Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Seratus dua: Jay Merasa Bersalah


__ADS_3

  Seorang gadis sudah tersadar dari tidurnya,ia melihat sekeliling ruangan yang dominan dengan warna putih serta di samping kanannya ada sebuah infus. Rasa pukulan itu sudah hilang akan tetapi ia tidak menyangka kalau musuhnya itu tidak punya hati membuat orang-orang di bawah kendalinya. Serta harus melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri kalau ia melukai seseorang tanpa kemauannya sendiri.


Kedua telinganya samar-samar mendengar suara teriakan kesakitan, kesedihan dan penderitaan. Bayangan waktu di atas gedung ketika tubuhnya di kendalikan oleh musuh, Roro. Ia hanya pasrah tidak bisa mengelak sama sekali, menahannya pun susah.


  Lina memejamkan mata sejenak, menghela nafas panjang berusaha tenang dan mengusir bayangan negatif. Setelah ia tenang,gadis itu menatap langit rumah sakit dan memikirkan temannya Lidya. Ia sangat khawatir pada temannya itu sebab ia pergi bersama Tera dan Tio, bagimana keadaanya dia?; apakah Lidya baik-baik saja.


Ketika Lina tengah asik dalam pikirannya. Pintu kamar terbuka membuat Lina melirik ke arah pintu seulas senyum terukir melihat Jay tersenyum tipis ke arah nya, tidak enak. Di susul oleh Elle.


"Bagaimana kondisimu,Lin?"tanya Jay ke Lina. Raut wajah pemuda tersebut sedikit berkerut tidak enak rasanya berbeda dari sebelumnya. Ia merasa sangat bersalah telah melukai Lina padahal Lina tidak pernah melukainya malah melindunginya.


Akan tetapi ini berbanding terbalik, Jay malah melukai Lina yang selalu melindunginya hanya karena kekuatan pengendali boneka itu, terjebak. Jadi mau tidak mau ia harus melukai Lina.


"Ma-maafkan aku,Lin. Aku telah melukaimu membuat kondisimu seperti ini. Ma-maaf."ucap Jay sedikit terbatah, memejamkan mata menunduk. Lina yang melihat Jay meminta maaf seperti itu hanya menyunggingkan senyum miring.


Ia memegang lengan Jay membuat pemuda itu membuka matanya melihat senyuman tulus Lina. "Aku hanya terluka kecil saja. Tidak perlu minta maaf sampai segitunya lagipula kau kan di kendalikan oleh musuh."ucapnya.


"Ta-tapi tetap saja! Aku salah!"ucap Jay sedikit tidak terima, sekarang mimik wajahnya tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata.


Elle yang ada di sebelah Jay, memerhatikan mereka berdua hanya tersenyum simpul. Memang teman-teman barunya memiliki sifat yang berbeda-beda dan Jay, pemuda yang di juluki The Most wanted di SMK Cemerlang ternyata ia memiliki hati sangat baik.


Pantas saja Jay sering dikerubungi oleh gadis. Ternyata bukan karena kharisma-nya yang membuat terhipnotis melainkan hatinya yang bercahaya itu membuat siapa saja bakal mau berada di samping Jay, batin Elle menilai Jay.


"Sudah-sudah yang penting Lina baik-baik saja."kata Elle.


Ruangan kembali hening sejenak dan akhirnya Lina melihat Elle bertanya tentang keberadaan Lidya.  Gadis itu hanya tersenyum.


"Ya, dia pergi bersama Pandu tadi. Waktu aku sama Jay mau datang kesini nggak tahunya berpapasan, kata Pandu ia mau ke rumah Lidya. Ngambil sesuatu." Jelas Elle menyangga dagunya dengan kedua tangan melirik ke arah Jay.


Pemuda itu menghela nafas panjang mengiyakan perkataan Elle. Lina menaikkan sebelah alisnya,"Sesuatu apa El?"tanyanya sangat penasaran. Baru pertama kalinya ia sangat penasaran dengan Lidya.


Elle menggeleng tidak tahu lalu Lina beralih bertanya hal lain yaitu kondisi kedua temannya yang pergi bersama dengan Lidya. Dengan cepat Elle bilang kalau kedua temanya baik-baik saja. Ia tidak mau menceritakan hal sebenarnya tentang kedua temannya. Tio masih belum sadar sedangkan Tera di culik oleh musuh.


Lina hanya mengiyakan dan tidak ada rasa kepo. Jay menyuruh Elle untuk menemani Lina sedangkan ia akan pergi mencari seseorang yang belum menunjukkan batang hidungnya. Elle mengangguk mengiyakan menatap punggung Jay menjauh dan hilang di balik pintu.

__ADS_1


   Langkah kakinya berjalan menulusuri lorong rumah sakit masih banyak korban yang terus bertambah dan tidak sedikit pasien di pindahkan ke rumah sakit lain karena penuh. Cukup hanya 4 wilayah dan 1 kota yang hancur; tiga titik,kota Selatan dan wilayah Black Rose--tempat SMK Cemerlang.


   Sampai di depan rumah sakit Adera. Pemuda itu di kejutkan oleh empat makhluk dan salah satu dari mereka ada Eric, pembawa sial. Di belakang Jay ada seseorang membawa nampan berisikan banyak minuman teh hangat dan arah depan ada seorang wanita paruh baya berlari tengah buru-buru masuk ke rumah sakit,tidak sengaja wanita itu menyenggol orang membawa minuman tersebut.


Membuat nampannya ke kiri serta beberapa gelas terjatuh menimbulkan suara serpihan kaca yang menjadi beberapa bagian dan air tehnya hampir mengenai baju Jay.


"Astagfirullah!"ucap wanita tersebut, ketika ia menyadari telah menyenggol bawaan orang itu hingga jatuh membuat lantai jadi kotor. Jay dan lainnya yang melihat itu segera membantu membersihkan.


"Ya ampun, Pak. Maafkan saya, saya tadi buru-buru."ucap wanita tersebut tidak enak. Pria itu hanya mengangguk,"tidak apa-apa, bu."katanya melirik ke arah remaja yang telah membantunya membersihkan serpihan kaca dan mengepel air teh yang mengotori lantai.


"Makasih."ucap bapak itu dibalas anggukkan mereka berlima berbarengan lalu pria dan wanita itu pergi menjalani aktivitas masing-masing.


  Eric menghela nafas kasar, ia selalu saja membuat masalah yaitu memberikan orang lain terkena kesialan.


"Itu pasti gara-gara kekuatanku yang selalu sial."gerutunya kesal.


"Yang sabar, Ric. Mungkin suatu hari kekuatanmu bisa jadi keberuntungan buat orang lain dan dirimu."hibur Shena ke Eric.


"Jangan coba menghiburku, Shen."ucap Eric masih kesal dibalas kekehan dari Shena.


"Jay, kau mau kemana? Tumben keluar dari rumah sakit?"pertanyaan konyol dari Agung keluar begitu saja dari mulutnya dibalas jitakan dari Farah.


Farah Azizah, ketua kelompok saat kemah di Drak Shadows 36. Ia melirik sinis mengarah ke pemuda yang memiliki warna rambut terlalu mencolok, bisa di sebut api membara.


"Kamu ini, masa Jay harus di dalam rumah sakit aja nggak makan mencari udara segar."omelnya lalu menarik nafas panjang berusaha untuk sabar. Hari ini Farah datang bulan jadi ia mudah sekali marah-marah tidak seperti biasanya yang selalu sabar.


Agung merintih kesakitan sebab tosekan dari Farah sangat sakit. "Sakit, Far."keluhnya mengelus kepalanya.


Jay hanya tersenyum tipis melihat teman-temannya yang selalu ada-ada saja kelakuannya. "Kalau kalian mau jenguk silahkan masuk saja."katanya Ramah.


"Makasih, Jay."ucap Shena tersenyum lalu mengajak ketiga temannya segera masuk ke rumah sakit meninggalkan Jay yang berdiri di sana.


Jay menggeleng melihat temannya lalu ia melangkahkan kembali kakinya untuk mencari Vin dan Riko. Sebab mereka berdua tidak memperlihatkan batang hidungnya. Kalau Riko baginya biasa saja, pemuda itu sering menghilang entah kemana.

__ADS_1


Pendapat Jay sendiri terhadap sikap Riko yang tertutup dan sedikit cuek. Ada sesuatu yang janggal, ia juga tidak sempat membaca pikiran Riko karena pemuda tersebut mengalihkan pandang ke arah lain atau menunduk sehingga Jay tidak bisa mengeluarkan kekuatan 'Penghipnotisnya' ke Riko.


Sedangkan Vin. Memang Jay tidak terlalu dekat dengan pemuda misterius ini yang selalu mengatakan menjauh dariku, meskipun ia dan Vin bisa bersikap biasa saja. Tidak seperti manusia lainnya yang takut dengan Vin sebab aura kegelapan yang singgah di dalam tubuhnya.


Vin dan Jay itu saling melengkapi satu sama lain ibaratkan Jay memiliki aura positif sedangkan Vin memiliki aura negatif jadi kalau di satukan,energi yang terkuat dari mereka berdua akan muncul yaitu energi positif dari tubuh Jay.


"Mulai darimana aku mencari mereka berdua? Aku bukan teman dekat mereka jadi aku tidak tahu tempat yang biasanya mereka datangi."ucapnya bermonolog pada dirinya sendiri sambil berjalan mengedarkan pandang sekeliling berharap bisa menemukan kedua pemuda itu.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Di ruangan dimana seorang pemuda berambut biru terbaring lemah. Matanya masih terpejam. Para dokter dan perawat sudah berhasil memperlambat racun yang menjalar ke tubuh pemuda tersebut. Berharap kalau ada seseorang yang bisa menyembuhkan racun atau membuat ramuan obat yang ampuh, bisa menghilangkan racun dalam tubuh Tio.


  Di bawah sadar Tio. Pemuda tersebut berjalan mengelilingi hutan yang begitu rindang suasananya sama persis dengan pintu imajinasi. Dimana semua imajinasi tinggal di tempat seperti surga padahal tempat yang di pijaknya memiliki tempat yang begitu banyak serta bermacam-macam bentuk.


Tetapi ia lagi-lagi berada di hutan dan tidak ada sesuatu yang menarik perhatian pemuda tersebut. Suara gemericik air terdengar, Tio memutuskan untuk pergi mengikuti suara air tersebut dan betapa terkejutnya melihat pemandangan alam yang Indah.


  Air terjun dengan arus sungai yang tenang, banyak bebatuan di sana, airnya juga jernih dan bisa melihat ikan-ikan yang berenang ke sana-ke mari. Senyuman terukir jelas di wajah Tio memandang bayangannya memantul di permukaan air.


Lalu di sisi kanan kirinya ada seorang pemuda dan seorang pria dewasa. Tio menoleh,benar kalau di belakangnya ada seorang pemuda dan pria dewasa.


"Si-siapa kalian?"tanya Tio terkejut melihat kedua laki-laki memakai pakaian jubah putih dalam batin Tio berkata,'Apa jangan-jangan aku memang sudah berada di surga?'.


"Tio Wulan Sandi. Apakah kau mengenal kami?"tanya seorang pria  itu ke Tio. Pemuda berambut biru hanya bisa menggeleng, ia sama sekali tidak tahu siapa mereka berdua dan kenapa ia berada di sini?.


Pria dewasa itu memasang wajah datar dan serius ke arah Tio membuat pemuda itu sedikit takut akan tatapan pria asing yang ada di depannya.


"Waktunya kau menyelamatkan dunia bersama Lidya. Tapi kau malah terbaring di ranjang rumah sakit terkena racun lebah."ucap pria itu. Tio yang mendengar hal itu hanya membulatkan mulut O tidak percaya bahwa ia terbaring di ranjang rumah sakit akibat racun lebah.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


"Jangan anggap kami Lemah" double update nih! Senang nggak? Tunggu kelanjutannya ya😊 sebentar lagi kalian bisa melihat aksi mereka semua melawan musuh🤗. Dukung terus ya!

__ADS_1


__ADS_2