Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode Dua Puluh: Ferdi terkena Kharisma Jay


__ADS_3

"KALAU JALAN ITU HADAP KE DEPAN JANGAN NENGOK KEBELAKANG. GADIS BISU!"protes seorang pemuda yang suaranya sangat khas dan Lidya menoleh mendapati Ferdi menatap benci ke Lidya. Lidya masih diam tidak membalas perkataan Ferdi, pemuda tersebut tersenyum miring.


"Ternyata kau memang gadis bisu ya? Aku ngomong seperti ini, kau hanya bisa diam menatapku tidak berkutik."kata Ferdi menyindir. Lidya menatap Ferdi tajam dan tangan kanannya mengepal ingin sekali meluncurkan tinjuannya ke wajah jelek Ferdi. Menurut Lidya, Ferdi adalah pemuda jelek yang seenak jidatnya merenggut kebahagiaan orang lain seperti ia merenggut kedamaian Lidya bersama dua gadis menyebalkan:Tina dan Sarah.


Ferdi tersenyum dan bola matanya memutar melihat gadis yang didepannya ini hanya bisa diam dan tidak ada perlawanan sama sekali. "Menyingkir dari jalanku!"kata Lidya ingin menuju ke kelelasnya namun Ferdi menghalangi jalan Lidya. Beberapa murid yang berlalu lalang melewati tangga pun sesekali menoleh ke arah mereka berdua dan berpikir pasti ada masalah.


"Owh sekarang sudah meluncurkan satu kalimat padaku."kata Ferdi membuat Lidya sangat jengkel dan bertanya mengapa ia bisa satu kelas bersama anak menyebalkan seperti Ferdi. Ia ingin sekali melihat Ferdi dapat hukuman akibat perilakunya. Setiap kali ia membuat orang lain tidak nyaman maka balasannya pada dirinya sendiri.


"Aku bilang menyingkir dari hadapanku dan berikan aku jalan!"teriak Lidya menantang dibalas pelototan Ferdi. "Eh kau beraninya bilang itu padaku, gadis bisu!"protes balik Ferdi. Lidya geram dan kaki pemuda tersebut diinjaknya membuat Ferdi mengangkat sebelah kakinya seraya meringis kesakitan. Lidya mengacuhkan Ferdi dan berjalan menuju kelasnya.


Ferdi mengumpat dan berkata,"Gadis bisu sialan!"ucapnya lalu berjalan menuju kantin. Pagi-pagi begini sudah membuat orang marah saja,batinnya. Saat Ferdi berjalan dan di depannya ada seorang pemuda yang membawa sebuah kopi di tangannya. Tiba-tiba kakinya tersandung dan kopi yang di bawahnya tumpah di seragam milik Ferdi. Otomatis Ferdi marah detik itu juga, "KALAU JALAN HATI-HATI DONG KARENA KAU SERAGAMKU TERKENA KOPI!"Protes Ferdi menatap seorang pemuda yang jongkok, wajahnya menunduk jadi Ferdi tidak bisa melihat wajah pemuda yang seenaknya menumpahkan kopi di seragamnya.


Meski hari ini memakai baju praktek dan baju multimedia adalah warna hitam tapi tetap saja noda kopi itu terlihat, melihat dengan teliti. Pemuda yang sama sekali tidak dikenal oleh Ferdi bangkit berdiri, "aku minta maaf telah menumpahkan kopi ke seragammu."ucapnya meminta maaf ke Ferdi tanpa menatap ke lawan bicara.


Ferdi semakin muak dengan pemuda satu ini, ia meminta maaf tanpa melihat wajah lawan bicaranya. Apa dia seorang pemalu?itu tidak mungkin. "Hei! Tatap lawan bicaramu, jika kau menundukkan kepalamu tanpa menatap wajahku yang tampan ini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"kata Ferdi mengancam.


Pemuda berambut cokelat tersebut perlahan mengangkat kepala menatap Ferdi, lawan bicaranya. Ferdi yang melihat lawan bicaranya melongo dan ia tidak bisa berkata apa-apa. Pemuda itu tersenyum tulus,"aku minta maaf ya telah menumpahkan kopi ke seragammu,"ia mengulangi kata maaf ke Ferdi,"aku tadi tersandung dan kopi itu tumpah begitu saja ke seragammu."


Suara lembutnya membuat Ferdi memantung, matanya terus melihat wajah pemuda yang ada di depannya ini. Ia sangat tampan dan membuat tubuh Ferdi membeku, hatinnya menjadi jauh lebih bahagia. Ferdi tersenyum membalas senyuman pemuda di depannya itu.


"Ah itu tidak apa-apa kok. Aku memaafkanmu."kata Ferdi memaafkan pemuda tersebut.


"Hmm,apa kau tidak ganti seragammu dengan seragamku. Nanti aku ada jam olahraga."katanya. Ferdi menggeleng lalu menepuk pemuda itu pelan sambil terkekeh,"tidak perlu. Aku pakai seragamku saja tidak perlu memakai seragammu."kata Ferdi berbalik badan kembali ke kelas. Pemuda tersebut meneriaki Ferdi,"kalau berubah pikiran,aku berada dikelas sebelah."teriaknya memberi tahu Ferdi.


  Ferdi dengan pedenya berjalan menuju kelas tidak peduli dengan noda kotoran yang ada di seragamnya. Ia memasang wajah sumringah dan menyapa murid yang berlalu lalang. 180 derajat sifat berubah total dari sebelumnya pemarah sekarang menjadi ramah.


  Ferdi masuk kedalam kelas sambil mengucapkan salam,"Assalamualaikum teman-temanku!"murid didalam kelas bersamaan menatap Ferdi cengo, melihat perubahan drastis.


"Wa'alaikumsalam."

__ADS_1


Semua murid membalas salam Ferdi. Semua sorotan mata tertuju kearah pemuda berambut hitam yang biasanya membuat kisruh sekarang menjadi ramah. Beni selaku ketua kelas pun ikut terheran-heran dan memilih untuk mengamati apa yang sebenarnya terjadi.


Lidya yang asik mencatat ceritanya pun ikut terhenti melihat Ferdi tersenyum sumringah. Tidak ku sangka dia bisa tersenyum sumringah seperti ini. Aku pikir, ia tidak bisa tersenyum---pikir Lidya. Ferdi menghampiri bangku Lidya, menatap dengan senyum membuat gadis itu terheran-heran sekaligus takut kalau semua ini hanyalah akting.


"Lid, aku minta maaf ya soal tadi pagi."ucapnya meminta maaf. Lidya yang mendengar itu terkejut dan mengerjapkan mata berkali-kali siapa tahu semua ini hanya tipuan Ferdi.


"Lid. Kenapa kau mengerjapkan mata berkali-kali? Apa ada debu yang masuk dimatamu? Biar aku tiup."kata Ferdi mendekatkan wajah ke wajah Lidya dan mulutnya ingin meniup matanya. Dengan cepat Lidya mengambil buku kecilnya dan menghalangi wajah Ferdi dari wajahnya. Wajah Ferdi  menatap buku. Kedua mata Lidya menutup.


Apa yang sebenarnya terjadi hari ini sih? Teriak Lidya dalam hati.


Murid lainnya masih melongo melihat apa yang terjadi barusan. Anggi yang sedari tadi fokus ke novelnya mengintip apa yang terjadi dengan mulut menganga. Fitri menutup mulut melihat tingkah Ferdi. Tina berdiri di belakang Ferdi dengan tatapan kesal.


Ferdi bangkit berdiri dan menggosok dahinya tak sempat berkata ke Lidya telinga kanannya sudah di jewer oleh Tina membuat Ferdi meringis kesakitan.


"Dudu.. Aduh sakit!"rintihnya kesakitan. Tina semakin kuat menjewer telinga Ferdi, ia belum puas mendengar suara rintihan dari pemuda yang kini menjadi sorotan mata. "Biarin sakit. Mengapa kau bertingkah baik seperti ini ha! Dan ada adegan apa barusan bersama gadis lugu ini?"ucap Tina memarahi Ferdi seperti memarahi anaknya. Tina melirik sinis kearah Lidya membunuh. Lidya langsung mengalihkan pandang kearah lain.


"Lepasin dulu!"pinta Ferdi lalu Tina melepaskan jeweran mautnya. Gadis tersebut mengalihkan pandang ke Ferdi, cemberut.


"Apa kau bilang?harusnya aku yang tanya padamu. Mengapa kau bersikap baik pada orang lain dan kau juga ingin meniup mata gadis lugu ini."kata Tina nada lantang. Ferdi diam menatap wajah Tina lalu melihat Lidya, gadis bisu itu mengalihkan pandang kesal. Dan tidak hanya itu saja, semua tatapan teman-temannya pun menatap ia aneh.


Tina melihat Ferdi dari atas sampai bawah lagi-lagi matanya mendelik melihat seragam yang dikenakan oleh Ferdi, basah. "What? Apa ini Fer. Ya allah, apa kamu ngompol."kata Tina shock menutup mulut dengan kedua tangannya.


Satu kelas pun tertawa terbahak-bahak mendengar Ferdi mengompol. Ferdi berusaha membenarkan kalau itu adalah hoax. "INI BUKAN BEKAS NGOMPOL!"teriak Ferdi membuat seisi kelas diam.


Vin yang hanya diam di pojok sambil senyam senyum melihat pembelajaran yang sangat pantas buat si penganggu, Ferdi. Ia tidak akan pernah lupa kejadian waktu mereka bertiga melukai Lidya di belakang sekolah. Aura negatifnya keluar dari tubuhnya dan merambat perlahan satu ruangan, ia ingin melihat bagaimana kalau suasana menjadi horor.


"Ini tidak seperti kalian kira. Ini adalah kesalahan murid sebelah yang seenaknya menumpahkan kopi ke seragamku."kata Ferdi kesal dan jujur mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mengompol. Ferdi menatap semua murid satu kelasnya melihatnya horor dan wajah mereka serius.


Bulu kuduk Ferdi merinding, ia menoleh kearah Tina yang menatapnya serius dan menyeramkan. "Kalian semua jangan diam saja seperti ini. Aku mengatakan betul dan aku tidak berbohong soal ini."kata Ferdi menyakinkan semua teman-temannya. Namun, mereka semua menatap Ferdi dengan tatapan sama:tajam dan ingin menusuk tulang hingga mati.

__ADS_1


Ferdi mencoba untuk tidak mengikuti suasana berbeda seperti ini. Ia berjalan keluar kelas geram menuju kelas sebelah. Vin terkekeh pelan melihat ekspresi Ferdi yang  takut dengan aura negatif miliknya dan mencoba tidak masuk ke suasana menakutkan. Bagus sekali kau Fer, batin Vin.


  Ferdi melangkah kesal dan langsung masuk ke multimedia dua tanpa salam membuat Nando wakil ketua kelas protes. "Hei! Orang asing seenaknya masuk ke kelas tetangga tanpa salam!"Ferdi menatap Nando membunuh,"itu bukan urusanmu!"balasnya.


"Dasar tidak punya sopan santun!"


Ferdi tidak mengubris perkataan Nando. Ia melihat pemuda yang tadi menumpahkan kopi ke seragamnya tengah di kerumuni banyak gadis di bangkunya. Oh selama ini aku berhadapan dengan pemuda playboy,batin Ferdi berburuk sangka.


"Hei kau!"kata Ferdi membuat para gadis menoleh kearah Ferdi termasuk pemuda tadi. Ferdi langsung narik paksa tangan pemuda itu keluar kelas, ada beberapa gadis yang tidak terima pemuda itu,Jay diperlakukan kasar seperti itu.


"Orang tidak tahu diri. Awas aja nanti aku bakal pukul dengan keras sampai kau lupa caranya bangun."kata gadis tersebut protes dengan aura berkobar-kobar.


  Ferdi melepaskan tangan pemuda yang tadi dengan kasar. "Hei, kau harus bertanggung jawab atas kesalahanmu menumpahkan kopi ke seragamku!"ucapnya tidak menatap wajah lawan bicaranya.


"Kalau berbicara lebih baik melihat lawan bicaranya, supaya enak kalau mengobrol."katanya lembut. Ferdi berusaha tidak tertarik dengan kata lembut pemuda ini, entah kenapa dunia ini begitu aneh.


"Jawab pertanyaanku jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nasihatmu itu!"amarah Ferdi sampai ujung kepala.


Jay tersenyum,"baiklah kalau begitu. Kau telah berubah pikiran. Aku akan mengambil pakaianku dulu. "Ucap Jay masuk ke dalam kelas mengambil seragam olahraganya. Ferdi menghela nafas lega,ia sempat terkena sesuatu kalau bicara pada pemuda ini.


Jay keluar kelas sambil membawa seragam olahraganya. Mereka berdua ganti pakaian di tempat ganti yang tidak jauh dari toilet laki-laki dan perempuan. Setelah selesai berganti pakaian. Ferdi mengenakan pakaian praktek multimedia dua milik Jay sedangkan Jay mengenakan seragam olahraga sampai pulang sekolah. Ia tidak akan terkena marah pada guru hanya diberi nasihat saja dan harus mendapatkan denda, tidak tertib.


"Sini pakaianmu yang kotor. Biar aku cuci untuk menebus kesalahanku."kata Jay meminta pakaian kotor yang ada di tangan Ferdi.


Ferdi melemparkan pakaian kotornya ke Jay. "Makasih. Dan cucilah pakaian itu sampai bersih lalu berikan padaku."ucapnya berlalu pergi meninggalkan Jay yang masih berdiri disana sambil memandang pakaian kotor pemuda tersebut.


Jay melihat baju pratek yang di genggamnya dan melihat tag name disebelah kanan bernama:Muhammad Ferdi.


Disisi lain Ferdi sudah selesai dengan urusan dengan pemuda yang bisa meluluhkan hati semua orang dan hampir ia terkena perkataan manisnya itu. Ferdi melihat tag name yang ada di baju praktek yang dikenakannya:Jay George.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung...


__ADS_2