
Upacara di hari Senin dilaksanakan oleh SMK Cemerlang. Isi upacara hari ini tentang misi dan visi sekolah dan pengumuman bahwa murid baru akan menempati kelas baru dan teman baru. Lidya di kelas Multimedia satu dan tidak ada satupun murid yang dulu di kelompok dua satu kelas dengannya. Jadi suasana canggung dan harus sendiri. Kelas yang banyak, murid yang pernah satu kelas dengan Lidya adalah:Akuntansi 1,Marketing 1-2 apalagi multimedia 2.
Multimedia dua banyak sekali dulu satu kelompok dengan Lidya. Entah mangapa ia merasakan terasingkan. Setelah upacara selesai semua murid segera masuk ke dalam kelas masing-masing dan kelas yang Lidya tempati berada di belakang dan harus naik tangga. Ia sampai di kelas dan duduk di bangku depan sendiri lebih tepatnya sendirian. Bangku sebelahnya kosong melompong dan murid lainnya sudah mendapati teman bangkunya.
Murid multimedia satu jumlahnya ganjil di sebabkan ada yang pindah sekolah,murid cewek. Kata yang lain saat mos sudah tidak ada disini. Multimedia satu lumayan banyak dengan laki-laki daripada yang perempuan. Perempuannya bisa dihitung ada sembilan dan sisanya laki-laki semua. Kebanyakan cewek itu masuk ke Marketing dan Akuntansi.
Belum satu minggu ada beberapa laki-laki menganggu Lidya di bangkunya. "Eh,kau dulu dari kelompok dua ya?"tanyanya dengan nada menggoda dan separuh mengejek. Ia menelengkan kepalanya ingin melihat wajah Lidya. Lidya yang rambutnya diikat kuncir kuda menunduk tetapi pemuda yang ada di depannya penasaran dengan wajah Lidya kalau dilihat dari dekat.
"Memangnya kenapa kalau aku dari kelompok dua?"tanya Lidya dingin pada pemuda itu. Pemuda yang berpenampilan biasa-biasa itu tertawa ngakak mendengar jawaban dari Lidya. Lalu ia bilang pada satu kelas bahwa gadis ini dari kelompok dua.
Ingin rasanya Lidya menghajar pemuda di depannya ini, tangannya ingin menonjok mukanya itu akan tetapi lebih baik diurungkan karena ini hari pertama sekolah. Hari pertama sekolah. Pemuda itu pergi meninggalkan Lidya yang masih tertunduk kesal pada pemuda yang ingin macam-macam dengannya.
Guru bernama Pak Arlan masuk ke Multimedia satu dengan senyuman mengembang melihat anak didiknya yang baru menginjakkan kaki ke SMK Cemerlang.
"Halo semuanya! Apa kalian kenal dengan saya?"tanyanya pada murid di dalam kelas.
Satu kelas menjawab kompak,"Kenal banget. Sama Pak Arlan!"kecuali Lidya. Ia hanya diam menatap wajah Pak Arlan tersenyum sumringah.
"Pak Arlan kan ganteng. Mana bisa dilupain."kata seorang gadis disebelah bangku Lidya tepat. Gadis itu memang cantik saat memandang Pak Arlan, ia seperti menatap jatuh hati pada gurunya sendiri. Tubuh Lidya menjadi merinding. Kelas ini sangat menakutkan baginya ia harap betah disini.
Harusnya tidak ada yang menakutkan hanya hati-hati saja. Ia ingat kata-kata yang pernah dibilang Aska tentang kelompok dua. Kelompok dua harus menyayangi dan tidak boleh yang saling menonjok atau preman.
Pak Arlan adalah wali kelas Multimedia satu dibalas sorakan meriah satu kelas. Pak Arlan mengisi pelajaran tentang video dan foto,selama Pak Arlan menerangkan semua murid begitu anteng, tidak ada yang berkutik sama sekali dan Pak Arlan sesekali memberikan selera humor supaya kelas tidak begitu hening.
Lucu.
"Baikah, sebentar lagi istirahat akan datang. Kalian akan kubentuk ketua,wakil ketua,seketaris dan bendahara kelas. Keenam pekerjaan itu adalah tangan kanan saya dan harus patuh terhadap saya. Tidak ada penolakan karena saya akan membaca nama kalian dari absen."kata Pak Arlan memutuskan lagi-lagi dibalas horai.
"Yang jadi bendahara kelas bernama Fitri Ayunda."gadis berambut panjang cokelat tersebut bangkit berdiri dengan senyuman bangga.
"Seketarisnya bernama Anggi Puspita."gadis berambut pendek seperti dora itu bangkit berdiri.
"Wakil ketua Prima Pandu Dewana."Cowok berambut panjang sebahu memiliki senyuman manis berdiri dengan tegap. Lidya menoleh ke arah Pandu dan langsung mengalihkan perhatian kembali kedepan, kedua matanya terbelalak. Pandu ganteng banget meski rambutnya panjang sebahu seperti cewek, batinnya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ketua kelasnya adalah Beni Anggara. Sebagai ketua kelas harus membantu sama yang lain dan terutama adalah tanggung jawab. Ketua kelas harus adil dan jujur. Jujur berlaku untuk semua orang. Kalian semua mengerti!"penjelasan Pak Arlan sambil menunjuk ke arah cowok bernama Beni sebagai ketua kelas. Semua pengurus kelas mengangguk mengiyakan perkataan Pak Arlan dan hari ini adalah hari melaksanakan tugas mereka, tidak perlu menunggu waktu lagi.
Tet... Tet...
Suara bel istirahat telah berbunyi semua murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing menuju kantin. Lidya memilih untuk berdiam diri karena tidak ada satupun orang yang mengajak ia pergi keluar bersama dan berkenalan tapi ia sendiri sudah merasakan terasingkan karena sedari tadi Lidya diam tidak berkutik.
"Hai!"sapa seseorang ramah banget, suaranya begitu lembut dan enak di dengar. Lidya menoleh mendapati wakil ketua menyapanya. Pandu, mengapa ia menyapaku?pikirnya.
"Hai juga."balas Lidya gugup menampilkan senyuman ke Pandu.
"Kau tidak pergi ke kantin?"katanya dibalas gelengan Lidya. dahi Pandu berkerut,"kenapa?"Lidya menggeleng lagi, ia enggan berbicara dengan orang asing.
Laki-laki yang tadi pagi menganggu Lidya hanya menggeleng melihat Pandu yang hanya dibalas gelengan dan anggukan dari murid kelompok dua. Laki-laki itu menggeleng sambil bersiul menciptakan nada mengejek.
Ia melirik kearah Pandu kebingungan dengan sifat Lidya. "Percuma saja, kau bicara padanya karena ia bisu. Daritadi kau bicara banyak padanya tapi ia malah membalas anggukan dan gelengan saja."ucapnya mengejek membuat hati Lidya tersayat sangat sakit dan Lidya berusaha kuat untuk menahan rasa sakit itu. Pandu menatap Ferdi tidak suka.
"Fer, sopan dikit kenapa? Dia ini canggung makanya bisa geleng dan angguk. Tadi dia juga menyapa aku."kata Pandu membela Lidya.
"Ya ampun, Pan. Dia itu bisu. Tidak bisa bicara dan kalau bicara itu dikit banget."ejek Ferdi sambil melirik tidak suka ke Lidya lalu pergi meninggalkan kelas.
Lidya tersenyum tipis tidak menatap Pandu sedikit pun. "Ya sudah, aku pergi dulu."pamitnya lalu pergi meninggalkan kelas. Lidya menatap punggung wakil kelasnya itu dengan kelopak mata yang penuh bendungan air mata karena ejekan dari Ferdi. Ia tidak menyangka murid bernama Pandu itu sangat baik padanya dan terpaksa ia diam untuk mengetes sifat Pandu.
Knock knock
Suara pintu kelas ada yang mengetuk pintu, murid yang kebetulan berada di dalam kelas menoleh kearah ambang pintu. Di sana berdiri seorang gadis cantik seperti Lidya yaitu Lina. "Aku mau mencari Lidya."katanya mencari Lidya. Merasa namanya terpanggil Lidya bangkit berdiri dan berjalan kearah Lina, berwajah datar. Setelah keduanya keluar kelas. Murid yang ada di dalam kelas saling berbisik-bisik.
"Lihatlah, gadis yang bernama Lidya itu? Dia adalah gadis pendiam dan saat aku perhatikan lama-lama dari sebelah. Ia kalau disuruh-suruh nggak bakal nolak."kata gadis yang ada disebelah bangku Lidya memberitahu ke bangku belakang.
"Hmm, bagaimana kalau kita manfaatkan aja? Lagipula kata Ferdi dia itu gadis bisu. Kalau nggak geleng ya ngangguk aja."jawab gadis itu sambil terkekeh.
***
Seperti biasa suasana kantin tidak pernah sepi dari para murid dan tentunya tidak kebagian bangku makan lagi. Ini yang bagian Lidya tidak suka. Ia mendengus sebal,"kita akan beli makan apa?"tanya Lidya melihat penjual di kantin begitu ramai.
__ADS_1
"Gorengan aja. Aku suka gorengan lagipula kalau nasi aku makannya suka pelan-pelan."kata Lina ingin membeli gorengan, Lidya hanya mengangguk saja. Mereka selesai membeli gorengan dan pergi ke bangku panjang yang ada di depan kelas Akuntansi-1,Kelas Lina.
Mereka duduk di sana sambil memakan gorengan yang dibeli. Lina menggigit sedikit gorengan tersebut menoleh melihat ekspresi wajah Lidya yang tidak terlalu senang seperti dirinya. "Bagaimana hari pertamamu ini? Apa seru?"Lidya tidak menjawab pertanyaan Lina, ia memandang ke depan dan memakan gorengannya.
Lina menghela nafas panjang dan menatap ke depan seperti Lidya. Di depan hanya melihat bangunan sebelahnya dan pohon yang tinggi. "Apa kau tidak senang di kelas barumu?"Lidya menggeleng sebagai jawaban entahlah ia seperti malas buat bercerita tentang kelas yang menyedihkan itu. Lina menatap sedih,"sayang sekali."
"Tidak apa-apa."jawab Lidya akhirnya sambil memakan gorengan yang ke tiga. "Aku akan betah di sana Lin. Jangan khawatir padaku,aku kuat kok."lanjutnya lagi membuat Lina tersenyum mengiyakan perkataan Lidya barusan.
"Bagus lah. Kalau ada apa-apa ceritakan padaku. Kita kan teman mos."kata Lina tersenyum dibalas senyuman manis ke Lina. Dalam hati ia sudah sakit dan ejekan dari cowok menyebalkan itu masih tergiang-giang di telinga.
Lidya pamit ke kelasnya karena setelah ini bel bakal masuk, Lina lagi-lagi tersenyum manis dan mempersilahkan Lidya kembali ke kelas setelah bercerita banyak hal hari ini. Dalam perjalanan ke kelas,telpon gadis itu berdering.
Meow Meow
Diambilnya handphone dari saku seragamnya ternyata ada telepon dari Mama. Diangkatnya telpon itu. "Halo?"
"Halo. Bagaimana hari pertamamu?"tanya Mama dari sebrang sana. Lidya lagi-lagi mendengus kesal, ia tidak ingin menceritakan hal ini terlebih dahulu. Dengan terpaksa Lidya menjawab mama seadanya,"tidak baik-baik saja. Kelasku seperti penjara dan di sana banyak sekali predator yang ingin memakanku."kata Lidya sedikit meninggikan suaranya. Jika hatinya badmood Lidya menjadi pemarah dan ini membuat suasana hati lebih badmood dari biasanya. Mama yang tahu apa yang dirasakan oleh anaknya memilih untuk menutup telpon.
Saat sudah sampai di kelas, kakinya tersandung gagang sapu membuat Lidya jatuh tersungkur disusul oleh tawaan para murid lain Multimedia-satu.
"HAHAHAHA!"
Lalu muncula kedua gadis cantik yang memasang jebakan tersebut. Keduanya berdiri di depan Lidya yang masih tersungkur. Lidya sedikit mendongakkan kepala melihat wajah gadis di depannya itu menatap Lidya mengejek. "Makanya kalau jalan itu lihat-lihat. Punya mata kok nggak dipakai. Hahahaha!"ejek gadis yang berada di sebelah bangku Lidya.
"Eh namamu Lidya kan? Katanya kau bisu ya? Hahaha. Kok nggak protes ama Tina sih."ucapnya melipat kedua tangan, melirik kearah Tina dan tersenyum penuh mengejek. Dalam hati Lidya terus bersabar tidak boleh menonjok asal karena ia tidak akan menjadi preman sekolah atau menyakiti orang lain. Ia sudah terikat oleh omongan Aska waktu itu.
Ketua kelas yang tadi diam saja angkat bicara,"woi Tina,Sarah. Kalian jangan kasar sama anak yang tidak bersalah. Aku nggak mau tahu! Kalian harus minta maaf sama Lidya."kata Beni tegas banget meski ia langsung bertugas sebagai ketua kelas, ia tetap harus menjalankan tugas dan tidak ada satupun anak buahnya rusuh. Ia tidak mau mengurus anak-anak yang tidak benar.
Tina dan Sarah mengerucutkan bibirnya,mayun. Sarah mengulurkan tangan ke Lidya, gadis itu hendak menerima uluran tangan Sarah akan tetapi Sarah menarik uluran tangannya dan tangan Lidya langsung menggenggam. Sarah tersenyum menyirangi,"jangan harap, aku membantumu berdiri."katanya.
Ada tangan lain yang membantu Lidya berdiri, ia juga memegang tangan Lidya begitu erat. Mata Sarah terbelalak melihat siapa yang menolong Lidya barusan.
"Hari pertama sekolah harusnya bersikap baik dan belum memunculkan sifat aslinya. Aku sangat kasihan sekali pada orang itu di hari pertama sekolah sudah tercoreng namanya."kata orang itu tersenyum miring melihat Tina dan Sarah tatapan tajam. Lidya menoleh kearah laki-laki yang di sampingnya.
__ADS_1
*Jangan Anggap kami lemah*
Bersambung....