Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Lima Puluh Tiga: Mengambil kue Pesanan


__ADS_3

"Assalamualaikum, aku pulang!"salam Lidya ketika memasuki rumah dan meletakkan sandal kembali ke rak. Kedua kakinya melangkah masuk sambil mengedarkan pandang melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang dan tidak ada yang menjawab salamnya.


  Rumah sangat sepi hanya ada suara detik jam yang mengusir rasa sunyi itu. Lidya tidak terlalu suka dengan rasa hening di rumahnya bagi dirinya ini sangat menyeramkan. Ia mengambil handphone dari saku celananya dan menyetel lagu favoritnya, volume sedikit ia keraskan.


"Hmm, mau ngapain lagi ya?bosan."gumam Lidya pada dirinya sendiri, berjalan menuju ke meja sambil mengscroll layar handphone menekan aplikasi chat ingin memberitahu pada teman-temannya kalau Yusuf akan open house buat tahun baru. Ya, hanya ingin berkunjung dan bertemu dengan teman perkemahan meski ada beberapa teman yang beda sekolah seperti Arka,Arsa,Agung dan Fandra.


  Beberapa notif masuk ke handphone Lidya, mereka yang mendengar itu sangat senang sekali terutama Lina. Gadis itu seperti tidak sabar berkunjung dan bertemu dengan teman baru ketika berkemah. Lidya tersenyum membaca chat mereka semua.


Pintu terbuka dan suara yang di kenal oleh Lidya terdengar jelas. Ia mengalihkan pandang melihat pemuda dua tahun lebih muda darinya baru saja datang sambil menggendong tas dipundak kanannya. Awan melihat kakaknya yang duduk santai sambil menekan layar handphonenya.


"Mbak, mana mama sama Hari?"tanyanya menghampiri Lidya. Gadis itu hanya mengedikkan kedua bahu tidak tahu,"aku saja baru sampai di rumah."ucapnya tanpa menoleh ke Awan masih fokus dengan layar handphone ssekali tertawa kecil.


  Awan menatap kakaknya datar lalu pergi menuju kamarnya meletakkan tas lalu masuk ke dapur membuat sesuatu. Satu notif masuk kali ini tidak dari grup SMK Cemerlang melainkan nomer tidak dikenal serta tidak ada foto profil dan juga tidak ada metion di status profil.


  Dahi Lidya berkerut melihat isi chat yang tiba-tiba masuk tanpa nama, unknown.


Temui aku di taman.


  Dalam hati Lidya sangat penasaran dengan nomer yang tidak di kenalnya secara tiba-tiba mengajaknya bertemu. Dengan cepat kedua jarinya menekan layar keyboard membalas nomer unknown tersebut, tidak lama kemudian sudah di read olehnya.


Menunggu beberapa saat si unknown hanya meng-read pesannya membuat Lidya menggerutu kesal, Sial. Lalu ada notif lain dari Pandu mengirimkan pesan.


Pandu:


Ikut aku ke toko roti ya!


Lidya ingin membalas pesan singkat dari pandu dengan kecepatan dua tangannya tetapi ia kalah cepat dengan Pandu. Membuat kedua mata terbelalak kaget dan jantungnya ingin copot, menatap pintu utama rumahnya dengan mulut tercengang.

__ADS_1


Matanya berkedip seperdua detik,"ti-tidak mungkin!"ucapnya masih shock belum berapa menit Pandu mengirimkan pesan padanya, pemuda itu sudah berdiri di depan rumahnya--menunggu. Pikiran Lidya berputar, apa mungkin ia sudah berada di sana sebelum mengirimkan pesan padaku--batinnya berpikir logis.


  Awan berjalan sambil membawa satu piring berisikan nasi dan telur mata sapi. Ia melihat kakaknya berdiri memegang handphone seraya menatap pintu depan terkejut. Mengkerutkan dahi menghampiri kakaknya itu yang belakangan ini sangat aneh.


"Ada apa Mbak?kayaknya kaget gitu. Selesai bertemu dengan hantu?"ucapnya tersenyum tipis mengejek tetapi Lidya menghiraukan perkataan Awan yang membuat ia naik darah. Gadis itu berlari kecil menuju pintu utama,mengecek. Awan kaget dan berteriak,'mau kemana?' tetapi gadis itu lagi-lagi menghiraukannya. Pemuda itu hanya menghela nafas berat dan memilih menyantap makananya.


Pintu terbuka dan tubuh langsingnya ingin menabrak tubuh seseorang di hadapannya untungnya ia bisa mengrem. Matanya masih terbelalak melihat sosok itu yang kini tersenyum manis sambil menunjukkan dua jari.


"Apa kabar Lid?"sapanya masih tersenyum gembira.


Entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang bisa jadi karena terkejut melihat Pandu sudah berada di depan rumahnya tanpa ada orang yang menyadari kedatangannya. "Kau ini Pan. Membuatku kaget saja. Pesan mendadak dan tiba-tiba orangnya sudah berada disini."omel Lidya melipat kedua tangan di dada, membuang muka.


Pandu hanya bisa terkekeh sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Maaf kalau tadi membuatmu panik. Aku mau mengajakmu mengambil roti pesanan ibuku sebenarnya."


"Ke toko roti?"


"Kenapa kau mengajakku?"pertanyaan Lidya sukses membuat pemuda berambut panjang sebahu itu terdiam sejenak.


"Entahlah. Aku hanya ingin mengajakmu saja. Ayo,aku takut kalau dimarahin sama ibuku kalau aku perginya lama. Karena kue itu harus sampai ke rumah."ucap Pandu berbalik menuju ke sepeda motornya diikuti oleh Lidya di belakang.


"Memangnya ada acara di rumahmu?"tanya Lidya yang sudah disamping Pandu, melihat wajah pemuda itu dari samping. Rambutnya dibuat goyang oleh angin yang berhembus.


Ia tersenyum,"iya."jawabnya naik ke sepeda motornya dan menyuruh Lidya naik. Gadis berambut panjang itu mengangguk dan tidak lupa memakai topi bajunya agar terlindungi dari sinar matahari.


Memang hari ini begitu panas seperti membakar tubuh sampi ke tulang. Pandu melajukan sepeda motornya menuju rumah teman ibunya itu. Sepanjang perjalanan mereka berdua hening tidak ada yang bicara. Pandu fokus ke jalanan sedangkan Lidya melihat sekeliling banyak sekali kendaraan berlalu lalang dan sedikitnya perjalanan kaki,kebanyakan dari mereka memilih berteduh di rumah atau menikmati segelas es teh untuk menyejukkan tubuh.


   Sepeda motor itu berhenti tepat di depan rumah yang tertutup pagar hijau. Halaman depan rumah itu tidak terlalu luas, banyak sekali tumbuhan di sana,rumah bercat putih bercampur cokelat dan tidak terlalu besar. Pandu dan Lidya turun dari sepeda motor lalu pemuda itu menekan tombol yang ada di samping pagar seraya memberikan laporan pada penghuni rumah ini.

__ADS_1


"Prima Pandu Dewana putra dari Dewana Farel untuk mengambil pesanan kue."ucapnya pada tombol laporan itu. Lidya merasa kalau rumah ini memiliki alat pengamanan sangat ketat,feelingnya mengatakan itu. Tapi tidak tahu pasti itu benar atau tidak.


Lalu secara otomatis gerbang hijau terbuka dan mempersilahkan keduanya masuk ketika mereka masuk dengan sendirinya gerbang itu tertutup membuat Lidya kaget sedikit menoleh kebelakang. Pandu tersenyum mengarah ke Lidya,"tidak apa-apa disini semua bendanya bergerak secara otomatis tidak ada bangsa iblis disini."ucapnya membuat sedikit merinding di tubuh Lidya ketika Pandu mengatakan kata Iblis.


"Bagaimana kau bisa tahu,Pan?"tanya Lidya sedikit ketus.


"Karena ayahnya jenius bisa menciptakan sesuatu benda dan anaknya memiliki kekuatan dari gelang di pakainya."jelas Pandu sedikit ke Lidya. Ia hanya diam menatap pintu terbuat dari kayu yang kuat tidak mudah rapuh maupun patah karena hujan.


Pandu kembali menekan tombol seperti yang ada di depan gerbang dan kembali melapor hal yang sama membuat Lidya curiga dengan keamanan rumah ini. Pintu terbuka dan dibalik pintu itu terdapat seorang pemuda seumuran mereka. Lidya kaget melihat penampilan pemuda di depannya terutama rambutnya berwarna putih dan potonganya sangat rapih. Wajah pemuda tersebut terlihat lelah melihat mereka berdua bergantian tanpa bergeming.


"Mau mengambil pesanan kue."kata Pandu dengan seulas senyum manis dibalas angguk pemuda itu dan ia kembali masuk kedalam tanpa mempersilahkan mereka masuk ke dalam.


Tidak sopan banget, nggak disapa atau apa gitu, batin Lidya kesal.


  Pemuda berambut putih itu kembali datang sambil membawa dua kantong kresek berisikan kue lezat di sana. Pandu tersenyum sambil bilang terima kasih. Pemuda itu mengangguk mengiyakan lalu tatapannya menatap Lidya yang memasang wajah kesal melihatnya dan pintu kembali tertutup.


Seketika Lidya berucap,"apa-apaan ini!"kesalnya yang sekian menit lalu ia pendam melihat pemuda yang sama sekali tidak menghormati pembeli. Pandu menoleh,"ada apa?"


"Pemuda itu sangat tidak sopan. Tidak nyapa atau senyum gitu. Ia hanya mengangguk saja dan tidak berkata menunggu sebentar atau apa gitu langsung masuk dan membawa pesananmu. Dia itu sombong atau bisu sih!"cerocos Lidya tidak terkendali apa yang dilihatnya tadi.


Pandu hanya bisa terkekeh dan menggeleng serta menyuruh dia melupakan pemuda itu. Dengan berat hati Lidya mengikuti apa yang dikatakan oleh Pandu dan kembali ke rumah.


  Pemuda tadi berambut putih, Nakula mengintip dari balik jendela dan mendengar cerocosan gadis bawel itu. Tatapan matanya menatap kasihan pada gadis itu karena ada alasan tertentu mengapa ia merasakan hal tersebut. Gelang yang dikenakannya berkali-kali berkedip-kedip mengirim sinyal berbahaya. Nakula menatap gelang yang melingkar di tangan kanannya itu.


"Belum waktunya aku meluncur dan jangan buat kekacauan disini. Aku belum menemukan teman-temanku, harap kau bisa bersabar."ucap Nakula pada gelang tersebut.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2