
Sepanjang koridor sekolah terlihat sangat sepi hampir semua murid SMA Strength tidak ada yang keluar dari kelas. Mereka memilih menonton televisi di kelas masing-masing melihat apa yang terjadi di luar sana. Namun, itu tidak berlaku dengan Pandu,Beni, Hana dan Bening.
Mereka berempat tidak terpilih untuk turun area yang berada di tiga titik itu. Tetapi mereka berempat memilih menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi, yakin kalau musuh yang dekat di depan mata sudah merencakan semua ini dengan matang. Bening dan Beni ingin melihat ke perpustakaan yang terlihat tertutup rapat.
"Kami berdua akan menunggu di depan gerbang. Aku ingin sekali mencari informasi lebih lanjut."kata Pandu.
Hana tersenyum seraya membenarkan kacamata yang bertengger di hidungnya, "Ya, aku juga akan menunggu di depan gerbang dengan Pandu. Kalian jangan lama-lama."ucapnya di balas angguk mereka mantap.
Setelah Pandu dan Hana pergi. Bening dan Beni menuju ke pintu berukuran besar, keduanya mendongak melihat pintu tinggi dan besar itu. Pintu terbuat dari kayu berkualitas tinggi, tidak mudah rapuh atau patah. Beni mencoba untuk membuka pintu tersebut nyatanya pintunya terkunci. Ia melihat ada celah kecil berada di bawah pintu, Beni melihat dari celah tersebut dan mengaktifkan mata tembusnya.
Bening melihat Beni perasaan kecewa tidak bisa masuk ke perpustakaan di sekolah barunya. Mata Beni sedikit terbelalak melihat seseorang berada di dalam perpustakaan padahal pintunya terkunci rapat. Pemuda itu bangkit berdiri menatap Bening dengan wajah terkejutnya.
"Ada apa? Ben?"tanya Bening, gadis hijab tersebut menatap Beni lamat-lamat berusaha membaca mimik wajahnya tetapi ia bukanlah psikolog seperti Hana yang semudah itu bisa menebak.
"Di dalam perpustakaan ini ada seseorang,"ucapnya menatap pintu perustakaan yang tertutup rapat. Bening mendengar hal itu tidak percaya! Mana mungkin ada seseorang yang masuk ke ruangan begitu saja apalagi dalam keadaan pintu terkunci.
Secara logika mungkin orang itu masih berada di perpustakaan saat penjaga perpus tidak menyadari bahwa ada satu orang yang masih berada di dalam. Tapi dari beberapa murid di kelasnya ada yang bilang kalau semenjak SMA Negeri satu menjadi SMA Strength, perpustakaannya selalu di kunci entah alasan apa perpustakaan di kunci rapat seperti ini.
Beni menatap wajah Bening, "Jadi kita masuk atau tidak? Kita tidak bisa masuk kalau pintunya di kunci dan Pandu sama Hana sudah menunggu kita ke depan gerbang."ucapnya.
Di dalam perpustakaan seorang pemuda memakai pakaian layaknya penyihir sedang duduk membaca setiap lembaran buku yang ia temukan saat bersih-bersih rumah. Bukunya itu adalah milik neneknya setelah neneknya meninggal ia menemukan buku itu. Dan mencari sesuatu yang sudah neneknya tulisnya.
Tanpa sadar ia menemukan pintu imajinasi dan membacakan sebuah mantra dari aksara. Lalu ia lupa untuk menutup kembali pintu imajinasi dan tanpa sadar kalau ada orang yang mengikutinya, menaruh sebuah janji. Membuat semua orang seluruh dunia menderita.
Ini tidak akan ia biarkan begitu saja ia akan menghentikan semua ini sebelum terlambat. Sudah ada banyak kekacauan yang di ciptakan oleh musuh. Kertas yang hendak ia buka di remas hingga kusut, giginya menggertak.
"Aku tidak akan diam saja! Aku akan membayar semua ini karena perilaku-ku yang ceroboh. Tidak menutup kembali imajinasi itu!"ucapnya bermolog pada dirinya sendiri, beranjak dari duduknya, kepala menunduk.
"Ini semua salahku. Aku memang tidak berguna!"
"Meski begitu aku akan berusaha untuk mengubah apa yang telah aku lakukan semua ini. Di dalam buku nenek yang masih punya lembaran kosong."lanjutnya lagi membuka lembaran-lembaran buku kosong tersebut.
"Aku juga punya jiwa penulis tetapi semua hasil tulisanku tidak pernah aku publikasikan pada orang lain. A-aku sudah jadi tokoh utama dalam buku lembaran baru jadi aku harus bertemu dengan penulis lain supaya bisa menyelesaikan masalah ini."ucapnya melihat tangan kanan secara perlahan mengepalkan tangan.
Pemuda tersebut berubah wujud menjadi kupu-kupu keluar dari celah jendela. Pergi ke suatu tempat untuk mengalahkan musuh yang sudah berkeliaran ke seluruh kota.
Para monster semakin bertambah kuat dan mereka yang turun area di tiga titik sudah kualahan. Seperti di titik pertama di mana ada ular yang mengamuk, Aska yang hampir menyentuh gambar aneh sama persis di tubuh tupai di hutan waktu itu harus terpental jauh.
__ADS_1
"Aaaa!"teriak Aska melayang ke udara dengan sigap seseorang menolongnya dengan gelembung. Aska terkejut punggungnya tidak menghantam bangunan ia malah berada di dalam gelembung berukuran besar yang perlahan menurunkannya.
Saat gelembung tersebut pecah ia melihat ada seorang anak perempuan yang bermain gelembung santai tanpa ada rasa takut kalau di depan matanya ada bahaya besar. Di titik tiga, binatang yang di kenal lincah itu memberontak kuat seraya berteriak meminta di lepaskan dari ikat tumbuhan Tera.
Gadis itu menahan ikat tumbuhan menatap ke depan,"aku tidak akan melepaskannya!"seru Tera menahan ikat tumbuhan agar tidak terlepas. Monyet itu selalu memberontak membuat Tera kualahan dan akhirnya ia tidak bisa menahan kekuatannya.
Monyet itu terlepas dan ingin menghabisi Tera, gadis itu tidak bisa apa-apa ia seolah pasrah dan hanya bisa menatap monyet besar tersebut. Saat Monyet itu ingin menggenggam Tera. Ada sebuah asap putih datang lalu munculah seorang pemuda memakai topeng monyet.
Tera terkejut melihatnya lalu Kevin datang dan mengajak Tera pergi dari sini. "Mari sini Monyet, lawan barumu telah datang hahaha."tawanya meremehkan si monyet. Monyet itu mengeluarkan suaranya lagi dan menepuk dadanya seperti king kong.
Sedangkan di titik kedua kucing raksasa itu tidak ada henti-hentinya menyerang dan semua teman-teman dari SMA Strenght sudah kualahan. Lidya cuman bisa menonton memang ia sangat tidak berguna. Nyalinya tiba-tiba menciut beda sekali saat di kelas tadi dengan penuh keyakinan ia dan lainnya akan turun ke area.
Penglihatan Lidya terus melihat aura hitam di tubuh kucing itu semakin lama semakin membesar dan ia tidak tahu bagaimana menghadapi kucing ini.
"Kak Lidya!"panggil seseorang membuat Lidya terkejut mendengarnya. Suara yang sangat ia kenal dan merindukannya, berbalik badan dengan mulut menganga melihat Keno datang ke sini.
Gigi yang ada di sebelah Lidya terkejut melihat ada manusia setengah kucing. Anak laki-laki tersebut menatap ke depan.
"Wah ada anak kucing yang mengamuk. Rasanya aku ingin menantangnya."kata Keno tersenyum ceria.
"Hahaha. Itu sangat gampang sekali, Kakak. Aku kan kucing jadi bisa bertarung seperti kucing pada umumnya."kata Keno berubah menjadi kucing sepenuhnya, mata Gigi melotot melihat luar perkiraan manusia biasa. Dan ia mengira kalau ini semua mimpi, tidak ini bukan mimpi tapi nyata.
Keno berubah menjadi kucing kecil pada umumnya membuat Lidya dan Gigi ingin sekali menggendong Keno.
"Lucunya!"teriak mereka berdua kegirangan.
Lalu datanglah anak perempuan berambut pendek dengan topi pantai. Anak itu berlari mengejar Keno dan memprotes kalau Keno sudah menjadi kucing sepenuhnya.
Mendengus sebal,"Arghh kebiasaan, Keno."suara lucu anak perempuan itu membuat Gigi ingin mencubitnya sedangkan Lidya menatap anak perempuan itu yang memiliki kekuatan menambah ukuran benda di sekitarnya.
Eh, dalam hati Lidya sangat terkejut kalau ia mengetahui kalau anak perempuan itu memiliki kekuatan penambah ukuran ia juga bisa mengurangi ukuran benda normal atau kecil. Ya, ini sangat mengejutkan bagi Lidya.
Sebenarnya aku kena apa?--batinnya.
Anak perempuan bernama Ros itu menambah ukuran Keno menjadi besar seperti kucing, Miko itu. Kedua mata mereka saling beradu pandang dan menatap satu sama lain. Suara geram kucing terdengar.
Monyet dan pemuda bertopeng monyet juga saling beradu pandang satu sama lain menatap lekat musuhnya. Di titik pertama terdengar suara seruling yang di mainkan oleh seorang perempuan di atas gedung. Arka, Vin, Aska dan Charlie mendongak ke atas gedung dimana ada orang yang memainkan seruling dengan indah.
__ADS_1
Ular tersebut tiba-tiba berhenti menyerang keempat orang di hadapannya. Wajah Vin sudah penuh luka dan Arka juga seperti itu. Pakaian seragam Charlie sudah banyak yang robek sedangkan Aska hanya kotor.
Suara merdu seruling tersebut seolah menghipnotis si ular untuk diam. Perempuan itu melompat ke atas kepala ular tersebut semua orang di sana cengo melihat rasa nekat perempuan tanpa takut dengan ketinggian.
Ia memainkan serulingnya seolah menyuruh ular itu menari-nari kemudian menundukkan kepala ke Aska. Pemuda itu menatap lekat perempuan yang asing di wajahnya.
Aska menyentuh kepala ular yang ada gambar di kepala ular tersebut.
Perlahan gambar tersebut hilang bersamaan aura hitam. Perempuan keriting di kuncir kuda tersebut turun bersamaan ular itu menjadi ukuran yang seharusnya memiliki panjang 5 meter.
Di titik ketiga Yusuf berhasil mengambil sesuatu di sebelah monyet yang kini tidur pulas dan ukurannya sudah seperti ukuran normal monyet. Yusuf melihat pemuda bertopeng itu tersenyum,"terima kasih."
"Sama-sama."ucapnya tersenyum di balik topengnya.
Di titik kedua Keno dan Miko bertengkar sesekali mengeluarkan suara kucing. Ini seperti melihat kucing berantem dengan ukuran besar.
"Meow!"ucap Keno geram semua bulu-bulu kucingnya berdiri menandakan bahwa ia sangat marah. Keno mengangkat tangannya mengeluarkan cakaran hadalannya.
Mata Gigi sudah penuh air mata ketika Keno mecakar Miko, Gigi berteriak kencang, "JANGAN!"
Lidya tidak mau ambil pusing ia ingin mengakhiri semua ini. Gadis tersebut berlari kencang mengarah kedua kucing raksasa tengah berkelahi itu. Tubuh kucing ingin ambruk menimpah Lidya yang sudah tidak sempat mengelak.
Ada kupu-kupu yang melintas dan melihat ada seseorang yang tidak sempat mengelak dalam mara bahaya. Tubuh kucing tersebut berhasil menghantam tanah menimbulkan suara yang keras.
Bum.
Keno menatap tajam musuh penuh amarah ia berjalan mendekati Miko yang sudah tertunduk. Lidya merasa kalau ada seseorang yang menyelamatkan nyawanya. Tangan orang itu terasa di tubuh Lidya kalau orang tersebut melindunginya agar tidak kena gesekkan trotoar yang kasar.
Kedua mata terbuka perlahan ia melihat seorang pemuda berambut biru. Pemuda tersebut membuka sebelah matanya sedikit dan angkat bicara,"Kau tidak apa-apa?"tanyanya.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih."ucap Lidya tersenyum tipis.
"Syukurlah. Aku menyelamatkanmu tepat waktu."ucapnya lagi tersenyum tipis.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1