
6 tahun kemudian...
Awal bulan Juli, cuaca begitu cerah benderang. Awan putih menghiasi langit biru cerah dan beberapa burung bertebangan. Jalanan yang nampak ramai, banyak perjalanan kaki, mobil, kendaraan umum berlalu lalang. Kota yang dulu di sebut Kota Selatan dan terganti Kota Mati. Kini berganti nama menjadi Kota Rose.
Kota ini begitu banyak di tanami bunga Mawar yang indah salah satunya lapangan yang memiliki luas 2 hektar itu. Begitu banyak bunga Mawar dan tidak sedikit orang berkunjung kesini untuk memanjakan mata, berkencan atau berselfie.
Setelah peperangan yang terjadi 6 tahun yang lalu, semua orang berbondong-bondong menuju ke Kota Selatan untuk kehidupan baru mereka. Semua orang di sini sama sekali tidak mengingat kejadian enam tahun lalu dan masalah kota hancur lebur di nyatakan terkena bencana alam.
Kota yang hancur tersebut sedangĀ di bangun dengan suasana baru namun butuh uang yang cukup banyak. Terlihat seorang wanita tengah buru-buru, ia sudah terlambat mengirimkan naskah cerita yang ia buat tiga hari.
Langkah kaki jenjang terus melangkah menuju gedung besar. Ia menghentikan langkahnya menuju ke resepsionis bahwa ia tidak terlambat mengumpulkan naskahnya. Wanita itu sudah merelakan jam tidurnya untuk mengerjakan naskah cerita. Ini bukan karena uang atau hal lainnya, cukup ceritanya di terbitkan dan bisa di baca semua orang.
Ia akan berterima kasih. Resepsionis itu tersenyum dan mengatakan bahwa pengumpulan naskah tepat waktu membuat wanita berambut panjang sepunggung berwarna pirang bergelombang, matanya membulat terdapat ada rasa lega di hatinya.
"Terima kasih mbak."
"Sama-sama, mbak."
"Mbak. Datang dua hari lagi kesini karena nanti semua penulis akan di kumpulkan dan buku yang lolos review akan di terbitkan."katanya di balas angguk Lidya.
Sekarang Lidya sudah bertumbuh dewasa dengan gaya berbeda. Lidya memiliki paras cantik, warna kulit kuning sawo, rambut berwarna pirang, gigi yang memiliki ginsul membuat setiap ia tersenyum terlihat manis. Lidya mengecek jam yang melingkar di tangannya.
"Astagfirullah. Aku harus datang ke stasion televisi pasti mereka menungguku."ucap Lidya segera pergi dari sana.
Maulidya Wahyu Fatmawati,ia sekarang menjadi penulis cerita di salah satu stasiun televisi dan Lidya mencekal cerita kartun yang sekarang terkenal. Cerita yang ia tulis waktu masih remaja dulu. Tak lama kemudian Lidya sampai tujuan dan menuju ke ruangan editor.
Ia melihat semua pegawai tengah sibuk di komputernya masing-masing, menggambar karakter-karakter. Lidya berjalan ke meja milik salah satu rekannya yang menggambar sketsa karakter.
"Apa begini style karakternya? Aku memanggilmu ke sini buat memastikan ini benar atau tidak. Kalau benar, aku akan menyuruh Dina buat ngerjain karakter ini."kata Andre.
Lidya melihat seksama dari depan, belakang, sisi kanan, kiri. Ia sedikit kurang dengan gaya rambutnya. Andre dengan sigap mengganti gaya rambutnya jabrik berponi dan pakaian yang bersebelahan, dua pedang berada di punggungnya.
"Tokoh ini namakan Dito."ucap Lidya membuat Andre mengerit bingung.
"Buk--"
"Sst, biarkan saja. Buat nama samaran aja. Hehehe."ucap Lidya.
Lalu datanglah seorang gadis dengan wajah berseri-seri menghampiri Lidya.
"Lid. Lid!"
"Iya, Liza. Ada apa?"tanya Lidya. Liza langsung menyuruh Lidya menatap layar handphone di genggamannya. Di sana rank film kartun hasil karangan ceritanya melonjak lalu Liza memberitahu postingan tebit buku. Dimana tadi Lidya mengirimkan naskah kesana mendapatkan komentar sangat wow.
Lidya sangat senang sekali. Perlahan-lahan waktu berlalu,2 hari kemudian. Esok sudah datang dan waktunya Lidya menuju ke gedung penerbit buku. Wanita itu menuju ke ruang khusus dimana semua penulis berada di sana. Lidya melihat sekeliling dan duduk di kursi kosong, begitu banyak penulis di sini dari yang mudah sampai yang tua. Mereka pasti rela mengikuti kesempatan ini buat buku mereka di terbitkan.
__ADS_1
Seroang wanita bertubuh gendut berdiri di atas mimbar dan mengetuk mic berulang kali untuk mengisyaratkan agar diam dan memperhatikan dirinya. Lidya menatap wanita gendut itu berceramah banyak membuat Lidya mengantuk.
"Huaa, ngantuk sekali."gumam Lidya menutup mulut, rasa kantuk tiba-tiba datang begitu saja padahal ia ingin sekali mendengar karya siapa saja yang lolos untuk terbit. Katanya ada sekian banyak buku yang lolos hanya 3 buku. Itu membuat jantungnya berdebar-debar.
Seseorang yang ada di sebelah kursi Lidya sedari tadi diam memerhatikan tanpa di sadari oleh Lidya bahwa ada orang yang memperhatikannya.
"Kalau ngantuk, nyender di bahuku saja."ucapnya suara lembut. Lidya kaget mendengar suara itu lalu menoleh melihat pria yang umurnya tidak jauh beda darinya. Pria yang duduk di sebelahnya memakai topi, rambutnya keriting hitam lebam, di bawah telinga kananya terdapat tahi lalat. Pria itu tersenyum ke arah Lidya, senyuman pria ini mengingatkan pada seseorang.
'Senyumannya sama seperti dia'--batin Lidya.
Pria itu memerhatikan Lidya yang tiba-tiba melamun, ia menyadarkan lamunan Lidya membuat wanita itu terkejut.
"Maafkan aku. A-aku tidak mengantuk kok."ucap Lidya cepat lalu menatap ke depan. Wanita gendut itu masih ceramah panjang lebar membuat Lidya tidak semangat padahal ia sangat penasaran karya siapa saja yang lolos.
"Sambil nunggu, ceramah ini. Bolehkah aku berkenalan denganmu?"tanya pria di samping Lidya membuat ia menaikkan sebelah alisnya, aneh dan heran. Pria ini berusaha akrab dengannya.
"Namaku Leo Irfan Renaldi. Panggil aja Irfan."ucapnya memperkenalkan diri mengulurkan tangan ke Lidya.
Lidya menerima uluran tangan Irfan,"namaku Maulidya Wahyu Fatmawati panggil saja Lidya."mata Irfan membulat sempurna tidak menyangka.
"Kenapa?"Lidya menyadari kalau Irfan menatap seolah tidak percaya dengan sesuatu.
"Benarkah, kau Lidya?"
"Iya, benar. Memangnya kenapa?"
"Mimpi?"
"Aku penggemarmu. Aku sudah melihat karyamu di aplikasi oranye. Ceritamu menarik dan sayangnya ada beberapa cerita yang sepi pembaca."jawabnya membuat Lidya kaget. Ia tidak menyangka kalau ia punya seorang penggemar.
"Aku kira. Aku tidak bisa bertemu denganmu ternyata tuhan mempertemukan kita."katanya di balas kekehan canggung Lidya. Ia kalau sama orang baru memang sangat canggung.
Akhirnya yang di tunggu-tunggu Lidya datang juga dan senyuman mengembang terlukis di sudut bibir wanita itu. Bahwa karyanya resmi di bukukan. Tidak hanya itu saja ia sempat terkejut mendengar karya lain dari penulis yang sempat ngedown. Tio Wulan Sandi.
Lidya menatap pria berambut biru dengan penampilan sederhana. Laki-laki itu sama sekali tidak berubah dan terakhir adalah buku tentang horor, itu dimenangkan oleh seorang gadis remaja. Kalau kalian pengen tahu, cerita Lidya yang ia kirim tentang buku apa?
Cerita yang mengungkit masa lalu, cerita bergenre fantasi, Action dan Romantis.
"Kamu kali ini nulis apa?"tanya Irfan kepo.
"Aku nulis buku tentang genre Fantasi kalau kamu?"
"Aku tentang Scifi. Aku tidak pernah lepas dengan genre itu. Meski aku berusaha menulis genre yang lain, genre Sci-fi selalu saja ikutan."jawab Irfan.
"Haha. Memang kalau sudah zona nyaman susah buat di lupakan."ucap Lidya tersenyum miring.
__ADS_1
Setelah selesai dengan urusan yang melelahkan. Jadwal Lidya memang sangat padat. Teman-temannya kini sudah sukses. Dan mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing begitupun dengan Lidya. Wanita itu membawa bunga Mawar merah dan berjalan ke arah kuburan yang bertuliskan nama 'Prima Pandu Binti Dewana'. Lidya meletakkan bunga di atas kuburan tersebut.
Air mata tiba-tiba menetes. Kejadian 6 tahun lalu tidak akan pernah hilang di benak Lidya. Kejadian itu masih terlihat begitu jelas. Ia mengusap batu nisan itu dengan senyuman,"Pan, aku datang ke sini buat mengatakan sesuatu padamu. Aku berhasil membuat satu karya yang sepertinya membuat hati para pembaca tertarik."kata Lidya.
"Kisah di karyaku itu tentang kita semua. Teman-teman kita, Pan. Dan rasa yang berkecamuk."
"Kisah yang tidak akan pernah ku lupakan, seperti apa yang kau katakan saat itu. Kalau aku tidak akan pernah melupakan mereka. Rekan seperjuangan."kata Lidya lagi mengelus batu nisan itu.
Di sisi batu nisan itu ada seorang pemuda yang sedari tadi memerhatikan wajah Lidya. Saat Lidya berkunjung ke pemakaman ia selalu memerhatikan wajah Lidya. Ia senang kalau Lidya sering berkunjung ke pemakamannya, membawa berita bagus dan kadang curhat. Ia selalu mendengar secara jelas tapi ia tidak bisa menjawab pertanyaan Lidya jika wanita itu tidak bersama Vin.
Pandu tidak menyangka kalau wajah teman-temannya banyak yang berubah. Terutama Lidya, wanita itu benar-benar cantik dengan warna rambut pirang.
"Andai saja. Aku masih hidup, aku pasti akan menikahimu hanya saja aku sudah berpulang. Dan pastinya jodohku bukan dirimu."katanya tersenyum. Pandu berusaha memegang pipi Lidya seperti ia memegang pipi saat ajal mau menjempunya. Ia sangat senang bisa berada di pangkuan wanita yang di sayanginya.
Ketika telapak tangan Pandu memegang pipi Lidya, tangan itu tembus. Wanita yang tengah asik mengelus nama nisan Pandu, berhenti. Ia merasa ada angin di pipinya. Lidya memegang pipinya yang tadi di sentuh oleh Pandu. Pandu hanya menggigit bibirnya, ia tidak mau ketahuan sama Lidya.
Hei tunggu dulu! Pandu sudah berada di alam berbeda dengan Lidya tentu saja Lidya tidak akan tahu kalau Pandu ada di sana.
Senyuman terukir di sudut bibir Lidya membuat Pandu ikut tersenyum. "Ya sudah. Aku pergi dulu, Pan. Oh iya, ibumu merindukanmu katanya aku akan calon menantunya selamanya."
"Kau pasti rindu sama ibumu bukan? Ibumu sekarang sudah senang dan mengikhlaskanmu pergi. Katanya semoga tenang disana."kata Lidya menahan tangis.
"Ibu. Aku rindu ibu."kata Pandu.
"Kabar baik setelah karyaku terbit minggu depan. Aku...aku akan di lamar seseorang, apakah kau tidak keberatan?"tanya Lidya. Pandu menunggu ucapan selanjutnya dari Lidya.
"Apa itu Riko?"tanya Pandu pada Lidya.
"Aku akan di lamar oleh..."ucapnya terhenti ketika datang dua wanita yang Pandu yakin kalau itu Lina dan Elle.
"Assalamualaikum."ucap Lina dan Elle bersamaan.
"Waalaikumsalam."
"Ada apa kalian ada disini?"
"Ya ampun, apa kau tidak ingat? Rencana lamaran dan pernikahan?"kata Elle berkacak pinggang.
"Iya bentar. Aku akan membaca doa terus mengatakan kalau aku cinta sama Pandu."kata Lidya.
Pandu hanya terkekeh mendengar berapa kali kata "aku mencintaimu" dari mulut Lidya untuk Pandu. Setelah Lidya, Elle dan Lina berdoa untuknya. Pandu sangat senang memandang ketiga wanita itu perlahan pergi dari pemakamannya.
"Aku sangat senang melihatmu bahagia dengan orang lain. Terima kasih."ucap Pandu menghilang dari sana dan untuk selamanya. Pemuda itu tidak akan pernah kembali ke tempat yang tidak seharusnya ia ada di sana. Ia hanya menunggu Lidya mengatakan kalau ada orang yang singgah di hati wanita itu.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung..