
Beberapa bulan sudah Lidya tempuh hari yang sangat melelahkan dan parahnya lagi ia sering kali melihat sesuatu aneh yang terjadi di SMK Cemerlang. Bagaimana tidak itu semua terjadi begitu saja? Dan teman-temannya hampir memiliki kekuatan di luar dugaan seperti Lidya bertemu dengan Tera. Pangeran Tumbuhan dari planet Elementer dimana semua kekuatan berasal dari sana tapi itu semua hanyala fantasi dan tiba-tiba saja menjadi kenyataan.
Lidya menaiki bus dan kebetulan sekali bus yang di tumpanginya ada Vin, suasana bak horor menjadi satu bus. Supir bus melajukan busnya seperti biasanya dan para penumpang menahan rasa takut yang menyelimuti mereka semua. Lidya juga merasakan hal yang sama merinding, ketakutan rasanya menjalar dan menggelitik. Benar-benar mengerikan.
Bus berhenti dan Lidya turun dari bus itu kemudian berjalan menuju rumah yang tinggal berapa meter saja. Paling menyebalkan bagi gadis berambut lurus bergelombang ini adalah harus mendengarkan Beni dan mengerjakan tugas yang belum di kerjakan. Dan paling parah adalah Ferdi, murid penganggu itu sering membuat ulah dan juga sering menganggu Lidya sehingga tidak dapat berkonsentrasi untuk belajar.
Gagang pintu diputar lalu dibuka secara perlahan,"assalamualaikum."salamnya nada lemas, gadis itu duduk dan melepaskan alas kakinya lalu meletakkan ke rak-rak sepatu kecil. Kedua kakinya melangkah malas menuju kamar ingin sekali beristirahat sejenak, kepala sudah merasa pusing.
Keluarlah wanita paruh baya dari arah dapur membawa selembar uang dua puluh ribu. Kedua pandangnya menatap Lidya sudah pulang ke rumah. "Mbak Dya. Tolong belikan gula setengah kilo."ucap beliau lembut.
Lidya menatap uang yang ada di tangan mamanya. "Apa mama tidak menyuruh Awan saja yang pergi? Aku capek."ucapnya menolak secara halus. "Awan lagi kerja kelompok di rumah temannya pasti pulangnya menjelang magrib. Beli gula sebentar saja."ucap mama memberikan uang itu ketangan Lidya.
Gadis itu hanya menghela nafas kasar menaruh tasnya di samping pintu kamar lalu segera keluar rumah membeli gula di warung terdekat. Sampai di warung Lidya berhasil membeli gula sebanyak setengah kilo lalu kembali masuk ke dalam rumah. Harga gula sekarang bertambah mahal sesuai perkembangan zaman. Ah, Lidya tidak tahu masa depan tahun 2027 seperti apa? Ia harap bahan pokok harganya turun lebih murah.
Lidya sudah sampai di rumah dan gula yang dibelinya ia masukkan kedalam toples yang terdapat tulisan gula. Ya, Lidya sengaja memberikan nama-nama di luar toples agar waktu bangun tidak salah memasukkan bumbu yang salah. "Ma! Aku udah membelikan gulanya!"teriak Lidya dari dapur dan mama menyahuti teriakannya. Lalu gadis itu memilih membersihkan diri supaya bisa tidur sepuasnya sampai esok hari.
Selesai dengan acara mandinya kini ia tinggal tiduran di kasur sambil membaca novel di smartphone miliknya. Saat memegang smartphone ingin menekan aplikasi bacanya tiba-tiba teriakan mama terdengar lagi,"Mbak Dyah! Gulanya habis tolong belikan lagi, satu kilo!"sontak saja Lidya membulatkan kedua matanya terkejut.
"Apa baru beli sudah habis!"teriak Lidya dari dalam kamar dan ia melesat pergi ke dapur untuk memastikan keberadaan gula itu sampai di dapur melihat toples gula yang baru ia isi setengah menit lalu, habis tidak tersisa. Membuat mulut Lidya menganga,"Astaga! Semut mana yang bisa menghabiskan gula sebanyak itu!"kata Lidya Shock.
Mama memanggil Lidya dan bergegas pergi menuju warung tadi untuk membeli gula dengan nafas sedikit ngos-ngosan gadis itu menyodorkan selembar kertas biru, "beli 2 kilo gula, bu."ucapnya.
"Eh Lidya. Tadi kamu kan udah beli gula mengapa kamu beli lagi? Apa mamamu membuat kue."kata penjual itu ke Lidya.
"Mama saya tidak bisa membuat kue Bu. Mama saya hanya pintar memasak saja tidak pandai membuat kue. Ovennya aja tidak punya mau naruh dimana kuenya?"jawab Lidya sedikit memayunkan mulutnya. Ia membawa gula sebanyak 2 kilo jika gula ini habis sepenuhnya seperti tadi.
Ia akan mengutuk nama gula itu? Mengapa ia bisa hilang dan rasanya manis sehingga ada seseorang yang berani mencuri gula itu. Ternyata tidak tikus saja yang suka mencuri keju ada yang lebih parah lagi gula juga ikut dicuri entah makhluk apa itu? Lidya sangat penasaran.
Sampai di rumah Awan terkejut melihat kakaknya itu membawa gula sebanyak 2 kilo. "Banyak sekali gula yang kau bawa mbak?apa kamu mau buat kue?"tanyanya sedikit meledek. "Masak aja kagak bisa apalagi membuat kue?"lanjutnya dibalas lirikan mematikan dari Lidya, "mulutmu mau aku sumpal sama kaos kaki bau?"ucapnya mengancam lalu membawa gula-gula itu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Awan melihat punggung kakaknya sebal,"nyebelin banget punya kakak tidak bisa diajak bercanda sebentar."gerutunya kesal. Hari main mobil-mobil di lantai sambil menabrak-nabrakkan mobil satu ke mobil yang lain.
"Dum, mobilnya kecelakaan!"ucapnya saat bermain. Awan hanya menatap datar lalu duduk di sofa memainkan game di smartphonenya.
Mama menyuruh Lidya meletakkan sisa gula di lemari bawah. "Ma? Bagaimana gulanya bisa habis tadi?"tanya Lidya penasaran banget karena ia pikir hanya ada di luar rumah saja yang sering berjumpa dengan keanehan seperti kekuatan dalam diri teman-teman nya. Dan sekarang, malah berada di rumahnya Lidya tidak bisa diam saja membiarkan kejadian aneh ini terus menerus terjadi.
Ia ingin tahu bagaimana bisa orang-orang disekitarnya terutama teman-temannya memiliki kekuatan aneh dan efeknya berbeda-beda. Ada yang kekuatan terlihat tapi orang lain menganggap tidak terjadi apa-apa atau langsung hilang ingatan tapi herannya Lidya tidak lupa dengan kejadian itu malah ia ingat betul kejadian persis. Ada yang kekuatan tidak terlalu terlihat hanya menciptakan efek ke lingkungan saja seperti Jay contohnya ia memiliki penghipnotis Cinta tapi yang lain menganggap bahwa itu biasa saja tidak aneh di mata orang lain.
"Wajar saja tidak aneh. Jay kan sejak lahir udah tampan."kata Lidya. Mama yang berada di sampingnya menoleh kearah anak gadisnya itu,"siapa orang yang sejak lahir udah tampan?"tanya Mama, mata Lidya membulat sempurna. Ia menoleh mengarah ke mamanya yang meminta jawaban,"tidak apa-apa kok ma. Hanya saja, aku sedang melatih percakapan yang ada di dalam naskah yang aku buat kemarin. Dan aku bisa merasakan energi yang luar biasa."sangkal Lidya berusaha membelokkan arah pembicaraan.
Ia tidak ingin mamanya tahu bahwa di luar sana imajinasi Lidya sedang berkeliaran bebas dan imajinasi-imajinasi tersebut mencari anak-anak lemah. Yang Lidya tahu kalau imajinasinya akan masuk ke dalam raga anak yang sering di bully, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Entahlah Lidya belakangan ini suka mengamati sekitar siapa tahu ia akan menemukan tokoh imajinasinya dalam bentuk orang berbeda.
Yang awalnya pemuda menjadi gadis dan sebaliknya gadis menjadi pemuda tapi setahu nya hanya Pangeran Johnny yang masuk ke dalam raga gadis yaitu Teratai. Yang lainnya tidak tahu. Ia jadi ingat perkataan Danu waktu itu, Danu hanya bicara kalau Pangeran Johnny dalam bentuk berbeda. Jadi selama ini Danu benar dan ada yang terlewatkan yaitu ada anak yang menggunakan imajinasinya untuk mengusai dunia.
"Hah gawat!"ucap Lidya sedikit khawatir. Mama yang ada di sebelah Lidya tengah mengiris cabai menyahut, "apa yang gawat mbak?"
"Hmm aku lupa mengerjakan tugas matematika."jawabnya lalu segera masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu rapat dan menutup jendela juga. "Mama Lidya tidak makan malam ini! Aku tidak lapar!"teriak Lidya dari dalam kamarnya.
"Ah apa yang aku lakukan untuk memecahkan misteri ini!rasanya otakku ingin pecah saja."kesalnya tidak bisa berpikir jernih.
"Siapa sih yang membuat imajinasinya hidup?dan imajinasiku juga ikut."ucapnya pada dirinya sendiri. Lidya menatap tumpukan gambar yang berada di atas meja belajarnya lalu gadis itu beranjak dari kasur dan mengambil tumpukan kertas itu melihat hasil gambarnya yang tidak terlalu bagus tapi ia telah berhasil menciptakan gambaran karakternya.
Bibir bawahnya ia gigit melepas rasa ragu. Ia melihat gambarannya dan berhenti pada gambar imajinasi yang pertama kali ia buat bukan pertama kalinya sih tapi pertama kali yang memiliki sifat konyol dan kekanak-kanakan. Kalau Lidya rasakan lebih dalam lagi sifatnya hampir mirip dengan Peterpan.
Ya, itu film lama banget dan sampai sekarang film itu masih ada serta banyak sekali versi baru.
"Jangan tatap wajahku seserius itu."ucapnya berasal dari sebelah kanannya, gadis itu menoleh dan terkejut melihatnya.
Seorang pemuda memakai jaket tebal seperti di musim dingin dan celana sedikit ketat, jaketnya terdapat ada bulu domba asli warna jaketnya biru. Rambut blonde dan matanya biru seperti laut, ia sedang membawa satu toples berisikan gula dan memakannya sedikit demi sedikit, menatap ke depan tanpa menoleh mengarah ke Lidya.
__ADS_1
Mata Lidya membulat melihat satu toples gula berada di genggaman pemuda itu yang tak lain adalah Joe Sugar.
"Joe!"teriak Lidya.
"Jadi kau yang menghabiskan gula itu di dapur!apa kau tidak tahu apa harga gula sekarang mahal! Tidak sopan!"omel Lidya, gadis itu ingin mengomel lagi dalam sekejab jari telunjuk Joe sudah mendarat ke bibir Lidya dan jarak wajah mereka tinggal beberapa centi.
Lidya melihat mata birunya yang teduh itu, "Tidak usah ngomel seperti tidak menciptakan karakterku saja seperti apa."ucapnya menurunkan jari telunjuknya dan kembali duduk di jendela sambil memakan gula.
Lidya berdecih,"idih, nanti diabetes baru tahu rasa kamu Joe."
"Aku itu imajinasi jadi tidak ada nama penyakit yang akan menyerangku."kata Joe santai. Ada beberapa nyamuk terbang mengarah ke Joe tapi dengan cepat nyamuk itu terkapar mati. Lidya yang melihat itu melongo tidak percaya.
"Aku nggak mau tahu. Kau harus menggantikan uangku dan uang mamaku karena gula yang kau makan Joe. Tanggung jawab!"kata Lidya lagi tidak mau tahu.
Dengan malas Joe mengatakan,"iya-iya. Kalau aku sudah singgah di tubuh pemuda yang pantas sepertiku."balasnya enteng. Lidya menahan amarahnya karena mendengar jawaban Joe sangat menyesalkan dan minta di tabok.
"Jangan seperti sahabatku Zach yang pemarah itu. Nanti aku sebut Lidya Fire loh karena Zach nama belakangnya Fire. Fire artinya semangat berkobar yang berani terhadap apapun, sekali menantang api itu ia akan malahap apa yang ada di depannya apalagi saat marah penambah energi."Jelas Joe.
"Aku sudah tahu itu Joe. Tidak usah kau terangkan aku sudah mengerti."jawab Lidya datar.
Ia menatap Joe yang tersenyum mengejek tapi di samping itu ia terlihat menggemaskan dan minta di cubit. "Mengapa kau berada disini dan mengapa kau bisa hidup? Maksudku imajinasi. Kata Danu ada seseorang yang akan menyalah gunakan imajinasi ini untuk menaklukkan bumi. Apa itu benar?"tanya Lidya berubah serius saking penasarannya dengan asal usul semua ini.
Joe tersenyum miring,"bagiamana Authorku bisa tahu tentang itu?"hanya Joe balik sedikit nada menggoda.
"Dari Danu. Buruan cepat ceritakan!"pinta Lidya ke Joe.
Cerita yang sebenarnya akan terungkap.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...