
"Aska!tolong belikan air minum dikantin. Tenggorokan saya sakit."ucap guru ke Aska meminta tolong belikan air minum. Aska yang duduk di sebelah Nando bangkit berdiri menghampiri meja guru. Guru tersebut memberikan selembar uang lima ribu ke Aska. Lalu pemuda berambut sedikit acak-acakkan itu mengangguk dan keluar kelas. Sebelum keluar kelas Nando berpesan,"Jangan lupa rambutmu yang berantakan itu!"
Aska hanya membalas jempol ke Nando dan keluar kelas Multimedia dua. Ketika Aska keluar kelas ia melihat Lidya berlari kecil menuruni tangga entah kemana sepertinya ia merasa sedih. Ya, terlihat jelas menurut Aska selama mos satu minggu. Lidya tidak pernah sedih sedikitpun ia cenderung terlihat bahagia tidak ada tanda kesedihan di raut wajahnya sedikitpun.
"Aku akan mengejarnya."gumam Aska berlari kecil mengejar Lidya.
Pandu keluar kelas melihat dari teras dan melihat kebawah, terlihat ada pemuda yang berlari kecil sama dengan Lidya mengarah ke kantin dan ia melihat beberapa meter dari pemuda tersebut.
Ini sudah keterlaluan, batinnya.
Pemuda berambut panjang sebahu itu masuk kedalam kelas dengan tatapan penuh amarah tapi ia tidak memiliki hak untuk memarahi mereka semua karena mereka tidak bersalah. Yang bersalah adalah Tina. Gadis itu seperti iblis berwujud manusia segitu teganya ia membuka rahasia pribadi Lidya.
Pandu mengambil buku kecil milik Lidya dan membolak-balikkan buku itu. Anggi sedari tadi diam akhirnya bersuara,"Pandu. Lebih baik kita dekati aja Lidya dan ajak mengobrol. Aku rasa, ia memiliki kesedihan yang mendalam dan ia tuangkan perasaannya masuk kedalam buku itu."Pandu menatap Anggi di bangku sebelah Fitri. Gadis berambut panjang mengangguk menyetujui perkataan Anggi barusan.
"Aku sebagai bendahara kelas. Setuju dengan perkataan Anggi. Kita harus berteman baik dengan Lidya."ucap Fitri. "Semua penghuni kelas ini harus memperlakukan Lidya sebagai teman kalau tidak. Aku akan memberitahukan ke Pak Arlan dan menghukum kalian semua. Tancapkan itu!"Ucap Beni mengancam semua teman kelasnya demi kebaikan Lidya. Ia tidak tega melihat salah satu teman diasingkan dan diambil haknya seperti itu. Itu sangat tidak adil.
Ferdi berdiri dari bangkunya menolak keputusan ketua kelas. "Tidak!"tegasnya. "Aku tidak setuju dengan itu,Ben. Itu tidak adil."kata Ferdi menatap Beni tajam. Beni menatap balik Ferdi tidak mengerti,"kenapa kau tidak setuju? Dan apa maksud tidak adil?"tanya Beni.
"Pokoknya aku tidak setuju dengan itu. Kalau kau membangun peraturan seperti itu, kita semua harus melindungi Lidya. Itu tandanya kita semua memperlakukan Lidya sebagai Putri dan kita memujinya."ucap Ferdi dengan kalimat penekanan dan tetap tidak setuju dengan peraturan yang dibuat Beni. Lebih tepatnya Beni mengancam teman sekelasnya sendiri.
Beni menghampiri Ferdi dan sekarang mereka saling tatapan tajam bagai elang. "Siapa yang bilang menyuruh Lidya diperlukan seperti putri. Aku bilang, lindungi Lidya berarti jangan melukai bukan diperlakukan seperti seorang Putri. Aku ingin semua penghuni disini berteman dengannya jangan sampai ada bully disini."jelas Beni geram. Ferdi diam memasukan perkataan Beni kedalam otaknya. Ia mengangguk,"baiklah kalau begitu."
Setelah Ferdi berdebat dengan Beni. Ketua kelas menghadap ke semua murid seperti seorang guru dadakan. "Aku akan memberitahu peraturan disini dan catat semua itu di kertas kalian masing-masing. Tidak ada penolakan!"ucap Beni begitu lantang menyuruh semua murid mengeluarkan semua kertas dari tasnya.
Pandu memandang buku yang dipegangnya. "Semoga semua murid di SMK Cemerlang bisa berteman baik denganmu,Lidya."kata Pandu dalam hati.
Cuaca yang masih terang benderang tapi tidak seperti cuaca yang ada didalam hati kecil Lidya. Sekarang gadis itu menangis tersedu-sedu di bangku kantin, menenggelamkan kepala di kedua tangan yang bertumpu diatas meja. Pemuda bernama Aska melihat Lidya yang menangis disana. Ia duduk di samping Lidya. Merasa ada seseorang yang duduk disebelahnya, Lidya mengangkat kepalanya, menoleh ke samping ada Aska.
__ADS_1
Gadis itu dengan cepat membuang muka dari Aska. Aska tersenyum tipis,"kau kenapa menangis?"tanyanya lembut. Lidya diam tidak bisa mengatakan apapun hatinya terlalu perih penuh luka. Aska menyuruh Lidya menatap mukanya. Aska memegang dagu Lidya dan menyuruh menatapnya.
Lidya tidak bisa menghentikan air mata yang terus menetes. Aska terkejut melihat ada bekas tamparan di pipi Lidya. "Ya ampun. Tamparan darimana itu?"ucapnya.
Lidya hanya diam dan menggeleng. "A-a..."ia tidak ingin Aska tahu apa yang terjadi padanya. Teringat kata-kata saat mos itu bahwa kelompok dua tidak boleh menjadi preman atau pembully disini. Lidya sadar, kalau ia telah melanggar perkataan Aska bahwa ia sudah melanggar peraturan tersebut. Maafkan aku, batinnya.
"Lid. Jawab pertanyaanku tadi?mengapa kau bisa mendapatkan tamparan itu? Siapa pelakunya."tanya Aska lagi kali ini dengan nada serius dan tatapan matanya juga serius, menunggu jawaban dari mulut kecil Lidya. Gadis itu melihat wajah Aska penuh dengan keseriusan, ia takut kalau mendengar tamparan ini dari perilakunya sendiri.
"Ma-Maafkan A-aku Aska."ucapnya pelan dan menunduk kebawah tidak berani menatap wajah Aska. Aska semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Lidya. Dahi Aska berkerut,"maksudmu Minta maaf padaku? Soal apa?"tanya Aska lembut.
"A-aaku... Mendapatkan tamparan ini karena perilaku sendiri, Ka. A-aku telah menampar temanku dengan keras dan ia membalas tamparan keras juga padaku."ucap Lidya mengaku pada Aska. "Maafkan aku, Ka. Dan jauhilah aku, aku telah melanggar peraturanmu saat mos. Aku tidak pantas memiliki teman."lanjut Lidya kembali menangis.
Aska yang mendengar itu terkejut bukan main karena Lidya masih ingat perkataan saat mos terakhir hingga kini. Peraturan tersebut masih ada di benak Lidya dan seolah masih berlaku sampai saat ini meski ia dan Lidya berbeda kelas. Lidya masih menganggap bahwa Aska ketua kelas. Aska tahu kalau ketua kelas Multimedia satu adalah Beni.
Beni Anggara, itulah namanya. Nama yang sangat Indah dan anak bernama Beni itu tidak akan pernah lepas dengan nama 'bertanggung jawab'. Ia memiliki jiwa pemimpin. Aska begitu takjub kalau Beni-lah menjadi ketua kelas. Sedangkan Aska sudah tidak menjadi ketua kelas melainkan menjadi anak buah Jay di Multimedia dua. Ya, sekarang Jay George lah yang jadi ketua kelas dan wakil kelasnya adalah Nando. Jadi Aska terbebas dari nama Tanggung Jawab ketahuilah kalau tanggung jawab itu sangat besar.
Lidya menatap wajah Aska yang tersenyum manis,"makasih,Ka. Kau teman yang sangat baik."ucapnya.
-
-
-
-
-
__ADS_1
"Gadis itu benar-benar harus dikasih pelajaran,Rah. Aku nggak mau dia itu merasa senang dan diperlukan seperti seorang putri."ucap Tina masih geram berjalan menuju ke kelas setelah selesai mengobati bekas luka tamparan.
Sarah mengangguk,"benar,Tin. Aku sendiri tidak ingin lihat Lidya senang apalagi diperlakukan menjadi seorang putri. No way! I don't like that. Dan disisi lain aku berhasil menampar gadis lugu itu."ucap Sarah merasa senang karena ia berhasil menampar gadis itu tepat hari ini. Tina tertawa mendengar perkataan putri itu.
"Tidak mungkin. Lidya itu akan diperlakukan jadi seorang tuan putri."jawab Tina.
Tak terasa mereka berdua sudah sampai di kelas yang tertutup itu. Dibukannya mereka berdua terkejut melihat tatapan menyeramkan dari Beni. Pemuda tersebut terlihat lebih galak dari biasanya sehingga membuat mereka merinding.
"Kalian berdua harus meminta maaf pada Lidya di hadapan semua murid Multimedia satu kalau tidak kalian berdua,aku laporkan ke Pak Arlan!"ucap Beni tegas nada keras hingga jantung Sarah ingin copot.
Tina dan Sarah tidak bisa megatakan apapun dari mulut mereka. Terpaksa mereka berdua duduk di bangku masing-masing suasana di dalam kelas ini berubah total menjadi menyeramkan seperti masuk kedalam film horor. Sarah mengelus tangan kanan yang merasa merinding melihat semua murid menulis sesuatu dikertas masing-masing. Beni menjadi seorang guru dadakan yang killer ditangannya memegang penggaris kecil berukuran 30 cm.
Tina menoleh kebelakang melihat Ferdi asik menulis sesuatu dikertas kosong. "Fer, apa yang terjadi disini?'tanyanya membisik.
"Jangan banyak bicara,kau tulis peraturan yang ada di papan."kata Ferdi tidak melihat wajah Tina sedikit pun ia melihat tulisan peraturan baru di kelas dan harus menulisnya di kertas.
Tina melihat kedepan di papan tulis, disana tertulis beberapa peraruran kelas jika melanggar bakal kena hukuman dari Pak Arlan. Peraturan ini sudah dikonfirmasi oleh Pak Arlan dan disetujuinya.
What The, batin Tina mengumpat dan lagi-lagi terpaksa menulis peraturan itu di kertas seperti murid lain. Tina merasakan hawa sangat menyeramkan dan terkesan horor seperti disekeliling banyak sekali hantu yang masuk kedalam kelas.
Aura negatif terlalu kuat sehingga tidak bisa membedakan mana baik dan mana yang jahat. Sudah berapa kali Sarah dan Tina bergidik ngeri,merasa takut. Sarah melihat sekeliling murid disini terlihat anteng dan tidak ada yang merasakan takut.
Pemuda yang ada di pojok belakang sendiri tersenyum tipis, merasa senang bisa menakut-nakuti kedua gadis yang tengah membully orang yang tidak melakukan kesalahan apapun.
**Jangan Anggap Kami Lemah
Bersambung**...
__ADS_1