
Tepat tanggal 31 Desember dimana nanti tengah malam adalah awal pergantian tahun 2027. Seorang gadis cantik tengah menyiapkan bahan-bahan buat acara makan di rumah Yusuf ia sudah membagi rata bersama teman-temannya. Mereka akan membawa apa saja sedangkan Yusuf sebagai tuan rumah ia akan menyediakan semua peralatan memasak dan piring-piring di bantu oleh teman-teman dari sekolahnya,SMA Negeri satu.
Jadi Yusuf menyuruh teman-teman dari SMK Cemerlang membawa makanan dan ada yang membawa minuman seperti kopi,susu, sirup dan lainnya. Matanya ia pejamkan sejenak berharap kalau nanti malam acaranya lancar dan tahun baru adalah tahun yang menyenangkan tidak ada kejadian buruk terjadi.
Serta Lidya bisa menemukan pintu yang menghubungkan dunia imajiasi ke dunia nyata. Takut kalau orang-orang di luar sana mendapatkan kekuatan yang begitu lemah dan bisa di kelabuhi oleh orang jahat untuk mengikuti jalanan sesat. Lidya tidak mau hal itu terjadi kalau terjadi pun ia akan menganggap mimpi buruknya menjadi kenyataan seperti dulu.
Mimpi itu seperti nyata bagi Lidya sampai tidak bisa membedakan dimana yang nyata dan mana yang mimpi. Ia segera menggeleng cepat dan menyelesaikan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah Yusuf daripada memikirkan hal-hal negatif. Menghela nafas kasar setelah selesai beres-beres dengan segera ia menuju ke ruang makan disana sudah ada ayah, mama dan dua adiknya makan dengan lahapnya.
Di tariknya kursi lalu Lidya duduki dihadapannya sudah banyak sekali jenis masakan buatan mamanya yang lezat. Sebelum ia menyantap makananya. "Ma,ayah. Aku nanti kerumah teman jam tiga sore nanti dan aku pulangnya besok. Tidak apa-apa kan?"tanya Lidya takut kalau tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya.
Awan menatap kakanya itu,"memangnya kakak mau merayakan tahun baru ke rumah teman?"tanyanya menyendok makanan kembali masuk ke mulutnya. Mata Awan menuju ke kakak perempuannya itu serius.
Ayah juga seperti itu. "Apa itu benar yang dikatan oleh Awan?"
Aura yang sedikit tidak bersahabat bisa dirasakan oleh Lidya. Aura itu seperti tidak mengizinkan pergi dari rumah, di tahun-tahun baru sebelumnya Lidya tidak pernah keluar rumah dan baru kali ini ia akan keluar rumah.
"Aku diajak oleh teman Lidya untuk pergi ke rumahnya tapi aku niat untuk silaturahim saja dan mengobrol teman baru saat kemah minggu kemarin."ucap Lidya mengerutkan dahinya ada rasa sedikit kecewa kalau ia tidak diizinkan keluar rumah. Ia tidak akan pernah enak bersama teman-temannya dan akan menjauh dari mereka.
Dahi ayah berkerut mencoba menimbang-nimbang untuk mencari keputusan yang tepat. Mama yang sedari tadi menyantap makanan dan menatap mereka bergantian angkat bicara.
"Biarkan saja. Lidya pergi lagipula kalau ia tidak ikut. Ia akan merasakan tidak enak pergi bersama teman-temannya lagi. Bagiku alasan Lidya untuk kebaikan. Lagipula juga, Lidya tidak bakal bertemu dengan teman-teman kemahnya lagi dalam waktu dekat. Karena rumah mereka yang jauh-jauh dan sekolah yang berbeda."kata Mama membuat mata Lidya bersinar mendengar kalimat briliant dari mamanya itu.
Ayahnya melirik mengarah ke mama lalu menatap ke anak perempuannya yang tersenyum penuh harapan untuk pergi. Pria itu menghela nafas berat sebenarnya ia tidak mau melepaskan anak perempuan keluar rumah terlalu lama itu membuatnya sangat khawatir apalagi anak perempuan satu-satunya.
Lidya berseru ria dan ia bangkit dari kursi mencium pipi ayah dan mama secara bergantian lalu merangkul keduanya bersamaan. "Wah makasih banget. Aku sangat senang sekali!"
Mamanya melirik ke arah Lidya dengan seulas senyum. "Nanti kamu bareng sama siapa?"tanya mama membuat Lidya terkejut. Sepanjang hari ini ia tidak pernah memikirkan ia akan bareng siapa ke rumah Yusuf. Lidya merenggangkan pelukannya dan menatap mamanya sejenak lalu menggeleng.
"Jadi kamu belum tahu. Kau akan bareng siapa?"tanya mamanya seolah tahu apa yang ada di ekspresi Lidya. Gadis itu mengangguk sebagai respon.
"Astaga! Harusnya kau sudah memikirkan kemarin-kemarin. Sekarang kamu hubungi teman-temanmu!"kata ayah menasehati dan menyuruh Lidya untuk menghubungi teman-temannya.
Lidya mengangguk dan mengeluarkan handphone dari saku celananya. Di notifnya sudah banyak sekali yang masuk ia menekan grupnya dan menyimak apa yang dibahas oleh teman-temannya. Dan hap, akhirnya Lidya berhasil menemukan apa yang dicarinya itu membuat seulas senyum sumringah terukir jelas di wajahnya pipi tembem.
"Yes! Udah ketemu. Aku bareng siapa?"seru Lidya. Ia membacakan daftarnya karena rata-rata temannya itu membawa kendaraan mobil jadi mereka bisa membawa barang banyak.
__ADS_1
"Aku akan bareng mobilnya Pandu."ucapnya.
"Disana ada siapa saja?"tanya ayah.
"Ada Beni,Fitri,Aska,Riko,Anggi,aku,Arkan dan yang terakhir Pandu sebagai supirnya."kata Lidya terkekeh setelah membaca daftar itu.
"Baiklah kalau gitu. Ayah izinkan dan hati-hati loh nanti."
"Okay!"
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Pukul tiga Lidya sudah menunggu di depan rumah bersama barang-barangnya tak lama kemudian mobil jenis van putih datang dan kaca jendela mobil terbuka mendapati Pandu disana dan di belakang ada Fitri. "Yo Lid. Buruan masuk!"seru Fitri tidak sabar dengan senyuman mengembang.
"Tapi barangku ini gimana?"tanya Lidya menunjuk tas kresek di sampingnya.
Sebelum Pandu mengucapkan sesuatu tiba-tiba ada benda elektronik seperti tong kosong datang dan memasukkan kresek itu masuk ke dalam tong itu memakai tangan robot yang ada disana. Kemudian ada benda lain seperti piring yang lebar datang, tong itu berjalan menaiki piring itu lalu terbang keatas entah pergi kemana membawa barang-barang itu. Lidya menyipit bahwa yang membawa piring lebar itu adalah Joe terlihat jelas di ciri magic nya.
"Lid. Buruan. Kau duduk di depan bersama Pandu."ucap Fitri lalu Lidya dengan segera masuk kedalam mobil lalu Pandu melajukan mobilnya menuju rumah Yusuf.
"Aku belum tahu. Jadi jangan paksa aku untuk menerawang jauh."ucap Beni.
Sekarang Arkan yang menyahut. "Aku suruh Yusuf untuk menekan GPS nya jadi aku bisa tahu mana lokasi rumah Yusuf."katanya sambil menunjukkan layar handphone ke semua teman-temannya.
Fitri tersenyum. "Wah, kau pintar sekali Arkan. Terhadap sesuatu yang berbau elektronik. Kamu udah dapat apa saja terhadap penemuan elektronikmu maksudku barang-barang apa saja yang berhasil kau ciptakan?"tanya Fitri ke Arkan dibalas angguk Anggi.
"Iyalah. Kau ini sangat pintar Arkan menciptakan alat baru dan produk baru juga."sahut Anggi.
Arkan yang di puji seperti itu hanya terkekeh kecil sambil menggaruk kepala belakang yang tidak gatal. "Ah kalian ini terlalu berlebihan."jawabnya.
"Kapan-kapan Ar. Kau buatkan aku barang yang wow kalau akau ultah ya."sambung Aska sedikit bercanda.
Pemuda yang di samping Aska hanya diam tidak mau angkat bicara sama sekali. Ia tidak mau bicara sedikit pun. Aska melirik ke arah Riko yang sedari tadi diam saja.
"Rik. Jangan diam saja, bergabunglah sama kami. Apa ada masalah padamu?"tanya Aska berusaha mengajak Riko bicara. Riko hanya tidak merespon Aska dan ia memilih untuk melihat ke luar jendela mobil.
__ADS_1
Mobil Pandu berhenti menunggu lampu hijau. "Eh chat Yusuf. Lokasinya dimana lalu kau Arkan kirim ke bluetooth mobilku lokasinya dimana?"tanya Pandu.
Arkan mengchat Yusuf dengan segera ia mengirimkan gambar itu ke mobil Pandu. Lalu terdengar suara wanita robot dari mobil Pandu.
"Lokasi saat ini kamu ada di jalan LordGrey. Kamu tinggal belok ke kiri dan menempuh sejauh dua kilo meter menuju ke desa Happy Yellow dan menempuh sejauh 18 meter belok kiri. Itu lokasi yang kamu tuju."
Lidya sedikit tercengang melihat kecanggihan yang ada di mobil Pandu ini. "Wow Pandu. Mobilmu canggih juga ternyata ada sensornya. Eh mungkin itu biasa saja sih. Tapi ini beda."komentar Lidya sedikit bingung bagaimana mendiskripsikan mobil masa depan yang bisa dibilang canggih.
Seulas senyum miring terukir jelas di bibir Pandu dan melihat Lidya bentar. "Ini nggak seberapa sih?kamu belum melihat yang jauh lebih keren dari mobil ini."
"Apa itu?"
"Nanti saat tahun baru akan tiba hehe."jawab Pandu membuat Lidya sedikit kesal.
Pandu sudah memasuki kawasan Happy Yellow. Semua orang yang ada di dalam mobil melihat keluar jendela dengan anteng penasaran dengan rumah Yusuf.
"Aku penasaran rumah Yusuf seperti apa ya?"tanya Fitri.
"Mungkin rumahnya besar buktinya ia mengajak dua sekolah sekaligus loh. Wah pasti rumahnya istana."sahut Anggi.
"Kalau aku sih, nggak terlalu yakin."pendapat Aska.
Beni angkat bicara,"kenapa As?"
"Entahlah."
Beni yang penasaran menatap kedepan mencoba menerawang apa yang ada disana. Ia melihat ada rumah-rumah yang besar di sana dan ada bangunan seperti pondok tapi itu bukan pondok melainkan Panti Asuhan karena disana banyak sekali anak-anak. Dan disana juga halamannya penuh dengan mobil dan beberapa sepeda motor.
"Apakah kita?"Beni belum sempat melanjutkan perkataannya mobil Pandu sudah berbelok ke kawasan yang ingin Beni bicarakan tadi. Semua teman-temannya terkejut.
"Panti Asuhan?kenapa kita ada di panti asuhan?"tanya Anggi kebingungan.
Lidya mengerutkan dahi dan mengapa Joe sama sekali tidak pernah bercerita bahwa ia tinggal di panti asuhan.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...