Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Tujuh Belas: Keysa & Riko


__ADS_3

  Langkah kaki terus melangkah cepat menuju ke Keysa. Lina merasakan aura kegelapan penuh kebencian sudah dekat, di sisi lain Cahya dan juga Yusuf pun sudah merasakan hal yang sama. Mereka berempat menuju ke tempat yang sama.


  Lidya dan Lina berhenti melihat seorang gadis dengan rambut panjang mengenakan pakaian berwarna ungu-hitam. Gadis itu berdiri membelakangi mereka berdua. Kobaran api masih menjadi baground peperangan antara imajinasi serta langit malam dari hitungan berberapa jam akan menghilang di gantikan matahari.


Tangan Lidya mengepal melihat musuh sudah berada di depan mata, ia tidak peduli lagi. Musuh yang ada di depannya adalah hasil ciptaan imajinasi dari bukunya dan akan menyebabkan dia terluka seperti saat Yusuf dan Meika bertarung.


"Tomma!"panggil Lidya geram membuat gadis itu menoleh sedikit menunjukkan seulas senyum miring. Ia berbalik badan menatap Lidya penuh senang, manik merahnya sedikit menyala ia ingin menyerang langsung gadis itu.


"Lidya. Penulis imajinasiku sendiri. Apa kabarmu?"tanya Keysa basa-basi.


Lidya menatap tajam Tomma, ia ingin sekali menghancurkan imajinasi jahat yang ada di depannya ini. Dari mimik wajahnya ia sama sekali tidak memiliki raut wajah sedih ataupun bersalah telah meyelakai kehidupan manusia dari rasa pembalasan dendam untuk pangeran tumbuhan.


"Nggak perlu basa-basi Tomma. Aku disini untuk bertanya sesuatu padamu!"ucapnya membuat seulas senyum miring Keysa di bibirnya,"kenapa kau menghabisi nyawa manusia yang tidak sengaja memiliki kekuatan imajinasi. Kenapa kau membunuh mereka dan membuat orang tua mereka terisak? Atas kelakuanmu yang membabibuta."lanjut Lidya emosi. Mata sipitnya melebar, menggertak gigi, tangan kananya masih mengepal.


Kaki Lidya ingin sekali berlari menuju ke Keysa dan menghajarnya. Keysa tersenyum miring mengejek, "kenapa? Kau ingin menghabisiku? Hahaha, jangan harap kau bisa menghabisiku, Lidya. Sebab aku tahu kalau kau tidak memiliki kekuatan."ucapnya.


Lina yang menahan emosi sedari tadi akhirnya angkat bicara membentak perkataan Keysa. "Jangan salah menilai! Benar, Lidya tidak memiliki kekuatan akan tetapi ia punya sesuatu yang unik."ucapnya menarik pedang dari sarungnya menodongkan pedang ke Keysa yang jaraknya 6 meter darinya.


"Benarkah. Itu sangat lucu sekali."jawabnya membuat Lina merasa kesal. Rasa yang dulu takut ikut berperang, sekarang malah ingin berperang dan ingin sekali bertarung musuh yang ada di hadapannya sekarang ini.


Lalu datanglah beberapa orang menatap Keysa penuh menantang. Satu lawan banyak, Keysa sekarang sudah sanggup buat mengalahkan mereka apalagi menghabisi nyawa penulisnya.


"Oh jadi musuh kita seumuran dengan kita. Yang membuat semua kacau balau itu ulah dia!"ucap Nando marah, bola matanya membulat sempurna dan hampir matanya copot.


Kobaran api dari tangan Agung sudah ingin meluncurkan serangan ke Keysa. Yusuf tersenyum menurutnya ia ingin mengalahkan musuhnya ini dan ingin tahu rasanya menjadi pahlawan. Melvi menatap dingin Keysa, datar. Shenna mengepalkan tangan siap-siap meluncurkan tinjuan mautnya.


"Kalian semua akan menyerangku? Sialahkan aku akan meladeni kalian semua."Keysa menatang semua imajinasi lemah di hadapannya.


Keysa mengeluarkan ribuan monster tumbuhan dari segala sisi. Pertarungan sesungguhnya terjadi, mereka semua melawan musuh di hadapannya. Beberapa Alone Imagination yang belum di kalahkan ikut membantu Keysa melawan imajinasi-imajinasi itu.


  Tama melompat dan berlari dengan gesit, tidak ada seorang pun yang mampu menangkap-Asssasint seperti dirinya. Pemuda itu bersembunyi di salah satu pohon monster. Pohon monster itu berusaha menyerang Tama. Dan akhirnya Tama mengalahkan monster itu dengan mudahnya serta mengecoh musuh Alone Imagination.


  Aska melihat kemampuan dari kekuatan Elements Eyesnya untuk mencari celah-celah musuh. Kekuatan Grey Eyes milik Aska semakin naik pesat dan pemuda tersebut dengan gesitnya melawan monster. Tak hanya para laki-laki saja yang perempuan pun tak kalah jagonya. Mereka menggunakan kekuatan combo dan menyerang bersamaaan serta ada yang dengan gesitnya mengambil celah untuk mengalahkan musuh tanpa ada hawa keberadaan dirinya.

__ADS_1


"Senang lah kalau seperti ini."celetuk Hanami.


Fitri berlari sangat cepat bak kilatan cahaya membuat musuh tidak bisa bergerak akibat lilitan tumbuhan yang sengaja Fitri jadikan tali pengikat.


"Run Flash itu sangat bagus."kata Fitri kembali menggunakan Run Flash miliknya menghabisi musuh.


Keysa tengah melawan Lina. Gadis itu tidak ada henti-hentinya melawan Keysa, ia menggerakan pedangnya memotong beberapa dahan pohon yang berusaha melindungi Keysa. Lidya hanya bisa menonton melihat peperangan ini.


Sebenarnya ada apa dengannya. Jelas-jelas Lidya tidak memiliki kekuatan tapi ia sudah turun area peperangan. Menggambar dengan pensil ajaib lagi pun kertasnya sudah robek. Jika ia menggambar lagi dan memerintakan gambar itu menyerang, pasti Lidya akan kehilangan tenaga seperti tadi, Naga Ular.


Kejadian dulu yang tiba-tiba ia bisa merasakan aura jahat seperti pemilik kekuatan Elements Eyes. Itu karena apa. Lidya memutuskan untuk memejamkan mata berusaha mencari tahu apa yang terjadi.


  Lina terus menyerang Keysa, melompat ke atas dan mengayunkan pedang ke arah Keysa. Gadis itu yang sudah tidak sempat mengelak hanya membelakkan mata dan menggerutu dalam hati.


Oh shit!


Tidak hanya serangan depan saja, serangan kanan-kiri akibat teman Lina juga ikut menyerang.


"Penghentian waktu!"seru seseorang membuat pergerakkan mereka berhenti. Keysa yang masih membelakkan mata, pupil mata mengarah ke kiri melihat pemuda itu lagi-lagi menyelamatkan dirinya.


"Kau berhutang budi padaku,lagi."kata Riko datar.


Keysa hanya tersenyum melirik Riko,"terima kasih kau menyelamatkanku lagi."


Waktu kembali seperti sedia kala dimana Lina ingin menyerang tanpa henti tiba-tiba berhenti. Lidya terkejut melihat apa yang di depannya. Riko berada di sana.


'Ngapain Riko ada disana?'--pikir Lidya bertanya-tanya.


"Riko. Kenapa kau ada di situ?"tanya Lina masih dengan gerakkan kuda-kuda menyerang.


Keysa tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. Ia mengucapkan suatu hal fakta membuat Lina dan Lidya tekejut bukan nain. Lina melirik ke Riko tidak percaya,"kau nggak mungkin bekerja sama dengan musuh ini!"


Riko hanya diam tidak membalas pertanyaan Lina. Keysa tersenyum menang dan menyerang Lina tanpa ada kesiapan membuat gadis itu terpental jauh. Riko yang melihat itu terkejut. Lidya tak kalah terkejutnya melihat Lina kembali terluka dengan segera ia menghampiri temannya itu.

__ADS_1


Riko berusaha untuk tegar dan biasa saja. Lidya jongkok di samping Lina,"Lin, bangun!"ucapnya menepuk pipi gadis itu.


Matanya terbuka perlahan melihat Lidya menatap wajah khawatir,"aku tidak apa-apa, Lid. Jangan khawatir."


"Apa? Jangan menyuruhku khawatir? Yang jelas kau sekarang terluka, Lin. Aku akan mencari penyihir penyembuh pasti dia ada disini."kata Lidya ke Lina.


"Tidak usah."ucap Lina menutup matanya, serangan dari Keysa terlalu kuat sehingga ia pingsan. Lidya yang panik mengecek jantung Lina yang masih berdetak membuat ia bernafas lega.


Lidya melirik ke arah Keysa yang tersenyum penuh arti. Lidya bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Tomma yang seenaknya saja menyelakai temannya itu. Keysa yang menyadari bahwa Lidya tengah marah melihat teman-temannya terluka.


Sesuai rencana awalnya Keysa mengeluarkan jebakan 'penjara imajiansi' teman-temannya yang tengah bertarung tiba-tiba di serang benda tajam yang entah dari mana lalu mereka semua menghilang entah kemana. Lidya yang melihat itu terbelalak kaget.


"Teman-teman!"teriaknya. Air mata sudah bergelinang di kelopak matanya. Rasa sakit melihat teman-teman di serang mendadak kemudian hilang entah kemana membuat tubuh Lidya merasakan sakit di tusuk benda-benda tajam.


Ia menoleh ke arah Keysa yang tersenyum tanpa memiliki dosa sedikitpun.


"Bagaimana tontonan tadi hemm? Menyenangkan bukan, melihat teman-temanmu tiba-tiba di serang lalu menghilang tanpa jejak."ucapnya memprovokasi Lidya.


Semakin lama aura kekesalan Lidya melonjak. Raut wajahnya yang polos nan cantik itu berubah menjadi menyeramkan. Ia menatap Keysa membunuh, tangannya dengan sendirinya melayangkan tinjuan ke Keysa dengan sigap Riko menghentikan pukulan Lidya.


Gadis itu menatap Riko kecewa dan benci menjadi satu. Kenapa?kenapa dia ada di tangan musuh jika ia menyadari saat itu maka Lidya akan menyuruh imajinasinya membunuhnya.


"Riko!"teriaknya menatap Riko tajam, "kenapa kau berkerja sama dengan imajinasi jahat yang telah membuat orang-orang di dunia mati dan terluka!"teriak Lidya. Riko baru pertama kalinya di bentak oleh Lidya melihat wajah kalem menjadi amarah yang menggebu-gebu.


Pemuda itu hanya diam, memalingkan wajahnya,"enyahlah!"ucapnya membuat Lidya kesal. Keysa hanya tertawa dan seketika tubuh gadis tersebut terpental jauh, berguling-guling.


Tangannya menggenggam erat,ia mendongak sedikit menatap Keysa serta Riko yang mengkhianati semua teman-temannya termasuk dirinya. Lidya tidak tahu kenapa? Riko ada di jalan yang salah.


Lidya bangkit berdiri, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain berlari dan terkena serangan musuh. Drones yang mengawasi dari jauh dari hanya bisa diam di sana tanpa di sadari oleh musuh. Arkan hanya bisa menatap layar dengan rasa terkejutnya melihat Lidya berkali-kali jatuh terkena serangan tumbuhan Keysa.


Arkan bangkit berdiri membenarkan kacamatanya ia akan ke tempat teman-temannya yang berjaga di pengungsian untuk membantu Lidya. Riko yang melihat Lidya berkali-kali di serang tidak kuat menahan kesal atas gadis di sampingnya.


'Maafkan aku. Aku harus melakukan ini, aku tidak bisa menyelamatkanmu, Lidya'--batin Riko meteskan air mata.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2