
Semuanya mendengarkan Pak Arlan dan Bu Erna tentang perpindahan murid di SMA Strength. Pak Arlan mengatakan kalau murid SMK Cemerlang sekitar 20 atau 25 orang pindah ke sekolah tersebut membuat para siswa-siswi berharap bahwa di antara 25 orang itu ada nama mereka.
Bu Erna memanggil nama murid yang terpilih dan menyuruh berbaris di lapangan bersama murid terpilih lainnya. Semua nama yang di sebut rata-rata memiliki kekuatan, Lidya yakin kalau ia tidak akan pindah ke sekolah sana sebab ia sama sekali tidak memiliki kekuatan. Ia hanya memiliki pensil ajaib berasal dari hutan belantara.
"Ini yang terakhir adalah Maulidya Wahyu Fatmawati."ucap Bu Erna membuat Lidya terbelalak kaget. Bu Erna menyuruh Lidya untuk menyusul lainnya ke lapangan. Ia bangkit berdiri dengan jantung berdetak dan hatinya merasa ini aneh tapi apa boleh buat kemungkinan ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri semuanya.
Di lapangan sekolah semua murid yang terpilih kebanyakan adalah murid yang memiliki kekuatan. Lidya melihat ada Kak Cantika dan ada Eric, Arkan dan juga Lina. Bagi Lidya kakak Cantika hanya manusia biasa tetapi ia terpilih masuk ke SMA Strength dan masalah tadi kepribadian lain datang. Apa itu penyebabnya. Semua mata langsung menuju ke depan melihat kepala sekolah SMA Negeri satu hadir di sekolah SMK Cemerlang, Pak Ganda.
"Selamat buat SMK Cemerlang yang terpilih masuk ke SMA Strength. Saya adalah kepala sekolah itu dan mendengar kemarin kalau bangunan SMK Cemerlang hampir roboh karena gangguan aura hitam yang belakangan membuat semua orang resah."jelas Pak Ganda.
"Jadi langsung to the point saja. Kalian semua silahkan menuju gerbang teleport ilusi."ucap Pak Ganda menyuruh semuanya menuju ke pintu teleport, keluar gerbang. Kelihatannya sama seperti saat pulang sekolah dan berangkat sekolah gerbang itu tidak ada yang menarik.
Tentang ilusi mereka semua memandang heran-heran gerbang itu. Elle bertanya,"Pak Mana gerbang ilusinya? Itu cuman gerbang sekolah biasa tidak terlihat ilusi."tanyanya membuat Pak Ganda terkekeh mendengarnya.
"Coba Masuk aja."kata Pak Ganda.
Riko berjalan santai menuju gerbang sekolah tersebut semuanya melihat pemuda itu yang langsung nyeludur tanpa mengatakan apapun. Saat melewati gerbang itu Riko menghilang dari sana membuat semua melongo. Elle menyusul Riko dan sama seperti pemuda itu.
Dahi Lidya mengkerut berpikir tentang Teleport ilusi itu. Menurutnya Teleport Ilusi itu jalan portal yang menuju langsung ke tempat tujuan sedangkan Ilusi adalah suatu benda yang nampak tapi kalau di sentuh benda tersebut hilang, benda yang hilang terus nampak kembali bisa disebut Ilusi. Bisa di sebut juga ilusi adalah tipuan.
Lidya berjalan menuju portal tersebut dan menghilang begitu saja. Sampai di tempat tujuan kedua matanya di suguhkan oleh beberapa murid SMA Strength yang sudah memiliki tingkat kekuatan level tinggi, bisa juga menyatu dengan kekuatan yang bersemayam di tubuh mereka.
"Lidya!"panggil Yusuf melambaikan tangan ke Lidya. Penampilannya sama seperti waktu di Panti Asuhan saat ia kebanyakan memakai sihir. Rambutnya berwarna blonde serta kedua matanya berwarna biru cerah, aura Yusuf juga berbeda dari sebelumnya. Ini sama persis aura milik Joe Sugar.
"Yusuf."ucapnya pelan shock melihat perubahan Yusuf. Tidak hanya Lidya yang Shock melihat penampilan Yusuf berbeda melainkan semua murid SMK Cemerlang shock melihat teman yang pernah mereka temui rata-rata berubah penampilan.
Lalu Pak Ganda datang dan berdiri di sebuah piring yang terbang melihat semua murid yang bisa dibilang cukup panjang. Semua murid mendongak ke atas melihat Pak Ganda. Kepsek tersebut berbicara dengan lantang dan serius.
"Saya minta maaf yang murid baru harus turun area langsung tanpa latihan keras seperti anak SMA Strength."ucap Pak Ganda membuat SMK Cemerlang yang baru datang agak kecewa dan berpikir tidak dari dulu saja kenapa harus medadak seperti ini.
__ADS_1
"Meski begitu jangan merasa kalau kalian itu lemah. Orang sekuat baja pun kalau lawannya bersikeras tetap melawan tanpa ampun tidak peduli dengan luka parah di tubuhnya. Orang baja itu akan kalah. Kalian mengerti!"ucapnya tegas menyapu pandang semua murid.
"Baik!"teriak mereka.
"Kalau begitu aku akan kasih daftar nama kalian dan kelas yang akan kalian tempati sesuai level kekuatan kalian."ucap Pak Ganda menyuruh beberapa muridnya menunjukkan deretan nama yang terpampang jelas di sebuah layar berukuran besar.
Disana ada deretan kelas bersama nama-nama. Murid anggota osis menyuruh membentuk barisan baru sesuai kelas yang mereka tempati.
Sekarang hanya tinggal kurang dari 10 anak yang masih belum mendapatkan kelas termasuk Lidya,Eric, Arkan dan juga Cantika. Lidya melihat beberapa temannya barisan paling depan menatap khawatir serta gelisah.
Lalu keluarlah kelas paling bawah yaitu kelas Not Element. Beberapa murid terkekeh melihat kelas yang memiliki nama menyedihkan itu tetapi Lidya yakin kalau perkataan Pak Ganda tadi adalah motivasi kuat baginya. Setidaknya kalimat motivasi tersebut membuat Lidya tidak mudah putus asa seperti ia berusaha menulis semua ide dan perasaanya ke dalam karyanya.
Mulai besok mereka memulai aktivitas di sekolah baru sekolah yang penuh dengan anak yang memiliki kekuatan untuk menyerang musuh. Pria itu yakin bahwa sebentar lagi dunia manusia akan musnah tergantikan pemadandangan seperti neraka, banyak siksaan.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Suara helaan nafas sebal dari Lidya, ia menatap layar televisi kosong. Televisi tersebut menayangkan sebuah berita tentang pembunuhan di waktu yang bersamaan disebabkan aura hitam. Dan baru-baru ini ada seorang anak SD yang tidak bernyawa tanpa ada luka berada di taman bermain. Banyak sekali para orang tua menangis melihat anak-anaknya meninggal tanpa sebab.
"Apalagi saya yang melihatnya secara langsung membuat hati saya terasa tertusuk sebuah pisau. Kenapa harus anak saya bukan saya aja yang di ambil oleh aura jahat itu."lanjutnya.
Mama datang dan duduk di sebelah Lidya yang melamun memikirkan sesuatu. Wanita itu menatap layar televisi sejenak dan menoleh ke Lidya yang diam memandang kosong televisi.
"Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian aneh di luar sana. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi disini."ucapnya membuka topik pembicaraan. Lidya sedikit tersentak menoleh melihat mamanya sudah ada di sampingnya tanpa menyadari kedatangan mama.
"Iya. Ini sangatlah aneh."jawabnya singkat menghela nafas kasar.
"Mama pernah lihat anak memiliki kekuatan mungkin umurnya seperti umurmu. Dia terlihat sangat santai tapi mama lihat secara seksama wajahnya terlihat sangat bingung dan yah gimana ya? Tidak bisa di deskripsikan. Kekuatannya adalah berubah wujud menjadi apapun sesuai keinginannya."jelasnya membuat Lidya menoleh dan penasaran dengan orang itu.
"Ma? Siapa orang itu? Gimana ciri-cirinya?"tanya Lidya memegang tangan Mama dengan mata meminta permohonan.
__ADS_1
Mama hanya tersenyum,"Kepo banget."ucapnya bikin Lidya kesal. "Kalau tidak salah ciri-cirinya rambutnya itu rapih warna biru, dia selalu pakai baju jubah seperti penyihir. Dia selalu membawa buku dan bukunya selalu berada di pinggangnya."jelas mama.
Gadis itu langsung menuju ke kamarnya. Mama yang melihat anaknya itu hanya tersenyum dan kembali menatap televisi santai. Lidya membuka pintu kamar terkejut dan terjatuh.
"Aduh!"ringisnya mendongak melihat Yusuf berada di depannya dengan seulas senyum mengembang.
"Yusuf kenapa kau berada di dalam kamarku?"tanya Lidya kesal sembari bangkit dan menutup kamar.
Pemuda tersebut tersenyum penuh arti,"Aku selesai mendengar mamamu berbicara tentang seorang pemuda yang ingin kau temui."ucapnya membuat Lidya kaget mendengar hal itu padahal ia tidak pernah mengatakan apapun pada orang lain.
Yusuf duduk di jendela tingkah laku Yusuf sama persis di imajinasinya. Suka masuk sembarangan dan duduk santai di jendela apalagi kalau sudah menghabiskan gula. Lidya duduk di meja belajarnya menghadap ke Yusuf.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku juga tahu, kalau kau ingin menghabiskan Meika dan gadis bersama Meika itu. Apa kau tidak ingat? Aku kan suka menyelinap dan bersenang-senang. Kau sendirikan yang menciptakan karakterku?"Kata Yusuf menatap Lidya.
"Iya. Tapi apa kau sering menyelinap tidak sopan!"ucapnya berkacak pinggang.
Yusuf hanya tertawa dan ia terbang rendah memutari kamar Lidya dengan tawa ceria itu. Lalu Yusuf duduk diatas kasur menyangga dagunya dengan tangan menatap penulisnya sedih dan kesal.
"Hehehe. Orang yang dimaksud oleh Mamamu udah dekat. Coba deh besok sekolah, orang itu ada disana tapi ya gitu... Susah di cari karena ia suka sekali berubah wujud."kata Yusuf semakin lama Lidya jadi tertarik ingin bertemu dengan pemuda tersebut.
"Apa dia penulis atau sepertimu?"
"Dia itu penulis."jawab Yusuf singkat.
Mata Lidya terbelalak
Penulis?
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...