
Indera pendengarannya menangkap suara detak jantung yang terhubung dengan mesin, perlahan kedua matanya terbuka. Aroma obat masuk ke lubang hidungnya, melihat sekeliling ada banyak alat di sisinya dan ia berhenti menatap mesin yang menunjukkan kinerja jantungnya yang sedang berdetak agak lemah.
Matanya tidak mampu untuk terbuka lagi ia tidak menyangka saja kalau penyakit yang selama ini tidak kambuh. Kini kembali kambuh dan hampir mengambil nyawanya untung saja musuhnya menolongnya. Seulas senyum tipis terukir jelas di sudut bibirnya yang tipis berwarna pucat itu.
Melihat kondisinya sangat lemah ia tidak bisa banyak gerak dan sering mengumpat dalam hatinya. Jika kalau begini artinya ia tidak akan mengusai dunia dan menjadikan semua orang jadi budaknya. Kenapa seorang gadis bersurai hitam itu ingin mengusai dunia dan menjadikan semua orang di dunia ini menjadi budak?.
Karena mereka tidak tahu perasaan yang ia rasakan. Ya, Roro menginginkan mereka semua menjadi budaknya akan tetapi ia malah berada di ruangan serbah putih dan yakin kalau ia berada di rumah sakit. Herannya musuhnya itu malah menyelamatkan nyawanya tidak membiarkan ia mati di tangan pemuda bersenjata gada itu.
Jika pemuda itu memukul dengan gadanya dengan senang hati ia akan menerimanya dan penyakit ini akan menghilang bersama nyawanya. Air bening meluncur membasahi pipi mulusnya,ia menarik nafas sebanyak-banyaknya karena memang Roro di bantu oleh tabung oksigen yang menyalur untuk membantu detak jantungnya berdetak normal.
Suara derap kaki terdengar, Roro menoleh sedikit dengan pandangan samar-samar ada dua gadis dan satu pemuda yang tampan. Roro melihat ada satu gadis berkacamata dan satunya adalah kekuatan Purple Eyes--portal. Ini membuat Roro nggak mood dan menebak ketiga remaja ini ingin mengintrogasinya.
'Pasti mereka akan mengintrogasi ku tentang penyerangan berskala besar. Aku menghabiskan seluruh kekuatanku hanya ingin menghabiskan orang yang memiliki kekuatan imajinasi. Tapi semuanya menjadi sia-sia saja' batin Roro kesal.
"Bagaimana kondisimu?"tanya gadis berkacamata itu senyum. Roro memejamkan mata sejenak merasa rasa kesal dan gadis itu sok akrab padanya.
'Dih, sok akrab pula. Mending kalian semua pergi saja percuma, aku nggak bakal memberitahukan kalian tujuanku' batin Roro lagi.
Hana melihat ke Jay. Pemuda itu melihat Roro yang masih terbaring lemah meski ia sudah sadar tapi kondisinya masih lemah. Detak jantung Roro pun masih belum normal sepenuhnya, sedikit lemah setidaknya Roro tidak mengalami koma seperti Beni.
Ketua kelas 10-MM1 yang di kenal bertanggung jawab dan sedikit nyebelin itu kini Koma akibat luka tusukan yang ada di perutnya serta ia kekurangan banyak darah. Semua teman-temannya berharap Beni tidak apa-apa. Hana membisik ke telinga Jay. Pemuda itu menatap Hana dengan seksama lalu mengangguk.
"Roro tatap mataku!"pinta Jay.
Awalnya Roro enggan karena Jay memiliki aura kharisma jadi dengan tidak sadar Roro menatap mata Jay yang awalnya cokelat menjadi ungu gelap seperti mata Purple eyes milik Roro. Sudah merasa terhubung Jay dan Roro, pemuda itu angkat bicara,"Ceritakan pada kami waktu masa-masa dulu saat kau merasakan bahagia, sedih, marah sehingga ada rasa balas dendam dalam dirimu."ucap Jay.
Mata Roro melebar, kedua matanya berubah menjadi ungu hitam, detak jantungnya berdetak cepat kemudian melambat lagi. Hana memperingatkan ke Jay, "Jay,kau harus hati-hati jangan sampai Roro kehilangan detak jantungnya. Karena masa lalunya begitu kelam."ucap Hana ke Jay.
Jay mengangguk ia tidak akan membuat lawan bicara merasa tertekan. Roro angkat bicara ia mulai bercerita nada pelan.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Di sekolah dasar begitu banyak murid berlalu lalang dan bermain bersama di lapangan. Ada beberapa murid yang memakai kaos olahraga sedang bermain bola. Seorang anak perempuan sekitar umur 8 tahun bertubuh pendek dengan rambut di cemol dua.
__ADS_1
Lalu ia di hampiri dua temannya mengajaknya bermain lari-larian tapi ia menolak ajakan temannya. "Atu nggak boleh lali-lalian anti atu cakit. Atu nggak boleh capek-capek."kata anak perempuan itu, Roro kecil menatap kedua temannya polos.
"Ala lolo,bental aja. Main lali-lalian."desak anak itu ingin bermain sama Roro nampaknya Roro masih diam saja berpikir. Ia juga merasa bosan berdiri sembari menatap bola yang tak jauh dari bawah kakinya. Akhirnya ia menyetujui dan bermain lari-larian bersama dua anak itu.
Roro sangat senang bisa bermain bersama teman-temannya senyuman mengembang terlukis di wajah Roro kecil itu. Sudah lama ia bermain secara tiba-tiba detak jantungnya berhenti sejenak satu detik membuat Roro kecil terjatuh kemudian detak jantungnya kembali berdetak akan tetapi melemah.
Roro kecil yang tidak bisa menahan rasa sakit hanya bisa nangis tersedu-sedu memegang dadanya. Kedua temannya tadi menghampiri Roro perasaan khawatir kebetulan guru olahraga masih mengawasi siswa-siswinya menatap ada salah satu muridnya jatuh. Dengan cepat guru olahraga muda tersebut menghampiri Roro.
Saat sampai di rumah,Roro kecil di marahi sama ayahnya karena tidak mendengar ucapan kalau tidak boleh capek-capek apalagi main kejar-kejaran. Roro kecil hanya menunduk dalam tangis.
Tak lama kemudian di bangku kelas 5 tiba-tiba penyakit jantung lemah Roro kembali kambuh dan koma selama satu hari. Ketika Roro siuman ia mendengar suara bentakan dari ayah yang berada di luar kamar.
"HARUSNYA KAU TIDAK MELAHIRKAN ANAK YANG MEREPOTKAN SEPERTI RORO!"
Roro pada saat itu baru siuman harus mendengar kalimat maut dari ayahnya yang memang memiliki watak keras, mudah termakan emosi jika sudah begitu perkataan yang keluar dari mulut beliau bagai ribuan pisau yang terbang menusuk hati Roro. Gadis berumur 11 tahun itu terbelalak dengan air bening begitu deras membasahi pipinya.
Ia sendiri tidak mau memiliki penyakit ini, ia tidak mau, yang Roro mau adalah hidup normal dan sehat. Tidak selalu merepotkan kedua orang tuanya seperti ini masuk keluar rumah sakit.
"Untung saja, aku masih bisa membeli rumah bak hotel."ucap ayahnya dan suara tangis wanita paruh baya harus menerima bentakkan ayahnya.
Seiring perjalanan waktu Roro sudah berada di bangku SMA. Penyakit tersebut sudah tidak kambuh lagi dan ini sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buat Roro serta kedua orang tuanya. Ayahnya pun sudah tidak pernah marah dan menikmati hasil kerja keras beliau.
Roro juga masuk ke sekolah terfavorit yaitu SMA Negeri Prestasi. Roro di kenal murid teladan dan pintar tidak hanya itu saja Roro juga menjadi The most wanted karena kecantikannya serta sifat yang periang. Meski begitu kaum adam selalu mengincar Roro agar menjadi pacarnya.
Rasa iri tercipta pada orang-orang sekitar sekolah Roro. Beberapa hari kemudian ketika Roro jadian sama seorang pemuda tampan yang sama-sama The Most di SMA Negeri Prestasi menjadi perbincangan hot selama dua hari. Lalu orang-orang yang iri dengan Roro sering mencibir Roro serta Roro menjadi budak para pembully.
Pemuda bernama Nino,pacarnya Roro itu sudah berkali-kali membela Roro pacarnya dari pembully itu. Pada malam hari sekitar jam 10,suara notif terdengar. Roro yang masih belajar di meja belajarnya membuka ponsel itu melotot dan ia membuang ponselnya hingga menjadi dua bagian.
"Aaaaaa!"teriak Roro melihat apa yang baru ia lihat seketika air mata di kelopak matanya tumpah. Tubuhnya bergetar hebat lalu terdengar keributan di dalam rumah besar. Roro mendengar jeritan ibunya dan ayahnya bergantian seperti merintih kesakitan.
Menelan ludah berat ia memberanikan diri untuk keluar kamar, berlari sepanjang koridor dan menuruni tangga. Langkahnya berhenti, mulut begetar, mata membulat sempurna dengan air bening melihat kedua orang tuanya udah di lumuri banyak darah dan mau anyir masuk ke indera penciuman Roro.
"TIDAK!"teriak Roro sangat kencang. Sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu ia menuruni tangga dan duduk tertunduk. Kedua tangannya sudah terkena genangan darah dari orang tuannya. Matanya terpejam menangis senganggukkan.
__ADS_1
Satu malam yang sama,orang misterius itu telah membunuh orang yang Roro sayangi dan mereka semua tidak tahu apa yang ia rasakan selama ini di balik sifat periangnya.
Pada saat itu juga sinar berwarna ungu memasuki tubuh Roro membuat aura yang berada di tubuhnya berubah ungu kehitaman. Kedua matanya perlahan terbuka, Purple Eyes-Pengendali boneka.
"Aku akan membuat kalian sadar apa yang kalian lakukan padaku! Aku akan membuat kalian menjadi bonekaku oh lebih tepatnya budakku dan melukai orang-orang yang tidak bersalah dengan kedua tanganmu. Aku tidak akan membuat bonekaku seratus persen di bawah kendaliku, aku hanya menggerakkan tangan, kaki, dan pikiran saja tidak dengan hati dan niatmu. Agar kau tahu, apa yang selama ini aku rasakan!"ucapnya tersenyum miring.
"Aku akan menjadikan kalian semua bonekaku dan menghancurkan kehidupan kalian hahaha!"ucap Roro yang sudah di penuhi aura kegelapan rasa pembalasan dendam sudah merasuki tubuhnya dan pikirannya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
"Roro berhenti!"perintah Jay menyuruh Roro berhenti karena emosinya sudah bisa di bilang meledak dan bisa membuat penyakitnya ngedrop. Jay menyuruh Roro menatap kembali matanya untuk tidur. Mata Roro perlahan mengerjap berkali-kali lalu tidur.
Ketiga remaja itu terkejut mendengar kisah kelam dan mendengar dari mulut Roro langsung. Hana menyimpulkan kalau Roro sangat tertekan dan tujuannya memang untuk pembalasan dendam pada orang misterius itu.
"Makanya tadi semua orang tiba-tiba menyerang tapi orang-orang itu dalam keadaan sadar hanya saja mereka di kendalikan oleh orang lain."kata Hana lagi di balas angguk Elle dan Jay.
"Aku sangat prihatin dengan Roro,"Jay menghela nafas menatap Hana dan Elle,"sementara itu Roro istirahat dulu dan nanti atau besok. Kita akan tanya lebih rinci tentang masalah ini."lanjutnya di balas anggukan mereka berdua.
"Aku akan ke kamar Bening."ucap Hana berlalu pergi.
Elle melihat wajah Jay dari pinggir. Jujur saja pemuda di sampingnya ini sangat tampan dan pantas saja Lina jatuh hati padanya. "Jay, bagaimana keadaan Lina?"tanyanya Kepo.
Pemuda itu menatap ke depan menghela nafas. "Ia sudah baikan tapi belum sadar. Kalau ia sadar aku akan meminta maaf padanya. Huh.. Memang kalau berurusan dengan kekuatan milik Roro itu sangat---"kata Jay menggaruk kepalanya tidak gatal, menghela nafas kasar membuat Elle terkekeh mendengarnya.
"Kekuatan Roro sangat merepotkan karena kekuatan purple eyes memang sangat merepotkan. Untung saja bukan Red Eyes."sambung Elle terkekeh geli. Jay melirik ke Elle sejenak lalu tersenyum miring.
"Begitulah."
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung....
Halo para readers, jangan lupa ya tekan like and comment biar author tahu siapa saja yang mampir ke cerita author dan pembaca setia dari "Jangan Anggap Kami Lemah"...ikuti terus ceritanya sampai tamat ya😊 see you...
__ADS_1