
Kring....
Jam beker berbentuk kartun Doraemon bergetar diatas nakas. Sang pemilik kamar itu tidak bergerak sama sekali,ia masih mendengkur diatas kasur dengan mulut sedikit terbuka membiarkan air liur keluar dan membasahi bantal. Jam beker itu bergeser sedikit demi sedikit dan akhirnya jatuh ke lantai menimbulkan suara kaca pecah dan jam beker tersebut masih berdering.
Dahi pemuda yang masih terlelap tidur berkerut dan mulai risih dengan bunyi jam bekernya. Ia bangkit duduk, mengelap sisa air liur yang ada di sudut bibirnya serta mengucek-ucek kedua mata membersihkan kotoran yang melekat di mata sesekali menguap. Ketika kedua kakinya turun dari kasur, tidak sengaja menginjak jam beker hingga tidak berdering lagi.
Pemuda itu melihat ke bawah lantai dengan sebal. Ia harus membenarkan jam bekernya lagi. Melirik kearah nakas ada handphone yang tergeletak disana dan diambilnya handphone itu. Pemuda itu langsung berdiri tegak, kedua mata membulat sempurna dan mulut menganga, terkejut. Ini sudah jam 06:45 sebentar lagi sekolah bakal masuk tinggal beberapa menit.
Dengan cepat ia mengambil seragam sekolahnya dan berlari kearah kamar mandi buat ganti baju. Ini kebiasaan yang sering kali menimpa pemuda bernama Muhammad Eric Sentosa. Jika ia terlambat sekolah maka jalan satu-satunya adalah tidak mandi. Ia hanya sikat gigi, cuci muka, memakai wangi-wangian, menata rambut lurusnya kebelakang menggunakan minyak rambut supaya rapi.
Setelah selesai salin seragam sekolah,Eric begitu tergopoh-gopoh memakai alas kaki,tidak lupa dengan uang dan juga tasnya. Eric tinggal di sebuah apartemen yang orang tuanya sewa tidak jauh dari sekolah Eric di SMK Cemerlang. Hari ini adalah hari ketiga ia sekolah barunya dan bulan kemarin Eric sudah berumur 15 tahun. Pemuda itu berhenti di ambang pintu teringat sesuatu yang tertinggal dan masuk kembali mengambil jaket yang diberi oleh kakak perempuannya, Eli.
Eric mempercepat langkahnya menuruni tangga. Ketika keluar apartemen tali sepatu yang ia kenakan terlepas membuatnya menggeleng, ia berjongkok membenarkan tali sepatu yang lepas. Dari lantai tiga ada orang yang menuangkan air kotor kebawah tanpa melihat ke bawah kalau ada orang. Orang tersebut membuang air kotor tersebut dan mengenai Eric.
Pemuda itu melihat semua bajunya basah dan kotor, tidak hanya bajunya saja, jaket yang dikenakannya pun ikut basah. Orang yang tadi membuang air kotor sembarangan itu melihat kebawah dan terkejut, apa yang ia lakukan. Sebelum Eric mendongak keatas, orang itu bergegas masuk kedalam apartemen. Eric berbalik dan mendongak keatas mencari pelaku yang telah mengguyur air kotor ke bawah tatapi ia sama sekali tidak menemukan orang itu.
Hari ini Eric begitu sial dan ia sudah terlambat ke sekolah dengan penampilan yang buruk. Eric menahan malu ketika naik angkutan umum menuju sekolah SMK Cemerlang banyak sekali orang-orang menatapnya jijik dan menilai anak itu sangat jorok.
Bus berhenti tepat di depan gedung SMK Cemerlang dan gudang depan sudah ditutup rapat dengan gembok menempel di gerbang itu. Eric menghentakkan kaki kesal,mengapa hari ketiganya benar-benar sial?. Apa ia telah di kutuk oleh tuhan?.
Satu ide melesat dipikiran Eric,ia berlari melewati gedung belakang yaitu SMP. Meski penampilannya kotor dan basah ia tidak peduli dengan itu yang penting ia tetap sekolah. Eric celingak-celinguk memastikan keadaan ia akan naik pagar yang biasanya di lewati oleh murid-murid membolos.
"Bismillah."gumamnya berdoa berharap berhasil dengan rencananya. Saat kedua tangannya sudah memegang pagar dan hendak naik tiba-tiba ada suara laki-laki tua dengan suara peluit yang khas, satpam. Eric terkejut dan tidak jadi untuk naik pagar.
__ADS_1
Satpam yang berjaga di SMP Negeri. Ia menghampiri Eric tengah berdiri penuh ketakutan, kedua kakinya sedikit begetar ketika melihat satpam yang berhasil menciduk berusaha masuk kedalam. Dengan wajah sangar, satpam itu melipat kedua tangan dan melototi Eric.
"Kau mau kabur ya?"kata Satpam itu sedikit membentak.
Eric terkejut bukan main,"bu-bukan Pak. Bapak salah paham. Aku malah ingin ma-masuk bukan kabur."kata Eric jujur masih begetar. Satpam itu tidak percaya dengan pengakuan Eric yang ingin masuk kedalam sekolah. Lihat saja penampilannya sekarang sangat kotor sekali dan acak-acakan.
"Kau bohong. Kalau kau tidak kabur mengapa seragammu semua kotor dan basah?"
"I-ini?"
"Ikut saya!"potong Satpam itu tegas terhadap Eric. Pemuda itu sudah pasrah mengiyakan perkataan satpam itu. Satpam bernama Udin menarik tangan Eric paksa sedangkan Eric mengikuti satpam tersebut dengan tatapan lesu,tidak bersemangat.
Udin melapor pada guru konseling di ruangannya, SMK Cemerlang. Dengan gagah ia berkata pada wanita paruh baya memakai hijab biru. "Ada apa ini?"tanyanya sedikit bingung dan melihat Eric di sebelah satpam itu penuh dengan kotoran serta basah.
Sebelum satpam itu mengatakan yang tidak-tidak pada Eric. Pemuda itu langsung mengatakan kalau ia ingin masuk ke sekolah saat mendengar peluit dari belakang, ia tidak jadi untuk masuk ke sekolah lewat pagar pembatas. Tahu,kalau satpam itu bakal menghampirinya dan bertanya.
"Anak yang sering bolos selalu pintar ngomong bu. Anak ini perlu untuk dihukum jika tidak maka ia akan terus menerus bolos dengan pakaian kotor seperti ini."kata Satpam itu tidak mau kalah. Eric menatap sinis kearah satpam itu yang seenaknya mengatakan tidak-tidak.
Guru konseling hanya bisa menonton mereka berdua saja. Merasa kedua telinganya sudah panas beliau memutuskan untuk menengai pertengkaran ini sebelum menjadi besar. "Stop!"guru konseling itu berdiri ditengah Satpam dan Eric. Beliau melirik keduanya bergantian.
Menghela nafas sejenak. "Pak Udin,"panggilnya lembut,"lebih baik. Bapak kembali bertugas, biar saya yang mengurus anak ini."lanjutnya tersenyum tipis memperlihatkan lesung pipinya. Wajah Pak Udin sedikit memerah melihat guru konseling itu jika tersenyum, Satpam bertubuh seperti preman yang tidak sixpack itu membalas senyuman guru konseling dan pamit kembali bertugas.
Ketika satpam menjengkelkan itu benar-benar pergi dihadapan Eric. Eric menghela nafas lega bisa jauh dari satpam menyebalkan itu dan berpikir bagaimana bisa orang seperti itu diterima bekerja sebagai satpam sekolah. Ia seperti penyebar berita hoax.
__ADS_1
Guru konseling itu duduk di bangkunya dan Eric duduk berhadapan dengan guru konseling yang menurutnya cantik dan manis. Eric tidak akan jatuh hati pada guru di sini. "Apa benar yang dikatakan oleh Pak Udin?"Eric menggeleng.
"Tidak benar bu. Satpam itu sangat menyebalkan sekali mana mungkin aku membolos di hari ketiga ku di sekolah apalagi aku ini anak baik-baik dan tidak pernah membolos."kata Eric jujur. Guru itu mengangguk-angguk dan berkata,"mengapa seragammu basah dan kotor?"tanyanya.
"Karena ada orang yang ingin membuang air kotor kebawah lewat balkon apartemen. Orang itu tidak melihat apakah ada orang di bawah?. Tanpa mengecek terlebih dahulu,ia malah membuang air kotor itu dan mengenaiku. Jadi basah dan aku tidak sempat salin karena sudah terlambat sekolah."jelas Eric menceritakan kembali kejadian tadi pagi ke guru konseling tersebut. Wanita itu mencatatnya di kertas kosong yang ada di atas meja.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu."kata guru itu membuat Eric bernafas lega dan tidak mendapatkan hukuman berat.
"Namamu siapa?dari kelas berapa?"tanya guru kosneling itu menatap Eric datar.
Eric tersenyum mengembang. "Muhammad Eric Sentosa. Dari kelas 10 Akuntansi-02."katanya bangga. Guru itu selesai mencatat laporan di kertas kosong itu. Beliau menatap Eric lamat-lamat, "Eric."panggilnya.
"Iya bu."balasnya sesopan mungkin tidak lupa senyuman manisnya.
"Kau harus membersihkan toilet perempuan dan ganti seragam yang bersih!"teriaknya tiba-tiba bangkit berdiri menyuruh Eric membersihkan toilet perempuan dan berganti pakaian.
Eric yang mendengar itu dari gurunya mendelik seketika, ia sangat terkejut.
Deg!
*jangan anggap kami lemah*
Bersambung...
__ADS_1