
Setelah acara makan-makan semua murid membereskan peralatan masak dan membersihkannya. Selena membersihkan piring kotor sendirian di belakang tenda. Lidya membawa piring kotor dan berjongkok ingin membantu mencuci piring. Namun Selena menolak secara halus membuat Lidya berdecak kesal ia selama ini tidak membantu apapun. Seperti inilah yang tidak ia sukai kalau beda kelompok dengan teman akrab, susah banget. Dan Lidya adalah tipe orang yang tidak suka yang rumit tetapi masalahnya selalu saja berdatangan.
Lidya tersenyum,"baiklah, kalau begitu. Aku pergi kalau ada apa-apa panggil saja aku. Aku akan membantumu."ucapnya dibalas angguk Selena lalu Lidya pergi ke depan menatap semua, murid lain tengah asik bekerja sama.
Farah keluar dari dalam tenda dan mendapati Lidya menatap sedih. "Lid?"panggilnya membuat gadis itu sedikit kaget dan berusaha untuk tersenyum ke Farah. Saat ingin bertanya suara peluit dari kakak pembina terdengar menyuruh semua murid berkumpul.
Kakak pembina bernama Zaidan berdiri diatas meja sambil membawa spiker supaya yang dibelakang terdengar. "Sebentar lagi malam tiba dan acara api unggun akan dilaksanakan setelah isya'. Kalau kalian ingin mandi atau buang air kecil maupun besar tidak jauh dari sini ada sungai. Di depan pintu masuk ada dua kamar mandi. Bebas, kalian pilih mana. Terima kasih."ucap Zaidan mematikan spikernya dan turun dari Meja.
Lidya dan Farah membisik,"lebih baik kita mandi sungai aja sama yang lain daripada kamar mandi antri panjang."usul Farah berjalan menuju tenda.
"Tapi Far. Aku hanya bawa baju sedikit dan itu semua pas buat 4 hari,tidak membawa baju lebih."ucap Lidya menunduk. Lalu Bening datang sama Fandra.
"Far, Lid. Tadi ada pengumuman dari Kak Zaidan apa?"tanya Bening.
"Setelah ini kita disuruh membersihkan diri dan ada dua pilihan. Dekat pintu masuk itu ada dua kamar mandi dan tidak jauh dari sini ada sungai. Dan Lidya tidak membawa baju lebih sama seperti ku jadi apa boleh buat."jelas Farah secara rinci dan menghela nafas kasar. Ia tidak mungkin antri panjang di kamar mandi itu.
"Aha, aku punya ide."kata Fandra melihat ketiga temannya yang kebingungan. "Aku akan menyuruh Agung, Aska, Arsa dan Kevin meminjamkan kaos untuk kalian semua. Lagipula kalau cowok sih nggak ribet."ucap Fandra tersenyum.
"Tapi Fan. Kalau kaos kalian basah terus gimana?"tanya Farah tidak bisa berpikir lebih jernih sekarang. Fandra tersenyum,"mudah sekali. Aku akan mengeringkan pakaian dengan cepat."ucapnya tersenyum miring kemudian ia berjalan menemui teman yang lain.
Farah hanya diam dan tersenyum,"untung ada mereka. Masalah satu sudah terselesaikan. Kita cepat-cepat pergi ke sungai sebelum malam datang!"ucap Farah menyuruh cepat-cepat mengambil kaos dan menuju sungai.
Di atas pohon tidak jauh dari lokasi perkemahan disana ada Kevin yang duduk sendirian sambil menatap semua murid, sibuk dengan acara kemah mereka. Dan sekarang mereka semua menuju ke sungai. Kevin malas mengikuti kemah gratis ini karena dia tidak menyukai kemah dan bisa dibilang merepotkan.
"Kevin!, dimana kau! Aku pnjam kaosmu!"teriak Fandra. Pemuda itu celingak-celinguk mencari keberadaan Kevin, menghela nafas kasar selalu saja ia menghilang seperti hantu. Fandra menggeleng dan berbalik tiba-tiba orang yang dicarinya nongol membuat Fandra kaget dan kurang keseimbangan, jatuh.
"Auw!"ringisnya melihat Kevin sudah berdiri dihadapannya datar. Fandra bangkit berdiri,"akhirnya kau ketemu juga disini. Aku pinjam kaosmu boleh? Buat dipakai yang perempuan tuh pengen mandi disungai karena mereka tidak membawa pakaian lebih."jelas Fandra. Kevin hanya diam tidak membalas pertanyaan Fandra. Ia langsung berjalan meninggalkan Fandra. Pemuda itu menyuruh Kevin berhenti saat Kevin berbelok ke kiri,Fandra terkejut karena Kevin mengilang lagi.
"Aduh,kemana sih nih anak ngilang mulu seperti hantu?"ucapnya kebingungan. Ia berbalik dan kembali terjatuh. "Masalahmu apa sih Vin?"ucap Fandra bangkit berdiri, menggosok pantatnya dan membersihkan dari tanah. Kevin membawa lima kaos dibawanya dan diberikannya ke Fandra membuat pemuda itu melongo.
"Apa ini?kau membawa semua kaosmu untuk mereka? Kau baik sekali Vin. Tidak kusangka."ucap Fandra senang dan disisi lain ia tidak perlu membuang waktu mencari teman-temannya yang terpisah entah pergi kemana. Saat Fandra ingin bilang terima kasih, Kevin tidak ada dan kembali duduk diatas pohon dimana suasana seperti itu menenangkan hatinya.
Fandra memberikan semua kaos pada teman perempuannya. Mereka terlihat senang kecuali Vana lalu dengan segera mereka berlima berlari menuju ke sungai. Fandra juga ikut ke sungai bersama kelompok lain.
Di sungai sudah banyak sekali murid lain yang mandi disini. Arus sungai yang tenang membuat semuanya terasa bahagia. Semua cowok asik melompat dan menimbulkan cipratan air sekali canda tawa. Lidya turun ke sungai dan berenang sedikit ke Anggi.
"Nggi? Gimana kelompokmu tadi?"tanya Lidya.
Anggi berpikir sejenak,"bagus. Semuanya enak-enak diajak gotong royong dan mereka juga menyenangkan. Bagaimana kalau kelompokmu?"jawab Anggi dan bertanya kembali ke Lidya tentang kelompoknya. Lidya hanya tersenyum tipis,"baik."katanya pelan.
Semuanya asik bercanda dan asik main air. Ada salah satu gadis yang menantang para pemuda untuk tembak air. Semua yang mendengar itu kembali bersemangat dan mereka semua saling tembak menembakkan air ke lawan. Canda ria semakin lama semakin menjadi.
Tina sangat menikmatinya ia menembakkan air ke Ferdi dan juga ke Sarah. Sarah jengkel ke Tina,"itu tidak adil Tin! Kau satu tim denganku!"protesnya dibalas Tina menjulurkan lidahnya ke Sarah, gadis itu mendengus.
Ferdi terkekeh dan terus menembak Sarah dan Tina yang asik bertengkar masalah sepele. Tina yang jengkel mengambil air sebanyak-banyaknya ke Ferdi.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Angin malam berhembus kencang, bulan Purnama tertutup awan. Malam ini tidak ada Bintang untuk menghiasi langit hitam. Daun-daun mengikuti angin. Didalam tenda,Lidya menggosokkan kedua telapak tangan.
"Malam yang dingin."ucapnya dibalas angguk Bening.
"Iya. Aslinya tadi aku membawa baju hangat buat malam hari."ucapnya.
__ADS_1
Agung terkekeh,"tidak perlu memakai baju hangat. Kalian saling berpelukan seperti teletubies saja nanti juga hangat."ucap Agung memberikan komedi membuat satu tenda tertawa.
"Agung ini, bisa saja ngelucu. Memangnya di sekolahmu sering mengikuti stand-up comedy?"tanya Selena sedikit menyindir.
"Tidak! Aku dari lahir sudah lucu pantas saja sampai sekarang aku itu lucu."ucap Agung membuat semua yang ada disana pengen muntah.
Pemuda kembar itu berkata,"kalau rambut oranye mu,Gung? Apakah itu murni sejak lahir?"tanyanya. Agung memegang rambut jambulnya yang berwarna oranye dan sempat di potong gundul layaknya angkatan tetapi tangan gurunya itu tiba-tiba terbakar saat menyentuhnya. Padahal ia memegang rambutnya tidak terjadi apapun.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."jawabnya mengangkat kedua bahu tidak tahu. Vana yang mendengar itu tidak mengerti baginya tidak masuk akal jelas-jelas Agung mewarnai rambutnya menjadi warna oranye.
"Aku sama sekali tidak pernah mewarnai rambut apalagi warna mencolok seperti ini. Membuat aku mudah sekali dikenal orang lain."jawab Agung. Vana hanya diam tidak mau berdebat masalah warna rambut Agung.
Arka melihat kesekeliling tidak ada tanda-tanda Kevin disini. "Eh mana Kevin? Sebentar lagi acara api unggun mau dimulai?"ucap Arka dibalas helaan nafas kasar dari Fandra.
"Tidak perlu mencari Kevin. Dia selalu saja menghilang entah kemana seperti hantu?memangnya dia sering menghilang kalau di sekolahnya?"tanya Fandra ke Selena dan Farah.
Farah dan Selena menggeleng tidak tahu karena mereka berdua tidak satu kelas ke Kevin. "Dia itu seperti siluman? Dikit-dikit hilang dan datang seperti jelangkung."ucap Fandra jengkel. "Dan lagi. Dia tidak pernah mengatakan apapun tiba-tiba hilang terus datang."lanjutnya.
Lalu terdengar dari luar suara guru menyuruh yang lainnya berkumpul di lokasi tempat api unggun. Semua murid segera menuju ke tempat api unggun. Sebuah kayu berukuran besar dan panjang yang sudah diikat rapat. Di sekelilingnya ada tumpukan kayu besar-besar berbentuk kursi. Dalam hati Lidya semua ini sudah disediakan sangat lama sebelum liburan sekolah semester ganjil, datang.
Lidya duduk bersebelahan dengan Lina dan Cantika. Teman-teman lainnya juga duduk bersebelahan dengan teman akrab mereka yang diacara perkemahan terpisah. Zaidan menyalahkan api unggun besar tersebut membuat semua murid terpukau. Pak Arlan membuka acara Api unggun ini dibalas tepuk tangan meriah.
Prok! Prok
Sebagai pembukaan semua murid bernyanyi bersama diringi accoustic guitar yang dimainkan oleh Jay. Lina yang melihat itu pipinya memerah membuat Lidya dan Cantika terkekeh. Lina protes menyuruh mereka berdua diam.
"Jodoh mah tidak akan pergi kemana? Kelas boleh pisah tapi kemah harus bersama."ucap Lidya terkekeh. Lina mendengus sebal dan menyenggol lengan Lidya pelan.
"Aku ingin melihat siapa dirimu? Jimin."ucap Cantika pelan dan segera menutup mulutnya ketika ia menyebut nama Jimin. Lidya yang ada di sebelah Cantika menoleh dan bertanya,"siapa itu Jimin?"sontak saja Cantika menggeleng sambil terkekeh.
"Bukan apa-apa kok. Itu bukan aku yang bilang."elak Cantika cepat. Lidya diam sejenak dan kembali menatap kedepan karena acaranya mau dimulai.
Diacara Api Unggun sangatlah meriah dan ada sebuah permainan yang membuat Lidya jengkel karena ia harus bermain permainan menirukan suara ayam yang bertelor sambil meragahkan gerakan ayam. Tentu saja itu membuat Lidya malu setengah mati dihadapan semua murid dan berbagai sekolah juga.
Tidak hanya disitu saja Lidya lagi-lagi terkena hukuman tetapi yang ini berbeda sebab ada lima orang termasuk Lidya yang berdiri melingkar di hadapan penonton.
"Nyanyian lagu hujan turun diganti dengan huruf O!"perintah seorang guru paruh baya dari SMA Negeri satu. Semua murid bertepuk tangan dan ada beberapa yang terkekeh serta berbisik.
Kelima murid itu bernyanyi dengan semangat dan tentunya mengundang tawa di malam yang hawanya sangat dingin.
Tok Tok Tok
Bonyo hojon do otos gontong
Oon nyo toron!
Seketika semua murid tertawa karena salah lirik. Gadis yang ada disebelah pemuda yang tadi nyanyinya salah lirik ditosek. "Nyanyilah yang betul lah Ric!"
"Ini aku sudah betul tapi mulutku saja yang tiba-tiba bilang oon!"jawab Eric ngegas.
Lagu mulai dinyanyikan lagi.
Tok tok tok
__ADS_1
Bonyo hojon do otos gontong
Oro-nyo toron todok torkoro
Cobolo tongok dohon don Lontong
"Salah lirik lagi. Ulang lagi!"kata gurunya membuat kelima murid itu berdecih kesal.
"Bibir udah monyong-monyong diulang lagi karena salah lirik."gerutu Lidya kesal.
Gadis yang ada disebelah Lidya berkacak pinggang. "Hadeh, rasanya aku pengen jadikan dia katak dan nyuruh istrinya nyium."timpalnya membuat Lidya bergedik ngeri. Ia harap gadis ini hanya bercanda dengan kalimatnya.
Semua murid masih tertawa terbahak-bahak dan akhirnya permainan itu berkahir membuat Lidya bernafas lega. "Sumpah malu-maluin."kesalnya. Lina menyenggol lengan Lidya pelan,"semangat bosku!"Lidya memasang wajah datarnya, tidak mood lagi.
Acara selanjutnya adalah stand up comedy dan yang angkat tangan paling atas yaitu Agung. Lidya sudah menduga kalau Agung akan mengikuti acara ini tadi aja sudah ngelawak apalagi sekarang.
"Aku punya teman baik banget. Saking baiknya aku dijadikan babu sama dia."ucap Agung dengan candaan garing tapi itu semua membuat yang lain tertawa.
"Itu mah namanya teman minta di hajar."komentar salah satu anak do belakang Lidya.
"Kemarin disekolahku mengadakan ujian dan setiap ujian selalu ada pengawas. Namanya pengawas ia selalu saja mengawasi ruangan yang di jaganya. Nah, waktu itu aku noleh kanan-kiri membuat pengawas itu datang ke bangku."kata Agung membuat semua murid menegang. Lidya menoleh kebelakang melihat Vin tersenyum penuh arti.
Suasana menjadi menegang dan Agung melihat para murid yang duduk melingkar diatas kayu yang berjajar meninggi seperti stadion sepak bola. "Dan!"ucap Agung tiba-tiba membuat semua murid dan guru kaget. Vin terkekeh di belakang, Lidya hanya menggeleng dan menepuk dahinya pelan melihat kejailan Vin.
"Pengawas itu bilang ke aku begini. Nada sedikit membentak. Hei anak tampan!"ucapnya membuat semua orang bergaduh.
Huhuu
"Hei anak tampan! Kenapa kamu menoleh ke kanan dan ke kiri? Kamu mau mencontek ya?"ucap Agung menirukan tata bicara pengawas tersebut. "Aku berkata. Tidak! Dengan tegas. Aku tidak menyontek."
"Kenapa kamu noleh ke kanan dan ke kiri jelas-jelas kamu mau nyontek?"
"Dengan pedenya aku menjawab. Tidak! Saya tidak menyontek,saya hanya mengawasi semua murid yang ujian disini. Karena saya tahu bahwa pengawas akan setia mengawasi murid yang sedang ujian seperti bapak yang setia pada pasangannya."ucap Agung menggoda.
Ciyeee
Semuanya menjadi iri dan sesekali tertawa mendengar lelucon dari Agung. Setelah stand up comedy. Kakak Zaidan mengasih pengumuman besok hari. Semua murid akan melewati rintangan dalam permainan sekaligus bersenang-senang. Sebagai acara penutup semua murid di kasih jagung manis sambil mendengar dongeng.
Lidya merasa umurnya jauh lebih muda lagi dan ia ingat jelas kalau dulu sering sekaki mendengar cerita dari Nenek saat ingin tidur. Seulas senyum terukir jelas di raut wajah Lidya. Vana yang kebetulan di belakang Lidya hanya menatap angin unggun itu kosong melompong.
Jam menunjukkan angka setengah sepuluh, semuanya berjalan menuju tenda masing-masing. Selena membuka tenda dan menghidupkan lampu tenda yang dipasang di dalam tenda. Ia terkejut melihat Kevin sudah tidur lelap disana. Yang lainnya ikut terkejut.
"Ya ampun. Kevin malas sekali."ucap Fandra menggeleng.
Selena terkekeh,"biarin saja. Besok kita akan bermain bersama melewati rintangan. Yuk kita semua tidur."kata Selena siap tidur. Lidya memilih untuk pergi keluar malam sebentar.
Kedua matanya menatap langit penuh kehampaan dan hanya ada satu bulan Purnama disana. Ia berharap bertemu penulis yang dimaksud oleh Joe waktu itu. Lidya sangat penasaran sama penulis yang kini imajinasinya menjadi nyata. Bukan imajinasinya saja yang hidup melainkan penulis lainnya ikutan merepotkan.
"Eh Lidya!"panggil seseorang dari sebelah kiri. Lidya menoleh terkejut melihat siapa yang memanggilnya.
*jangan Anggap Kami lemah*
Bersambung....
__ADS_1