
Hari Senin adalah hari yang sangat membosankan tidak sedikit murid yang mengeluhkan hari senin. Lagi malas-malassan atau mood tidak enak harus mendapatkan pelajaran super duber membosankan dan sulit. Buku yang paling banyak dibawah saat hari Senin.
Gadis bertubuh kurus itu berjalan seperti kura-kura dan ia merasa terheran-heran pada hari senin. "Kenapa tasku selalu berat setiap hari senin sih? Seperti nggak ada hari lain aja."keluhnya berjalan menuju ke kelas dan harus menaiki beberapa anak tangga. Ia hari ini harus membawa laptop karena tugasnya belum selesai membuat logo sebab selama ini pikirannya buntu ide dan hanya bisa mengembangkan ide ceritanya bukan tugas sebagai murid multimedia. Tidak hanya itu saja, ia juga harus membuat komik sebanyak sepuluh kertas hvs dari pelajaran Seni budaya.
Lidya menaruh tas kasar hingga menimbulkan suara membuat pasang mata mengarah padanya tapi ia tidak peduli dan memilih duduk menarik nafas sebanyak-banyaknya, masih pagi tenaganya sudah terkuras setengah. Anggi yang selalu datang lebih awal menutup buku novel romantisnya dan sesekali menguap secara tiba-tiba merasa bosan.
Ia menatap Lidya duduk sendirian tanpa teman sebangku seandainya murid yang keluar waktu itu masih ada, Lidya tidak akan duduk sendirian dan sering diam disana. Anggi bangkit berdiri membawa buku novelnya menghampiri bangku gadis itu.
"Apa boleh aku duduk di sebelahmu sebentar?"tanyanya sopan membuat Lidya menoleh mendapati Anggi, seketaris kelas sekaligus kutu buku meminta izin duduk di sebelahnya. Ia mengeser ke kursi sebelahnya dan menyuruh Anggi duduk tanpa satu katapun yang keluar dari mulut kecilnya.
Anggi duduk dan meletakkan bukunya diatas meja dan ia menoleh mengarah ke Lidya yang sedaritadi diam saja. "Hari yang sangat membosankan ya, banyak tugas dan pelajaran di hari senin."kata Anggi membuka topik pembicaraan. Lidya tersenyum tipis canggung,"iya."balasnya singkat menatap kedepan melihat beberapa murid masuk kedalam kelas.
"Oh iya. Aku dengar, kau suka menulis cerita ya?"tanya Anggi lagi dibalas angguk Lidya. "Eh iya. Aku suka sekali menulis cerita."balasnya canggung.
"Otomatis kau juga suka baca novel sepertiku."kata Anggi dibalas anggukan sekali lagi, Lidya menoleh kearah Anggi yang tersenyum akrab padanya, sepertinya berteman dengan Anggi tidak buruk juga. Ia pikir, ia akan terus terasingkan di kelas ini tapi pikiran itu salah. Memang ia selalu berpikir negatif terlebih dahulu.
"Iya, aku hanya suka membaca novel kalau baca buku pelajaran aku tidak terlalu suka. Karena membuatku sedikit bingung tapi itu harus dibaca karena menambah wawasan sedikit demi sedikit."jawab Lidya bijak.
"Lid. Apa kau ingin pergi bersamaku sepulang sekolah?"tanya Anggi ke Lidya.
"Kemana?"
"Ke perpustakaan dekat ituloh. Aku ingin membaca buku disana dan pinajm selama satu minggu sih."kata Anggi. "Kira-kira kau menghabiskan waktu membaca novel setebal itu berapa hari?"tanya Lidya penasaran. Kalau ia lihat-lihat buku romantis yang dibawa oleh Anggi itu begitu tebal dan penasaran Anggi membaca novel itu menghabiskan bebrapa hari.
Kalau diperkirakan mungkin Anggi selesai membaca buku dua minggu,tebak Lidya dalam hatinya. Anggi melirik kearah buku novelnya sebentar dan menatap Lidya yang sedaritadi melihat buku novelnya yang bisa dibilang tebal karena halamannya mencapai 600 halaman.
__ADS_1
"Aku membaca buku romantis ini hanya 5 hari."kata Anggi langsung dibalas pekikkan dari Lidya,"Apa! 5 hari!"Anggi mengangguk mantap.
"Setebal itu kau menghabiskan selama lima hari saja!"ucapnya lagi masih nada tidak percaya. Ia mengerjapkan mata berkali-kali dan dalam benaknya muncul banyak pertanyaan. Apa Anggi tidak lelah membaca buku setebal itu dalam lima hari? Apakah matanya tidak panas harus membaca deretan tulisan sebanyak itu?.
Anggi terkekeh melihat ekspresi Lidya yang shock mendengarnya. "Jangan terkejut begitu. Aku sangat hobby membaca, jenis buku apa saja. Aku baca kok termasuk buku pelajaran. Jadi kalau aku meminjam buku di perpustakan itu bisa dibilang cukup banget diberi waktu selama satu minggu."kata Anggi.
Entah Lidya harus kagum atau tidak dengan Anggi, tidak tahu. "Aku aja, lama menghabiskan novel yang kau bawa itu karena belum ketutupan tugas dan aku harus menulis cerita-ceritaku. Aku sangat kagum padamu Gi."ucap Lidya ke Anggi.
"Bagaimana apa kau bisa ikut mengantarkanku ke perpustakaan?"tanya Anggi meminta persetujuan dari Lidya. Gadis itu mengigit bibir bawahnya berpikir sejenak karena ia pernah pergi ke perputakaan yang dimaksud oleh Anggi waktu kejadian bus yang ditumpanginya rem blong. Dan Lidya melihat ada seorang pemuda disana, di perpustakaan itu yang menawan dan pakaian yang dikenakannya seperti kesatria. Apa ia berhalusinasi kembali?.
Anggi mengibas-ngibaskan tangannya didepan muka Lidya membuat Lidya tersadar dari lamunanya. "Bagiamana? Malah bengong sih?"kata Anggi sudah tidak sabaran.
"Baiklah. Aku akan ikut denganmu ke perpustakan."kata Lidya tersenyum. Anggi merasa senang dan memeluk Lidya perasaan riang membuat Lidya terkejut Anggi memeluknya. "Terima kasih Lid."ucapnya tepat di telinga Lidya lalu Anggi melepaskan pelukannya dan membawa buku novelnya kembali ke bangkunya.
Lalu semua murid yang berada di luar kelas cepat-cepat masuk kedalam kelas dan ternyata Pak Arlan berjalan memasuki kelas dengan senyuman seperti biasa. Dan para murid terutama gadis dibuat terkesima. Lidya lama-lama penasaran dengan umur Pak Arlan.
"Selamat pagi juga Papa Multimedia satu!"balas serentak satu kelas. Ya, selama ini mereka semua memanggil Pak Arlan, Papa. Itu membuat tubuh Lidya merinding lebih merinding dari aura negatif milik Vin.
"Saya akan memberikan berita bagus untuk anak-anakku."kata Pak Arlan dibalas sorakan dari yang lain. Beberapa murid sudah mulai berbisik-bisik.
"Saya menyuruh kalian membawa tanaman karena hari Kamis, SMK Cemerlang akan mengadakan menanam tanaman bersama untuk melestarikan lingkungan. Kalian tahu kan, sekarang penghijauan sudah terbatas. Keadaan mereka terbatas dan kebanyakan ada penebangan hutan liar. Jadi suasana menjadi panas. Dengan melakukan penghijauan ini, panas akan menjadi berkurang karena tertutupi banyak pohon-pohon rindang."jelas Pak Arlan.
Beni angkat tangan ingin mengajukan pertanyaan. "Pak, bawa tanamannya itu sendiri-sendiri atau berkelompok?"
"Ha!"seru Pak Arlan membuat setengah murid terkejut. Lidya menggeleng melihat kelakuan teman sekelasnya kalau Pak Arlan menjelaskan sesuatu ada-ada saja seperti melamun dikelas. Apa yang telah merasuki kalian, batin Lidya.
__ADS_1
"Kalau bisa berkelompok. Satu kelompok terdiri 3 orang ya."ucap Pak Arlan sebagai penutup berita bagus hari ini tentang penghijauan. Tidak buruk, bagi Lidya.
*Jangan Anggap kami Lemah*
Tet.. Tet... Tet..
Bel pulang telah berbunyi Anggi sudah menunggu di bangku Lidya melihat gadis itu membereskan barang-barangnya. Fitri pamit pada mereka berdua, pulang duluan. Setelah Lidya membereskan barang masuk kedalam tas, mereka berdua segera keluar kelas berjalan sampai pagar sekolah di pertengahan jalan Lina datang dengan senyuman mengajak Lidya pulang bareng.
Wajah Lidya lesuh,"maaf, Lin. Aku tadi lupa memberitahumu. Sekarang aku akan pergi ke perpustakaan bersama Anggi jadi aku tidak bisa pulang bareng bersamamu."ucap Lidya membuat wajah Lina cemberut. "Tapi kalau masalah kendaraan kita bisa bareng kan perpustakaan searah tapi kau pulang duluan,Lin."lanjut Lidya tersenyum membuat Lina loncat girang seperti anak kecil.
"Ah aku tidak kepikiran kalau perpustakaan satu arah dengan rumah. Dasar bodoh!"kata Lina memukul dahinya pelan, Lidya dan Anggi terkekeh. Mereka bertiga berjalan beriringan sambil mengobrol ringan supaya tidak merasa bosan.
Bus sudah menunggu di halte dan ketiga gadis itu setengah berlari menuju ke bus yang sebentar lagi akan melaju. Di bus mereka terpaksa berdiri karena penuh penumpang beberapa menit Lina pamit duluan untuk turun dari bus.
"Hati-hati!"kata mereka berdua berbarengan. Lina melambaikan tangan kearah mereka dan turun lalu bus kembali melaju ke tempat berikutnya. Anggi berjalan menuju supir untuk membayar ongkos dan Lidya sudah siap-siap di pintu bus, Anggi menekan bel yang ada di dekat pintu dan bus berhenti didepan perpustakaan. Mereka berdua langsung berlari memasuki perpustakaan.
Setelah mengisi daftar pengunjung, Anggi menuju ke ruang belakang dimana banyak sekali novel-novel yang berjajar di rak-rak sesuai dengan genre. Ini yang sangat Lidya sukai yaitu buku tertata rapih sesuai genre jadi pembaca bisa enak memilih buku yang ingin dibacanya. Anggi sudah menemukan buku yang dibacanya jadi ia pamit ke Lidya menuju kursi membaca, Lidya mengangguk dan memandang punggung Anggi yang semakin lama menghilang.
Lidya masih ingin melihat-lihat judul buku yang ada di perputakan ini. Pikirannya jenuh ingin mencari jenis buku komedi bercampur fantasi jadi ia bisa berhayal sekaligus tertawa agar pikirannya tidak jenuh lagi. Karena tadi disekolah tugas kembali menumpuk seperti gunung.
Tatapan mata Lidya berhenti di satu buku berukuran besar berjudul 'Petualangan itu Menyenangkan'. Ia mengambil buku tersebut dan melihat di ujung cover buku tersebut sangatlah aneh karena tidak ada nama penulis yang tertera disana dibalik buku itu ada sinopsis kecil. Membuat rasa penasarannya muncul.
Ia melihat ke rak ada seorang pemuda yang sama dengan raut wajah sama juga yaitu tersenyum mengarah ke Lidya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...