Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Delapan Puluh Delapan: Cerita Sebenarnya


__ADS_3

  Mereka berdua bangkit berdiri dan pemuda tersebut menarik pergelangan tangan Lidya membuat gadis itu mengikuti langkah pemuda berambut biru tersebut. Langkah mereka berhenti di depan toko market melihat dua hewan raksasa tengah bertengkar.


  Mata cokelatnya menatap ada aura hitam yang berada di salah satu kucing tersebut. Bagaimana bisa ia melihat aura hitam itu padahal ia sama sekali tidak memiliki kekuatan Grey Eyes. Ya, dia tidak punya tapi seperti yang ia pikirkan waktu di perpustakaan bahwa ini semua karena ia ceroboh.


Lidya melirik pemuda di sampingnya ia seperti mengenalnya, mengenal dari ciri-cirinya. Ia teringat kata-kata mamanya kalau beliau pernah melihat ada seorang pemuda mengenakan pakaian jubah seperti sihir dan memiliki rambut warna biru. Ciri-ciri itu sama persis dengan pemuda ini.


"Kita harus mencabut gambar yang ada di hewan tersebut. Kalau gambar tersebut sudah hilang otomatis hewan itu akan kembali sedia kala dan ada satu benda yang terjatuh berubah gantungan kunci."jelasnya membuat Lidya terkejut mendengarnya. Ia teringat jelas waktu di hutan.


Pandu menemukan gantungan kunci yang bergambar tupai seperti monster yang teman-temannya Serang. Dahinya berkerut menatap wajah pemuda dari samping, "apa fungsi gantungan kunci itu?"tanyanya. Pemuda itu menoleh melihat Lidya sedikit tersenyum. Melihat wajah keseriusan gadis di sampingnya ini ia sangat senang.


Ia seolah ingin mengakhiri semua kejadian tidak masuk akal ini dan menghentikan kekacauan yang di ciptakan oleh musuh, serta kembali ke masa di mana manusia hidup normal tanpa ada kekuatan.


Pemuda itu menghela nafas kasar, ia iri dengan gadis di sampingnya itu memiliki aura kuat tidak seperti dia. "Fungsi gantungan kunci itu adalah menutup kembali pintu imajinasi."ucapnya. Lidya seperti merasakan ada rasa yang campur aduk tidak bisa di jelaskan apakah ia kesal atau senang.


  Lidya berencana untuk merahasiakan tentang pintu imajinasi tersebut kecuali Joe. Joe adalah imajinasi yang di buat oleh Lidya pertama kalinya dan ia mengatakan awal mulanya pintu imajinasi terbuka lebar-lebar dan di saat itulah semua imajinasi dari semua penulis di seluruh dunia bangkit dengan cara memasuki ke tubuh manusia, memberikan manusia itu kekuatan besar sama persis yang imajinasi miliki.


Dahi Lidya berkerut menatap lawan bicaranya dengan tatapan menyelidik. "Kau tahu, tentang pintu imajinasi?"tanyanya pelan. Pemuda tersebut membalas mengkerit, "tentu saja. Memangnya kenapa?"tanyanya balik.


"Haa, padahal aku merahasiakan pintu imajinasi itu dari imajinasi lain. Tapi kau tahu tentang hal itu."ucap Lidya menghela nafas kasar menunduk. 


"He?"respon pemuda itu sedikit menelengkan kepalanya melihat gadis di hadapannya menunduk,"Kalau ada imajinasi tahu tentang pintu itu memangnya kenapa?"tanyanya Lidya kembali menatap pemuda asing itu.


"Aku takut saja. Kalau beberapa imajinasi memiliki tujuan lain dan salah satunya kalau mereka menghancurkan semua yang ada di  pintu imajinasi."katanya di balas kekehan pelan pemuda itu membuat Lidya tidak mengerti alasan ia terkekeh.


"Tidak. Semua imajinasi memiliki tujuan yang sama mereka harus menyerang musuh. Terutama yang merasuki tubuh hewan-hewan yang tidak bersalah. Pengendali boneka, Purple eyes dan juga Aura hitam. Semakin pekat aura hitam itu semakin kuat kekuatannya dan orang yang telah di masuki kekuatan itu akan menjadi jahat selevel dengan pelaku."jelasnya menatap Keno dan Miko masih bertarung membuat bangunan sekitarnya rusak parah.


Lidya mengepalkan tangannya ingin sekali mengakhiri semua ini. "Bagaimana kau tahu semua ini?"tanya Lidya menoleh ke pemuda tersebut.

__ADS_1


"Aku tahu. Kalau aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang membuka pintu imajinasi itu."ucapnya membuat Lidya terkejut mendengarnya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


7 bulan yang lalu saat semua imajinasi sudah menyebar ke seluruh dunia. Seorang pemuda yang duduk diam di meja belajarnya menatap buku neneknya dengan perasaan sedih. Ternyata buku yang di bawahnya itu adalah buku kisah nenek waktu kecil dimana beliau ingin sekali menjadi seorang penulis terkenal. Nenek sudah menciptakan buku cerita setidaknya dua judul buku fantasi.


  Semua perasaan nenek di gambarkan dalam bentuk cerita. Ada yang berjudul "On Time Off Time" dan "Sandi Puzzle". Awalnya ia sama sekali tidak tahu apa yang neneknya tulis dengan judul seperti itu sebab tidak ada kaitan isi cerita dalam judul hampir semua ceritanya berdasarkan mengungkapkan perasaan seperti ada sebuah melody kecil.


Tapi ia tahu, ada beberapa arti dalam beberapa kalimat yang di susun oleh nenek yang membuat pemuda itu mengerti apa yang di rasakan oleh beliau selama ini. Tentang aksara yang pernah ia baca adalah sebuah mantra abal-abal yang neneknya yakin kalau di sana tempat ia sering bermain ada sebuah pintu tidak kasat mata.


Pintu tidak kasat mata pintu imajiansi yang neneknya tulis di buku berjudul "On Time Off Time"---ada kata 'mulai' dan ada yang 'akhir'. Neneknya juga menuliskan di bukunya berjudul "Sandi Puzzle" yang ada kaitannya di buku pertama yaitu ada susunan gambar yang harus di penuhi seperti puzzle, temukan lalu pasangkan. Nenek waktu kecil sangat menyukai permainan puzzle atau menemukan barang lalu di tempelkan ke sembarang arah.


Pemuda itu bangkit berdiri ia sudah menemukan cara untuk menutup pintu imajinasi. Ia akan menemukan gambar-gambar tersebut dengan semangat empat lima. "Tio akan menemukan potongan puzzle itu secepatnya dan mengakhiri semua kesalahanku telah membuka pintu imajinasi. Aku akan menutupnya!"serunya penuh semangat.


  Tio nekat pergi pada malam hari di mana semua orang tidur dengan penuh ke yakinan pasti semua imajiansi memilih tempat untuk bersemayam pada tubuh manusia dengan memberikan manusia kekuatan. Ketika melihat langit malam ia melihat beberapa cahaya berkelap-kelip begitu banyak berpencar ke segala sisi.


Di buku nenek semua sudah tertulis dengan rinci jadi ia tetap berjalan sesuai tujuannya. Sudah 4 minggu mencari di mana gambar-gambar itu berada hasilnya nihil tidak ada. Tio sudah kehabisan bekal selama 5 hari yang lalu dan uang yang di bawahnya juga sudah habis.


Sial,ternyata aku salah mengambil keputusan dan tidak berpikir secara matang-- batinnya menyesal.


  Ia duduk bersandar di depan toko yang sudah tutup, lelah dan lapar. Perutnya sudah keroncongan dan tenggorokannya sudah mengering. Tio memejamkan matanya tubuhnya sekarang menjadi lemas kurang makanan. Mungkin ia akan mati dan ia juga tidak akan menjadi penulis seperti orang lain, berakhir seperti neneknya yaitu 'penulis tidak dianggap' kalau Tio sendiri adalah 'penulis bodoh dan tidak ahli mengambil keputusan yang tepat'.


  Saat Tio tertidur pulas karena lemas tiba-tiba sebuah kejaiban datang pada pemuda itu. Sebuah cahaya putih datang dan menjadi seorang pria dewasa dan satu pemuda sekitar umur 13 tahun. Terlihat aneh satu cahaya lalu menjelma menjadi dua orang laki-laki sangat tidak masuk akal tapi nyatanya begitu.


"Kak. Apa kita berdua akan masuk ke dalam tubuh pemuda ini?"tanya pemuda tersebut bernama Simon tidak terlalu yakin.


"Ya. Kita akan masuk ke dalam tubuh pemuda ini dan membantu ia mencari makan gratis. Kan kita berdua adalah Hero Imagination. Ini buat kebaikan kita untuk menutup kembali pintu imajinasi."kata Pria dewasa tersebut menatap Tio yang tidur begitu pulasnya. Lalu mereka berdua kembali dalam bentuk cahaya dan masuk ke dalam tubuh Tio.

__ADS_1


Pemuda itu mengeritkan kening dan terbangun dari tidurnya merasa ada yang membangunkannya. Tetapi dilihatnya sekitar tidak ada orang sama sekali. Mungkin ini gegara perutnya lapar sehingga merasakan ada seseorang membangunkannya dan memberikan dia makan.


Krucuk krucuk..


Suara perut keroncongan terdengar ia memegang perutnya yang kosong dan terasa perih di lambung. Jangan-jangan ia terkena magg karena sudah lama tidak makan. Lalu ada seseorang yang membawa makanan ayam banyak banget membuat air liur hendak terjun dengan cepat Tio mengusapnya.


  Secara tiba-tiba tubuhnya berubah menjadi seekor kucing dan berlari menghampiri orang tersebut. Awalnya orang itu tidak peduli dan mengusirnya. Ia tidak putus asa, ia membalikkan badannya memperlihatkan perutnya dan menatap manusia itu.


"Wah kamu lucunya. Kamu mau apa?"tanyanya sambil menggelitik perut kucing itu.


"Meow." melihat isi tas kresek. Seolah tahu apa yang diinginkan kucing itu, orang tersebut memberikannya sepotong ayam dengan cepat Tio memakannya dengan lahap dengan elusan halus dari orang yang memberikan ia makan.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Jadi ini sudah terlihat jelas cerita yang sebenarnya semua berada di dalam buku di mana ada "Awal" dan disana ada "Akhir". Sesuai apa yang dilakukan oleh pelaku mau mengakhiri atau melanjutkan. Kalau Lidya sendiri memilih untuk mengakhiri semua untuk kembali ke hidupan sedia kala di mana manusia tidak memiliki kekuatan. Dan semua imajiansi bisa muncul jika ada orang yang berandai-andai.


Tidak terhubung dengan dunia imajinasi dan dunia manusia seperti ini. "Jadi aku harus apa?"tanya Lidya ke pemuda bernama Tio.


"Kita akan mengambil gantungan kucing itu dan mencari keberadaan musuh ada dimana. Lalu mencari keberadaan musuh bersembunyi dan apa tujuan mereka ikut bangkit."ucap Tio penuh keyakinan dan kesal. Sudah banyak sekali musuh beredar di seluruh penjuru akan tetapi ia bertugas menjalankan misi menghabisi musuh pengendali boneka dan aura hitam tersebut serta mengumpulkan gantungan kunci.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


A/n


Tunggu part selanjutnya dan tunggu Aksi mereka melawan musuh-musuh yang tidak ada henti-hentinya membuat masalah. Apakah Lidya bisa mengalahkan musuh dan apa yang terjadi pada tubuhnya yang tiba-tiba bisa melihat kekuatan orang lain serta melihat aura hitam tersebut? Penasaran ikuti terus ceritanya😁

__ADS_1


__ADS_2