
10 tahun yang lalu...
Ada sebuah kecelakaan di sebuah jalan tol, kecelakaan tunggal dan menewaskan dua orang--suami istri. Berita tersebut menjalar cepat di kedua telinga seorang anak laki-laki, ia membulatkan kedua matanya mendengar berita itu kalau kedua orang tuanya meninggal dunia.
Sebelum kecelakan itu terjadi, anak tersebut sudah meminta kedua orang tuanya jangan pergi meninggalkan anak itu sendirian di rumah. Namun kedua orang tuanya tetap saja pergi tanpa membawa anak itu dan beberapa jam kemudian ia mendapatkan berita tidak sedap itu.
Satu minggu berlalu setelah meninggalnya kedua orang tua anak laki-laki itu. Anak yang masih kecil yang sudah menjadi anak yatim piatu harus ikut ke rumah neneknya. Ia berada di lingkungan baru dan sekolah baru, anak itu pikir akan mendapatkan teman baru sebanyak di sekolah lama.
Tetapi ia tidak seperti di perkiraan perlahan waktu berlalu dan anak tersebut tidak dianggap keberadaannya, semua orang mengabaikannya, aura menyindiri seolah singgah dalam tubuh anak itu. Wajah yang dulu berekspresi sedih dan senang kini tidak menunjukkan ekspresi tersebut. Apa anak itu penyakitan? Jawabanya tidak! Karena ia tidak pernah diajak bersosialisasi dengan teman-temannya, anak itu akan bicara jika bersama neneknya saja kalau sama orang lain ia akan diam.
Berapa bulan berlalu neneknya meninggal karena usia beliau sudah tua dan tidak bisa melihat cucunya bertumbuh dewasa. Semakin anak itu bertumbuh besar semakin menjadi dan berpikir bahwa dunia itu jahat pada dirinya. Ia merasa sedih dan kecewa saat itu.
Ketika berada di rumah sedang membereskan rak-rak buku yang berjajar. Ia menemukan buku yang sudah lama tertindih buku baru dan buku tersebut sudah robek serta tinta disana sudah mengabur. Anak itu terus membaca buku asing tersebut dan menemukan sebuah tulisan. Tulisan seperti aksara jawa dan disampingnya terdapat gambar gapura terbuat dari batu, diatas batu-batu itu ada tulisan aksara jawa itu. Tanpa berpikir panjang anak tersebut berusaha mencari lokasi gapura tersebut.
Angin malam yang sudah berhembus kencang membuat daun-daun pohon menari-nari dan suara jangkrik yang mengusir suara sunyi. Anak laki-laki tersebut berjalan seorang diri mencari gapura batu tersebut.
Krik.. Krik.. Krik.
Banyak sekali suara-suara hewan pada malam hari dan anak laki-laki itu tidak takut sama sekali, dan terus melangkahkan kedua kakinya--mata cokelat gelap terus menatap ke depan. Semakin lama semakin bertambah gelap suara langkahnya terdengar begitu jelas setiap ia melangkah, ia sedari tadi tidak beristirahat sejenak.
Tidak sadar bahwa Mentari pagi segera muncul dan anak tersebut masih berjalan menuju ke tujuan utama tanpa ada keluhan sama sekali. Tatapan matanya melihat ada tanda batu yang mengarah ke arah kiri, anak itu berbelok ke arah kiri. Jalanan yang di lewatinya sangat sepi karena sudah jauh dari kota maupun desa bisa disebut di dalam hutan yang terdapat banyak sekali pohon-pohon rindang nan tinggi. Semak-semak panjang dan banyak sekali batu besar.
Ia melihat batu seperti gapura dan disana ada tulisan seperti aksara jawa persis seperti yang ada di bukunya. Anak itu memandang ke depan kosong lalu melihat ke buku di genggamannya. "Hanarabo Jikada Saka."ucap anak itu membaca setiap kalimat yang ia sama sekali tidak ia mengerti.
Tidak ada efek sama sekali dari batu-batu bertuliskan itu. Tiba-tiba tanah berguncang seperti ada gempa, tubuh kecil anak laki-laki itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur, kedua tangannya sebagai menyangga tubuh agar tidak nyosor.
Batu tulisan itu mengeluarkan cahaya dan tulisan itu terbang ke atas udara seperti kupu-kupu yang keluar dari kempompong. Anak itu menganga melihat tulisan-tulisan tersebut terbang seperti kupu-kupu memutari atas kepalanya. Lalu munculah seperti pintu antara dunia dan dunia lain membuat anak itu bangkit berdiri mencoba mengulurkan tangannya masuk ke pintu seperti cermin berwarna hijau.
Tangannya terasa dingin lalu di tariknya kembali membuat seulas senyum terlukis di wajahnya. Anak itu masuk ke dalam sana dan kedua matanya di suguhkan pemandangan begitu indah. Banyak sekali pohon-pohon rindang dan air mancur di sana.
Senyuman yang dulu menghilang kini terlahir kembali, rasa bahagia dan sedih yang dulu sirna dalam dirinya sekarang kembali lagi. Tubuhnya bersinar terang, wajah yang datar sekarang seperti dulu berekspresi. Ia menatap pantulan bayangan dari air mancur itu.
__ADS_1
"Aku merasa lahir kembali."ucapnya tersenyum bahagia.
Wus.. Wus..
Suatu benda melesat cepat diatas kepala anak laki-laki itu rasanya seperti hanya tinggal sejangkal dari atas kepalanya. Ia mendongak mendapati piring terbang yang diatasnya terdapat pemuda memakai jubah hitam dan membawa seperti gulungan kertas sebagai setir. Ada sebanyak tiga piring terbang di sana. Mereka pemuda-pemuda itu tidak menyadari keberadaan dirinya.
Lalu tak lama kemudian ada makhluk gagah berani dengan sayap putih, tatapannya tajam bak elang. Di tangannya terdapat pedang putih seperti sayap milikinya lalu manusia setengah elang itu terbang ke udara dengan kecepatan tinggi.
Anak itu berjalan menulusuri tempat apa yang di pijaknya ini. Suasana sangat damai dan menyenangkan hati untuk siapa saja yang datang berkunjung akan terkesima dan bisa melihat apa yang ada di dalamnya. Lalu ada suara seperti orang yang melompat ke pohon satu ke lain, ia berpikir bahwa ada ninja disini ketika mendongak anak itu melihat ada dua orang gadis dan pemuda memakai baju jubah putih tengah melompat ke pohon satu ke pohon lainnya. Sambil mengobrol tentang sesuatu.
Tiba-tiba muncul penyihir yang menunggangi sapu terbangnya asal dan hampir saja mengenai anak laki-laki itu untungnya ada menarik pergelangan tangannya, bersembunyi di batang pohon besar.
Anak laki-laki itu terkejut mendapati pemuda berjaket musim dingin dan ada bulu domba disana asli,ia adalah Joe. "Sebelumnya aku tidak pernah melihatmu?siapa kau dan darimana asalmu? Apakah kau seorang penyihir atau makhluk bersayap dari Elang,Merpati, kelelawar, burung hantu atau naga."ucap pemuda di depan nya yang tidak memiliki sopan santun sedikit pun. Pemuda berjaket itu memegang lengan kecil anak itu,"kau kecil sekali! Apa kau belum makan selama satu tahun?"lanjutnya menatap wajah kesal tidak suka.
"Kau tidak punya sopan santun ya? Apa kedua orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun?"omel anak laki-laki itu berkacak pinggang ia tidak peduli dengan umurnya masih muda mengomeli orang yang jauh lebih tua darinya.
Dahi Joe berkerut tidak mengerti apa yang dikatakan anak laki-laki ini. "Apa arti orang tua?aku sama sekali tidak mengerti?"tanyanya balik.
"Huh, orang tua itu dimana mereka berdua merawatmu sejak lahir. Pertama ibu yang melahirkanmu ke dunia dan yang kedua ayah, orang yang akan mendidikmu menjadi pemuda yang berguna. Apa kau paham?"jelasnya dibalas angguk Joe.
"Kau bilang tidak tahu orang tua itu apa dan siapa? Sekarang malah jawabanya tahu! Argh."jawabnya kesal di balas kekehan Joe, "aku bercanda. Ngomong-ngomong kau kesini mau ngapain dan siapa nama mu?"tanya Joe menyuruh anak laki-laki itu berjalan mengikutinya. Anak laki-laki berusaha mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah Joe.
"Namaku Tio Wulan Sandi. Aku datang kesini untuk buku yang aku temukan di rumah nenekku saat beliau sudah meninggal."jawab Tio jujur sambil menydorokan buku ke pemuda yang bisa dibilang tampan.
Joe tersenyum menyunggingkan senyuman manis membuat orang yang melihatnya gemas. Di bukanya buku itu tiba-tiba keluar berapa banyak sinar warna-warni dengan aura sedikit hitam di sisinya keluar dari buku itu dan benda itu keluar di dunia nyata. Joe melotot kalau pintu yang selama ini tertutup rapat kini terbuka lebar dan tentunya sudah menyambung ke dunia manusia.
"Gawat!"seru Joe langsung lari cepat. Tio juga ikut mengikuti Joe lalu Tio menghentikan langkahnya karena pemuda tadi tiba-tiba menghilang dari pandangnya. Tio mulai ketakutan dengan dunia ini yang Indah tapi semua itu menyeramkan.
Tio berlari kembali ke dunia manusia meninggalkan dunia imajinasi yang pintunya terbuka lebar dan tidak bisa tertutup kembali.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Lidya yang mendengar cerita panjang itu heran, mengapa pintu itu tidak tertutup rapat. Joe menghela nafas panjang,"kata guru, setelah anak laki-laki Tio itu keluar. Ada ada dua gadis dengan ekspresi berbeda dan maksud berbeda. Salah satu gadis itu telah memberi janji pada salah satu batu perjanjian. Jadi makhluk yang ada di dalam sana termasuk aku, tidak bisa apa-apa lagi. Aku adalah pemimpin di imajinasimu."jelas Joe membuat mulut Lidya menganga. Kalau begini jadinya ia tidak akan bisa tidur dan harus menghadapi murid kekuatan itu. Lidya takut kalau ada manusia yang ingin menangkap teman-teman yang memiliki kekuatan.
__ADS_1
"Setahu kamu Joe. Imajinasinya siapa saja yang hidup? Karena ada beberapa temanku yang memiliki kekuatan yang bukan tokoh yang kubuat."tanya Lidya memasang wajah khawatir serta bingung harus ngapain. Dunia dalam bahaya sekarang.
"Nah itu..."kata Joe tersenyum, Lidya menatap pemuda itu meminta jawaban yang memuaskan dari mulut kecilnya itu,"...aku tidak tahu. Setiap imajinasi dan kekuatan berbeda-beda. Ada yang tinggi dan ada yang rendah ada juga yang sedang. Mungkin ini di bagi 4 imajinasi."lanjutnya mengira-ngira.
"Apa 4 imajinasi!"teriak Lidya sedikit shock kalau di dunia ini ada 4 imajinasi yang hidup menjadi nyata. Ia tidak tahu,3 imajinasi itu darimana--Lidya pikir hanya 3 imajinasi yang hidup.
"Kamu hanya menjalankan hidup sehari-hari seperti biasa dan tidak boleh shock apa yang di lakukan teman-temanmu. Sikaplah biasa saja karena setiap mata akan memperhatikanmu dan ada yang memata-mataimu!"ucap Joe memperingatkan Lidya, meletakkan satu toples berisi kan gula yang tinggal sedikit. Lidya tadi mengisi gulanya penuh, sudah habis dalam sekejab.
Lidya memeluk Joe erat karena takut terjadi apapun pada dirinya. "Joe beritahu aku. Mengapa aku harus bersikap biasa saja?dan siapa yang memata-matai ku."ucap Lidya membisik dan terus memeluk Joe takut.
Joe tersenyum,"karena ada berapa musuh yang penasaran dengan imajinasi. Mereka akan terus ingat apa yang mereka lihat beda lagi sama manusia biasa lainnya. Mereka lebih berbahaya dan bisa-bisa mereka akan mencelakaimu."ucapnya memberitahu Lidya. Gadis itu tahu kalau Joe hanya memberitahunya untuk berhati-hati bukan menakut-nakuti nya tapi rasanya nyali Lidya benar-benar menciut.
"Mengapa mereka mencelakaiku?"tanya Lidya nada ketakutan.
"Karena kamu adalah penulis yang imajinasi hidup di dunia nyata. Kalau penulis itu mati maka imajinasi yang kau ciptakan ikut mati tidak bisa menjadi nyata seperti ini. Hanya nyata dalam buku saja."Jelas Joe lagi membuat Lidya tercengang mendengar ini, ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Joe memasang wajah sedih dan senang.
"Kau harus jaga imajinasimu dan dirimu sendiri karena ada beberapa imajinasi yang merasakan alone dan ada juga hero. Kau harus membujuk imajinasi yang sering terlihat alone dan harus kau cari pasangan yang selalu melengkapi karena imajinasi alone sangat mudah putus asa dan paling fatal adalah bisa ikut arahan musuh."jelas Joe lagi ke Lidya sebelum pemuda tampan dan menggemaskan tersebut pergi meninggalkan Lidya sendirian di sana.
Dari ribuan imajinasi yang tercipta dalam seluruh dunia hanya ada empat imajinasi yang menjadi nyata dan imajinasi-imajinasi tersebut masuk ke dalam raga anak -anak hingga orang dewasa tergantung.
Pertama, Alone Imagination. Imajinasi ini adalah tingkat paling rendah karena ia akan menampilkan sifat penyendiri,pendiam, mudah putus asa dengan artian berlebihan tidak ingin mencoba lagi dan gampang di kelabuhi oleh seseorang.
Kedua, Drak Imagination. Imajinasi yang memiliki aura menyeramkan dan kehidupan kegelapan. Ini imajinasi yang tidak berbeda jauh dengan Alone Imagination. Drak Imagination ini lebih menonjol ke sifat percaya diri bahwa dirinya bisa dan membuktikan kalau ia bisa menyelamatkan orang meskipun orang itu takut padanya atau sampai tidak diangap keberadaannya. Tentunya mereka juga tidak akan bisa di pengaruhi oleh musuh.
Ketiga,Together Imagination. Imajinasi ini tingkat pertengahan antara kekuarangan dan kelebihan intinya ini kekuatanya saling melengkapi satu sama yang lain. Mereka juga tidak bisa dengan mudah di pengaruhi oleh musuh karena sifat kecerdikan mereka meskipun oon minta ampun. Pasti ada perkataan tidak terduga keluar dari mulutnya.
Keempat, Hero Imagination. Ini Imajinasi yang paling tinggi dari imajinasi diatas. Setiap kali mengeluarkan kekuatan maka orang lain akan Wow melihatnya. Hero Imagination lebih menyembunyikan identitas mereka. Dan mereka juga tidak gampang pengaruh oleh musuh. Hero Imagination juga memiliki aura positif kalau Drak Imagination memiliki aura negatif.
Intinya saling melengkapi satu sama yang lain.
Lidya menatap luar jendela menatap bintang dilangit sangatlah indah. "Semoga besok lancar seperti biasa tidak ada kerusuhan sama sekali."ucapnya berharap.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung...