatap tidak percaya dengan gadis di depannya begitu tangguh dan berhasil mengalahkan dirinya dalam permainan labirin buatnya sendiri.


"Ayo paksa aku mengatakan bahwa aku mengenalmu?kalau pedang ini tidak menggores lehermu sedikit."kata Lidya setengah mengancam.


"Aku hanya memintamu memanggil namaku saja dan semua ini akan berkahir."ucapnya sedikit kesal. Lidya terkekeh mendengarnya,"Ternyata sifatmu tidak berubah juga ya,Danu kesatria labirin."ucap Lidya menurunkan pedang dari leher pemuda itu.


Perlahan area gelap labirin berubah menjadi perpustakaan kota, rak-rak buku yang menutup jalan Lidya kembali ke posisi sedia kalah. Buku yang ingin dipinjam dari perpustakaan berada di genggaman tangan Lidya sedangkan pedang Cahaya kuning menghilang bersamaan labirin. Pemuda itu masih berada didepan Lidya dengan raut wajah sedikit shock apa yang barusan terjadi.


Pemuda yang diketahui bernama Danu itu bangkit berdiri dan ingin mengatakan sesuatu ke Lidya. Gadis itu menunggu dengan senyum tipis. "Lid, aku mau bicara padamu bahwa ada orang yang ingin menyalahgunakan imajinasinya untuk mengelabuhi orang-orang sekitar terutama pemuda-pemudi."kata Danu tiba-tiba.


"Heh, apa kau gila? Mana mungkin ada orang seperti itu? Maksudku tidak mungkin imajinasi menjadi kenyataan, Danu."kata Lidya tidak sadar bahwa dirinya sendiri sedang berhadapan dengan imajinasinya yang ia buat di karangan ceritanya. Memang tidak semua karangan cerita yang Lidya buat bakal ada novel di apliaksinya sebab ia harus melanjutkan beberapa cerita, entah sampai kapan.


Danu menghela nafas kasar dan menggeleng. "Apa kau tidak sadar? Kau berhadapan dengan siapa dan selama ini kau berada di labirin yang sengaja aku buat agar kau percaya bahwa imajinasimu menjadi kenyataan."jelas Danu melipat kedua tangan didada menunggu Lidya.


Gadis itu masih tidak percaya dan mengira bahwa selama ini ia telah berkhayal dan sekarang ini ia bertemu dengan Danu dari cerita karangannya sendiri. "Jika kau tidak percaya ya sudah. Yang pasti jangan terkejut kalau ada beberapa temanmu memiliki kekuatan mulai tingkat rendah sampai tinggi. Dan sebentar lagi aku akan pergi menjadi Danu lain di dunia ini."ucap Danu.


Lidya diam berusaha memasukkan setiap kalimat apa yang dikatakan oleh Danu barusan. Danu tersenyum,"aku harap kau bertemu dengan Pangeran tumbuhan dalam bentuk berbeda. Sampai jumpa."ucap Danu sebagai kalimat penutup. Ia menjadi cahaya berwarna merah dan keluar dari celah ventilasi udara. Lidya mengikuti benda kecil bercahaya merah itu terbang keluar dari perpustakaan lalu menggeleng.


Pasti dia berhalusinasi lagi bertemu dengan Danu, pikirnya. Lalu ia berjalan dan duduk di sebelah Anggi,baru saja duduk Anggi menutup dua buku tipis sesekali menghela nafas panjang.


"Lid,yuk pulang!"katanya menepuk pudak Lidya dan menoleh kearahnya dengan tatapan tidak percaya.


"Tapi aku belum membaca buku satupun disini."jawab Lidya kaget.


"Ini sudah pukul lima sore lebih lima belas menit sebentar lagi adzan maghrib. Apa kau tidak dicari oleh orang tuamu?"kata Anggi bangkit berdiri sambil membawa dua buku di genggamannya meletakkan buku-buku itu kembali ke rak-rak. Lidya mengehla nafas sebal, hari yang tidak mendukung.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


__ADS_2