
Seluruh badan Charlie mengeluarkan cahaya kuning yang semakin lama semakin bersinar menbuat jarak pandang Charlie tidak kuat melihat cahaya yang benderang itu. "Aaaa!"teriaknya keras dari dalam kamar.
Bu Zulia dan pembantu lain yang berada di dapur bergegas keluar dapur, melangkah cepat menuju ke kamar Charlie. Wanita paruh baya itu menjadi khawatir dan mengetuk pintu kamar Charlie,"Tuan Charlie! Apa tuan baik-baik saja di dalam sana!"teriak Bu Zulia. Pembantu yang berada di samping Bu Zulia juga memasang wajah khawatir sebelumnya Charlie tidak pernah berteriak kencang seperti ini apalagi teriakannya seperti orang kesakitan.
"Bi,coba buka pintunya siapa tahu tidak di kunci oleh Tuan Charlie."katanya dibalas anggukan Zulia. Lalu beliau membuka pintu tersebut yang tidak di kunci kemudian dua pembantu tersebut masuk ke dalam kamar Charlie dan terkejut melihat Charlie tidur tergeletak di depan cermin.
Kedua pembantu itu cepat-cepat menghampiri Charlie. Zulia yang sudah menganggap Charlie seperti anaknya sendiri sangat khawatir, beliau mengangkat kepalanya ke kakinya dan menepuk-nepuk pipi Charlie pelan. "Tuan Charlie, bangun tuan!"kata pembantu yang berumur lebih muda dari Bu Zulia.
"Sunya, cepat ambilkan minum di bawah dan segera cepat bawa kesini!"perintahnya dibalas angguk Sunya dan berlalu pergi mengambil minuman. Zulia menatap wajah Charlie,Zulia terus-menerus berusaha untuk menyadarkan Charlie ia takut kenapa-kenapa dan kalau Tuan Drew tahu. Ia dan pembantu lainnya mendapatkan masalah.
Sunya kembali dengan langkah buru-buru membawa satu gelas air minum dan memasukkan air ke mulut Charlie sedikit setelah memasukkan air ke mulut Charlie sedikit. Tidak lama kemudian ia sadar dan terbatuk-batuk,"huk..huk..huk."
Seulas senyum terukir jelas di bibir Zulia dan Sunya melihat Charlie sudah sadar. "Tuan Charlie,tidak apa-apa?"tanya Sunya senang melihat kesadaran Charlie.
Charlie mengangguk pelan,"iya. Aku tidak apa-apa, terima kasih Sunya dan Bu Zulia."ucapnnya berterima kasih pada Zulia dan Sunya dengan seulas senyum manisnya. Zulia bernafas lega,"syukurlah kalau begitu. Charlie kenapa tiba-tiba jatuh pingsan di sini?"tanya Zulia dan Charlie bungkam seketika kalau Bu Zulia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
Ia menggeleng,"aku juga tidak tahu. Mungkin aku hanya kelelahan saja."jawabnya asal. Charlie di bantu oleh kedua pembantunya yang selalu mendukung Charlie bisa di bilang Charlie adalah majikan kecil kesayangan pembantu. Mengapa demikian, karena Charlie sangat tahu apa yang di rasa oleh pembantu-pembantunya selama bekerja di rumah. Charlie bisa merasakan semua ini berkat nenek yang selalu ia bantu menjualkan dagangan kuenya.
Teknologi sekarang memang canggih-canggih namun banyak sekali orang di luar sana, menganggur. Charlie duduk diatas kasur dan mendapatkan perhatian dari Bu Zulia menyuruh istirahat. Sunya tersenyum,"kalau Tuan Charlie meminta apa-apa tinggal panggil Sunya saja. Aku akan segera datang dengan cepat."kata Sunya sedikit melontarkan lelucon membuat Charlie terkekeh kecil.
Sunya adalah pembantu paling periang di sini dan ia sama sekali tidak pernah menunjukkan raut sedih nya meskipun ia sering di marahin oleh ayahnya karena sedikit ceroboh. Dan Sunya masih berumur 25 tahun, muda banget dari pembantu lainnya yang umurnya sudah menginjak 30 tahunan.
"Terima kasih Sunya. Aku akan memanggilmu kalau aku membutuhkan sesuatu. Sekarang kamu lebih baik mengerjakan tugas rumah yang belum selesai. Kalau lelah istirahat."kata Charlie sangat bijak dibalas angguk Sunya lalu perempuan itu keluar kamar.
Zulia masih berada di samping Charlie,tersenyum tipis. Charlie menoleh ke Zulia,"Bu. Apa Charlie boleh meminta satu permintaan lagi?"wanita itu tersenyum yang artinya boleh.
"Aku ingin dicarikan teman,bu. Charlie juga ingin bertemu dengan anak ibu."kata Charlie sontak saja Bu Zulia terkejut mendengarnya.
"Charlie. Anak ibu sudah besar-besar tidak ada yang semuran sama Charlie. Mereka sudah kuliah, dua-duanya."kata Bu Zulia dibalas rasa kecewa,"yah, aku pikir masih umur di bawahku nanti aku anggap adik."ucapnya.
__ADS_1
"Hmm."Bu Zulia berdehem dan beliau baru ingat kalau ada salah satu pembantu yang memiliki anak di bawah umur Charlie yaitu berumur 12 tahun, kelas 6 SD. "Nanti ibu akan bilang ke Answa. Dia punya anak yang di bawah umur Charlie masih berumur 12 tahun namanya Iva."ucapnya membuat mata Charlie berbinar-binar.
***
Di siang hari Charlie sudah berdandan rapi memakai ham dan celana jeans yang memiliki accesories rantai di saku kirinya. Ia juga memakai topi supaya rambutnya tidak terkena angin yang membuat kerapian rambutnya semrawut. Sunya,Answa dan Bu Zulia melihat Charlie yang sudah siap-siap dengan pakaian rapi seperti menyambut keluarganya.
Charlie hari ini akan pergi ke bandara untuk menjemput Iva di sana. Karena semuanya sudah dibayar oleh Charlie mulai pergi naik pesawat dan Iva juga akan sekolah di sini serta tinggal di kamar tamu yang akan menjadi kamar Iva.
Bagaimana keputusan Drew tentang semua ini. Pria tegas itu menolak mentah-mentah dengan keputusan Charlie dengan kedatangan Iva, anak pembantu yang akan dianggap oleh Charlie seperti adiknya sendiri. Sebelumnya menimbulkan cekcokkan sedikit tetapi tiba-tiba saja Ayahnya diam lalu pergi menuju kantornya.
Entahlah mungkin ayah sudah lelah memarahiku, batin Charlie saat pagi tadi.
Answa selaku ibu Iva berkomentar dengan pakaian Charlie yang bagus dan terlihat menawan. "Harusnya Tuan Charlie tidak perlu repot-repot memakai pakaian kesukaan tuan."ucapnya merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Bi. Iva akan aku anggap adik kandung Charlie."kata Charlie.
Terdengar suara mobil dari luar rumah, taksi yang di pesan oleh Charlie sudah datang dan ia mengajak Answa ikut bersamanya, "ayo bi. Ikut sama Charlie supaya Iva tidak ragu ikut dengan Charlie."ucapnya menarik tangan Answa, wanita berumur 36 tahun itu. Bu Zulia tersenyum,"ikut saja. Tidak bakal dimarahin sama Tuan Drew. Aku yakin itu."ucap Zulia menyakinkan Answa.
Mereka berdua masuk kedalam taksi menuju bandara menyusul Iva. Jalanan begitu ramai dan ada kendala macet di sini, Charlie menoleh kearah samping melihat raut wajah Bibi Answa antara tidak enak dan senang bisa bertemu Iva, anaknya. Ayahnya tega tidak memulangkan semua pembantunya untuk pulang kampung halaman mereka tepat di hari Raya Idul Fitri dan saat itu juga ayahnya ada acara besar-besaran di kantor yang melibatkan pelayan yang cukup banyak. Charlie merasa kasihan pada kedelapan pembantunya pasti mereka rindu keluarga juga.
Sampai di bandara, mereka berdua segera masuk ke dalam bandara menyapu pandang mencari Iva. Answa melihat ke sekeliling mencari anaknya itu lalu ia melihat seorang gadis yang menderet kopernya dan membawa tas besar di punggungnya. Penampilan nya sudah dibilang kacau karena tidak pernah pergi jauh.
"Iva!"teriak Answa berlari mengarah ke gadis itu. Charlie yang berada di belakang Answa menyusul pembantunya itu. Iva yang namanya terpanggil melihat kedepan melihat ibunya berlari mengarahnya dengan kedua tangan di rentangkan memeluk.
Seulas senyum terukir di sudut bibir Iva,ia memeluk ibunya erat melepas rindu. Charlie yang melihat itu sangat bahagia. Mereka berdua melepaskan pelukan masing-masing. "Ibu. Ibu mengapa bilang aku harus tinggal di rumah majikan ibu yang di kenal galak itu."ucap Iva begitu polos dan mendaratkan jari telunjuk ke mulut kecil Iva.
"Sst! Jangan bilang tidak-tidak Vi. Kamu disini karena majikan ibu memintamu untuk tinggal dan di sekolah disini."sebelah alis Iva terangkat. Answa mengkode mata menyuruh anak gadisnya itu melihat sebelah kiri ibunya.
Mata Iva menoleh mengarah ke arah pemuda yang keren memakai topi di belakang ibunya. Charlie melihat Iva tersenyum senang. Answa berdiri di samping Charlie,"kenalin ini anak majikan ibu. Namanya Charlie Edward Brown panggil saja Tuan Charlie."kata Answan memperkenalkan Charlie ke Iva.
__ADS_1
"Jangan panggil Tuan?panggil saja kak Charlie atau abang Charlie saja. Namamu Iva kan?"ucap Charlie membenarkan ucapan Answa dan menebak nama gadis di depannya.
Iva merasa malu memanggil anak majikan ibunya sebutan Kakak bukan Tuan. "Hmm, iya kak!"jawab Iva sedikit malu-malu.
"Aku menyuruhmu datang ke sini karena alasan tertentu dan aku akan menganggap adik kandungku mulai hari ini!"kata Charlie saat itu juga membuat Iva terkejut apa yang di bicarakan oleh Charlie barusan. Ia tidak percaya kalau ia di suruh datang kesini karena di angkat sebagai adik kandung dari keluarga pengusaha kaya.
Pembantu menjadi majikan apalagi Iva dan Charlie baru pertama kali bertemu. Ini diluar dugaan Iva. Answa tersenyum dan bilang kalau perkataan Charlie barusan benar dan ia sengaja tidak mengatakan ke telfon tentang ini. Charlie mengulurkan tangannya ke Iva,"biar aku yang menggendong tas besar itu pasti berat kan?"kata Charlie.
Iva diam sejenak lalu melepaskan tas besarnya dan di sodorkan ke Charlie. Pemuda itu menggendong tas besar milik Iva sedangkan Iva menderet kopernya dan tangan tangannya di pegang oleh Charlie. Iva hanya bisa diam dan tidak bisa membayangkan kalau ia akan menjadi adik dari majikan ibunya.
Taksi melaju cepat menuju ke rumah megah tersebut sampai di gerbang besar. Iva hanya bisa melongo melihat rumah besar dari balik jendela taksi. Mereka bertiga turun dari taksi dan pak supir membantu mengeluarkan barang bawaan tas dan kopernya. Security yang berjaga di pos menderet koper sampai depan rumah. Iva melihat sekeliking yang tempatnya luas dan megah, banyak sekali tanaman disini jadi suasana begitu adem,enak di pandang.
Beberapa pembantu menyambut kedatangan Iva anak dari Answa. Iva hanya tersenyum kikuk dan berpikir kalau begini rasanya jadi anak majikan disisi lain ia merasa risih kalau di perlakukan seperti tuan putri, lagipula Iva juga pendatang baru.
Charlie menoleh ke Iva yang masih melihat rumah yang besar ini. "Dek, mari aku yang mengantarkan kau ke kamar yang aku sudah sulap."kata Charlie yang sudah memberi embel-embel nama adek di depan nama Iva. Itu membuat kedua pipinya memerah.
Keduanya berjalan ke atas tangga, Charlie berjalan memimpin dan membuka pintu kamar. "Tada!"teriak Charlie membuka kamar lebar-lebar. Iva berjalan dan masuk ke dalam kamar baru yang sangat luas dan disana juga terdapat kamar mandi di dalam.
Kamar berwarna kuning kesukaan Iva dan seprai bersih bergambar pisang dan ada juga monyet lucu disana. Iva tersenyum bahagia. Tubuh Charlie merasakan ada rasa geli lagi dan ia merasa kalau tubuhnya bersinar terang.
Iva meloncat kegirangan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya sekarang. Ia berbalik dan memeluk kakak angkatnya. Charlie melotot tidak percaya mendapatkan pelukan dari Iva dan tubuh Charlie bersinar menjadi cahaya kuning bercampur merah muda. Ia merasakan senang dan baru pertama kali mendapatkan pelukan hangat dari Iva, adik yang baru dianggapnya sebagai adik kandungnya.
Charlie teringat perkataan yang dikatakan oleh seorang pemuda memiliki tubuh bersinar terang seperti orang yang selalu mendapatkan juara hati orang lain. Saat ia tidak sadarkan diri.
"Kamu adalah anak yang berhati baik dan kau pantas mendapatkan energi baik dariku. Dimana energi itu selalu menyalurkan semangat dari orang-orang yang kamu sayangi. Dan tubuhnya akan bersinar seperti cahaya matahari dan bintang. Cahaya matahari yang selalu menyinari bumi dan cahaya bintang yang membuat langit malam yang indah dipandang. Jadi kamu tidak akan merasa sedih lagi, jika orang-orang yang kamu sayangi merasa senang itu membuat kamu merasa energi dan membuatmu mengejar impianmu yang selama ini tertinggal jauh dengan orang lain."jelas pemuda itu begitu rinci dan cahaya kuning itu menghilang masuk ke dalam tubuh Charlie.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Bersambung...
__ADS_1