
Seorang gadis terbangun dari tidurnya dahi gadis tersebut bercucuran keringat dingin serta nafasnya naik turun. Tangan kananya meremas selimut, ia menghela nafas sejenak berusaha untuk tenang. Mulut menguap diliriknya jam di atas nakas masih pukul tengah malam.
Memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Ia tadi bermimpi seperti nyata dan tidak paham apa maksudnya. Serta disana ada seorang anak laki-laki yang tidak terlalu jelas wajahnya karena tertutup warna hitam.
"Duh pusingnya...Jimin."gumam gadis itu pelan.
-
-
-
-
-
-
Di pagi cerah ini semua murid SMK Cemerlang berkumpul di lapangan mendengarkan kepala sekolah yang mengumumkan kalau ada beberapa murid akan di pindahkan ke SMA Strength membuat semua murid saling beradu pandang dan bertanya-tanya. Sebab mereka baru pertama kali mendengar nama sekolah tersebut.
Lalu kepala sekolah SMK Cemerlang menjelaskan bahwa nama SMA tersebut sebenarnya adalah SMA Negeri satu tentu saja membuat semua murid terbinar-binar mendengarnya. Mereka bersorak ria dan berharap bisa di pindahkan ke sekolah favorit itu tetapi mereka sadar bahwa mereka itu SMK bukan SMA.
Lidya sama sekali tidak terkejut sebab ia sudah tahu teringat kata-kata Yudistira saat itu. "Hahaha, maaf. Dan bentar lagi SMA Negeri akan berganti nama SMA Strength. Karena semua hampir memiliki kekuatan."katanya.
Gadis itu merasa bahwa ia tidak akan masuk ke dalam sana sebab ia sama sekali tidak memiliki kekuatan. Kepala sekolah itu mengatakan nanti ada pemberitahuan lebih lanjut setelah itu para murid di bubarkan dan beristirahat membuat semuanya bersorak ria.
Suasana kantin selalu saja ramai semua gadis kelompok Lidya sudah berkumpul. Hana melihat Lidya masih memakai syall untuk menutupi lehernya.
"Lid. Lehermu belum sembuh?"tanyanya. Lidya hanya menggeleng pelan lalu pandangnya menatap kakak kelasnya yang makan makanannya.
Ia mengeluarkan ponselnya ragu untuk menunjukkan siapa Jimin yang Cantika sebut. Dengan berat hati Lidya memanggil Cantika dan menyuruh kakak kelasnya menatap layar ponselnya.
"Apa itu Jimin yang sering kau sebut?"tanya Lidya ragu. Beberapa temannya mendekati Cantika melihat layar ponselnya Lidya, mata mereka semua terbalak kecuali Cantika, ia merasa bukan itu.
"Wah dia sangat tampan. Ini siapa Lid?"tanya Lina dan Elle bebarengan sesekali melirik kembali ke ponsel Lidya.
"Ya itu, Jimin. Seorang artis dari Korea itu."jawab Lidya.
"What!Dia tampan apalagi kalau senyum!"seru Lina kegirangan.
Hana hanya menggeleng sedangkan Bening hanya tersenyum tipis. Tera masih fokus dengan makanannya sesekali melihat temannya yang fangirling karena Jimin salah satu personil BTS yang terkenal pada tahun 2018.
"Oh Jimin Bts itu. Aku tahu mereka."celetuknya membuat semuanya menoleh mengarah ke Tera.
__ADS_1
"Benarkah?"tanya Lina tidak percaya menoleh ke Lidya mengkode bahwa perkataan Tera itu benar.
Lidya mengangguk sebagai jawabanya,"Ya,yang dikatakan Tera memang benar. Dia Jimin member Bts pada tahun 2018 terkenal karena lagu DNA."jelasnya dibalas O ria. Lina mengintip ke ponsel Lidya.
"Tapi kenapa kau tunjukkan ke Cantika?"tanya Lina.
"Ya, siapa tahu kan Jimin yang itu kakaknya Cantika."ucap Lidya polos membuat bangku mereka menjadi sorotan murid di kantin.
Cantika mengembalikan ponsel ke Lidya mengatakan kalau itu bukan Jimin yang sering ia sebut setiap saat. Membuat semua temannya penasaran dengan siapa Jimin yang disebut oleh Cantika.
"Terus kalau bukan Jimin Bts terus siapa dong?"tanya Elle memikirkan sesuatu,"yah padahal aku berharap kakak Cantika punya kakak tampan kayak Jimin bts itu."lanjutnya mengerucutkan bibirnya.
"El. Apa kau ngefans sama Jimin bts?"tanya Hana memastikan.
Elle menggangguk,"semenjak lihat foto Jimin jadi ngefans."ucapnya tersenyum.
Tera menjelaskan bahwa boy band itu sudah break lama karena fokus dengan kehidupan masing-masing mengurusi keluarga kecilnya dan menyanyi solo. Elle mayun tidak bersemangat seperti tadi.
"Maklumin aja kan sekarang sudah tahun 2027 pada masa muda mereka banyak sekali yang mengidolakan mereka."ucap Tera santai.
Cantika menghela nafas kasar dan sebal tidak tahu siapa yang sering ia sebutkan namanya itu. Semua temannya mencoba menghibur Cantika mencoba untuk sabar. Hana berkata pada Cantika serius, "apakah kamu punya kekuatan?"
Gadis itu diam lalu menggeleng pelan, "aku tidak tahu. Aku hanya sering memanggil nama Jimin tidak ada lagi."ucapnya.
"Lalu semalam aku bermimpi melihat anak laki-laki yang sama sekali tidak aku ketahui. Siapa dia sebab wajahnya hitam tidak bisa kulihat secara jelas."kata Cantika lagi membuat Lidya tersenyum.
"Bagaimana perasaanmu saat melihat Jimin bts dan anak laki-laki yang berada di mimpimu itu?"tanya Lidya.
"Kalau aku melihat Jimin bts, aku sama sekali tidak merasakan apapun. Kalau anak laki-laki itu, aku merasa kalau aku kenal dia dan mimpi semalam seperti nyata. Benar-benar nyata."ucap Cantika menatap teman-temannya bergantian.
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?"tanya Hana serius.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Kedua mata perlahan terbuka ia sudah berdiri di teras rumah melihat ia menjadi seorang anak perempuan sekitar umur 6 tahun. Kedua tangan kecilnya ia lihat dengan seksama berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
"Cantik!"panggil seseorang anak laki-laki sekitar umur 10 tahunan. Ia tersenyum menghampiri Cantika seulas senyum menerka. Tangan mungilnya di tarik oleh anak laki-laki tersebut mengajaknya bermain kejar-kejaran. Tawa keduanya terdengar seperti melody.
Setelah bermain kedua anak itu duduk di atas rerumputan yang ada di halaman rumah menatap langit biru. Anak laki-laki itu menunjuk awan putih dan menoleh mengarah ke Cantika kecil. Anak perempuan itu menatap anak laki-laki itu yang di indera penglihatannya wajahnya tidak terlihat, hitam tetapi ia bisa melihat gerakan tubuhnya.
Mulut anak laki-laki itu bergerak tetapi tidak mengeluarkan suara membuatnya tidak mengerti. Suasana terganti saat anak laki-laki mengenakan pakaian rapih menghampiri Cantika yang merasa sedih.
Anak laki-laki itu memegang kedua tangan Cantika kecil dan mengatakan sesuatu, masih tidak bisa mendengar apa yang dikatakan olehnya. Anak laki-laki tersebut pergi melambaikan tangan menaiki mobil di susul oleh truck pindahan.
__ADS_1
Sempat terdengar suara anak-anak laki-laki sebelum Cantika terbangun dari tidurnya.
"Meski aku pergi. Kau tidak akan pernah melupakanku. Suatu hari nanti kita akan bertemu bersama."
-
-
-
-
-
Air mata keluar dari kelopak mata Cantika membuat Fitri tergopoh-gopoh mencari tissu dan semua temannya menjadi khawatir setelah mendengar cerita yang bagi mereka tidak untuk diceritakan. Cantika menggeleng dan menenggelamkan kepalanya di kedua tangan.
"A-aku sama sekali tidak mengingatnya. Walaupun di-dia pernah mengatakan i-itu. A-aku sama sekali tidak ingat apapun."ucap Cantika dalam isak tangis.
Lina mengelus-elus kepala Cantika lembut. Lalu mereka memilih diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lidya juga tidak tahu apa yang terjadi antara Cantika dan pemuda bernama Jimin itu. Ia yakin bahwa mimpi Cantika itu adalah petunjuk.
Tiba-tiba Cantika bangkit berdiri tanpa mengatakan apapun sembari mengelap air matanya. Fitri ingin menyusul gadis itu tapi Hana mencegah bahwa Cantika ingin menyendiri sementara waktu.
Gadis berkacamata tersebut mengalihkan topik pembicaraan agar tidak hening. Hana membuka topik masalah SMA Strength selama di lapangan ia sempat membaca hati kepala sekolah. Ia tahu itu sama sekali tidak sopan membaca isi hati seseorang apalagi saat isi hati tersebut adalah privasi yang orang lain tidak seharusnya tahu tentang itu.
"Sebelumya aku minta maaf atas kurang ajarku membaca isi hati kepala sekolah. Aku sendiri tidak mau membacanya tapi rasa kekepoanku sangatlah besar."ucap Hana meminta maaf sebagai awal pembicaraan masalah yang bisa dibilang serius.
"Tadi saat aku membaca isi hati kepala sekolah tujuan apa ada beberapa murid SMK Cemerlang pergi kesana?"ucapnya membuat lainnya fokus dan penasaran.
"Karena buat menjalankan misi tentang masalah yang ada di luar sana. Masalah bayangan hitam dan orang-orang yang seperti dikendalikan orang lain. Dan beberapa waktu setelah sehari Kak Alvan di ambil ahli seseorang misterius. Malamnya dan esoknya terjadi pembunuhan di lokasi berbeda dengan waktu bersamaan."jelas Hana membuat semuanya menganga tidak percaya.
Lidya hanya diam tidak merespon tetapi raut wajahnya tidak bisa di sembunyikan ada rasa kegelisahan disana. Apakah memang musuh besar Pangeran Johnny, imajinasinya? Mengajaknya perang atau tujuan lain. Kalau sudah menyangkut merebut nyawa ini sudah kelewatan.
"Ja-jadi kita harus apa?"tanya Elle bingung.
Bening tersenyum, "kita tinggal nunggu keputusan kepala sekolah. Kemungkinan kita akan masuk ke SMA Strength itu."katanya.
Lidya tidak bisa diam saja,ia bangkit berdiri tanpa mengucapkan sesuatu sama persis apa yang dilakukan oleh Cantika. Membuat semua temannya menatap punggung Lidya heran dan saling pandang satu sama lainnya.
"Lidya kenapa tuh?"tanya Lina penasaran. Elle mengerutkan dahi ikut penasaran juga, ia langsung nyusul Lidya tanpa kata pamit.
"Eh kok main kabur tanpa pamit sih!"ucap Fitri kesal.
Hana hanya diam dan tidak angkat bicara. Bening khawatir apa yang terjadi pada dua temannya itu.
__ADS_1
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung....