Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus Enam: Rencana dan Menyusun Strategi


__ADS_3

  Dua minggu kemudian semua teman-teman Lidya yang di rawat di rumah sakit Adera sudah sembuh. Roro, sudah baikan akan tetapi ia harus di introgasi dan menjalani hukuman dari polisi serta beberapa orang yang memiliki kekuatan imajinasi.


  Selama dua bulan ini musuh-musuh itu membuat kehancuran kota lagi membuat penduduk disana terluka dan harus kehilangan nyawa. Kelompok Yusuf diantara lain; Dea dan Tama pernah bertemu dengan Meika, teman yang dulu jadi korban bully.


Dea menceritakan kejadian dimana mereka bertiga bertarung bersama Meika lagi setelah kejadian yang pernah ingin membunuh Yusuf dan mencoba mengkelabuhi Tama untuk bergabung dengannya. Pemuda misterius yang selalu memakai masker dan berdialog dengan bahasa isyarat menuliskan di secarik kertas kalau musuh dari hitungan dua hari lagi akan membantai semua orang atau di jadikan budak.


Masalah penculikan Tera waktu itu, mereka tidak bisa menemukan tempat dimana Tera di sandra tentu saja membuat Lidya khawatir apa yang akan terjadi pada temannya itu. Riko berusaha untuk membantu tapi usahanya sia-sia.


'Pasti Keysa sudah melakukan rencana besarnya yaitu mengurung imajinasi kuat dalam penjara dari kekuatan Alone Imagination'--batin Riko merasa khawatir.


  Pak Ganda pernah bilang padanya kalau Riko memiliki banyak harapan untuk semua teman-teman dengan guna kekuatan Pengendali waktu. Pak Ganda hanya bisa melihat masa depan saja, tidak bisa menjelajah waktu, melintasi beberapa dimensi seperti Riko. Bisa dibilang beliau hanya sebagai peramal yang ramalannya bisa berubah kapan pun, tidak efektif.


Sedangkan para imajinasi sihir dengan senang hati membantu mereka melawan dua musuh tersisa. Mereka tidak takut turun ke medan perang imajinasi. Lidya yang mendengar semua semangat membara dari semua imajinasi sangat senang dan membantu mencapai final.


Lidya mengumpulkan beberapa wakil kelompok untuk menyusun rencana sebab ruangannya tidak terlalu besar, yaitu di ruangan ekstrakulikuler paskib. Masalah pembagian kelompok untuk turun medan perang atas tantangan dari Keysa atau bisa disebut Tomma dari imajinasi Lidya di atur oleh Pak Ganda dan seroang kapten kesatria yaitu Fiolla.


Gadis itu menoleh ke arah Tio untuk membuka rapat dengan segera Lidya membuka rapat menyusun rencana dan membuat strategi perang. Semua yang ada disana mendengar perkataan Lidya dan sesekali mereka para wakil, berkomentar atas rencana dan menyusun strategi.


"Apakah di sini ada ahli yang menemukan kekuatan tersembunyi atau bisa disebut merasakan aura tersembunyi?"tanya Lidya menatap mereka bergantian,"karena musuh memiliki banyak budak dari Alone Imagination atau imajinasi yang sangat mudah di kelabui musuh."lanjutnya lalu ada salah satu orang yang angkat tangan.


Radit, pemuda pemalas di susul oleh Abimanyu pemilik kekuatan oranye eyes. Radit menatap lurus temannya itu dengan tatapan sayu, tidak bersemangat sama sekali.


"Aku bisa merasakan energi Alone Imagination secara aku sendiri adalah kelompok mereka."katanya di balas tatapan tidak percaya dari mereka termasuk Lidya. Ia tidak tahu bahwa ada keberuntungan kecil disini.


Lidya pikir yang bersekolah di SMA Strenght hanya imajinasi terkuat saja, ternyata ia salah. Lidya memejamkan mata sejenak dan melihat Radit,"apakah hanya kau saja yang tergolong Alone Imagination? Radit?" pemuda itu mengangguk mantap sebagai jawaban membuat senyuman terukir jelas di sudut bibir gadis itu.


"Aku adalah Imagination Together. Aku bisa menggunakan oranye eyes untuk mengecek seberapa kuat kekuatan musuh dan kelemahan kekuatan musuh. Hanya saja aku tidak memiliki kemampuan bertarung seperti eyes yang lainnya."Kata Abimanyu, pemuda tersebut penuh keyakinan dan menoleh ke arah partner barunya tersenyum.


"Baiklah. Kalian berdua bertugas mencari Putih(Tera) bersama kelompok yang sudah di bagi oleh Pak Ganda dan Fiolla."kata Lidya di balas hormat ala kapten dari Radit dan Abimanyu. Entah kenapa pemberian hormat seperti itu membuat kedua pipinya memerah karena malu.


"Tio adalah ketua untuk menutup pintu imajinasi jadi beberapa dari kalian harus ikut dengannya untuk menyusun lima gantungan yang terkumpul. Sebenarnya...."kata Lidya berhenti sejenak melihat lima gantungan kunci yang ada di genggaman Tio. Menghela nafas panjang menatap mereka teman-temannya. "...harusnya kurang dua gantungan kunci yang belum kita dapat."


"Jadi itu gimana?Lid. Kalau gantungan kuncinya kurang dua berarti kita tidak bisa menutup pintu imajinasinya dong."celetuk seroang gadis berambut pendek seperti laki-laki. Tubuh gadis itu tegap seperti laki-laki, kedua matanya indah dengan iris warna biru langit.


"Ya, mau gimana? Tinggal satu monster yang belum kita kalahkan yaitu Jangkrik, gantungan berwarna emas."jawab Lidya memasang wajah sedih.


"Dan gantungan satunya apa?"tanya gadis itu lagi serius.

__ADS_1


Lidya menggigit bibir bawahnya lalu menatap gadis berambut pendek tersebut, "yang satunya adalah aku tidak tahu."jawabnya.


Tio yang mendengar itu dahinya berkerut dan menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti. Oh ayolah harusnya ia mengerti tentang hal itu tapi yang tidak ia mengerti adalah kenapa Lidya bisa tahu tentang hal itu. Jujur saja, Tio tidak tahu warna gantungan kunci yang dikata neneknya itu adalah potongan puzzle yang sulit mencapai akhir.


"Setidaknya kau tahu dimana letak gantungan kunci terakhir itu?"sahut seorang gadis berambut keriting berkacamata bulat. Ia adalah seorang penyihir dengan tongkat yang ujungnya berbentuk bintang.


"Aku tidak tahu letaknya. Tapi aku tahu warna gantungan kunci itu, warnanya hitam dan aku sebut unknown. Karena memang gantungan kunci itu misteri dan tidak ada satu orang pun tahu dimana letak gantungan kunci terakhir tersebut. Untung saja aku bisa tahu, warnanya."jawab Lidya penuh yakin untuk menyakinkan mereka kalau ia berkata jujur dan tidak ada kata berbohong.


Tio yang ada di samping Lidya menyenggol pelan membuat si empunya menoleh, kode wajah. Pemuda berambut biru itu membisik.


"Bagaimana kau bisa tahu warna gantungan unknown itu?"


"Ceritanya panjang, aku nggak bisa menjelaskan."balasnya membisik.


Tio menghela nafas kasar sedikit mendesah karena ia benar-benar penulis bodoh tidak seperti penulis yang ada di sampingnya. Ia menatap teman-temannya.


"Baiklah kalau begitu. Ada beberapa orang yang ikut denganku menuju ke pintu imajinasi termasuk kau penyihir harus ikut denganku!"ucap Tio menunjuk penyihir gadis berambut keriting dan berkacamata bulat.


Penyihir bernama Anis itu terkejut menunjuk dirinya,"A-apa a-aku?"tanyanya terbata di balas tatapan serius pemuda itu.


Lidya sedikit terkekeh melihat ekspresi penyihir itu, Anis. "Dan siapa di sini yang mau memburu monster jangkrik untuk mendapatkan gantungan kunci berwarna emas dan bergambar jangkrik?"tanya Lidya pada yang lain.


"Itu mah gampang buat kelompok kesatria petualang. Biarkan aku saja dan kelompokku yang memburu monster itu."ucap seorang pemuda bernada sombong. Dia adalah Ilham, seorang archer handal seperti kelompok kesatria yang lain.


"Sisanya ada yang ikut sama aku buat berperang yaitu imajinasi yang kuat. Dan yang di pilih oleh Tio, ikut dengannya. Dan sisanya untuk mengalahkan monster jangkrik dan kalian harus hati-hati."ucap Lidya memperingatkan pada yang lain.


Sebab Tomma mengatakan lewat gulungan surat dari akar-akar menjalar untuk menantang mereka dan tahu kalau disalah satu dari mereka semua itu ada Pangeran Tumbuhan, Johnny Evans. Lidya selaku penulis imajinasi Johnny belum ada tanda-tanda keberadaan pangeran. Ia hanya pernah bertemu dengan Gavin, penjaga kegelapan dan kembali pergi entah kemana.


Padahal Lidya ingin bertanya pada Gavin kalau ia harus membantu lainnya dan bekerja sama mengatasi musuh dengan kesatria cahaya--Cahya dan juga kesatria wanita---Grisyel. Cahya berada di tubuh Charlie dan Grisyel berada di tubuh Lina. Tahu, kalau Lina tidak memiliki nyali kuat layaknya kesatria tapi apa salahnya ikut berjuang. Toh, dia juga ingin menuju kedamaian lagi seperti dulu.


Mereka semua mengangguk mengerti dan rapat di tutup. Mereka semua berhamburan keluar menuju ke kelompok masing-masing. Gadis itu merasa sangat lelah dan sedikit pusing karena kebanyakan berpikir dan harus cepat berputar otak atau berpikir cepat menyusun strategi perang buat imajinasi yang memiliki kekuatan agak tinggi.


Kalau Tomma sudah menantang mereka berarti ia sudah dekat dengan rencananya. 'Sebenarnya tujuanmu itu apa Tomma? Kenapa kau menantang kami dan membuat semua orang terluka akibat ulahmu. Apakah peperanganmu dulu dengan pangeran menyimpan banyak dendam? Sampai nggak terima kalau peperangan itu di hentikan selama 500 tahun yang lalu'--batin Lidya menatap lapangan dari lantai dua.


Lalu terdengar suara langkah mendekati Lidya, menoleh ternyata Pandu. "Lid, aku ikut berperang melawan Keysa bersamamu!"serunya dibalas pelototan dari Lidya.


Gadis itu memukul bahu Pandu keras membuat pemuda tersebut meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aduh sakit,Lid. Kebiasaan deh mukul-mukul."kata Pandu mengelus tangan kirinya bekas pukulan Lidya.


"Apa kau gila! Aku kan sudah nyuruh kamu ikut dengan Ilham bukan ikut melawan bersama imajinasi kuat."protes Lidya.


Pandu memasang wajah datar mendengar protesan dari Lidya. "Idih, tidak ngaca sendiri."sindirnya.


"Maksudmu?"


"Kau sama saja bunuh diri tahu! Ikut sama mereka... Imajinasi kuat melawan Keysa. Pokoknya aku nggak mau lihat kau ada yang lecet akibat musuh itu."ucap Pandu bersikeras dan nggak mau di ganggu gugat atas keputusannya ikut dengan Lidya bertarung bersama Keysa.


"Aku nggak ikut perang Pandu."ucap Lidya mengelak.


"Boong,kalau perlu, aku bawa Hana kesini untuk mengetahui semua isi hatimu."ucap Pandu menatap lekat ke manik cokelat Lidya. Tatapan mereka saling beradu.


"Nggak!"ucap Lidya berbalik badan melihat lapangan penuh murid SMA Strength.


"Pokoknya kau harus ikut dengan Ilham titik!"ucap Lidya kesal.


Pandu menghela nafas berusaha berpikir cepat dan akhirnya menghela nafas kasar, kalah berdebat dengan Lidya. Memang ya, gadis di hadapannya ini perintahnya nggak bisa di tolak. Entah karena apa? Ia sama sekali tidak tahu. Seolah perkataan Lidya itu benar.


Pemuda berambut panjang sebahu itu berdiri di samping Lidya menatap arah pandang gadis itu lalu mencuri pandang ke arah Lidya.


'Aku ingin sekali mengatakan sesuatu yang penting padamu,Lid. Tentang suara hati andai saja aku memiliki kekuatan seperti Hana, aku akan selalu mendengar suara hatimu di setiap waktu'--batin Pandu menyunggingkan senyum.


Lidya yang awalnya hanya memikirkan tantangan Keysa merasa ada yang memerhatikan. Ia menoleh ke sampingnya dengan cepat Pandu menatap ke depan sambil bersiul menirukan suara burung berkicau.


Selama ia dekat dengan Pandu entah kenapa ia nyaman dan kadang jantungnya berdebar-debar seperti tadi saat tatapannya saling beradu. Hanya saja Lidya menahan dan berusaha bersikap biasa saja tapi sikap Pandu dengannya. Seperti bukan teman biasa. Lidya ingin tau dan bertanya ke Pandu.


'Kau menganggap aku sebagai apa? Pan. Teman, sahabat atau lebih dari teman. Melihat sikapmu padaku itu sangat berlebihan contohnya kau bersikeras untuk ikut denganku di medan perang dan waktu itu mengajakku jalan-jalan berdua, nonton bioskop.' batin Lidya penuh tanda tanya.


Dan ia juga teringat kata teman-temannya kalau Pandu menyukainya tapi dengan cepat Lidya berkata kalau Pandu memiliki gadis lain, gadis pilihannya tentunya dan bukan dirinya.


'Ah lain kali saja lah, aku tanya sama Pandu setelah kedamaian kembali di bumi pastinya'--batin Lidya tersenyum mengembang.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2