
Mereka bertiga menyerang Roro bersamaan. Gadis itu menatap tajam dan membawa orang yang di bawah pengendalian ke sini membuat Nando, Jay dan Lina kualahan. Roro tersenyum miring dan ini adalah peluang untuk kabur dari sini.
Pemuda bernama Jay tersebut melirik ke Roro yang ingin kabur,"BERHENTI!"teriaknya lantang. Roro melihat ke belakang pemuda tampan itu berlari ke arahnya perlahan menyunggingkan senyuman miring.
"Terlambat."ucapnya pelan membuat Jay berhenti melangkah sebab kakinya seolah terikat sesuatu, mata cokelatnya melebar dan perlahan melihat ke bawah. Ternyata musuhnya lebih licik, ia memaafkan situasi agar bisa menjebak lawannya dengan rantai kekuatan bonekanya.
Lina yang menyerang orang yang dikendalikan Roro melihat Jay telah terjebak dalam kekuatan musuh. Gadis itu mengayunkan pedang agar orang-orang ini tidak menghalangi jalannya menuju Jay. Nando terus membuat orang-orang ini tidur daripada harus menjadi budak paksa oleh musuh.
Jay terus memberontak agar kekuatan musuh terlepas ia tidak mau menjadi budak bonekanya. Roro tertawa terbahak-bahak, "tidak bisa di lepaskan. Aku akan membuatmu melawan gadis itu."ucapnya tersenyum melihat Lina yang berlari ke arahnya.
Roro yang melihat itu mengendalikan tubuh Jay. Pemuda tersebut ingin melawan kekuatan musuhnya tetapi usahanya gagal sebab levelnya di atasnya. Serta kekuatannya mungkin sudah menyatuh dengan imajinasi dan orang itu. Jay berbalik badan, tangannya memegang tangan Lina kuat membuat langkah Lina berhenti, mata Lina melihat tidak percaya kalau Jay sudah di bawah kendali oleh musuh.
Tangan Jay melayangkan tinjuan ke wajah Lina membuat tubuh gadis itu terpental dan pedang di genggamannya terlempar jauh. Jay yang melihat itu melotot tidak percaya kalau ia akan melukai temannya. Nando yang melihat itu juga melotot ia sangat geram melihat musuh tidak punya hati.
"Dasar berdebah!"ucapnya menggenggam kuat gadanya berlari ke arah Roro.
Roro yang melihat satu musuh mengarah ke arahnya penuh amarah hanya tersenyum. Waktunya mengendalikan Jay untuk menyerang pemuda berisi yang kuat itu. Ketika ingin menggerakan Jay buat menyerang Nando, tangannya tidak bisa di gerakkan sesuai pikirannya.
"K-kenapa tanganku nggak bisa di gerakkan?"ucapnya melotot saat Nando sudah dekat dan mengayunkan gadanya seperti memukul bola. Tubuh Roro terpental ke belakang dan hampir jatuh dari gedung. Roro duduk dan terbatuk-batuk.
"Huk huk.."batuknya mengeluarkan banyak darah matanya melebar melihat pemuda itu yang menyerangnya menggunakan senjata gada yang besar. Dahi Roro sekarang juga berdarah,rasa nyeri terasa. Roro memincingkan mata sesekali memejamkan mata menahan rasa sakit.
Nando menghampiri gadis yang seenaknya saja mengendalikan orang-orang tidak bersalah termasuk teman-temannya membuat mereka bersalah.
"Dasar tidak tahu diri! Kau mencelakai semua orang. Apa kau tidak punya otak buat memikirkan keselamatan orang lain dan menjaga hati orang lain!"ucap Nando blak-blakan sembari menarik nafas yang banyak akibat perkelahian tadi membuatnya kelelahan. Nando meludah dan menatap musuh yang sudah terluka akibat serangannya.
__ADS_1
"Kau harus ikut kami dan jangan berusaha kabur lagi!"perintahnya dan Roro tetap saja dengan pendiriannya yaitu menolak ajakan lawannya.
"Untuk apa aku ikut dengan kalian?"ucap Roro memalingkan wajahnya.
Lalu Jay datang menatap datar Roro, wajah datar Jay membuat Roro terkesima dengan tampang wajah Jay yang tidak ada habisnya membuat para gadis terhipnotis. Nando menghela nafas kasar.
"Masih saja tebar pesona di situasi begini."cibirnya melirik ke Jay. Pemuda itu tidak merespons cibiran Nando.
"Untuk mencari tahu tujuan kalian menghancurkan dunia serta merenggut nyawa anak-anak yang memiliki kekuatan imajinasi."kata Jay dingin.
Roro mengerutkan bibirnya, "tidak mau. Meski kalian memberiku seribu pertanyaan sekali pun. Aku tidak akan memberitahukan tujuan."ucap Roro masih bandel ini membuat Nando sangat jengkel ia ingin memukul wajah gadis itu yang sama sekali tidak memiliki sopan santun setiap kalimatnya.
Jay mencegah Nando agar tidak mencelakai musuh lagi. Sebuah portal ungu muncul di belakang kedua pemuda itu dan muncula seorang gadis cantik bermata, Purple Eyes. Roro yang melihat itu tercengang. Jay dan Nando melihat ke belakang ternyata Elle datang.
"Diamlah."ucapnya menatap musuh di hadapannya yang sudah penuh luka tapi tetap saja bandel. Elle memerhatikan wajah musuh itu dan ia juga tergolong kekuatan Purple Eyes, pengendali boneka.
"Jadi kau pengendali boneka yang selama ini banyak di perbincangkan semua orang."kata Elle. Roro menatap gadis di hadapannya, "sedangkan kau pengendali portal dari Elements Eyes."ucap Roro secara tiba-tiba jantungnya kambuh lagi kali ini detak jantungnya melemah ia memegang dadanya menahan rasa sakit luar biasa, nafasnya seolah tercekat.
Elle yang melihat itu dengan cepat membuat portal perpindahan, memindahkan semua temannya yang ada di atas gedung ke tempat rumah sakit.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Di rumah sakit Adera semua orang-orang yang terluka di bawa kesana akibat penyerangan musuh berskala besar. Di depan rumah sakit Adera sudah banyak di jaga kepolisian. Fitri melihat dua pasien datang dan salah satunya adalah Lina. Gadis berambut panjang itu menghampiri Elle yang juga khawatir.
"El, Lina kenapa?"tanya Fitri sedikit panik sedari tadi ia sudah berada di rumah sakit Adera melihat begitu banyak pasien yang beradatangan membuat dokter serta perawat kualahan dan akhirnya memutuskan untuk membawa ke rumah sakit lain. Untung saja yang di serang hanya dua kota.
__ADS_1
"Lina akan baik-baik saja tadi hanya ada kecelakaan kecil."jawab Elle yang tidak tahu mau menjawab apa.
Fitri menghela nafas berusaha untuk tenang dan menatap pasien pertama sepertinya kondisi gadis yang tidak ia kenal, benar-benar buruk. "Terus siapa gadis tadi?"
"Ehmm, itu musuh yang menyerang kota membuat semua orang menjadi boneka di bawah kendalinya."kata Elle membuat Fitri melotot dan melangkah mundur dua langkah.
"A-apa mu-musuh?"ucapnya shock di balas angguk cepat Elle.
"Bagaimana bisa ia ada di sini? Kalau dia sembuh ia bakal ngehancurin semuanya termasuk kita. Dan kita juga belum tahu siapa di balik dalang ini."ucap Fitri yang ada benarnya tetapi Elle tidak berpikir seperti itu saat ini. Ia yakin gadis tersebut punya tujuan, mana mungkin ia ngehancurin semuanya tanpa tujuan.
Kemungkinan ada maksud lain. Fitri menatap Elle serius, "kalau dia tidak mau menjawab pertanyaan kita, gimana? Kan merepotkan."kata Fitri lagi.
"Kan kita punya teman yang bisa membaca hati nurani. Dan ia tidak akan bisa menutupi lagi tujuan ke kita."kata Elle membuat Fitri bungkam dan tidak terselip dalam pikirannya bahwa salah satu temannya memiliki kekuatan bisa membaca hati nurani seseorang.
Semua orang dan anak yang memiliki kekuatan di rawat rumah sakit Adera. Pak Ganda selaku kepala sekolah SMA Strength yakin kalau anak yang ia kumpulkan dan di latih serta ada yang langsung terjun ke area pertarungan. Bahwa ada harapan yang besar. Ia yakin itu.
Kenapa Pak Ganda bisa seyakin itu karena beliau memiliki kekuatan bisa melihat masa depan. Di sisi lain Pak Ganda tidak yakin akan kekuatannya itu benar atau tidak sebab semua kekuatan ada kelemahan masing-masing. Dan tetap saja manusia tidak bisa meramalkan apa besok yang akan terjadi sebenarnya, yang bisa manusia lakukan adalah rencana.
Bisa juga masa depan yang dilihat oleh Pak Ganda akan berubah, kita semua nggak tahu.
"Aku sudah menaruh harapan pada semua murid di sini dan salah satunya Lidya. Gadis itu memiliki jiwa yang unik tidak seperti yang lain. Lindungi dirinya."ucap Pak Ganda di ruang kantor kepala sekolah penuh harap.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1