Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode tujuh Belas:Penghipnotis Cinta


__ADS_3

  Jay Menatap Lina yang masih membeku disana tanpa babibu Jay menarik tangan Lina menuju tempat parkiran yang biasanya siswa-siswi menitipkan motornya tidak jauh dari sekolah,hanya ada jarak beberapa meter saja. Lina menunggu didepan sambil mengetuk-ngetuk sepatunya dan melihat tangannya yang tadi ditarik oleh Jay membuatnya tersenyum simpul, tidak lama kemudian Jay keluar dengan sepeda motor sejenis ninja berwarna merah.


Lina terkejut melihat sepeda motor Jay karena ia harus memeluk pinggang Jay kalau tidak ia bisa jatuh dari sepeda motor besar itu. Pemuda itu menyodorkan helm ke Lina dan segera ia pakai lalu duduk di jox belakang. Jay menoleh kebelakang dan berkata,"pegangangan yang rapat ya?"ucapnya.


"Jay, apa kau bisa memelankan laju sepeda motornya karena aku tidak terbiasa naik sepeda motor besar ini."kata Lina memberitahu Jay. Pemuda itu mengangguk,"iya, aku bisa tapi pegangan yang kuat. Dibelakang ada pegangan kok."kata Jay dibalas helaan nafas lega.


Lina pikir Jay seperti pemuda pada umumnya,cari kesempatan dalam kesempitan tapi Jay tidak seperti pemuda yang ada dipikirannya. Sepeda motor menyala, Jay memanasi mesin sepedanya bentar lalu melaju normal seperti apa yang dikatakan oleh Lina. Selama perjalanan mereka berdua hening tidak ada yang mulai pembicaraan.


Lina asik melihat jalanan yang tidak begitu ramai seperti biasa. Hatinya sangat senang sekali dan detak jantungnya masih berdetak tidak karuan,tidak tahu mengapa. Jay berbelok di fotocopy. Keduanya turun dari sepeda motor.


"Bang, fotocopy ijazah dan rapot,masing-masing tiga lembar."kata Jay setelah mengeluarkan ijazah dan rapot dari dalam tasnya. Abang tukang fotocopy mengambil kedua kertas tersebut dan mulai mengcopy. Mata abang tersebut sesekali mencuri pandang kearah Jay. Lina melirik kearah Jay dan mulai berpikir kalau Jay mengajaknya memfotocopy lalu pulang. Tidak seperti bayangannya tadi.


Setelah selesai fotocopy, Jay mengeluarkan uang selembar lima ribu rupiah. Abang tersebut tersenyum,"eh tidak usah bayar. Buat masnya gratis aja."katanya.


"Eh nggak bisa gitu,bang. Ini bayarnya. Totalnya dua ribu lima ratus kan?ini buat abang masa aku nggak bayar sih. Nggak enak sama yang lain."kata Jay memberikan uang itu diatas etalase kaca.


"Seriusan tidak apa-apa."kata abang itu. Jay menaruh lembaran uang ribu itu lalu pergi dengan sepeda motornya. Lina sangat bingung apa yang terjadi barusan.


Dalam perjalanan keduanya masih diam. Lina mengingat kejadian ulang di fotocopy tersebut mengapa abang itu tidak ingin Jay membayarnya. "Jay,mengapa abang itu sikapnya seperti itu padamu?"tanya Lina sangat penasaran ia tidak bisa menahan rasa penasarannya lama. Jay melirik kearah sepionnya, tersenyum,"biasa. Semua orang selalu bersikap baik padaku."jawabnya tersenyum.


  Lalu sepeda motor Jay berbelok mengarah ke cafe. Cafe tersebut sepi pelanggan dan tampilan cafe ini sangat menarik. Jay mengajak Lina masuk kedalam cafe itu,mereka berdua duduk di bangku lesean yang berada di pojok. Suasana cafe yang tenang dan luas cocok banget buat bersantai dengan teman.


"Aku pesan dulu ya? Kamu mau apa?"tanya Jay ke Lina. Lina bingung mau pesan apa,"duh, aku bingung. Hmm, samaan aja daripada pusing."balasnya. Jay tersenyum lalu pergi untuk memesan.


Lina menatap punggung Jay yang tegap itu. Kedua tangannya menopang dagu melihat gerak-gerik pemuda itu. Hatinya luluh dibuatnya tapi Lina masih bingung dengan ucapannya selalu aja menganggap Jay itu teman. Tapi perasaannya terlalu cinta pada Jay. Perasaan yang bertolak belakang. Hati bilang cinta,mulut bilang teman.


"Pokoknya aku harus berusaha mengatakannya dan tidak ada kata teman diantara kita."kata Lina mengusap wajah dan menghela nafas.

__ADS_1


Jay datang sambil membawa nampan berisikan dua es kepal milo. Lina sangat senang melihat es kepal milo kelihatnya sangat enak. Sebelum meminum es kepal milo, ia mencuri pandang kearah Jay. Pemuda itu sudah meminum es kepal milo sedikit demi sedikit. Lina mengamati Jay saat meminun es kepal milo, Jay semakin tambah tampan.


Lina segera meminum es kepal milonya dan membiarkan pikirannya berpikir Jay yang sekarang di depannya. "Huk...huk..huk."Lina terbatuk-batuk.


Jay berhenti menyedot es kepal milonya, kedua matanya menatap Lina membuat gadis itu terpaku dan malu,"Jangan berpikir apapun saat minum dan jangan buru-buru nanti terbatuk-batuk seperti tadi."ucap Jay menasehati.


Pipi Lina kembali merona,"maaf."ucapnya malu.


"Hmm. Jay aku mau tanya?"


"Tanya apa?"


"Mengapa para gadis tadi mengerumunimu dan berteriak seolah kau adalah idola mereka?"tanya Lina menatap wajah Jay yang semakin lama semakin tampan. Lina terpesona dengan ketampanan Jay dan sekarang tidak bisa menyembunyikan pipi meronanya darinya.


"Soal itu?ceritanya panjang. Aku tidak bisa mengatakannya."jawab Jay meminum kembali es kepal milonya.


Hati Lina sangat kecewa mendengar Jay tidak bisa bercerita alasan mereka menyukai Jay seperti itu. "Mengapa kau tidak bisa menceritakan itu padaku?"tanya Lina tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa, menunduk.


"Tidak apa-apa. Aku akan berusaha untuk melupakan sekuat apapun. Jadi ceritakan padaku atau jelaskan saja sedikit, mengapa para gadis itu meneriakimu dan abang tadi juga tidak ingin kau membayar jasanya."tanya Lina mencoba mengintrogasi dan menahan dinding hati yang siap terkena ribuan anak panah.


Jay masih diam, berpikir bagaimana menjelaskan apa yang terjadi padanya dan orang lain. Bahwa yang selama ini ia lihat dan ia rasakan adalah kebohongan terbesar. Walau pemuda bernama Jay George adalah pemuda tampan sejak lahir. Ia akan merasa telah membohongi orang lain.


Rasa-rasa yang hingga menembus perasaan itu semua bohong. "Lina, tolong jangan katakan pada semua orang dan hanya kamu saja yang tahu. Satu hal lagi, tolong percayalah padaku dengan apa yang aku katakan padamu."kata Jay dingin menatap datar mengarah ke Lina.


Lina mengangguk dan kedua pipinya masih merah merona.


"Para gadis itu menyukaiku karena aku adalah penghipnotis Cinta. Setiap kali mereka melihat kedua mataku. Secara tidak sadar, mereka akan tergila-gila padaku. Dan rasa itu tidak akan hilang jika mereka terus melihat mataku dengan diam-diam."jelas Jay menbuat mulut Lina menganga tidak percaya. Jay telah menjelaskan apa yang terjadi, Lina merasa sedih tapi rasa cintanya tidak hilang seperti cerita Jay.

__ADS_1


Apa itu benar? Selama ini Lina mencintai Jay karena mata menghipnotis Cinta. Itu tidaklah mungkin.


"Jika seorang laki-laki yang melihat mataku seperti abang fotocopy itu. Ia akan berbuat baik padaku secara ikhlas. Ia akan memberikanku apa saja dengan nama Gratis."kata Jay lagi.


"Apa kau percaya padaku kalau aku adalah seorang penipu mata dan perasaan. Karena menghipnotis semua orang supaya mereka bisa jatuh cinta padaku dan baik padaku."kata Jay dingin. Moodnya kini berubah drastis.


"Dan aku juga ingin mengatakan  kalau Lina temanku telah tekena hipnotis cinta. Lihatlah anting yang berada di telingaku. Bentuk anting itu cinta dan anting itu tidak bisa lepas dari telingaku. Aku anggap anting itu adalah tanda kekuatanku, Hipnotis Cinta."jelas Jay lagi.


Hati Lina sudah tidak bisa menahan ribuan anak panah yang menancap dinding besar itu. Dinding tersebut roboh dan melukai hati Lina. Ini tidak adil. Air mata Lina jatuh membasahi pipi merahnya,kedua matanya menatap kedua mata Jay. Ia akan berusaha bahwa selama ini Lina jatuh hati pada Jay murni dan pemuda yang ia cari selama ini. Tipe cowoknya.


Jay menggambil tisu yang ada diatas nampan itu dan di sodorkan tisu itu ke Lina. Jay mencoba tersenyum tulus,"hapus air matamu. Aku tidak ingin melihat gadis menangis didepanku itu mencerminkan kalau dia itu lemah."kata Jay.


Lina menerima sodoran tisu dari Jay. Dan ia menghapus air matanya, berkata. "Semua orang itu punya kelemahan. Orang yang tangguh pun punya titik kelemahan dan ia akan menangis tanpa sepengetahuan orang lain."kata Lina menyunggingkan seulas senyum.


   Sebentar lagi malam akan tiba dan mereka berdua segera pulang. Jay mengantar Lina pulang terlebih dahulu sampai rumah Lina mengucapkan terima kasih banyak ke Jay. Pemuda itu juga mengucapkan terima kasih pada Lina melewati para gadis yang tergila-gila padanya. Lina tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


"Hati-hati Jay. Jaga baik-baik, jangan sampai semua orang satu dunia mengejarmu."kata Lina sedikit meledek.


"Kau juga,Lin. Jangan tertipu perasaan setiap menatapku."balas Jay menggoda Lina.


"Apaan sih?"kata Lina salah tingkah. "Aku ini nggak tertipu dengan tatapan cintamu itu!"lanjut Lina keceplosan dan segera ia tutup mulut.


"Baiklah. Aku akan pulang dulu ya bentar lagi malam."katanya pamit lalu melesat pergi. Setelah Jay benar-benar pergi.


Lina tidak menyangka ia bakal keceplosan kalau Lina murni menyukai Jay bukan karena penghipnotis cinta. Apa Jay tadi mendengarnya?-batinnya kesenangan.


Ia berlari masuk kedalam rumah sambil berteriak,"PUTRI LINA PULANG KE ISTANA!"

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2