
Lidya mengeluarkan benda yang tadi berkelap-kelip,semua terkejut bahwa benda yang berkelap-kelip tadi adalah pensil yang di temukan oleh Aska.
Semua terheran-heran dengan pensil itu. Arkan mendekat dan mencoba untuk dilihat bagian pensil tersebut. "Kenapa pensil itu bisa berkelap-kelip seperti itu. Kan tidak ada lampunya?"tanya Fitri bingung, matanya tetap fokus ke pensil itu.
Dahi pemuda berkacamata itu mengerut, melihat pensil dari dekat. Tidak ada apapun di sana. Pensil ini seperti pensil pada umumnya tidak ada alat yang terpasang dan tidak ada satu pun lampu yang melilit di pensil itu tapi kenapa bisa berkelap-kelip.
Lidya diam sejenak dan meminta kembali pensil itu, "nanti, aku cari kenapa bisa seperti itu."jawabnya meletakkan pensil itu kembali ke dalam saku.
"Memangnya kau mengerti? Apa yang terjadi pada pensil itu?"tanya Riko dingin. Fitri menoleh mengarah ke pemuda yang dingin dan seenak jidatnya melontarkan kata-kata kasar tanpa menyaring.
"Sudahlah, kau diam saja. Jangan berkomentar. Aku tahu, setiap kalimat yang kau lontarkan itu kata-kata pedas."ucapnya menyindir Riko, melirik tatapan tidak suka. Riko hanya menghela nafas dan berbalik badan malas mendengar gadis cerewet.
Ia menoleh ke arah Fitri sedikit,"dasar gadis cerewet."gumamnya mengantongi dua tangannya ke saku. Fitri yang masih bisa mendengar gumaman Riko protes.
Beni hanya menggeleng melihat mereka berdua sedangkan Anggi hanya bisa terkekeh. Ia mengajak yang lainnya untuk berlatih kekuatan dibalas anggukkan lainnya. Lidya hanya bisa menonton mereka yang sibuk latihan kekuatan sedangkan ia sendiri hanya duduk seraya mengambil pensil tadi yang tiba-tiba berkelap-kelip.
Dua pemuda saling beradu pandang serius. Pandu meluncurkan pukulan mengarah ke pemuda di hadapannya dengan sigap pemuda tersebut berhasil menghindar dari serangan.
"Arg, rasakan ini!"pemuda berambut panjang itu kembali meluncurkan tinjuannya ke pemuda yang selalu menghindar dari serangan lawan.
"Ayo, Aska. Lawan aku! Jangan menghindar terus!"kata Pandu menatap lawannya. Aska menggeleng,"kekuatanmu lebih kuat dari kekuatanku jadi aku akan terus menghindar."jawabnya.
Pandu terus menyerang dan Aska terus menghindar belum berani melawan. Sedangkan di sisi lain Anggi menyerang Beni dengan senjata cakranya dan Beni terus menghindar tanpa ada perlawanan.
Arkan menguji robot miliknya. Fitri berlari mengelilingi sekitar dan menantang pemuda bernama Riko yang diam mencoba untuk menghiraukan kicauan dari Fitri. Lidya hanya terkekeh dan menatap pensil di genggamannya lamat-lamat.
Seandianya dia memiliki kekuatan seperti teman-teman atau setidaknya kelebihan seperti Arkan, ia tidak akan berdiam diri disini---menonton atau melihat hutan yang lebat ini. Lidya ingat sesuatu, ia mencari sesuatu di mobil Pandu. Sebuah kertas kosong atau apapun, ia ingin sekali menggambar sesuatu daripada hanya duduk saja dan menonton mereka yang asik latihan kekuatan.
Gadis itu menemukan sebuah kertas kosong sekiranya ada dua kertas seulas senyum terukir di bibir mungil Lidya. Kedua kakinya berjalan dan memilih duduk menghadap semua teman-teman yang latihan.
"Hmm, gambar apa ya? Aku sudah lama tidak gambar."gumam Lidya melihat ke atas langit banyak dedaunan dan ada beberapa burung kecil bertebangan di sana. Akhirnya Lidya memilih untuk menggambar burung yang banyak.
Aska sudah lelah menghindar dari serangan Pandu nafasnya sudah tersengal-sengal melihat Pandu tersenyum miring ke arahnya dan siap ancang-ancang mengakhiri latihan. Tanpa menunggu persiapan Aska, Pandu berlari dan mengepalkan tinjunya mengarah ke Aska.
Mata pemuda itu melebar dan seketika menjadi berwarna abu. Refleks menghindar dari serangan Pandu, pemuda itu terkejut--matanya terbelalak. Aska berbalik dan menyentuh punggung Pandu hanya dengan jari telunjuk,Pemuda itu langsung tumbang.
Arkan yang melihat latihan bertarung Aska dan Pandu bersorak seru membuat yang lain menoleh. Lidya yang menggambar pun memandang ke depan melihat Aska berhasil mengalahkan Pandu.
Mata Aska kembali sedia kala dan ia melihat Pandu sudah kalah. Ia sedikit tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi. Arkan menghampiri mereka berdua perasaan senang, "wow, bagaimana caranya kau mengalahkan Pandu?"tanya Arkan.
Pandu mencoba bangkit berdiri walau ada rasa sakit,berdiri tegak dan berbalik menghadap Aska.
"Hmm, aku tidak tahu."jawab Aska ke Arkan. Tentu saja membuat pemuda itu kaget.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau mengalahkanku dengan satu jari telunjuk saja?"tanya Pandu to the point. Ia benar-benar terkejut. Beni, Anggi dan Fitri menghampiri mereka bertiga.
"Ada apa?"tanya Beni.
"Aska, mengalahkan ku hanya menyentuh punggungku dengan jari telunjuknya."kata Pandu membuat semua kaget.
Lidya sangat penasaran apa yang mereka bicarakan tapi ia tidak akan meninggalkan pekerjaan menggambarnya karena hampir mau selesai. Gadis itu dengan cepat menggambar sedikit bagian sayap burung.
"Kok bisa seperti itu?"tanya Beni yang masih belum mengerti. Arkan menggeleng ia tidak bisa membuka internet kalau tempatnya di hutan belantara ini.
"Kita udah satu hari disini dan sekarang kita belum bisa kembali. Padahal besok udah waktunya masuk."celetuk Anggi membuat semua terkejut menatap sekertaris kelas itu.
"APA!"pekik mereka kompak.
Yang lain kebingungan untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. "Duh bisa gawat nih kalau kita tidak keluar dari sini."ucap Fitri sedikit panik. Ia menoleh melihat Lidya tengah asik mengerjakan sesuatu di samping mobil Pandu.
"Oi, Lidya. Kau sedang apa?"teriak Fitri pada gadis yang masih menggambar.
"Gambar sesuatu nih."jawab Lidya berteriak juga tanpa melihat lawan bicaranya dan terus menggambar.
Riko menghela nafas berat ia sedari tadi diam dan meyandarkan punggung di mobil. Penglihatannya mengawasi semua teman-teman yang tidak terlalu akrab dengannya dan ini baginya sangat membosankan.
Mereka berenam melihat Lidya menggambar burung dengan pensil yang di temukan, di hutan ini. Akhirnya Lidya berhasil membuat gambar burung sebanyak delapan.
"Wah, gambaranmu lumayan bagus."puji Pandu.
"Apalagi aku, yang tidak bisa menggambar hoho."sahut Anggi pura-pura sedih. Fitri menepuk bahu pelan Anggi, "tidak apa-apa. Kapan-kapan aku akan mengajarimu menggambar."sahutnya dibalas lirikkan datar Anggi.
"Memangnya kau bisa menggambar?"tanya Anggi memastikan kalau perkataan Fitri barusan.
Gadis itu terdiam dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm, nggak juga sih--aku aja tidak pernah menggambar. Waktu TK--aku sering nangis kalau pelajaran menggambar."kata Fitri terkekeh, Anggi menatap datar dan melipat kedua tangannya.
"Hmm."gumam Anggi.
Yang lainnya tertawa melihat adu mulut mereka berdua. Pandu angkat bicara, "dan sekarang bagaimana caranya kita bisa kembali ke rumah kalau besok waktu kita masuk sekolah."
"Eh?"kata Lidya baru sadar bahwa besok waktunya masuk sekolah. Biasanya kalau mau sekolah masuk ia akan menyiapkan semua peralatan alat tulis baru karena jujur,kebanyakan hilang.
Arkan menoleh kearah Aska, "katanya kekuatan mata abumu bisa memindahkan kita kembali ke tempat asal."katanya dibalas angguk Aska pelan.
"Ya, itu memang benar. Tapi aku susah membangkitkan mata abu itu. Tadi aku menyerang Pandu gegara mata abu itu bangkit dan berhasil mengalahkannya. Tapi seperti dikendalikan oleh kekuatan itu sendiri."jelas Aska pada yang lain, menghela nafas kasar.
"Harusnya aku yang memiliki harapan untuk kalian kembali ke rumah."lanjutnya pelan nada putus asa.
__ADS_1
Beni berpikir dan mencoba untuk berjalan-jalan bentar lalu kembali menghadap ke lain. "Harusnya kita dulu melatih kekuatan kita sejak awal dan bisa mengendalikan kekuatan itu sehingga tidak terjadi seperti ini....susah mengendalikan."
Pandu mengangguk,"aku setuju."
Sebuah sinar muncul dari kertas di hadapan Lidya membuat mata silau. Secara tiba-tiba gambar burung yang Lidya Gambar muncul dari kertas dan terbang mengelilingi teman-temannya, burung hitam. Semua terkejut termasuk Riko.
Apa yang terjadi kenapa gambar itu bisa muncul dari kertas?--ini sangat tidak masuk akal?,pikir Riko.
"Eh kayaknya aku punya ide."celetuk Lidya membuat yang lain menatap Lidya.
"Apa?"tanya Fitri.
Semua teman-temannya menyuruh masuk ke dalam mobil. Lidya duduk di sebelah pengemudi dan menoleh kebelakang memastikan mereka sudah siap. Riko diam dan ingin tahu apa yang ada di pikirkan oleh gadis itu, dengan tiba-tiba menyuruh semua masuk ke dalam mobil.
Lidya memberi instruksi Pandu untuk menyalahkan mesin mobilnya. Arkan sangat penasaran apa yang dipikirkan oleh gadis itu.
"Kenapa kau menyuruh kami masuk ke mobil?"
"Sstt, aku sedang berpikir keras."kata Lidya menyuruh mereka diam dan segera menggambar sesuatu di balik kertas kosong itu. Pandu sekali melirik apa yang digambar oleh Lidya.
Dahinya mengerit, pintu.
Yup, Lidya menggambar sebuah pintu besar dan di pinggir pintu itu ada hitam-hitam atau lebih tepatnya sisi gelap. Ia teringat dengan satu ceritanya yaitu ada yang memiliki kekuatan kegelapan yaitu pengendali portal hitam yang bisa keluar masuk tempat yang ia mau.
Pandu terus mengamati apa yang di gambar oleh gadis di sampingnya itu. Lidya berseru bahwa yang di gambarnya selesai juga dan teman lainnya ikutan senang. Tiba-tiba tepat di depan mobil terdapat sebuah pintu hitam dan memiliki aura gelap disana.
Semua yang ada di dalam mobil melongo melihat portal di depan itu. Riko tercengang melihat portal itu, bagaimana bisa?--ia sedikit berdiri melihat Lidya yang tersenyum melihat teman-temannya yang senang.
Aska merasakan ada aura dimana seperti awal yang semua orang di masuki seperti bayangan hitam. Kedua matanya kembali abu dan menoleh ke belakang disana ia melihat bayangan yang mau menuju ke mobil sontak saja Aska berteriak menyuruh Pandu menancapkan gas sebelum terlambat.
"PANDU CEPAT TANCAP GASNYA MASUK KE PORTAL ITU!"teriaknya.
Pandu yang terkejut langsung menginjak pedal gas dan membuat semua di dalam mobil terkejut. Mobil itu melaju kencang masuk ke portal tersebut.
Sling!
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
A/n
Aku mau kasih tahu ke pembaca kalau cerita ini akan fokus mengarah ke konflik berat yang akan datang jadi kebanyakan imajiansi lain akan sering menunjukkan aksi bertarung. Tenang saja, aku bakal kasih enjoy kok:) , see you.
__ADS_1