Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Lima puluh enam:Kekuatan merata SMA Negeri satu


__ADS_3

  Banyak sekali anak kecil yang berlari kesana-kemari sesekali mereka anak-anak membuat semua teman Yusuf kualahan dan ada juga barang bawaan yang mereka bawa hampir terjatuh.


"Hei kalian hati-hati kalau lari-lari!"


  Ocehan dan protesan terdengar memenuhi panti ini. Lidya rasa panti asuhan ini tidak pernah seramai sekarang coba bayangkan Yusuf mengundang dua sekolah sekaligus itu jumlah yang tidak sedikit. Seorang gadis kecil berkulit putih pucat memakai jaket menutupi hampir seluruh badannya dari paparan sinar matahari menghampiri Lidya membuat gadis itu terkejut. Fitri berdiri di samping Lidya melihat gadis kecil yang sangat menggemaskan.


"Kakak temannya Kak Yusuf ya?"tanyanya tersenyum dan menunjukkan gigi taring membuat Fitri merinding memegangi bahu Lidya. Ia takut melihat gadis kecil yang lucu diluar tapi menyeramkan.


"Dia punya taring tajam. Aku takut?"ucap Fitri ketakutan bersembunyi di balik punggung Lidya sambil mengintip.


Lidya dan gadis itu terkekeh melihat tingkah Fitri yang ketakutan seperti itu. Gadis manis tersebut hanya tersenyum,"tidak usah takut kak. Aku hanya vampire kecil dan tadi aku sudah meminum darah kok jadi aku kenyang."katanya menghibur Fitri supaya tidak takut padanya.


"Da-darah ma-manusia?"tanyanya memastikan nada bergetar.


Gadis itu menggeleng,"tidak. Tenang saja, aku meminum darah hewan bukan darah manusia meski jujur saja kalau meminum darah manusia itu lebih lezat daripada darah hewan."ucapnya memegang dagunya berpikir bahwa apa yang dikatakan itu benar. Fitri diam sejenak lalu jatuh pingsan membuat Lidya kaget.


"Eh Fitri, bangun!"kata Lidya menggoyangkan tubuh Fitri supaya ia bangun dari pingsannya. Gadis vampir itu hanya menatap tidak percaya hanya karena berkata seperti tadi. Teman Kakak Yusuf bisa pingsan.


  Lina yang kebetulan lewat terkejut melihat Fitri jatuh pingsan ia segera menghampiri Fitri. "Eh ada apa dengan Fitri? Kenapa bisa pingsan?"tanyanya sedikit panik tapi ia mencoba untuk tetap tenang tidak panik.


Lidya menatap Lina bentar lalu menatap Fitri yang masih pingsan. "Ini hanya masalah sepele lebih tepatnya shock mendengar perkataan gadis kecil ini. Bahwa meminum darah manusia lebih enak daripada minum darah hewan. Jadi Fitri yang ketakutan, pingsan."jelas Lidya.


Lina menghela nafas sejenak menoleh ke Caca, gadis vampire itu yang tengah tersenyum tanpa dosa. "Ya ampun, Ca. Kan kakak sudah bilang jangan takuti semua orang dengan kalimat itu."Lina mengasih peringatan ke Caca.


Gadis bernama Caca itu menunduk,"maafkan aku kak. Aku salah."ucapnya mengakui kesalahannya. Lina mengelus kepala yang di tutupi oleh jaket,"sana bermain sama yang lainnya."


  Caca pergi berlari bergabung dengan anak seumurannya Lidya memerhatikan gadis bernama Caca itu. Lalu menatap Lina yang berusaha membangunkan Fitri dari pingsannya. Beberapa menit kemudian Fitri terbangun dari pingsan dan memegangi kepalanya yang sedikit sakit.


"Ah aku tadi bermimpi aku bertemu dengan gadis kecil yang menjadi Vampire."kata Fitri setelah bangun dari pingsannya. Lidya tersenyum memegangi bahu Fitri,"yo, kita harus membantu yang lainnya!"ajak Lidya bangkit berdiri kemudian mereka bertiga membantu yang lainnya untuk menyiapkan barang-barang buat nanti malam.


  Selama membantu yang lainnya betapa terkejutnya Lidya melihat semua orang di sini memiliki kekuatan yang tidak bisa di nalar buat manusia biasa. Sepertinya pintu tersebut membuat khayalan-khayalan terus keluar dari sana. Lidya hanya takut dengan satu saja yaitu musuh. Ia tidak tahu, musuh yang mana memiliki kekuatan terbesar.

__ADS_1


Anak-anak panti juga seperti itu ada beberapa anak yang memiliki kekuatan seperti Caca, gadis manusia setengah vampire. Dan ada juga tiga anak laki-laki memiliki daun telinga seperti binatang, ada kucing, rubah dan kelinci. 


Dan ada sebuah pertunjukkan kecil di sana, di depan ada kayu panjang salah satu pemuda berambut hitam dan ada penutup yang menutupi sebelah matanya. Ia menatap ke depan melihat kayu yang ada di depannya lalu melemparkan sebuah bomerang tajam mengarah ke kayu tersebut membuat kayu itu dengan mulus nan rapi terpotong seperti bekas gergaji. Kemudian bomerang tersebut kembali padanya.


  Lina, Lidya dan Fitri tercengang melihat pertunjukkan kecil itu. "Wah, dia seperti kekuatannya Anggi lah."komentar Fitri dibalas anggukan mereka berdua yang tidak bisa berkomentar apa-apa.


"Hai kalian bertiga!"sapa seorang pemuda membawa sebuah pisau di tangannya otomatis mereka bertiga melebarkan kedua matanya. Bayangkan seorang pemuda membawa pisau dan menyapa mangsa dengan lembut. Ketiganya menatap pemuda tersebut dan menelan air ludah berat.


"Hai juga?"sapa Lidya balik sambil mengangkat tangan melambai pelan. Pemuda itu tersenyum.


"Apakah kalian ingin melihat pertunjukkan yang lebih memukau dari bommerang piring dari Noel?"tanyanya melihat pisau yang di genggamnya lalu menatap ketiga gadis di depannya dengan wajah ekspresi benar-benar melihat mangsa.


  Fitri dan Lina memeluk Lidya dari samping kebetulan Lidya berada di tengah. "Eh kalian berdua kenapa?jangan takut sama dia."ucapnya mencoba tidak terlihat takut padahal ia juga sama takutnya dengan kedua temannya ini.


Pemuda itu tanpa berbicara apapun memberikan pisaunya ke tangan Lidya tentu saja membuat gadis itu terkejut. Dan pemuda tersebut menyuruh Lidya melemparkan pisau itu kearahnya dan ia tidak akan mengelak sedikit pun.


  Lina yang tidak tahan akhirnya mengomentari perbuatan pemuda itu yang mencari mati. "Kau gila apa? Kau cari mati ha?sayangilah nyawamu jangan buang nyawamu gegara pisau ini!"teriak Lina membuat hampir beberapa orang menoleh kearah Lina. Gadis cantik itu tidak peduli ia jadi sorotan mata murid SMA Negeri satu.


Lidya menatap pisau di genggamannya dalam hati ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri karena telah menuruti permintaan pemuda yang konyol ini. Ia menyuruh Lina dan Fitri sedikit menjauh darinya. Dengan berat hati mereka berdua melangkah mundur, menjauh darinya.


  Semua orang menatap apa yang akan terjadi. Lidya menghela nafas kasar menatap sasaran ke depan. Coba bayangkan bahwa yang berdiri di depanmu itu adalah sasaran anak panah yang menempel di dinding. Jangan berpikir bahwa ia adalah manusia bodoh yang cari mati, batin Lidya.


  Ia sudah mengambil ancang-ancang melemparkan pisau mengarah ke pemuda itu lalu di lemparkan pisau tersebut kearah pemuda itu. Pisau tajam tersebut dengan cepat meluncur dan menancap tepat di perut pemuda tersebut. Darah segar mengucur deras keluar dari perut pemuda itu.


Lidya jatuh tertunduk melihat apa yang ia lakukan dan akan di cap sebagai psycopat detik ini juga, dihadapan semua murid. Tanpa di sadari Lidya pemuda tersebut mencair dan pisau itu tergeletak di sana. Kemudian pemuda itu berganti posisi di belakang Lidya dengan badan utuh tanpa luka sedikitpun di perutnya. Fitri dan Lina kaget.


"Terima kasih telah berusaha untuk membunuhku atas permintaanku tapi itu semua sia-sia."ucapnya membuat kedua mata Lidya terbelalak mendengar suara pemuda yang jelas-jelas terluka di bagian perutnya. Ia menatap kedepan dimana ia meluncurkan pisau tepat di depan matanya langsung.


Tapi kini hanya ada pisau yang tergeletak dan disana ada satu tetes darah yang ada di pucuk lancip pisau itu. Ia menoleh kebelakang melihat pemuda tersebut berada di sana, berdiri ekspresi datar.


"Ti-tidak mungkin!"ucap Lidya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kekuatan yang anti mainstream itu? Kan aku sudah bilang, aku tidak akan mati terbunuh begitu saja karena aku memiliki kekuatan mencair. Benda tajam pun tidak bisa melukaiku."jelasnya.


"Tapi bagaimana dengan darah yang menempel di pisau itu?"tanya Lidya menunjuk ke pisau itu.


"Oh itu, dia hanya melukaiku sedikit terus aku kembali seperti semula."katanya. "Namaku Yudistira biasanya dipanggil Yudi."ucapnya memperkenalkan diri,ia mengerit melihat gadis itu bangkit berdiri,"jadi siapa namamu?"tanya Yudi.


"Hmm, namaku Lidya."


"Kekuatan?"


"Aku masih manusia normal. Tidak memiliki kekuatan."jawabnya membuat Yudi sedikit terkekeh mendengarnya.


"Kenapa kau terkekeh seperti itu! Tidak ada yang lucu."kata Lina menatap tidak suka pada Yudi.


"Masa tidak memiliki kekuatan sih. Di sekolah SMA Negri sudah 90% semua murid memiliki kekuatan. Apakah di sekolah kalian masih belum ada yang memiliki kekuatan?"tanya Yudi sedikit menyindir membuat Lidya kesal.


"Di sekolah kami hanya ada beberapa murid saja yang memiliki kekuatan."sahut Fitri kesal.


"Hahaha, jangan serius begitu. Aku hanya bercanda saja."kata Yudi bahwa semua perkataan barusan candaan. Membuat Lina bertambah kesal,"Hei, bercanda itu ada batasnya tapi itu tadi bukan candaan tahu!"


"Iya. Bagaimana sih?"


"Hahaha, maaf. Dan bentar lagi SMA Negri akan berganti nama SMA Strength. Karena semua hampir memiliki kekuatan."katanya.


"Bagaimana bisa merata seperti itu di sekolah kalian. Hampir semua sekolah hanya ada beberapa murid saja yang memiliki kekuatan tapi bagaimana bisa di sekolah SMA Negeri satu semua muridnya memiliki kekuatan merata seperti itu?"tanya Fitri begitu heran dengan murid SMA Negeri satu.


Yudi mengangkat kedua bahunya tidak tahu. "Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Kalau ada yang memiliki kekuatan melihat masa lalu dan masa depan. Kemungkinan kita bisa tahu kenapa di SMA Negeri bisa merata seperti itu."ucap Yudi berbalik dan berlalu pergi.


"Ini aneh."gumam Lina.


*Jangan Anggap kami lemah*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2