
Dom!
Arsa dan Agung menyuruh semua teman-temannya melindungi ketua dibalas anggukan mereka semua. Farah berdiri di tengah teman-temannya ia merasakan menjadi tuan Putri yang dilindungi oleh banyak pengawalnya tetapi ini sangat menyeramkan karena kakak pembinanya memakai senjata.
Pemuda berambut keriting itu menggertak gigi kesal karena serangannya tidak mengenai ketua kelompoknya. Ia mencoba memanah lagi dan kali ini langsung 5 anak panah yang akan diluncurkan bersamaan.
Set!!
Kelima anak panah itu meluncur ke segala sisi. Arsa merogoh kantung celananya dan mengeluarkan gelang karet, Agung menghancurkan semua anak panah dengan kekuatan apinya ia melirik mengarah ke Arsa. "Apa yang kamu lakukan Sa? Kau masih sempat membuat gelang karet!"ucapnya sedikit shock.
Arka membantu adiknya menyerang beberapa banyak panah yang meluncur mengarah ke ketua. Kevin sudah kesal karena teman-temannya hanya membuang waktu.
"Mending kita melarikan diri saja untuk melindungi ketua!"ucapnya di bantah oleh Fandra.
"Apa kau gila Kev! Kita harus mengikuti apa yang dikatakan oleh kertas tadi dan Kak Rian membawa botol kedua."kata Fandra. "Kenapa harus melawan Kak Rian? Kalian semua hanya membuang waktu yang betul adalah ambil botol yang ada di pinggang Kak Rian!"ucap Kevin nada tinggi bercampur emosi.
"Hahahaha!"Rian tertawa keras membuat mereka bersepuluh memandangnya.
"Wah! Pemuda berambut ungu itu pintar juga."ucapnya menyindir Kevin membuat pemuda itu kesal.
"Ini bukan ungu tapi hitam! Kenapa semua orang suka bilang kalau aku memiliki cat rambut warna ungu!"balasnya mengepalkan tangan ingin meninju Rian. Agung mengerit melihat Kevin yang tidak suka dikatain rambut warna ungu.
"Memangnya kenapa rambut warna ungu marah-marah. Aku aja yang warna rambutnya oranye nggak marah."kata Agung dibalas lirikkan tajam dari Kevin.
"Kalau kau berani ngatahin aku! Sini maju!"tantang Kevin dibalas senyuman miring dari Rian. Ia turun dari pohon dan menyuruh pemuda sombong tersebut maju kedepan, Kevin ingin maju melawan Rian tapi Farah mengikutinya.
"Hei kau jangan mengikutiku!"ucap Kevin menoleh ke Farah. Farah marah mendengar perkataan Kevin,"aku tidak mengikutimu tapi tanganmu yang menarik tanganku!"ucap Farah. Kevin melihat tangannya menggenggam tangan Farah. Yang lainnya hanya menatap datar melihat tontonan tidak berguna. Kevin melepaskan tangan dari tangan Farah tapi tidak bisa dipaksa pun tidak bisa.
"Rah, lepaskan tanganku!"
"Aku tidak bisa!"
Tangan Kevin tidak bisa lepas dari tangan Farah membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Selena membantu Kevin melepaskan genggaman erat tapi sama saja tidak bisa, "lengket banget!"
Rian yang sedari tadi diam saja akhirnya meluncurkan anak panah lumpuh mengarah ke ketua kelompok untuk mengambil sesuatu benda penting. Satu panah melesat cepat mengarah ketiga makhluk tidak berguna, Lidya yang melihat itu berteriak kencang,"Awas!"teriaknya.
Refleks Bening menghalang panah itu,"aku harap anak panah itu tidak mengenai teman-temanku."harapannya. Anak panah tersebut tiba-tiba jatuh menacap ke tanah tepat didepan Agung berdiri, tinggal beberapa meter. Agung terkejut melihatnya. Rian ikut terkejut melihat kekuatan tadi padahal serangan panahnya tidak pernah meleset sedikitpun dari sasaran.
Farah menyuruh teman-temannya merebut botol yang ada di pinggang Rian dan memberitahu jangan menyerang kakak pembinanya terlalu berlebihan. Fandra menyuruh Farah bersembunyi di jaga oleh dua pembantu dan penyembuh. Mereka berenam mengangguk.
Sekarang tinggal Agung, Fandra, Arka dan Arsa yang berhadapan dengan Kak Rian untuk mengambil botol kedua di bawanya. Dalam hati Rian sekarang ia harus berhati-hati karena salah satu anggotanya sudah memberikan arahan.
Ia kembali memanah menyerang keempat laki-laki dihadapannya. Agung berlari dan melemparkan bola api mengarah ke Rian, Rian dengan sigap menghancurkan bola api kecil itu. Arka menggandakan dirinya menjadi 5 bagian, Rian tersenyum dan melawan kelima Rian menggunakan anak panah kelumpuhan.
Arka terkena kakinya dan kaki kananya tiba-tiba lumpuh serta kekuatannya menghilang. Dari arah kiri melayang sebuah gelang karet melesat cepat mengarah ke botol yang kini jadi sasaran, Rian melompat ke udara dan meluncurkan anak panah mengarah ke Arsa.
Agung menghancurkan panah milik Rian. Ia melirik ke Rian,"anak panahnya memiliki kekuatan berbeda-beda jadi hati-hati!"teriak Agung memperingati teman-teman lainnya.
__ADS_1
Di sisi lain Vana melihat keempat pemuda tengah asik bertarung diantara mereka berempat tidak bisa merampas botol itu. Kevin kesal karena ia harus menempel terus disamping Farah. "Kenapa tangan Kevin tidak bisa lepas dari tangan Farah?"tanya Selena dibalas gelengan tidak tahu.
Bening memegang dagunya, "aku juga tidak bisa menggunakan kekuatanku ini ke Kevin maupun ke Farah."balasnya.
"Seandainya aku tidak menempel ke Farah, aku bisa melawan Rian dan merampas botol itu!"ucapnya. Vana ingin membantu keempat laki-laki itu tapi dicegah oleh Farah,"Jangan Van, nanti kekuatan berbahaya-mu keluar lagi dan bisa mencelakai Kak Rian dan yang lainnya."ucap Farah. Vana hanya bisa diam dan bisa mengintip perlawanan sengit.
Rian menggunakan busur andalannya yaitu asap, satu panah menancap ke tanah lalu anak panah tersebut mengeluarkan asap membuat sekelilingnya terbatuk-batuk. Rian tertawa,"kalian akan kalah ke tempat finish tanpa botol kedua yang aku bawa ini."ucapnya tersenyum miring melihat lawannya terbatuk-batuk karena asap yang diciptakannya.
Arsa mengeluarkan gelang karet terakhirnya, ia mencoba untuk memfokuskan sasaran botol yang ada di pinggang Rian meski Arsa diselah batuk karena anak panah sialan. Ia tidak akan menyerah, satu gelang karet melesat cepat seperti angin ke arah botol itu.
Fandra menyuruh salah satu dari mereka mendekat kearah Kak Rian tapi mereka masih sibuk batuk-batuk. Rian berdiri gagah melihat musuhnya yang ternyata lemah, ia pikir musuhnya hebat-hebat seperti kejadian kemarin ada kekuatan menyeramkan di salah satu murid perkemahan nyatanya tidak.
"Menyerahlah dalam permainan ini dan kembali ke tenda kalian. Karena kalian tidak pantas melanjutkan uji coba kekuatan heroik!"ucap Kak Rian dibalas tatapan tidak percaya keempat pemuda di depannya. Vana yang mendengar itu juga terkejut.
Apa uji coba kekuatan heroik! -batinnya menoleh ke arah kelima temannya yang bersembunyi tidak merebut botol itu.
Rian ingin menunjukkan botol yang berisikan tujuan awal di pinggangnya terkejut karena botol tidak ada, bersamaan asap batuk-batuk hilang. "Dimana botol itu?"teriak Rian kaget.
Fandra,Arka dan Agung terkejut mendengar botol yang ada di pinggang Rian tidak ada. Seulas senyum terukir di wajah Arsa, ia bangkit dan mengangkat botol yang sudah berpindah tangan.
"Mencari ini Kak Rian?dan kita berhasil melakukan ujian kekuatan heroik ini serta pantas melanjutkan permainan yang tidak terduga ke garis finish."ucap Arsa sedikit menyindir Rian.
Rian tersenyum dan ada rasa bangga karena mereka berhasil meraih botol itu. "Selamat semua! Kalian berhasil mengalahkan aku. Dan satu informasi buat kalian semua!"ucap Rian. Vana menuruh semua keluar dari tempat persembunyian.
"Kalian harus terus bekerja sama dan jangan seenaknya sendiri tidak bekerja sama pada kelompok. Dan jangan sampai ketua kelompok kalian terlepas atau terluka karena ia membawa suatu berharga yaitu peta."ucap Rian. Selena mengerut dahi tidak mengerti.
"Jika peta itu hilang atau dirampas oleh kakak pembina sepertiku maka kalian semua keluar dari permainan ini. Dan kamu, buka botol itu semoga sukses melakukan tahap kedua."kata Rian memberitahu kalau ketua kelompok ada bagian penting dan menyuruh Arsa membuka botol itu lalu Rian menghilang dengan asap tebal membuat semua terbatuk.
"Huk...huk."
"Kelewatan tuh Kak Rian seenaknya membuat asap batuk-batuk."komentar Agung dibalas kekehan Arka.
"Yang sabar."
Arsa membuka kertas yang ada di genggamnya dan membaca keras-keras,"pertahankan ketua kelompokmu dari kelompok lainnya yang berkumpul di garis lingkaran sesuai peta."
Farah berusaha untuk melihat tetapi ia kesusahan Kevin yang ada disampingnya memutar bola matanya malas, ia menarik ujung peta agar Farah bisa melihat petanya.
"Kita harus melewati sesuai tanda arah yang bergambar lingkaran dan arahnya belok kanan tempat kita berdiri."ucap Farah dibalas anggung Fandra.
"Aku mengerti, ikut aku. Dan lainnya lindungi ketua."kata Fandra berjalan memimpin kelompoknya. Lidya hanya bisa diam tidak membantu apa-apa ia merasa tidak berguna di sini karena ia tidak memiliki kekuatan seperti kelompoknya.
-------
*Kelompok Lina*
Pertarungan sengit Fian dan Fitri melawan kakak pembina Hilda. Hilda adalah pertarung hebat ia memberikan pedang ke Fitri dan Fian untuk melawannya. Satu lawan dua menurut Hilda adalah sangat mudah jangankan satu lawan dua, satu lawan sepuluh orang sekaligus juga bisa dikalahkan.
Fian jatuh dan tangannya terluka karena terkena pedang Hilda. Fitri menghampiri Fian,"Fian, kau tidak apa-apa?"ucapnya khawatir. Hilda tertawa melihat kekhawatiran yang ditunjukkan Fitri.
__ADS_1
"Dasar lemah. Lawan aku saja tidak bisa! Kalau begitu kalian tidak bisa melawanku dan melindungi ketua kelompok kalian."sindir Hilda berlari mengarah ke arah ketua kelompok.
Jay terbelalak melihat kakak pembina satu ini sangat cepat berlari. Lina berdiri membelakangi Jay untuk menghalang Hilda mencelakai Jay.
"Jangan melukai Jay! Kak Hilda!"teriaknya menyetop Hilda. Gadis berparas cantik itu berhenti melihat gadis cantik di hadapannya berani menghalangi jalannya setelah melawan pertahanan yang lemah.
"Aku tidak bisa melawanmu karena kau lemah seperti teman-temanmu jadi minggir dari hadapanku!"ucapan Hilda sedikit membentak Lina. Gadis itu tetap menghalangi jalan Hilda supaya tidak bisa melukai Jay.
"Kalau kau ingin melukai Jay jawabanya adalah lukai aku dulu!"ucap Lina menatang Hilda. Hana, Fitri dan Jay terkejut mendengar tantangan Lina barusan.
"Lina! Apa yang kau lakukan!kalau kau menantangnya kita akan kalah!"teriak Hana tidak setuju dengan keputusan Lina.
Lina menoleh mengarah ke Hana serius,"aku tahu, kau lebih tahu tujuan permainan ini,Han. Kalah atau menang sama saja buatku tapi melihat teman terluka itu tidak bisa apalagi di hadapan mataku langsung."ucapnya yakin dan serius. Sorotan matanya kembali menatap gadis cantik di depannya, tersenyum mengejek.
Jay yang melihat dan mendengar tantangan berani dari Lina tidak percaya. Ia tidak tega Lina akan terluka karena tebasan pedang kuat.
Hilda mulai kuda-kuda bertarung siap melawan Lina. Yang lainnya mulai gelisah dan takut kalau Lina terluka lebih parah dari Fian. Hilda berlari mengayunkan pedangnya ke Lina. Lina melihat pedang yang tajam mengarah ke arahnya. Jay, Hana dan Fitri berteriak kencang.
"Lina!"
Sling!
Semua orang memejamkan kedua mata tidak tega melihat Lina terluka. Jay sendiri tidak bisa melihat dan menghipnotis Hilda karena Hilda menunduk ke bawa tidak berani menatap mata Jay.
"Usaha yang bagus,Kak!"terdengar suara lembut Lina. Mereka bertiga melihat apa yang terjadi dan terkejut melihat Lina memiliki pedang juga.
Lina mendorong kuat Hilda sehingga terjatuh,dengan sigap Hilda bangkit berdiri melihat musuhnya bertambah kuat. Ia mengangkat pedangnya dan mengayunkan pedang ke arah Lina. Lina menahan pedang Hilda lalu ia beradu pedang dengan cepat. Lina mencoba menjatuhkan senjata milik Hilda.
"Rasakan ini!"Lina berlari mengayunkan pedangnya ke Hilda. Pedang milik Hilda melayang ke udara dan Lina melompat ke udara menendang pedang seperti bola, semua orang melongo tidak percaya. Pedang tersebut melayang jauh sampai tidak kelihatan lagi.
Lina mendarat sempurna hingga nafasnya ngos-ngosan dan keringat mulai mengucur banyak di pelipisnya. Lina menatap Hilda shock dengan kejadian barusan. "Hosh hosh! Jadi siapa yang disini yang lemah?"ucap Lina ingin jawaban dari Hilda. Gadis itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri, ia bertemu dengan gadis seperti kesatria sungguhan.
Hana mengambil botol yang ada di pinggang Hilda,"misi pertama sudah tamat. Kau kalah Kak Hilda."ucap Hana. Hilda bangkit berdiri mengucapkan selamat buat kelompok Hana yang sudah berhasil mengalahkannya dan mendapatkan botol dari genggamannya.
Jay menghamapiri Lina,"Lin. Kau tidak apa-apa?"tanyanya. Lina melihat Jay menanyakan kondisinya merasa malu, kedua pipinya lagi-lagi memerah. "A-aku ti-tidak apa-apa. Sedangkan kamu, tidak apa-apa kan?"jawab Lina gugup dan kembali bertanya ke Jay dengan kondisinya.
"Ya, aku baik-baik saja."
Hilda pamit pada kelompok Hana. Hana membacakan keras-keras kertas yang ada di dalam botol tersebut bahwa mereka harus menuju ke lingkaran serta saling melindungi. Fitri berhasil mengikat luka Fian.
Fian tersenyum menatap Fitri,"terima kasih."
"Sama-sama."
Mereka bersepuluh segera menuju ke lingkaran yang dimaksud kertas tadi dan untungnya sesuai peta yang dipegang oleh Jay. Lina terus berada di samping ketua kelompok. Fian dan Fitri berada di depan dan di belakang pembantu. Kelompok ini kekurangan penyembuh hanya ada pembantu. Untungnya ada Fitri yang bisa di handalkan sebagai pertahanan dan penyembuh kalau ada anggota terluka.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1