
Lidya berlari menelusuri lorong rumah sakit dan menemui beberapa temannya yang menunggu di luar ICU. Terlihat wajah khawatir terpampang jelas di wajah Lidya.
"Gimana keadaan Beni?"tanyanya memastikan menatap Elle dan Fitri bergantian. Ya, pemuda bernama Beni selaku ketua kelas MM1 telah mengalami koma satu hari sampai sekarang ia belum sadar.
Pandu baru sampai dan melihat Lidya memasang wajah sedih. Lidya tadi menerima sebuah pesan kalau Beni kritis dan harus ke ruang ICU padahal pemuda itu masih memiliki tanggung jawab besar memimpin kelompoknya di temani oleh wakil ketua, Pandu.
"Tenang, Lid. Beni tidak apa-apa kok. Sekarang yang di ruang ICU adalah Roro, musuh yang mengendalikan boneka ituloh."kata Fitri menghibur Lidya untuk tenang dan menjelaskan kalau yang berada di ruang ICU dari tadi adalah Roro.
"Kenapa dengan pengendali boneka, Roro? Apa yang terjadi padanya?"tanyanya bertubi-tubi.
"Hmm,"gumam Fitri yang bingung harus menjelaskan apa, ia melirik ke Elle mengkode untuk menjelaskan dengan kalimat yang tepat takutnya mulut Fitri nyerocos dan bikin Lidya khawatir.
Elle tersenyum mengerti ia menatap wajah khawatir Lidya. "Keadaan Beni sudah membaik hanya saja ia belum sadar masih koma. Yang ada di dalam ruang ICU itu Roro. Dia memiliki penyakit jantung lemah bawaan dari waktu kecil dan penyakit itu sudah lama nggak kambuh..."Elle menghela nafas sejenak, "...jadi kondisi tubuhnya sangat melemah tapi para dokter berusaha untuk semaksimalkan mungkin agar detak jantung Roro kembali normal."lanjutnya membuat Lidya sedikit menghela nafas lega.
Tadi pagi ia sangat terkejut kalau Beni dalam keadaan kritis dan di larikan ke ruang ICU ternyata bukan Beni. Tapi tetap saja, ia merasa sedih meskipun yang ada di dalam sana adalah musuhnya. Fitri angkat bicara dan menyuruh mereka berdua; Pandu dan Lidya, pergi ke ruang Tio.
"Apa yang terjadi pada Tio?"tanya Lidya sedikit takut dengan cepat Pandu berkata,"kita langsung saja kesana untuk melihat kondisi Tio."ucapnya cepat dan menarik tangan Lidya agar mengikutinya. Pandu tidak ingin Lidya memiliki tekanan besar dan beban di pikirannya atas kejadian yang semakin memburuk.
Ya, ketahuilah kalau manusia di bumi dalam bahaya karena ada penyerangan dari makhluk imajinasi. Kata Lidya, ada satu jalan untuk mengakhiri semua ini yaitu menutup kembali pintu imajinasi dan itu adalah tugas Tio.
Mereka berdua sampai di ruang Tio, melihat pemuda berambut biru sangat tenang terbaring di atas kasur. Di dalam ruangan Tio ada Hana,Riko dan juga Vin. Seperti biasa karena kedatangan Vin ruangan disini sedikit ada kesan horor.
Lidya tersenyum melihat kedua temannya sudah datang kembali. Ia menyapa Vin dan Riko dengan senyuman tulus. Gadis berkacamata itu mengatakan kalau racun di dalam tubuh Tio sudah hilang karena kinerja ramuan obat zaman dulu yang di bawa oleh Riko dari salah satu temannya.
"Obat itu bisa menghilangkan racun secara cepat dan ramuan obat itu sedang bekerja di dalam tubuh Tio. Kita hanya nunggu ia membuka mata." Jelas Riko bersandar di dinding rumah sakit menatap wajah pemuda asing yang masih menutup kedua matanya.
Lidya sangat khawatir melihat kondisi teman-temannya yang banyak terluka akibat serangan kemarin. Yakin kalau Tomma akan bersikeras mencari pangeran tumbuhan dan menyatakan perang ketika sudah bertemu empat mata.
Hana memerhatikan leher bekas cekikan di sekolah,Kak Alvan. Ia membenarkan kacamata agar tidak merosot ke bawah. Bekas cekikan yang ada di leher Lidya sudah hilang dan katanya warna merah itu tidak akan hilang makanya Lidya selalu memakai syall untuk menutupi bekas cekikan di lehernya.
Semenjak Lidya datang dari Kota mati dan memakai kalung yang bertengger di lehernya, perlahan bekas merahnya hilang--batin Hana menatap terus kalung tumbuhan yang ada di leher Lidya.
__ADS_1
"Lid. Bekas cekikan Kak Alvan udah hilang!"ucap Hana tidak percaya menunjuk ke leher Lidya.
Gadis itu memegang lehernya menatap Hana tidak percaya, "Benarkah?"balasnya memastikan.
Pandu yang ada di samping Lidya baru sadar bahwa perkataan Hana benar. Bekas cekikan waktu itu sudah hilang tak tersisa. Vin yang mendengar hal itu juga terkejut.
Lidya mengambil ponselnya dan mengecek apakah teman-temannya benar kalau bekas cekikan Kak Alvan sudah menghilang. Kedua matanya membulat sempurna, benar. Bekas cekikan itu sudah hilang membuat seulas senyum terukir di wajah Lidya.
Waktu di Kota Selatan yang kini berubah menjadi Kota Mati kata Tera kalau kalung itu bisa meredakan rasa sakit di lehernya sebab kenger, tidak tahunya tumbuhan ini juga bisa menyembuhkan bekas lukanya.
Ia melirik pemuda yang masih terbaring di ranjang rumah sakit tanpa ada rasa terganggu oleh suaranya dan juga teman-temannya. Lidya mendekat ke Tio membuat semua sorotan mata lainnya mengarah ke Lidya.
Gadis itu melepaskan kalung tumbuhannya dari lehernya dan memakaikan kalung itu di leher Tio tentu saja membuat semuanya bingung.
"Apa yang kau lakukan?"celetuk Riko pada Lidya baginya ia adalah gadis aneh.
"Siapa tahu tumbuhan itu membantu Tio sadar dari tidurnya." ucapnya memandang keempat temannya bergantian. Pandu melihat Lidya yang sangat peduli dengan orang lain seolah ia tidak ingin salah satu temannya hilang dari pandangnya.
"Apa! Teratai diculik!"Pekik Riko membulatkan matanya lebar, tidak pecaya kalau Keysa berani menculik temannya agar semua imajinasi berada di markas. Mempermudah tujuan awalnya.
Dan pandangnya mengarah ke Lidya tajam. Riko mau tidak mau harus melindungi gadis itu kalau tidak Keysa akan membunuhnya sesuai rencana. Pandu merasa Riko memerhatikan Lidya dan mengira kalau pemuda itu memiliki perasaan sama ke Lidya.
Dengan cepat pemuda berambut panjang sebahu itu menggeleng berusaha untuk mengusir pikiran negatif tersebut. Mana mungkin Riko jatuh hati pada Lidya?--batinnya.
'Kalau Keysa berhasil membunuh Lidya maka bisa gawat!'--batin Riko ada rasa ketakutan luar biasa di hatinya karena saat ia memegang tangan Keysa menelusuri beberapa dimensi waktu yang cepat.
Kota yang ia pijak bersama teman-temannya akan menjadi sebuah neraka dimana banyak sekali si jago merah melahap semua yang menghalangi jalannya. Serta teman-teman imajinasi ada yang tersiksa, di peralat dan terpisah jauh dari tempat pertarungan.
Riko bisa menjamin hal itu akan terjadi di masa depan selaku dia adalah penjelajah dimensi waktu. Ia melirik ke sebelah kanan melihat Vin yang berdiri di pojok agar aura kegelapannya tidak berefek pada teman-temannya. Hanya satu yang Riko takutkan di masa depan dimana semua teman-temannya menghadapi Keysa, gadis keji itu.
Ia menatap ke depan melihat Pandu dan Lidya bergantian. Pemuda itu berusaha melupakan bayang-bayangan itu melihat masa depan. Ketahuilah kalau melihat masa depan itu tidak segampang dan menyenangkan lebih cenderung ke tekanan.
__ADS_1
'Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku yang terus liar akan kedatangan masa depan yang mereka lewati' batin Riko membuat gadis di sampingnya menoleh.
Hana selalu membaca batin seseorang. Bisa dibilang tidak sopan tapi itu memang kekuatannya. Pandu merasa bosan disini dan pandangnya melihat Riko dengan rambut di jabrik sedang memikirkan suatu hal berat.
'Sepertinya Riko ada masalah atau dia menyembunyikan sesuatu pada yang lain',batin Pandu curiga ke Riko.
Vin berpamitan pada yang lain karena ia harus bertemu dengan Abimanyu dan Kevin dibalas angguk lainnya. Belum beberapa menit Pandu mengajak Riko ke kafe bentar,tentu saja membuat Riko terheran-heran dengan sikap Pandu yang tiba-tiba mengajaknya. Kalau di pikir-pikir lagi ia dan Pandu tidak terlalu dekat lebih tepatnya orang asing.
"Cepatlah pergi dari sini! Para cowok!"usir Hana pada kedua laki-laki yang masih berada di ruang Tio. Pandu dan Riko akhirnya memutuskan untuk pergi keluar membiarkan kedua gadis itu berada disana menunggu Tio siuman.
"Kau ini Han. Mengusir mereka seperti mengusir kucing."komentar Lidya terkekeh.
"Biasa saja kok."Jawabnya tersenyum.
"Bagimana kondisi Bening?"tanya Lidya sekadar basa-basi. Meski ia sudah berkali-kali keluar masuk rumah sakit menjenguk teman-temannya tapi tidak semua kamar ia masuki satu-satu.
Hana membenarkan kacamatanya lagi,"dia udah baikan kok hanya istirahat saja memulihkan kekuatan. Lina juga udah pulih."jawabnya santai.
Lidya mengangguk,"Alhamdulillah kalau gitu. Aku mendengarnya lega."
"Aku juga alhamdulillah. Mereka nggak kenapa-napa."
Hana dan Lidya melihat ke Tio yang masih belum ada gerakan sama sekali. Beberapa menit menunggu. Dahi pemuda tersebut berkerut dan jari tangannya bergerak menandakan kalau Tio sudah sadar tentu saja membuat Lidya tersenyum begitupun dengan Hana.
"Tio Siuman!"ucap Lidya riang sebab ia sudah tidak sabar buat nyusun rencana dan Lidya juga sudah membawa gantungan kunci sesuai janjinya. Walau gantungan kuncinya tinggal dua buah lagi menuju 'ke damaian'.
Kedua matanya terbuka melihat dua obyek perempuan yang mengukir senyum di samping ranjangnya. Mimik wajah mereka sangat senang melihat ia sudah siuman dari racun lebah itu.
"Lidya, Hana."panggil Tio suara pelan mengukir senyuman tipis.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung....