
Semua murid SMK Cemerlang berhamburan keluar melihat pertandingan antara Alvan dan Jay, bermain bola. Lina segera keluar kelas dan melihat dari lantai dua dan benar saja ia melihat Jay disana.
"Ada apa dengan mereka?"ucapnya pada dirinya sendiri.
Lidya dan Elle masih berdiri di sana melihat pertandingan sepak bola, Alvan dan Jay. Ia tidak tahu bahwa Jay punya masalah dengan kakak kelas tetapi firasatnya mengatakan ada sesuatu buruk. Ya, ia tidak tahu firasat apa itu.
Alvan tersenyum penuh arti dan menunjuk Jay mengatakan kalau ia akan menang. Aska yang ikut dalam tim Jay menatap serius kakak kelas yang seenaknya menantang Jay karena tingkat kepopuleran. Memang tidak bisa di handalkan--batin Aska.
Permainan pun dimulai dan para siswa-siswi yang menonton bersorak ria melihat tim Jay mengeluarkan keahlian dalam permainan sepak bola. Mereka mengoper bola dan melewati tim lawan sangatlah lincah. Sang lawan tidak bisa mencari celah merebut bola.
Alvan berteriak menyuruh timnya segera merebut bola yang kini berada di seorang pemuda berkulit cokelat. Bola berkali-kali melambung ke udara dan keluar dari lapangan membuat Alvan berdecih. Salah satu temannya mengatakan kalau tim Jay tidak bisa dikalahkan dengan mudah.
Mata pemuda itu melirik Jay tajam, "biarkan saja. Biarkan mereka menang duluan dan beri pelajaran di babak selanjutnya."ucapnya penuh kekesalan, tangannya mengepal.
Permainan berlangsung seru sebab Jay berhasil memasukkan satu gol membuat semua orang bersorak. Lina yang melihat itu sangat senang. Elle yang fokus melihat pertandingan itu sangat senang kalau Tim Jay menang dengan mudah.
"Wah mereka sangat hebat! Baru pertama kali aku merasakan semangat hebat melihat sepak bola."ucapnya senang.
Lidya mengangguk, "aku juga begitu merasa sangat senang. Padahal aku sama sekali tidak menyukai menonton bola hanya senang mendengar siapa yang menang dan kalah."celetuk Lidya menunduk.
Elle mengangguk,"Ya."
Suasana semakin lama semakin seru permainan sepak bola mereka membuat para penonton bertambah semangat. Mereka sering memasukkan gol dan gol.
Babak pertama telah usai dan kedudukan mereka berdua yang berhasil di capai.
Tim Alvan:1
Tim Jay:2
Mereka istirahat sejenak dan membersihkan keringat yang mengucur. Para murid terutama gadis berteriak kencang melihat Jay begitu banyak mengeluarkan keringat, air bening itu membasahi hingga di leher.
"Aku ingin mengusap keringat Jay."
"Dia terlihat tampan."
"Aku mau jadi pasangannya."
"Jay hebat menggiring bola."
Sebuah handuk kecil tiba-tiba mendarat tepat di wajah Jay. Pemuda itu mengambil handuk tersebut menoleh melihat Pandu dan Beni datang membawa banyak handuk serta minuman. Terlihat wajah kesal terpampang jelas di wajah Pandu.
__ADS_1
"Ah kau tidak seru Jay. Tidak mengajakku bermain."protesnya membagi handuk ke pemain lainnya sedangkan Beni membagikan air botol ke pemain.
"Kau punya masalah sama Kak Alvan?"tanya Beni melirik ke arah Jay yang sibuk membersihkan keringatnya.
"Sebenarnya bukan masalah hanya saja ia---"belum selesai bicara Nando udah memotong ucapan Jay nada kesal.
"Ia itu kakak kelas caper. Hanya gegara kepopulerannya menurun drastis karena Jay. Ia jadi seperti angsa, orang tidak melakukan apapun langsung di kejar."seraya melihat tim Alvan dengan santainya menikmati permainan di buatnya.
Pandu mendengar itu tertawa, ada-ada saja yang dibuat-buat,masalah sepele di besarkan. Ia menatap ke depan lalu melihat sekeliling tidak sengaja ia melihat Lidya bersama anak baru itu berdiri di tepi lapangan. Namun, sayangnya ia tidak ikut serta dalam tim Jay.
Babak kedua segera dimulai kedua tim tersebut sudah kembali ke lapangan sekarang giliran tim Alvan yang memulai permainan. Semuanya berjalan dengan lancar dan tidak di sangkah tim Jay kembali mencetak gol dan angka sudah tertinggal jauh.
Tim Alvan:1
Tim Jay:3
Sial, umpat Alvan dalam hati. Ia tidak ingin tantangan yang dibuat dalam tingkat kematangan di kalahkan dengan mudah. Memang Tim Jay sangat jago dalam permainan sepak bola daripada dia. Alvan melirik ke teman-temannya mengkode rencana yang sudah direncakan sejak lama.
Mereka mengangguk mengerti apa maksud Alvan dan tatapannya menatap ke tim Jay. Selama permainan sepak bola para penonton dibuat serius dan dag-dig-dug. Sudah berapa kali tim Alvan selalu gagal memasukkan bola ke gawang lawan karena kiper yang menjaga gawang tersebut sangat hebat.
"Cih, siapa sih kipernya itu?Beraninya menghalangi bola ku dengan mudah dan beberapa pemainnya yang hebat termasuk Jay."ucap Alvan mengakui bahwa musuhnya sangat sulit dikalahkan membuat emosi Alvan meledak.
Perminan kembali dimulai kali ini dengan kecurangan dan sering membuat pelanggaran. Lidya yang melihat itu shock,"apa-apaan mereka bermain curang begitu?"ucapnya kesal.
"Mau kemana?"
"Ke toilet bentar."
Terlihat Nando ingin memukul Alvan dengan segera Jay mencegahnya dan menyuruh Nando melihat kedua matanya berusaha untuk tenang. Alvan menatap Jay rendah.
"Menyerahlah kalian. Karena kalian udah kekurang pemain sebab... Cidera."kata Alvan berhenti sesaat mengejek saat mengatakan kata Cidera.
Alvan malah memancing pemuda bernama Nando naik pitam dengan segera Jay dan Aska mencegah Nando serta berusaha untuk menenangkannya. Saat situasi seperti ini datanglah Beni dan Pandu ah tidak hanya mereka berdua melainkan ketua osis, Melviano masuk ke lapangan berdiri di sebelah Beni.
"Aku tidak menyangka kalau kau Alvan. Memiliki pemikiran seperti anak kecil masalah kepopuleran itu udah takdir."kata Melviano dingin.
Alvan menatap pemuda berambut jambul dengan ikat kepala itu tajam. "Diam kau,kutub. Hanya karena kau memiliki kekuatan kau menjadi sombong begini."
Melvi menghela nafas kasar, "bukannya waktu kelas 10 sikapku sudah begini."katanya menatap Alvan serius.
Perlahan awan yang cerah berubah menjadi awan hitam membuat semua orang menatap langit. Beberapa murid sudah panik dan segera masuk kembali ke kelas dan ada beberapa yang masih di lapangan. Aska mendongak melihat awan yang berwarna sangat hitam kemudian keluarlah suara sangat keras dan kilat.
__ADS_1
Semua orang berlindung dan menunduk menutup kedua telinga. Lidya berbalik, berjongkok, kedua tangannya menutup telinga dan matanya terpejam. Seketika tubuhnya menjadi bergetar penuh ketakutan, ia menoleh ke belakang untungnya tidak ada salah satu temannya cidera.
Tidak tahu kenapa tiba-tiba cuaca menjadi gelap seperti ini padahal tadi cuaca cerah dan tidak mungkin berganti jadi awan hitam dalam kurung waktu beberapa detik. Aska melihat terdapat banyak aura begitu hitam di tubuh kakak kelasnya, Alvan.
Mata abunya melihat aura hitam pekat dan membuat bulu kuduk merinding. Ini seperti waktu itu hanya saja aura hitam di tubuh Alvan begitu pekat.
"Semuanya menjauh!"Teriak Aska pada murid yang masih berada di lapangan.
Alvan tertawa terbahak-bahak merentangkan kedua tangannya, "Terlambat!"ucapnya mengangkat beberapa murid berada di genggaman aura hitamnya.
"Kekuatan apa ini?"tanya Beni kebingungan.
Alvan menatap lawannya segera menyerang dengan cepat mereka menghindar. Rasa kekuatan Aura hitam di tubuh Alvan sangatlah menakutkan dan berbahaya. Alvan tersenyum dan melihat sebanyak empat murid berada di tangan aura hitamnya.
"Coba kalian selamatkan empat makhluk tidak berguna ini sebelum aku mengubah mereka menjadi budakku."ucapnya menantang mereka.
Lidya yang sempat bersembunyi keluar dari tempat persembunyian lalu datanglah Fitri, Anggi dan Tera.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Tera khawatir.
"Aku juga tidak tahu. Apa mungkin.."ucap Lidya terhenti melihat ketiga temannya.
"...ada kaitannya dengan gadis yang pernah ku temui waktu itu."lanjutnya.
Alvan angkat bicara, "kalau kalian tidak bisa mendekati keempat murid ini dari aura hitamku mau tidak mau mereka akan jadi budakku. Dan ku perintahkan untuk menghabisi nyawa kalian."ucapnya tertawa jahat.
"Dia bukan Kak Alvan lagi."kata Aska.
"Apa maksudmu? Dia itu tetap Kak Alvan hanya saja perilakunya bertambah menjadi sosokan sekarang."Nando masih tidak terima karena Kak Alvan telah mengejeknya dan membuatnya ingin naik pitam.
Jay yang memerhatikan Alvan seksama setuju dengan Aska, "Aska benar. Ia di pengaruhi oleh kekuatan aneh yang aku yakin. Belakangan ini yang di bicarakan."
"Jangan sampai terkena aura hitamnya bisa-bisa ia menanamkan kekuatan jahat. Dan kita harus menyelamatkan teman-teman kita kalau tidak... Ia akan membuat orang tidak bersalah menjadi jahat."jelas Aska panjang lebar.
Aura dingin kini yang tiba-tiba terasa sampai masuk ke tulang-tulang. Jay dan lainnya menoleh mengarah ke Melviano yang kedua tangan dan kakinya berubah menjadi sebuah es.
"Jadi kekuatan ini yang menyebabkan semua orang menjadi jahat dan melukai orang terdekatku terluka parah."ucap Melviano geram ia melihat Alvan yang sudah penuh aura hitam.
"Pounding Ice!"seru Melviano memukul tanah menciptakan tumbukan ice langsung ke Alvan.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung....