
Lidya terkejut melihat siapa yang memanggilnya. Seorang pemuda memakai jaket abu-abu tersenyum padanya. Ia menghampiri Lidya dan dua tangannya berada di saku jaketnya.
"Cuaca yang sangat Indah."katanya sudah berdiri disamping Lidya. Gadis itu hanya tersenyum.
"Benar. Cuaca yang sangat Indah dan besok pagi kita bermain bersama."jawab Lidya tersenyum, ia menoleh mengarah ke pemuda itu lalu berkata,"bagaimana kemahnya? Apa kau menyukainya?"lanjutnya dibalas angguk olehnya.
"Menyenangkan. Apa kau tidak rindu sama aku?"ucapnya membuat Lidya berpura-pura muntah mendengar pertanyaannya. Pemuda tersebut terkekeh. Lalu ia mengajak Lidya pergi ke suatu tempat di lokasi sedikit sepi. Lidya membuntuti pemuda itu bernama Yusuf.
Lidya bertemu Yusuf hanya satu kali saat ia merasa down karena masalah dan sempat menjadi orang paling datar. Tapi itu semua berubah dan Yusuf sekarang terlihat beban masalahnya berkurang. Lidya ikut bangga melihatnya.
Yusuf menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan bahwa tidak orang sama sekali. Dahi Lidya berkerut melihat gerak-gerik Yusuf yang sedikit mencurigakan.
"Yusuf, kau baik-baik saja kan?"tanyanya.
"Aku baik-baik saja. Aku mau menunjukkan sesuatu padamu."ucapnya melangkah mundur.
"Apa itu?"
Yusuf tersenyum, ia mengangkat jari telunjuknya ke atas dan ada cahaya biru laut disana lalu ia mengayunkannya mengarah ke Lidya. Tiga cahaya biru perlahan mengarah ke Lidya, Yusuf memberi tiupan dan tiga cahaya biru tersebut menjadi kupu-kupu. Lidya terpukau melihatnya dan memberikan tepuk tangan.
Yusuf menjentikkan jarinya dan ketiga kupu-kupu tersebut meletus menjadi kepingan kertas. Lidya terkekeh melihat kemampuan Yusuf. "Wah, kamu hebat Suf. Kau mendapatkan kekuatan itu darimana?"tanya Lidya dibalas gelengan Yusuf.
"Nah itu tuh yang aku tidak tahu. Tiba-tiba saja, aku mendapatkan kekuatan padahal aku sama sekali tidak melakukan apapun. Dan berkat kekuatan ini aku bisa menghibur anak kecil di rumah."ucap Yusuf membuat bola dari kekuatannya dan menunjukkan atraksi sendiri.
"Di sekolahmu ada banyak murid mendapatkan kekuatan tiba-tiba berapa persen? Suf. Aku sangat penasaran."kata Lidya. Dahi Yusuf berkerut mencoba berpikir berapa banyak murid di SMA Negeri Satu mendapatkan kekuatan mulai tingkat rendah sampai tinggi.
__ADS_1
"Banyak. Hampir 60 persen. Yang paling aku sering dengar, rata-rata orang yang mendapatkan kekuatan itu dari latar belakang atau keseharian yang pahit. Seperti aku yang selalu tidak mereka anggap tapi itu semua berakhir bahagia bagiku aku bahagia bersama anak-anak yang polos daripada teman-temanku. Mereka masih saja sama seperti dulu kadang juga guruku tidak menganggapku."Yusuf sedikit bercerita tentang kegiatan di sekolahnya. Ia memasang wajah sedih dan membuat yoyo dari kekuatannya.
"Magic!"gumam Lidya. Bagi Lidya ini sangat membingungkan. "Yusuf! Apakah kau pernah berpikir bahwa para guru tahu kalau ada beberapa murid memiliki kekuatan?"Yusuf menghentikan memainkan yoyonya dan mengingat-ingat kejadian di sekolahnya yang belakangan ini sedikit rumit,tidak seperti biasanya.
"Ada yang tahu. Tapi rata-rata mereka menganggap itu hal biasa yang jelas murid yang memiliki kekuatan sering banget mengeluarkan kekuatan mereka di sekolah maupun diluar sekolah."jawab Yusuf memainkan yoyonya kembali. Lidya terus bertanya ke Yusuf dan pemuda itu menjawab dengan santainya kalau ada beberapa murid yang mengeluarkan kekuatan itu Wow.
Ada juga dianggap biasa saja dan ada juga seolah lupa apa yang terjadi beberapa menit, detik yang lalu. Dan ada beberapa murid yang mengingat jelas kejadian-kejadian tersebut. Yusuf menatap Lidya sedikit bingung dan alasan kenapa ia berkata seperti itu. Lidya tersenyum dan menggeleng.
"Tidak apa-apa. Aku hanya repot saja kalau begini. Soalnya ada beberapa dari mereka yang sulit diatur Suf."jawab Lidya. Lalu keduanya kembali ke tempat perkemahan dan kembali ke tenda masing-masing beristirahat menyambut hari esok.
*Jangan Anggap Kami lemah*
Matahari sudah menampakkan diri perlahan sinar mentarinya menyinari bumi dan membuat kehangatan. Kabut putih masih menyelimuti wilayah tempat kemah di pagi hari. Angin pagi membuat semua murid merasa senang bisa menikmati angin sejuk di pagi hari saat menyiapkan sarapan.
Lidya bingung melihat Kevin selalu saja menghilang padahal Bening waktu mau pergi ke sini ia berharap semua laki-lakinya giat tapi beda sekali sama Kevin. Ia keluar tenda celingak-celinguk mencari Kevin. Arka yang kebetulan melewati Lidya bertanya padanya.
"Cari siapa?"tanya Arka.
"Hmm, cari Kevin. Apa kau tahu Kevin dimana?"tanya Lidya.
"Oh Kevin. Terkahir aku lihat di tenda sebelah tapi sekarang aku tidak tahu."ucapnya membuat Lidya mendengus sebal. Waktu cepat berlalu semua murid sudah sarapan dan mengganti pakaian olahraga sesuai sekolah masing jadi baju olahraga mereka warna-warni.
Mereka semua merasa senang bisa bermain yang bisa dibilang seru seperti: lomba masukkan hola-hop ke tubuh tidak boleh di pegang oleh tangan, lomba kecepatan membuat jembatan agar bola tidak jatuh dari jembatan tersebut jadi saling menyambung dan bermain air menutupi lubang yang bocor agar bola yang ada didalam pipa itu bisa keluar serta permainan lainnya.
Canda tawa terus menerus menggelegar sampai menembus ke bawah tanah. Kakak pembina menyuruh semua murid tiarap diatas lumpur. Dengan semangat berkobar-kobar mereka melewati lumpur perasaan riang. Setelah bermain sepuas mungkin mereka pergi ke sungai untuk membersihkan diri seperti kemarin.
__ADS_1
Lidya merendam diri sambil membersihkan sedikit lumpur yang menempel di baju olahraga. Takut,nodanya mengering dan susah menghilangkan noda tersebut. Lina berada di belakang Lidya tanpa disadari olehnya. Lina terkekeh dan memberikan tembakan air ke punggung Lidya.
Lidya menoleh menatap Lina kesal dan ia membalas tembakan air mengarah ke Lina. Mereka akhirnya main kejar-kejaran diatas air sungai.
Dibawah tanah dimana letak kemah murid SMA dan SMK di sana terdapat seorang gadis yang sudah tidur lama sekali. Karena diatas suara keras, gadis itu membuka matanya lebar marah mendengar suas berisik orang-orang itu terutama suara kebahagiaan. Ia sangat benci dengan tawa kebagiaaan dan hal disukainya adalah suara kebencian.
Ia sangat menyukai suara kebencian menurutnya itu seperti sebuah energi penting. Gadis berambut panjang tidak terawat, wajah yang kusut dan tidak ada bekas senyuman manis di bibirnya.
"Siapa yang beraninya tertawa lepas bahagia? Aku tidak suka mendengar suara bahagia itu, aku benci!"teriaknya didalam bawah tanah menatap kedepan penuh amarah. Gadis itu berusaha melepaskan diri dari tali tumbuhan yang melilit kedua tangan dan juga kedua kakinya.
"Aku harus mendengar suara kebencian!"teriaknya lantanng.
Semua murid tengah asik bermain air kecuali Vana. Ia duduk di tepi sungai melihat semua teman-teman bersenang-senang dan menikmati mandi sungai. Sorotan pandangnya mengarah ke Lidya,ia sangat tidak suka dengan Lidya karena ia tidak bisa apa-apa dan semua orang yang berada didekatnya selalu membantu atau membela.
Ini membuat Vana tidak mengerti. Lalu ada semburan air mengenai wajah Vana. "Woi! Hati-hati kalau main!"protesnya mengusap air dari wajahnya melihat siapa pelakunya yang seenaknya menyemburkan air sembarangan.
Seorang pemuda bermata biru datang dan meminta maaf ke Vana. Tapi gadis itu menatap pemuda tersebut tidak suka. "Lain kali kalau main hati-hati!"ucap Vana jengkel.
Pemuda tersebut mengucapkan berapa kali minta maaf ke Vana. "Maafkan aku! Aku tidak sengaja serius!"ucapnya menunjukkan dua jari bertanda ia benar-benar serius dengan perkataannya dan tidak berbohong. Vana diam menatap pemuda asing itu datar lalu pemuda yang sama sekali tidak ia kenal pergi begitu saja.
"Dasar!"gerutunya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1