
Meika berlari dan menyerang Yusuf menggunakan aura kegelapan yang berwujud shadows. Sebanyak sepuluh shadows itu terbang menyerang Yusuf. Yusuf yang tidak sadar dengan serangan tiba-tiba terjatuh.
"Matters Magic Joe!"seru Yusuf seketika di bawah sudah ada kasur empuk bak kapas,tubuhnya berhasil mendarat mulus sehingga Yusuf tidak mengalami patah tulang. Ia mendongak melihat pemandangan yang awalnya udah tidak bagus di tambah lagi tidak bagus.
Rasanya ia ingin melihat salju secepatnya. Namun, di tempat tinggalnya ini adalah daerah tropis jadi tidak ada salju, musim semi, musim gugur hanya ada musim panas dam musim hujan. Yusuf kembali terbang dan meninju shadows itu dengan kepalan tinju, Magic Joe.
"Power Fist Magic Joe!"seru Yusuf. Kepalan tangan tinjunya mengeluarkan cahaya biru membentuk api. Dengan sekuat tenaga Yusuf berhasil mengalahkan semua shadows yang menghalangi jalannya. Kedua mata biru indahnya melihat ke bawah melihat ada seorang gadis nampak geram padanya.
Dalam hati Yusuf menebak bahwa gadis itu yang menyerangnya memakai shadows dari aura gelap miliknya. Yusuf turun ke bawah menghadap Meika yang sudah menatapnya jengkel. Yusuf tersenyum miring tipis melihat gadis di depannya, ia ingin menyerangnya namun ada sesuatu yang menolak untuk tidak menyerang gadis itu--Meika.
"Beraninya kau ingin melawan tuanku lebih dulu daripada anak buahnya!"katanya penuh jengkel. Sorotan mata gadis itu menatap tajam pemuda berambut blonde, memakai jaket serbah biru tidak hanya jaketnya berwarna biru, iris matanya juga warna biru cerah.
Pemuda di hadapannya ini malah tertawa bak orang gila membuat Meika ingin sekali naik pitam dan menyerang pemuda yang pernah ia habisi. Sadar,Meika membelakkan matanya menunjuk kalau pemuda di hadapannya ini sempat ia habisi waktu itu.
"Kau!"ucapnya menunjuk,"kau! Kenapa kau tidak mati ha! Bukannya aku sudah meledakkanmu waktu itu!"teriak Meika tidak percaya dan sadar kejadian waktu itu. Ia ingin mengelabui seorang pemuda misterius memakai masker. Namun sayangnya dia menciptakan perkelahian kecil dan bertemu dia serta Dea.
"Benarkah. Apa waktu itu kau membunuhku?"tanya Yusuf balik pura-pura melupakan kejadian itu. Ia melangkah maju berusaha mendekati Meika, menyadarkan gadis itu untuk sadar kalau selama ini ia di bodohi oleh Keysa. Demi tujuan utamanya. Ia mengambil kekuatan lemah dari yang lemah buat membantunya.
Meika berjalan mundur sesekali menelan silvanya. Ia berusaha untuk fokus dan mengeluarkan tiga shadows sekaligus membuat langkah Yusuf berhenti. Aura kegelapan Meika sangat kuat, Yusuf akui itu.
"Aku akan membunuhmu!"ucap Meika yang sudah diselimuti oleh kegelapan di tubuhnya. Yusuf melangkah mundur dan memasang kuda-kuda. Ketiga shadows itu menyerang Yusuf secara bersamaan.
"Sword Magic Joe!"seru Yusuf dari kedua tangannya keluarlah dua pedang sama-sama panjang. Lalu Yusuf dengan sigapnya memotong shadows itu dengan pedang, Magic Joe.
Ia melewati dua shadows itu dengan kedua pedang yang sudah memotong dua bagian tubuh shadow itu. Kemudian ia menusuk kedua pedang di shadows yang ada di hadapannya. Awalnya Yusuf sudah berhasil mengalahkan ketiga shadows itu. Yusuf menang dalam perkelahian kecil ini.
Meika tersenyum miring ia mengembalikan ketiga shadows itu seperti sedia kala tapi kini kekuatan mereka bertambah. Yusuf menoleh dan melotot melihat ketiga shadows itu menyerangnya bersamaan. Yusuf yang tidak sempat buat mengelak akhirnya kalah. Ia jatuh tersungkur memegangi perutnya yang sakit dan ada beberapa aura gelap masuk ke dalam tubuh Yusuf.
Meika merasa senang bisa mengalahkan Yusuf dengan kekuatan terkuatnya. Tiba-tiba Meika merasa sakit yang sama seperti Yusuf, bagian perut.
Di sisi lain Lidya yang baru sadar dari pingsanya akibat mengeluarkan gambaran besar sekaligus memerintahkannya buat menyerang, perlu energi yang kuat. Tiba-tiba saja perutnya terasa sakit seperti mendapatkan pukulan tiga orang sekaligus. Lina yang ada di samping Lidya sedari tadi semakin khawatir.
"Lid. Kau tidak apa-apa?"tanyanya ke Lidya, ia tidak tahu apa-apa dalam situasi begini.
__ADS_1
"Ouh, sepertinya aku mendapatkan tiga pukulan dengan orang berbeda-beda, bersamaan. Sehingga perutku terasa sakit."jawab Lidya membuat kedua mata Lina melotot tidak percaya padahal Lidya baru saja sadar dan bisa mengatakan hal yang tak masuk akal.
"Kau baru saja sadar dari pingsan setelah mengeluarkan ular naga, mana mungkin kau mendapatkan tiga pukulan sekaligus dari orang berbeda-beda."kata Lina masih nggak percaya.
Lidya hanya diam mendengar ucapan Lina barusan. Apa mungkin gara-gara imajinasinya saling beradu, bisa jadi. Ia teringat kata-kata Joe(sebelum berada di dalam tubuh Yusuf) mengatakan kalau musuh membuat imajinasi kalah maka penulis akan mati. Begitupun sebaliknya jika penulis mati maka imajinasi yang pernah ia ciptakan akan menghilang.
Susah di masuk akal. Lidya selaku penulis, ia tidak akan membiarkan musuh yang berhasil bangkit di dunia ini, menguasai dunia dan melanjutkan pembalaskan dendam pada Pangeran Tumbuhan. Apakah 100 abad belum cukup sampai-sampai di hentikan selama 500 tahun yang lalu.
Lidya sendiri juga tidak sebegitu paham sebab bukunya itu sengaja tidak ia tulis secara rinci. Planet bernama Elementer, planet sama persis seperti bumi hanya saja orang, hukum,hewan,alam,cuaca di sana jauh beda dari bumi. Orang-orang yang tinggal di sana dominan memiliki kekuatan sesuai kekuatan raja dan cuaca di wilayah itu.
Setiap masuk ke dalam wilayah satu ke wilayah dua maka ada garis perbatasan. Selama perjalanan masuk harus mendapatkan rintangan dari hewan-hewan setiap wilayah atau bisa disebut 'penjaga berbatasan wilayah'. Seingat Lidya, kekuatan di planet elementer terdapat tujuh kekuatan.
-Api
-Air
-Tanah
-Listrik
-Angin
-Cahaya
Dan disana juga ada tempat dimana banyak binatang buas salah satunya srigala. Wilayah itu, wilayah mati, tidak ada cahaya, hanya kegelapan, serta tidak ada kehidupan seperti air dan tumbuhan.
Lidya mencoba mengingat alur cerita yang berbeda, buku pertama dan buku kedua. Alur keduanya sangat berbeda. Buku pertama--menyelamatkan wilayah api dan listrik sedangkan buku kedua melawan orang yang menjelajah waktu. Di buku pertama Lidya tulis kalau salah satu temannya tiba-tiba memiliki kekuatan tumbuhan dan ia bisa datang kalau seseorang mengingatnya lebih.
"Kalau tidak salah buku pertama atau buku kedua ya? Dia sadar dan mengatakan kalau ia adalah pangeran tumbuhan yang hilang. Dan itu masih ada sangkut pautnya di Planet Elementer."celetuk Lidya tiba-tiba membuat Lina mengerit bingung, menaikkan sebelah alisnya mendengar Lidya mengatakan itu secara tiba-tiba.
"Maksudnya?"tanya Lina.
Lidya menoleh ke arah Lina tersenyum,"kalau aku memikirkan pangeran tumbuhan terlalu berlebihan. Ia akan muncul di sini karena musuh kita mencari pangeran tumbuhan."
__ADS_1
"Serius? Bagaimana kau bisa tahu,Lid?"tanya Lina balik sedikit heran.
"Karena peperangan ini ada sangkut pautnya dengan buku-buku yang aku sengaja ku gantungkan. Di akhir cerita."kata Lidya serius mencoba mengingat-ingat pangeran dan mencoba menahan sakit yang ada di perutnya.
Kembali ke tempat Yusuf dan Meika. Mereka tidak henti-hentinya menyerang walau tubuh sudah terluka.
"Water Shiled, Magic Joe!"seru Joe menyilangkan kedua tangannya menahan serangan bertubi-tubi Meika dari shadowsnya. Kedua kaki Yusuf terus mundur tapi pemuda itu terus bertahan, menahan agar tidak jatuh. Kedua mata Yusuf terpejam dan melangkah ke depan menghalau serangan Meika.
Ia ingin menyadarkan Meika tapi bagaimana?. Meika terus menyerang Yusuf tanpa henti dan akhirnya perisai air Yusuf pecah membuat ia terpental dan Meika juga terpental menatap bangunan di belakangnya.
Lidya meringis kesakitan membuat Lina bertambah khawatir. Ia harus mencari pertolongan sihir untuk mengobati Lidya. "Kau tidak apa-apa? Lid. Aku akan pergi bentar buat mencari penyihir penyembuh."ucap Lina berdiri dan berlari mencari penyihir untuk mengobati luka Lidya atau alkemis yang mampu membuat ramuan obat lama yang ampuh.
Lidya merasa kalau salah satu imajinasinya saling menyerang membuat konsentrasi-nya memanggil pangeran tumbuhan buat datang ke bumi, gagal total. Rasa nyeri di tubuh Lidya semakin menjadi-jadi tapi gadis itu berusaha menahan sakit.
"Seandainya aku punya kekuatan mungkin aku akan melerai mereka dan menyadarkan imajinasiku untuk ke jalan yang benar."ucapnya pelan.
Suara pijakan kaki dari belakang terdengar jelas di pendengaran Lidya membuat ia menoleh ke belakang terkejut melihat dua gadis tergolong Alone Imagination datang ke sini dalam kondisi tubuh Lidya, terluka.
Gawat! - batin Lidya menelan Silvannya susah payah.
Keysa yang melihat tontonan peperangan tersenyum sumringah tidak ada satupun orang yang mampu datang kesini karena di sibukkan oleh anak buah, Alone Imagination. Energi gadis itu semakin lama semakin kuat sebab aura kebencian membara-bara dalam peperangan ini. Salah satunya di pertarungan kecil Yusuf dan Meika.
Seandainya Alone Imaginationku menemukan seorang penulis dan berhasil membunuhnya maka aku akan merasa senang karena tujuanku sudah tercapai. Dan menuju ke abadianku sudah terwujud. Jadi aku tak ambil pusing, pikirnya tertawa puas.
Ia ingin melihat setiap sudut peperangan daripada harus berdiri dari gedung pencakar langit menatap semua yang sibuk menyerang.
Aku akan turun area mencari Riko, pengendali waktu itu dan juga membunuh beberapa imajinasi hahahaha, batinnya tertawa.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
Ikuti terus "Jangan Anggap Kami Lemah" semoga bisa sampai tamat bacanya hehehe. Jangan lupa, like, vote,5 rate dan commentnya yaw🙂.
__ADS_1