Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Episode Lima:Saran Mama


__ADS_3

  Pulang sekolah Lidya langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur menatap langit kamar yang sangat hampa. Benar-benar hampa.  Ia berpikir saat kejadian tadi di sekolahnya. Rasanya ia tidak pernah tuh bertemu dengan cowok yang membantunya berdiri. Apa ia tidak melihat sekeliling kelas hingga tidak tahu keberadaan pemuda tersebut?. Sungguh, ia seolah tahu apa yang dirasakan oleh Sarah. Gadis bernama Sarah sampai kebingungan dan bungkam ingin menjawab apa? Dan kalau dipikir-pikir lebih jelas,  benar kata pemuda dingin itu. Mengapa Tina dan Sarah menunjukkan sikap aslinya di hari pertama sekolah. Secara otomatis nama mereka tercoreng.


Dia hebat, bisa merasakan sesuatu disekitarnya. Orang yang bisa berteman dekat dengannya pasti beruntung apalagi orang yang mengaguminya. Seulas senyum terukir jelas di wajah Lidya, ia beranjak dari kasur- mengambil barang alat tulis dan kertas hvs putih,pensil warna.


  Lidya duduk di meja kursi yang terletak di pojok kamar dan otaknya langsung bekerja. Berusaha membayangkan wajah pemuda tadi. Menurut Lidya pemuda tersebut baik banget setelah Pandu, pemuda yang membantu Lidya. Rambutnya berjambul cokelat memiliki manik cokelat terang,senyuman manis,tatapan tajam bagaikan burung hantu, ketika malam hari kedua matanya bakal hidup seperti lampu,mata begitu lebar dan ekspresinya terlalu datar, dingin tapi Lidya yakin kalau pemuda itu baik.


Itu penilaian luar saja,Lidya tidak tahu dalam diri pemuda itu. Kalau dipikirkan lagi pemuda itu menonjol menakutkan meski wajahnya tampan. Dan Lidya sempat merasakan aura pemuda tersebut,negatif. Beda dari yang lain.


Tangan kanan Lidya terus menggambar sebaik mungkin tidak ada yang mengecewakan. Ya, jangan sampai ada yang mengecewakan atau gagal. Setelah setengah jam lebih sebuah lukisan berhasil tercipta sempurna. Seulas senyum terlukis di wajah Lidya melihat gambar 'Pemuda Dingin'. Maklum Lidya tidak tahu namanya karena ini hari pertama. Nama yang berhasil ia ingat masih sedikit yaitu:Lina, Ari, Ana, Aska, Arkan, Jay, Pandu, Beni, Fitri, Sarah, Tina, Anggi dan Ningsih. Uh masih sedikit. Itupun tidak terlalu akrab dengan Lidya hanya Lina saja.


Gambar tersebut ia simpan di tumpukan gambar imajinasi Lidya yang susah payah dibuatnya itu. Tersenyum menatap tumpukan gambar yang disimpan di almari buku. Ia ingin imajinasinya ada di real. Lidya hanya bisa membayangkan saja dan jarang terbayang-bayang gambaran itu sebab Lidya tidak menulis cerita di handphone atau buku.


Ya, setiap kali ia menulis cerita. Ia bakal bisa bertemu dengan imajinasinya sesuai cerita apa yang ditulisnya. Lidya sempat berpikir kalau teman-temannya yang sempurna hanya ada di imajinasinya sendiri dan tidak bakal bisa terjadi di dunia Real. Membuat mendengus sebal.


Terkadang pikirannya yang terlalu liar tersebut berpikir bagaimana kalau anak yang dipandang rendah,bodoh, remeh dan terpojokkan memiliki kelebihan tidak terduga seperti cerita yang dibuat Lidya udah lama banget. Entah sampai saat ini cerita itu masih bentuk konsep bukan cerita seutuhnya(Naskah)karena cerita yang dibuat Lidya masih banyak tanggungan dan tidak mudah buat diselesaikan begitu saja.

__ADS_1


Kalau berbicara halusinasi seperti tokoh fantasi, Lidya begitu banyak dan jalan ceritanya tidak serumit yang dibayangkan. Terdengar sangat mudah sekali dalam dua bulan cerita itu bisa tamat. Sayangnya banyak sekali kejadian tidak terduga contohnya menjaga Hari,anak berumur tujuh tahun.


Kadang Awan, adik berumur 14 tahun meminta buat beliin pulsa di warung sebelah. Memang adik tidak tahu diri tapi tetap saja mereka berdua itu adik tersayang Lidya setelah kedua orang tua. Benar bukan.


Lidya menopang dagu sambil melihat hasil gambarannya lamat-lamat. "Aku ingin bertemu orang yang memiliki kelebihan unik dan  ternyata kelebihan tersebut bisa mengurungkan dirinya dan orang lain. Dipandang orang lain aneh dan berbeda tapi kalau aku memandang kelebihan itu sangat wow."kata Lidya tersenyum sendiri, berkata "Andai" sebanyak tiga kali.


"Andai, Andai, Andai kalau ada orang seperti itu  maka aku akan menjadi orang pertama yang mengaguminya dan menganggap mereka unik kalau di dunia nyata terjadi. Dalam hitungan 5 detik bakal terjadi ketika aku menjentikan jari."kata Lidya sambil menghitung jari sebanyak lima lalu berhenti menjentikan jari. Setelah menjentikan jari, tidak terjadi apapun di sini. Memang ini sebagai hiburan Lidya saja kalau tidak melakukan apapun.


Sangat garing dan kalau ada orang yang tahu kebiasaan Lidya yang suka berandai-andai bakal ditertawakan dan diledek habis-habisaan. Lidya melirik kearah jam handphone menunjukkan angka 5.


"Astaga!"pekiknya langsung berdiri membersihkan badan yang lengket.


Mama menyuruh ketiga anaknya makan malam di ruang tengah sambil menonton televisi. Cowok berkulit cokelat-hitam begitu lahap memakan lauk pauk ayam bersama sambal mentah. Kedua mata Lidya menatap layar televisi menampilkan Film Hollywood sambil memakan makanan yang ada di pangkuannya.


Mama duduk bersebelahan dengan Lidya. "Hari sekolah pertamamu buruk?kenapa?"tanya mama memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Seperti itulah ma. Mereka mengejekku."kata Lidya masih menonyon film di televisi, fokus.


"Hahaha,itu sudah biasa. Nanti juga mereka bakal kapok kali. Dulu mama juga begitu."kata Mama, Lidya menoleh kearah mama meminta jawaban atas pertanyaan yang menyangkut. Bagaimana mengatasi anak-anak bandel dan sepertinya mereka bakal membully orang-orang lemah, tidak peduli itu adik kelas atau kakak kelas.


Satu rincian dari sekolah SMK Cemerlang bahwa dibelakang SMK pas adalah sekolah SMP Negeri. Takut,kalau itu benar-benar terjadi tapi disisi lain ia berharap kejadian yang negatif tidak terjadi. "Dan mereka yang pernah menganggu mama terkena azab."


"Azab apa?"


"Teman yang pernah mengejek mama atau menganggu mama kena batunya. Mereka terkena masalah. Mama dulu tidak tahu penyebabnya apa?tapi mama yakin kalau mereka kena sifat jahatnya sendiri. Ia jahat pada orang lain dan imbasnya dirinya sendiri."kata Mama mengalihkan pandang ke Lidya yang asik menyimak dan memasukkan kalimat-kalimat mama, masuk ke dalam benak. Mungkin bisa menjadi motivasi supaya Lidya tidak takut dengan apapun dan melakukan hari seperti biasa, tidak perlu khawatir seperti tadi.


Lidya tersenyum,"makasih."katanya beranjak dari kursi membawa piring kotor ke dapur. Ia mencuci piring di wastafel dapur sambil menerawang jauh kejadian-kejadian tidak terduga terhadap orang-orang jahat. Pasti sial banget kan? Sesuai sifat mereka. Dan orang itu tidak akan mengulangi perbuatan buruknya lagi.


Semoga saja.


Lidya hanya bisa diam dan mengamati kegiatan disekitarnya. Aku rasa, Lidya suka sekali mengamati sekitarnya dan itu adalah peluang membuat cerita yang sampai sekarang belum selesai. Ia sampai kesal sendiri, mengapa ia dulu tidak fokus hanya satu cerita malah selingkuh.

__ADS_1


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


__ADS_2