Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Enam Puluh Sembilan:Kembali


__ADS_3

  Keadaan sekolah SMK Cemerlang ramai karena beberapa orang tua laporan ke guru yang sedang bertugas untuk awal masuk sekolah esok hari. Pria tampan wali kelas 10 MM 1,Arlan juga bingung. Dan disini juga ada saksi mata yaitu teman sekelas masing-masing anak yang menghilang.


"Pak, mana anak saya?dia itu perempuan loh dan tidak terlalu berani sama orang jahat."ucap wanita paruh baya, ibunya Fitri yang tidak habis-habisnya menangis satu hari putrinya tidak kembali ke rumah.


  Arlan yang tidak ikut ke acara open house itu bingung harus apa? Beliau menenangkan semuanya untuk tidak panik dan ia menoleh mengarah ke Nando.


"Nan, tolong kamu cari mereka. Lidya, Pandu, Fitri, Beni, Aska, Arkan, Anggi dan Riko. Kalau ada kabar tolong hubungi saya."kata Arlan akhirnya ia tidak tahu harus apa? Mereka sudah laporan dari kemarin saat waktu di janjikan akan pulang. Namun, tidak pulang-pulang sampai sekarang.


  Pemuda itu mengangguk,"iya, Pak. Saya akan berusaha mencari mereka. Dan meminta teman lainnya mencari."katanya lalu menekan layar ponselnya menghungi beberapa teman lainnya untuk mencari kelompok Pandu.


Tentu saja membuat semua kaget mereka belum ditemukan. Nando segera mengambil sepeda motornya yang terpakir disana lalu melajukan sepeda motornya.


"Ya allah, temukan anakku."ucap Mama Lidya berharap semuanya bertemu dan kondisinya baik-baik saja.


  Di sisi lain jalan sepi sebuah portal muncul lalu munculah mobil dari portal tersebut dengan segera Lidya mencoret-coret gambar portal itu agar menghilang. Pandu mengerem dadak membuat semua hampir kejedot barang di depan mereka.


  Kedua mata mereka terbelalak dan sedikit lega bahwa tidak ada yang terluka. Aska menghela nafas lega dan menarik nafas dalam-dalam, ia duduk kembali menyandarkan punggung di kursi menatap atap mobil.


"Uh, memangnya tadi ada apa?"tanya Beni menghela nafas panjang.


"Aku melihat bayangan hitam itu lagi. Aku tidak mau kita kayak kemarin harus melawan monster bisa-bisa kita tidak bisa kembali."jawab Aska.


"Tadi aku sangat tegang sekali kayak nggak bisa nafas."sahut Anggi melihat sekeliling mereka sudah kembali ke tempat asal membuat senyuman terukir di bibir gadis itu. "Yes, kita sudah sampai. Aku sudah tidak sabar untuk balik ke rumah."kata Anggi senang.


Dibalas angguk Fitri, "sama. Aku juga."ia melihat ke kursi Lidya,"Lid. Pensil itu kayaknya mempunyai kekuatan deh."ucapnya membuat Lidya sadar akan lamunannya menoleh ke Fitri, mengangguk pelan.


"Kalau begitu. Mending pensil itu kau simpan saja atau buat jaga-jaga kalau ada urusan mendesak kayak tadi."kata Pandu.


"Kita harus latihan keras untuk melatih kekuatan kita yang suka hilang kendali ini."kata Beni.


Riko hanya diam tidak angkat bicara seperti kemarin, ia sudah muak diomelin terus. Dan mereka semua tidak pernah melatih kekuatan masing-masing, benar-benar menyedihkan.


  Aska menoleh menoleh ke Riko yang sedari tadi hanya diam seperti awal menuju ke panti. "Kau tidak punya rencana untuk melatih kekuatanmu,Rik?"tanya Aska membuka topik pembicaraan.


  Pemuda itu melirik kearah Aska sok peduli dengannya dan sok akrab memangnya dia siapa--teman dekat aja, tidak. "Tidak."singkat padat dan jelas.


  Aska hanya tersenyum mendengar respon Riko, ia kembali menatap ke depan. Pandu kembali melajukan mobilnya---mereka akan melewati sekolah SMK Cemerlang. Fitri yang kebetulan melihat luar jendela menyuruh Pandu berhenti tentu saja lagi-lagi harus menginjak rem mendadak.


"Bisa nyetir atau nggak sih? Ngerem dadak mulu!"protes Riko akhirnya. Fitri melirik sinis kearah belakang, Riko.


"Protes mulu. Itu aku lihat ibuku ada di sekolah. Mereka ngapain ya?"tanya Fitri memegang dagunya mencoba berpikir. Beni menggunakan mata penembus melihat apa yang sebenarnya terjadi dan Pandu menambahkan pendengarannya menjadi tajam agar bisa mendengar apa yang di bicarakan oleh mereka.


"Kita harus turun. Mereka mencari kita dari kemarin!"seru Pandu dengan segera mereka semua segera turun dari mobil. Berlari masuk ke sekolah.


"Ibu!!"teriak Fitri.


Semua orang yang ada di sana menoleh bersamaan melihat kelompok Pandu sudah datang. Arlan dengan segera memberi kabar kalau mereka sudah datang dengan sendirinya. Semua berpelukan pada kedua orang tua masing-masing kecuali Riko.


  Ia hanya bisa memandang mereka. Arlan yang melihat Riko menatap mereka semua datar dan sesekali berdecih kesal. Riko merasakan ada yang menepuk bahu ternyata wali kelas anak Mm1.


"Perlu pelukan?"tawarnya tentu saja membuat Riko mengerit dan membuang muka, "tidak perlu."ucapnya ketus lalu ia memilih untuk pergi daripada melihat semua sedang berpelukan dengan orang tuannya, melepas rindu.


  Arlan yang melihat pemuda itu bingung, menggaruk kepalanya tidak gatal dan berpikir, "apakah aku salah menawarkan pelukan padanya?"

__ADS_1


  Lidya menatap mamanya senang, "kau darimana saja ha? Nggak pulang-pulang. Mama khawatir tahu?"


"Hmm, ada deh ma. Maaf nggak ngasih kabar."jawab Lidya yang bingung harus menajwab apa?.


  Fitri melepaskan pelukan ibunya menatap dengan seulas senyum manis, "Ibu pasti kangen kan sama Fitri?"tebaknya.


  Ibunya itu tersenyum dan mengangguk tak lama kemudian berubah menjadi tatapan marah. "Oh, tentu saja khawatir. Kenapa kau nggak pulang-pulang kayak bang thoyib ha? Ibu itu khawatir sama kamu apalagi kamu itu anak tunggal, perempuan lagi. Kamu darimana aja ha?"omel ibu Fitri berkacak pinggang.


  Semua yang melihat itu tertawa terbahak-bahak. Lidya menggeleng melihat mereka berdua pantas saja Fitri selalu ngomel sama Riko ternyata begini toh, ibunya cerewet.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


     Suasana awal masuk sekolah di tahun baru 2027 sangat beda dari tahun kemarin. Karena sekolah mengadakan sebuah pesta dan lomba yang jarang sekali diadakan. Banyak sekali murid dari beberapa kelas berjualan makanan dan minuman. Dan ada juga yang mengikuti lomba.


  Lidya duduk di tepi lapangan melihat lomba yang berlangsung. Kemarin sangat melelahkan sekali setelah ke panti ia dan ketujuh temannya harus terjebak ke dalam hutan belantara. Baginya itu petualangan sangat menyenangkan, ia merogoh sakunya menatap gantungan tupai itu lamat-lamat.


  Lidya menekan layar ponsel mengchat Yusuf apakah ada kaitannya dengan pintu imajinasi yang kini masih terbuka lebar dan orang yang tinggal di imajiansi itu melebar luas ke bumi dan memilih bersemayam ke tubuh manusia biasa untuk tujuan tertentu.


  Seraya menunggu jawaban dari Yusuf ia menonton lomba yang semakin seru ini. Lalu ada seseorang yang duduk di sebelahnya menyodorkan minuman ke Lidya. Ia menatap minuman itu sejenak dan menoleh siapa yang memberikan minuman itu.


"Jangan dilihat mulu minumannya buruan ambil."kata Pandu. Lidya terkekeh dan mengambil minuman tersebut, "makasih."katanya tersenyum dan menyedot minuman lemon yang menyegarkan pas banget dengan cuaca cerah dan panas ini.


"Sama-sama."balas Pandu menonton lomba yang mengundang tawa penonton. Bagaimana tidak, lomba balap karung lupa dengan karungnya ia loncat-loncat tanpa karung.


  Di belakang terdapat empat gadis tengah melihat Lidya dan Pandu duduk berduaan disana. Mereka berempat saling tatap menatap.


"Noh, dua Joli sedang berduaan disana."kata Anggi tersenyum miring penuh arti.


"Terus kita ngapain nonton orang lagi pacaran?"kata Tera nada polos.


"Bagiamana?"tanya Cantika membuat Anggi berpikir keras.


     Tak jauh dari mereka berempat ada sekelompok laki-laki yang tahu apa yang direncakan oleh mereka.


"Sepertinya mereka sedang merencakan sesuatu tuh?"kata Arkan dibalas anggukan yang lain.


"Kita harus ngerjain mereka juga kan kasihan tuh, Pandu lagi pdkt-an sama Lidya."sahut Reza.


"Itu mah gampang kalau ada aku."kata Vin menunjuk dirinya bangga.


Nando mengerit ragu dengan pemuda tampan yang kata semua penghuni SMK Cemerlang ini, menyeramkan kalau dekat-dekat dengan Vin. Tapi kayaknya omongan itu hanyalah omongan belaka buktinya ia tidak merasakan apapun, aura menakutkan --- tidak sama sekali.


Jay tersenyum, "balas dendam sama mereka yuk. Aku sudah tahu pelakunya yang kemarin."kata pemuda paling tampan di SMK Cemerlang.


"Tumben, kau mau balas dendam Jay. Itu kakak kelas bagaimana tuh tantangannya?"kata Nando mengingat tantangan kakak kelas yang baginya sok-sokan hanya karena kepopuleran di rebut oleh adik kelas bukan merebut sih...hanya gegara kekuatan menghipnotis agar semua orang luluh dengan Jay.


"Semua menjauh dari sini biar aku saja yang ngurus, aku perlahan-lahan maju setelah mereka ketakutan, baru kalian mengangetkan gadis-gadis itu."kata Vin yang menemukan ide cemerlang dibalas anggukan lain dan diberi ancungan jempol.


  Setelah semua sudah pergi, Vin mengeluarkan kekuatannya menuju ke arah empat gadis itu.


  Fitri, Tera dan Cantika mengangguk mengerti dengan rencana menganggu Pandu dan Lidya. Saat mereka ingin menganggu kedua orang didepannya secara tiba-tiba suasana menjadi menyeramkan dan bulu kuduk mereka berempat berdiri.


"Nggi, kenapa aku jadi merinding ya?"kata Tera mengelus lehernya.

__ADS_1


"Aku juga. Ya ampun, apa disisi kita ada makhluk halus ya?"sahut Cantika melihat sekeliling padahal cuaca cerah banget nggak ada mendung-mendungnya tapi kenapa suasana menjadi horor seperti ini.


"Apakah kita tidak boleh menganggu mereka?"tanya Fitri pelan melirik ke arah Anggi meminta jawaban.


Anggi menghela nafas panjang, "mungkin ini kelakuan Vin tuh. Menyebarkan auranya ke kita tapi alasannya kenapa?"kata Anggi baru menyadari bahwa yang menyelimuti mereka ini adalah kekuatan milik Vin.


Cantika terbelalak mendengar perkataan Anggi barusan, "Kekuatan kegelapan?"tebaknya dibalas angguk Anggi.


"Ya, ini kekuatan Drak Imagination."


   Mereka berempat menatap kedua Joli yang asik menonton lomba sesekali mengobrol ringan. Vin memberi kode teman-temannya untuk mengangetkan mereka dengan segera mereka para cowok mengagetkan empat cewek mengundang tatapan semua murid mengarah ke arah mereka.


"AAAAA IBU!"


"AA JIMIN!"


"ASTAGFIRULLAH, ADA SETAN!"


"BAKA!"


Latah mereka berempat bebarengan membuat Lidya dan Pandu menoleh ke sumber suara melihat Fitri, Anggi, Tera dan Cantika sudah beradu mulut dengan kelompok Jay serta Vin dan Reza yang tidak ada henti tertawa terbahak-bahak.


"Mereka kenapa tuh?"tanya Pandu.


"Entahlah mungkin mereka sedang ada masalah."jawab Lidya mengedikkan kedua bahunya tidak tahu. Mereka berdua mengamati teman-temannya yang adu mulut dan berakhir main kejar-kejaran.


"KALIAN SEMUA SINI!"Teriak Fitri mengejar para cowok yang usil.


"Hahaha, mereka itu ada-ada saja."ucap Lidya menggeleng lalu ada notif dari chat Yusuf di bukannya.


Yusuf:


Itukan? Hmm,ada kaitannya dengan cerita yang hilang saat Tio membuka pintu imajinasi!


"Ada apa Lid?"tanya Pandu penasaran karena Lidya terlalu serius membaca pesan yang ada di ponselnya.


"Hmm, tidak apa-apa."jawabnya menyimpan ponsel kembali ke saku.


  Beni mencari seseorang dan ternyata orang yang dicarinya sedang menonton lomba disamping Lidya.


"Pandu!"panggilnya membuat sang pemilik nama menoleh.


"Apa?"


"Bantu aku ngurus lomba berikutnya kasihan Kak Melvi dan kakak kelas lainnya. Kerepotan dan mana Reza."kata Beni dan bertanya kemana Reza.


Pandu berdiri dan menatap teman akrabnya itu, "Reza punya urusan dengan para gadis karena sepertinya tadi menganggu mereka."jawabnya tersenyum.


"Seriusan? Sama siapa saja?"tanya Beni terkekeh.


"Sama Fitri, Anggi, Tera dan Kak Cantika. Terus Nando, Aska dan Jay ikutan loh. Vin juga."


"Wih, cari masalah sama mereka itu urusannya panjang loh."Beni menggeleng dan mengajak Pandu ke ruang osis. Mereka tidak lupa pamit ke Lidya dan berlalu pergi.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami lemah*


Bersambung....


__ADS_2