Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Enam Puluh Tujuh:Aska Siuman


__ADS_3

    Malam sudah datang, di langit malam ada bulan purnama yang sedikit tertutup awan. Angin malam semilir menerpa wajah pemuda-pemudi yang terpaksa berkemah di depan api unggun, duduk melingkar.


   Lidya menoleh melihat Aska belum sadar begitupun Anggi. Fitri, ia memilih untuk tidur duluan setelah memakan ikan bakar karena capek selesai bertarung dengan monster tadi. Kedua lututnya ia tekuk dan peluk,tatapan mata mengarah ke api yang memberi cahaya.


  Beni selaku ketua kelas dan juga anggota osis menghela nafas panjang. Bingung, harus ngapain dalam kondisi seperti ini. Ia sendiri tidak tahu, apakah hutan yang luas ini ada jalan keluar? dan kekuatan Aska itu adalah kunci harapan. Tetapi kelihatannya Aska belum bisa mengendalikan kekuatan itu dengan baik.


   Suasana saat ini hening tidak ada yang membuka suara semua sibuk memikirkan jalan keluar. Lidya diam mencoba berpikir keras supaya bisa mengetahui kekuatan Elements eyes tanpa membuka koneksi internet yang bakal tidak bisa di jangkau, di hutan.


  Harusnya ia tahu semua kekuatan yang dimiliki oleh teman-temannya karena imajinasinya sangat banyak dan mereka sekarang menjadi nyata dalam bentuk orang lain. Ia takut, kalau beberapa imajiansi penulis lain seperti dirinya memiliki tujuan lain. Berharap,itu tidak akan pernah terjadi selama tanda musuh tidak ada.


   Merogoh saku celananya mengeluarkan gantungan kunci bergambar monster tupai yang sudah dikalahkan oleh Aska. Pandu menoleh melihat Lidya memandang gantungan kunci tadi.


"Memikirkan sesuatu?"tanyanya membuat Lidya sedikit tersontak kaget karena terlalu fokus dengan pikirannya. Ia memeganggi kepalanya yang sedikit pusing lalu menatap Pandu tersenyum,"hanya memikirkan hal kecil saja."katanya mengangkat gantungan kunci di genggamanannya.


"Mungkin ini gantungan kunci adalah sebuah tanda yang belum kita pahami. Aku sendiri meragukannya."kata Lidya membuat keempat pemuda bingung maksud perkataan Lidya.


Sebelah alis Arkan terangkat,"maksudnya?"


"Maksudku kita harus berhati-hati. Bahaya akan terus berdatangan yang entah memiliki tujuan apa? Aku sama sekali tidak tahu."kata Lidya memandang gantungan kunci itu tatapan sedih dan mengenggam erat seolah ia tidak akan hal membahayakan terjadi.


   Hal membahayakan yang diciptakan oleh musuh---sekarang ia yakin bahwa musuh sudah dekat.  Riko melihat gerak-gerik Lidya seperti tahu segalanya tetapi ia masih meragukan gadis tersebut.


  Tak lama kemudian Aska bangun dari pingsannya membuat yang lain menoleh dan merasa senang.


"Wah, kamu udah siuman. Syukurlah."kata Arkan tersenyum.


"Alhamdulillah."kata Lidya tersenyum seraya mengantongi kembali gantungan kunci di celananya dan menghampiri Aska.

__ADS_1


  Pemuda itu perlahan bangun seraya memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Arkan menepuk bahunya pelan, Aska menoleh. "Kau baik-baik saja kan?"Aska mengangguk pelan dan mengganti posisi duduknya yang nyaman.


Aska melihat sekeliling yang sudah gelap dan tiba-tiba saja perutnya berbunyi. Beni menyodorkan ikan bakar ke Aska dibalas ucapan terima kasih serta senyuman.


"As!"panggil Lidya membuat Aska menoleh melihat Lidya berdiri di hadapannya dengan wajah yang tidak bisa di deskripsikan. Aska sesekali menyantap makananya.


"Iya,Lid. Ada apa?"tanya Aska, gadis itu duduk di samping Beni dengan mata yang terus menatap ke arah Aska.


"Aku ingin mengatakan kekuatan matamu itu bisa mengembalikan kita semua kembali ke kota."ucap Lidya membuat semuanya kaget kecuali Aska. Pemuda itu sudah tahu saat ia masih keadaan pingsan dan bertemu dengan gadis bernama Greysia.


"Aku tahu. Tapi aku belum bisa mengendalikan kekuatanku ini."jawab Aska.


Riko menghela nafas kasar mendengar kalimat putus asaan, ia sama sekali tidak suka dengan hal itu. "Omong kosong! Kalau kau berusaha latihan keras. Kekuatanmu akan optimal."komentar Riko memang pedas tapi ia berhasil memberi pasokan yang harus dilaksanakan.


Arkan menggeleng melihat sikap Riko yang bisa dikatakan bar-baran. "Itu pemasukkan yang Bagus,Rik."kata pemuda berkacamata itu dibalas tatapan datar dari Riko, tidak mengerti.


"Perkataanmu tadi,masalah latihan kekuatan. Rata-rata SMK Cemerlang tidak ada satu anak pun yang melatih kekuatan mereka. Beda dengan SMA Negeri satu sekarang ---- mereka di ajarkan mengendalikan kekuatan. Aku tahu ini mustahil dan aneh."katanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,semuanya menyimak. Arkan menjelaskan secara rinci dari awal mulai kekuatan muncul saat korban bullying.


  Karena Arkan pernah melihat secara langsung kekuatan itu muncul saat korban sudah tidak kuat atau lemah menghadapi orang yang mencari masalah. "Kekuatan yang singgah di dalam tubuh masing-masing orang bisa jadi karena emosional yang luar kendali atau keinginan."tutupnya menghela nafas.


  Ia membenarkan kacamatanya yang turun, "jadi orang yang memiliki kekuatan seperti kalian harus latihan banyak. Tidak bisa di ubah aturan itu loh."katanya.


Tentu saja membuat semua orang terkejut mendengar penjelasan luar biasa dari Arkan, pemuda jenius.


*Jangan Anggap kami lemah*


   Keesokkan harinya mereka berdelapan menyiapkan makanan terlebih dahulu sebelum latihan yang kemarin malam di rundingkan. Pandu dan Aska segera menuju dimana letak perangkap hewan yang kemarin Lidya dan Aska pasang. Sedangkan Fitri berlari bolak-balik mengambil air dari sungai yang kemarin Beni dan Riko lewati.

__ADS_1


  Anggi dan Lidya menyiapkan api dan peralatan seadanya. Gadis itu menoleh mengara ke Anggi,"bagiamana kondisimu sekarang?"


"Hmm, baik-baik saja. Ternyata kalau aku kebanyakan menggunakan kekuatanku--aku bisa pingsan."kata Anggi menoleh kearah Lidya tersenyum.


"Berarti kekuatanmu di batasi sama seperti Shena. Dia gadis kuat kayak wonder woman. Kalau rambutnya berwarna merah berarti dia mengeluarkan kekuatan yang luar biasa yaitu bisa mengangkat barang berat serta meninju kawan dengan hantaman kuat sampai orang itu mental jauh."jelas Lidya menceritakan sedikit tentang kekuatan Shena.


  Anggi mengangguk mengiyakan serta ber O ria mendengar kekuatan hebat gadis itu memang mengagumkan. Ia pernah melihat saat di panti asuhan kalau ada seorang gadis yang tiba-tiba saja warna rambutnya berwarna merah. Lidya tersenyum dan memberitahu bahwa itu adalah gadis bernama Shena.


"Kalian semua, lihatlah kita mendapatkan kelinci hutan!"seru Pandu sambil membawa beberapa kelinci hutan sebanyak 3 ekor.


"Wuh, kayaknya enak tuh."kata Anggi senang.


"Dan aku juga menemukan pensil yang entah membuatku tertarik mengambilnya."kata Aska mengeluarkan sebuah pensil yang memiliki gambar hero laba-laba.


Aska menydorokan pensil itu ke Lidya. Dengan senang hati Lidya menerima pensil itu,"tahu aja kalau aku membutuhkan pensil."katanya.


    Lalu mereka semua memulai sibuk sendiri-sendiri ada yang memasak dan menyiapkan makanan yang bisa dibilang sederhana. Serta memanfaatkan tumbuhan dan hewan yang ada di hutan belantara ini. Setelah selesai makan, mereka semua membersihkan makanan lalu mulai persiapan buat latihan kekuatan.


Tetapi Fitri menolak karena dari kemarin belum mandi. "Eh iya lah. Dan kita aja nggak bawa salin gimana mau mandi."kata Lidya mau ngapain."


"Hmm, eh apa yang kelap kelip di sakumu... Lid."kata Arkan sadar kalau di saku celana Lidya ada benda yang berkelap kelip.


Lidya merogoh sakunya dan melihat kalau pensil yang tadi Aska temukan berkelap-kelip seperti cahaya. Gadis itu melihat kearah teman-temannya yang tidak percaya kecuali Riko. Pemuda itu sedikit heran dan bingung, semua yang menimpa dirinya seta teman-temannya.


Sungguh aneh.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2