
Pandu dan ketiga temannya selesai membeli sesuatu di sebuah toko supermarket. Mereka berempat ingin kembali ke sekolah akan tetapi pemandangan yang buruk terjadi, mereka melihat kerusuhan yang membuat beberapa orang lari.
"Ada apa?"tanya Pandu pada teman-temannya.
Beni menggunakan mode mata tembus pandang melihat beberapa orang di kendalikan seseorang layaknya boneka dan orang tersebut membawa dua pisau di dua tangannya.
"Gawat! Ada orang yang membawa pisau dan tubuhnya itu di kendalikan oleh seseorang."kata Beni sedikit panik.
"Semoga saja semua orang nggak banyak yang luka."kata Bening berharap menyatuhkan kedua tangannya penuh harap.
"Ish, musuh-musuh itu ada-ada saja membuat kisruh. Aku sama sekali tidak bisa santai sama sekali."kesal Hana membaca semua isi batin orang-orang yang merasa ketakutan dan ada yang menangis sebab tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
Pandu segera menelfon seseorang dari SMA Strength. Di perpustakaan Lidya sudah mengumpulkan semua di sini ia ingin membuka sebuah rencana apa untuk rencana akan di buat tetapi Aska bilang kalau ada kerusuhan yang tercipta di depan supermarket.
"Pengendali boneka membuat kerusuhan di sana."kata Aska membuat Lidya menghela nafas kasar kecewa.
"Baru saja sekolah kita di serang sekarang warga yang di ganggu!"kesal Fitri mengembungkan kedua pipinya sebal.
"Berarti musuh kita sudah menyiapkan semua ini dengan matang."sipul Yudi menatap semua temannya bergantian.
Yudistira mengatakan kalau musuh sudah merencanakan semua ini sudah lama jadi mereka tidak segan-segan menyerang secara beruntun. Tio yang berada di atas rak berwujud burung kecil memasang telinga mendengar penjelasan Yudistira yang begitu jelas. Tya sangat mengantuk ia ingin tidur akan tetapi di cegah oleh Veno.
"Aku ngantuk berat lah Ven."keluh Tya yang ingin ambruk.
"Nggak boleh. Dengerin penjelasan Yudi dulu baru kau boleh tidur, Kebo!"ucapnya setengah meledek. Dengan malas Tya mendengarkan celoteh Veno agar tidak tidur.
Lina bertanya ke Yudistira untuk pergi ke sana buat ngenbantuin Bandu dan Bana(nama singkatan). Tio turun ke bawah dan berubah wujud jadi manusia, ia berdiri di samping Lidya yang sedari tadi gadis itu hanya diam tidak berkutik.
"Kita bagi kelompok saja."usulnya.
"Aku setuju dengan pendapatmu."kata Melvi dingin.
Fitri melirik kakak kelasnya sekaligus ketua osis di sekolah, "Kak Melvi dingin sekali kalau bicara."komentarnya dibalas senggolan dari Anggi menyuruh untuk diam.
"Sst, diam."katanya sambil jari telunjuknya berada di bibir menghadap ke Fitri. Gadis itu hanya bisa diam mendengus sebal.
"Baiklah. Yang bagi kelompok adalah Lidya karena dia adalah ketua rapat ini."ucap Tio langsung menunjuk Lidya tanpa ada diskusi sebentar. Lidya kaget melebarkan kedua matanya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Kevin dan Abimanyu terus berlari kemana pemuda di depannya ini menuju. Mereka bertiga menaiki gedung tempat mobil parkir, ketiganya berlari memutar sekuat tenaga untuk sampai atas.
Setelah sampai atas,Kevin dan Abimanyu berhenti menarik nafas dalam-dalam. Keduanya ingin beristirahat sejenak memandang Vin yang sama sekali tidak ada kata lelah sedikit pun.
__ADS_1
"Vin. Kau tidak lelah kah?"tanya Kevin menata nafasnya lalu bangkit berdiri lagi menatap punggung Vin.
"Aku tidak lelah. Karena aku menggunakan kekuatanku untuk mempercepat langkahku."jawabnya tanpa menoleh membuat Kevin tercengang dan pingsan untuk sesaat.
Abimanyu menggunakan mata oranye-nya melihat kekuatan Vin semakin hari semakin tinggi dan ia akan bekerja sama dengan imajinasi yang bersemayam di tubuhnya. Ia bangkit berdiri dan menghampiri kakak kelasnya.
"Kita mau kemana?"tanyanya menatap ke depan dimana kota yang amat tentram dan tidak terjadi kekacauan. Mereka tidak sadar bahwa tak jauh dari sana ada keributan yang menggelegar.
Mata Vin menatap tajam menyapu semua pemandangan di sini, aman damai. Kedua matanya terpejam sesaat melihat ada seorang pemuda menunggangi hewan besar, Jangkrik. Seulas senyum miring penuh kebencian terukir jelas di bibirnya.
Lalu dengan cepat mata Vin terbuka membulat sempurna. Abimanyu yang sedari tadi memerhatikan kakak kelasnya itu heran.
"Ada apa kak?"tanya Abimanyu.
"Abi. Aku harus pergi. Kau dan Kevin lebih baik kembali ke sekolah."ucap Vin ke Abimanyu. Pemuda itu ingin sekali ikut tetapi Vin melarangnya dan Vin langsung menghilang bersama kekuatan aura hitamnya.
Abimanyu menggigit bibir bawahnya kesal seperti ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Vin. Kevin terbangun dari pingsannya.
"Di mana aku?"tanyanya pada dirinya sendiri dan memegangi kepalanya.
Abimanyu menatap Kevin datar tanpa berkata ia berjalan meninggalkan Kevin yang diam memandang Abimanyu.
"Abimanyu! Tunggu!"teriak Kevin bangkit berdiri menyusul Abimanyu yang seenaknya meninggalkannya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
Lalu orang tersebut bertemu dengan orang yang sama-sama di kendalikan oleh makhluk jahat yang sampai sekarang ini belum menampakkan diri. Kedua orang tersebut saling bertatap-tatapan dan tanpa ada aba-aba keduanya maju dan saling beradu pisau.
Sling.
Keduanya tidak henti-hentinya meminta tolong. Salah satu dari keduanya berhasil terluka. Bening berdiri tak jauh dari pertarungan keduanya ia berharap menyembuhkan luka mereka. Setiap kali luka itu tertutup ada luka yang terbuka lagi karena keduanya tidak ada hentinya saling melukai.
"Pan. Kita harus ngapain?"tanya Hana ke Pandu.
"Kita lerai aja mereka. Aku nggak bisa melakukan apa-apa sebab aku---"ucapnya terhenti karena ia sempat melupakan kekuatannya yang bisa menguntungkan dan merugikan.
Hana mengerit bingung sebab pemuda di sampingnya tiba-tiba saja berhenti berbicara. Tanpa mengatakan apapun Hana tahu apa yang ucapkan oleh Pandu tanpa mengeluarkan suara, cukup suara hati saja.
' aku akan melumpuhkan orang-orang yang di kendalikan oleh musuh' batin Pandu membuat seulas senyum Hana terukir.
"Ide bagus,Pan."kata Hana tiba-tiba membuat Pandu menoleh ke Hana terkejut.
"Ha?"
__ADS_1
Beni melawan salah satu orang yang di kendalikan oleh musuh. Orang tersebut menyuruh Beni menjauh tetapi Beni menolak untuk menjauh. Ia juga membawa pisau di genggamannya.
"Coba lawan aku! Semampumu aku akan terus meladeni mu sampai kau lelah!"kata Beni yakin dan bersiap siaga.
Dari atas gedung bertingkat di sana ada seorang gadis memakai pakaian ungu dengan mata berwarna ungu sama persis dengan pakaian di kenakannya. "Cih, coba saja kalau bisa. Aku akan mengumpulkan banyak orang untuk menghabisi kalian!"serunya mengendalikan boneka-boneka barunya. Seulas senyum terukir jelas di sudut bibirnya.
Pandu mencoba melumpuhkan anggota tubuh orang sementara waktu. Kaki sudah berhasil di lumpuhkan lalu tangan berhasil di lumpuhkan. Hana yang melihat itu tidak tega karena hati orang tersebut sangat menderita.
"Cih. Siapa sih yang melumpuhkan bonekaku? Enyahlah kalian manusia imajinasi lemah!"gerutunya menambah pasukan boneka manusia menyerbu orang yang berani melumpuhkan salah satu bonekanya.
Bening sudah lelah menyembuhkan kedua orang di hadapannya. Ia ingin sekali ambruk tetapi ia berusaha kuat dan terus menerus mengobati luka orang itu sampai Bening tidak menyadari kalau di belakang ada seseorang yang mengayunkan tongkat menuju ke arahnya.
Puk!
Mata Bening terbelalak lalu ambruk ke tanah setelah mendapatkan pukulan dari belakang. Orang yang dikendalikan musuh menjerit telah memukul orang tidak bersalah.
"Aaaaa!"pekik orang tersebut.
Ketiga temannya yang mendengar suara keras tersebut mengalihkan pandang. Beni yang lengah pun terkena tusukkan dari orang di depannya. Mulut Beni mengeluarkan darah segar.
"Aaa!"orang yang tubuhnya di kendalikan oleh seseorang berteriak histeris telah menusuk orang tidak bersalah.
"Anak muda bangun!"kata orang tersebut melihat Pemuda di hadapanya ambruk memegang perut yang terkena tusukan.
Hana berdiri di belakang Pandu melihat mereka berdua di kepung oleh pasukan orang yang dikendalikan.
"Sial. Aku nggak bisa melumpuhkan mereka semua membutuhkan banyak kekuatan!"umpat Pandu.
Hana juga merasakan hal yang sama ia di sini hanyalah sampah tidak berguna. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa selain membaca isi hati orang.
"Pan. Ini gimana?"tanya Hana khawatir sekaligus takut.
"Semoga saja bantuan akan segera datang. Aku akan melumpuhkan beberapa orang disini dan kau terus di sampingku."ucap Pandu penuh keyakinan. Pemuda berambut panjang sebahu itu melumpuhkan orang tidak bersalah secara paksa.
"Maafkan aku!"gumam Pandu berhasil melumpuhkan tiga orang.
Orang-orang yang di kendalikan seperti boneka semakin lama semakin banyak. Dan ada salah satu seorang wanita paruh baya menodongkan pistol ke arah Hana.
Hana terbelalak melihat pistol itu. Pandu merasakan ada getaran tubuh Hana bergetar ketakutan,ia menoleh bersamaan meluncurnya peluru yang mengarah cepat ke Hana.
Pandu terbelalak lebar begitupun Hana melihat peluru tersebut menuju ke arahnya.
*Jangan Anggap Kami Lemah*
__ADS_1
Bersambung....