
Kedua kaki melangkah pelan menuju anak laki-laki tengah menangis menyandarkan punggung di tembok, ia melipat kedua tangan, menekuk kedua lutut dan menenggelamkan kepala di kedua lutut dan tangan. Samar-sama mendengar tangis anak itu. Lidya sudah berada di sampingnya dan duduk memegang pundak anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menoleh melihat seorang gadis asing memasang wajah khawatir dan sedih disampingnya. Lidya mencoba tersenyum meski ia sangat gugup, baru pertama kali ia mendekati anak yang tidak dikenalnya dan ingin sekali membantunya. "Adik. Jangan nangis, adik sudah aman karena aku ada disini."kata Lidya lembut.
Anak itu masih menangis dan mengeluarkan banyak air mata tanpa henti-hentinya, nafasnya pun sudah tidak karuan naik-turun, seragam yang dikenakan sudah basah karena air mata. Ia menggeleng, "aku tidak bisa berhenti nangis kak. Soalnya uang itu sangat banyak dan orang sepertiku tidak bisa menggantinya. Itu uang dagangan orang lain."kata anak itu terisak tangis.
Lidya mencoba tenang supaya emosinya tidak cepat keluar dari gunung. Ia berkali-kali tarik nafas, Lidya tidak tahu mengapa perasaan sekaligus emosinya terlalu memuncak dan gampang emosi. Ia tidak mungkin berlari sekencang mungkin buat menangkap ketiga pemuda tadi mengambil uang anak tidak bersalah.
"Baiklah. Namamu siapa?dari SMP mana? Dan dagangan siapa yang kau jual?"tanya Lidya pada anak itu.
Laki-laki berambut poni, pendek berwarna blonde hair itu membuka mulut. "Namaku Charlie Edward Brown. Aku dari SMP Negeri Tiga. Dagangan yang berhasil laku terjual itu dagangan milik Nenek yang aku temui di pasar. Kasihan kak, Nenek itu, kedua kakinya sudah tidak kuat berjalan jauh seperti dulu tapi nenek disuruh anaknya jualan di pasar."kata Charlie memperkenalkan diri dan sedikit menceritakan kisah sang nenek. "Padahal nenek sudah bilang kalau kakinya itu tidak bisa menempuh perjalanan jauh. Karena kakinya sering sakit."lanjutnya.
Keji sekali,batin Lidya menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Charlie,"kakak mau tanya padamu? Kata ketiga pemuda tadi, kakak dengar kau ikut karate tapi kau tadi tidak melawan mereka. Bukannya karate itu buat melindungi diri dari penjahat seperti mereka."kata Lidya memberi solusi pada Charlie.
Charlie diam sejenak, menatap manik mata cokelat terang yang dimiliki Lidya. "Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa karate, kak. Karena aku tidak fokus belajar karate dan aku susah diajari."kata Charlie putus asa.
"Tenang, kau bisa diajari karate kok. Kau perlu fokus saja, ada alasannya kan kamu nggak bisa fokus."Charlie mengangguk, Lidya tersenyum,"kau tidak bisa fokus karena kau memikirkan tiga pemuda yang sering menghajarmu sepulang sekolah karena mereka tahu, kalau kau tidak bisa karate, melenceng banget dengan rumormu yang mengatakan kau bisa karate."kata Lidya tersenyum sumringah. Charlie menatap Lidya seperti Malaikat yang datang buat menolongnya.
Wajah Charlie sumringah mendengar perkataan Lidya yang sangat benar, tidak ada celah yang salah dari mulut kecilnya itu. "Wah,kakak benar sekali. Mengapa kakak bisa tahu semua?padahal kakak baru kenal Charlie beberapa menit lalu."katanya girang membuat Lidya terkejut sekaligus senang melihat Charlie periang ini.
"Hmm."Lidya bergumam dan menggaruk kepala yang tidak gatal. "Hmm,kakak hanya menebak saja. Soalnya kakak punya tokoh seperti Charlie."lanjutnya agak kebingungan harus mengatakan apa pada Charlie.
"Wah, berarti kakak seorang penulis dong."tebak Charlie. Lidya mengangguk mengiyakannya.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan ingin menemui nenek di pasar. Perjalanan menuju pasar tidak jauh hanya beberapa meter dari gang sempit itu. Charlie begitu banyak bercerita tentang dirinya dan ia sering membantu nenek jualan. Lidya benar-benar terpukau dengan Charlie, ia memiliki sosial tinggi dan peduli dilingkungan sekitar.
Tinggi Charlie sepundak Lidya dan umur Charlie sudah 14 tahun. Lidya kira umurnya masih 13 tahun. "Berarti kamu udah lama bantu nenek?"tanya Lidya.
"Iya, kak Lidya. Aku kasihan banget sama nenek. Harusnya nenek itu dirawat sebaik mungkin di rumah eh malah disuruh jualan sama anaknya."jawab Charlie.
"Astagfirullah. Itu dosa besar."
"Iya,itu dosa besar."kata Charlie.
Mereka sampai pasar dan Charlie berjalan memimpin mencari sosok nenek. Kata Lidya, ia harus jujur kalau hari ini ia mendapatkan musibah. Ingin rasanya Charlie mencari uang buat mengganti uang nenek, ia takut kalau nenek kenapa-napa. Kedua matanya berhasil melihat sosok nenek yang tidur begitu nyenyak di emperan toko.
Lidya yang melihat sosok nenek di depannya sangat kasihan. Zaman yang sudah modern masih saja ada pengangguran. Ya meski hanya di ibu kota semua sudah fasilitas modern. Hanya separuh kota yang memiliki fasilitas modern, sisanya menunggu beberapa tahun lagi.
Charlie duduk disamping nenek dan menepuk pundak kurusnya. "Nek, bangun nek."ucapnya pelan.
Nenek mengangguk,"iya, nenek janji. Nenek nggak akan ngejauhin Charlie. Karena Charlie sudah membantu nenek dagang. Charlie nggak pernah malu kan jualan kue nenek."ucapnya mengelus pipi Charlie seperti cucunya yang masih berumur 6 tahun. Wajah Charlie itu masih imut dan lebih mudah.
"Nek. Maafkan Charlie nek. Charlie nggak bisa mengembalikan uang dagang nenek. Uang dagang nenek diambil sama kakak kelas Charlie. Charlie nggak bisa apa-apa selain membujuk mereka, jangan mengambil uang itu. Aku nggak bisa mengganti uang nenek."kata Charlie sejujurnya. Nenek hanya tersenyum tipis dan mengelus rambut halus Charlie.
"Tidak apa-apa. Besok Charlie bisa dagang kue nenek lagi."
"Tapi bagaimana uang itu nanti nenek dimarahin lagi sama anak nenek."kata Charlie langsung dipeluk oleh nenek. Nenek mengelus punggung Charlie,"tidak, nenek sudah menganggap cucu nenek baik. Nenek berdoa pada Allah biar anak nenek dibukakan hati mereka."kata nenek. Mereka melepaskan pelukannya, "iya, aku juga akan berdoa bantu nenek."
Hati Lidya begitu tersentuh melihat seorang nenek menganggap Charlie adalah cucunya. Satu tetes air mata berhasil jatuh membasahi pipi Lidya, ia tidak menyangka kalau ada seorang anak seperti Charlie, setulus hati Charlie yang senang hati menolong nenek rentah ini. Nenek menoleh melihat Lidya yang berdiri di sana dengan air mata bahagia sekaligus terharu.
"Charlie membawa teman?"tanya nenek. Charlie menyuruh Lidya duduk disampingnya. Laki-laki itu memperkenalkan Lidya dengan perasaan bahagia,"Nek. Perkenalkan ini namanya kak Lidya. Ia telah memberiku semangat tadi waktu Charlie terkena musibah yang kurang menyenangkan. Dan dia seorang penulis loh,Nek!"ucapnya senang.
__ADS_1
Lidya hanya mengangguk dan tersenyum. Nenek merasa senang ada Lidya disini. "Apa itu benar,Nak Lidya?"tanyanya tersenyum.
Lidya mengangguk,"iya nek. Aku hanya iseng menulis cerita saja dan ada beberapa orang yang bilang aku seorang penulis. A-aku merasa tidak enak kalau dipanggil seorang penulis."jawab Lidya tidak enak.
"Kak. Coba ceritakan padaku, tokoh cerita kakak yang sama denganku. Kata kakak, Kak Lidya punya."pinta Charlie Brown untuk Lidya ceritakan tokoh cerita itu. Lidya merasa senang ada orang yang ingin mendengarkan ceritanya ini, pembaca sering mampir di cerita bergenre fiksi remaja bukan fantasi.
Baru kali ini ada orang yang meminta menceritakan cerita fantasi. Ah, akhir-akhir ini Lidya sering menulis genre fantasi tapi disisi lain ia harus menulis genre romantis. sampai sekarang ia belum menyelesaikannya. Nenek dan Charlie menunggu Lidya buat menceritakan kisah yang sifatnya persis seperti Charlie.
Lidya menghela nafas panjang lalu mulai bercerita tentang kisah seorang gadis bernama Vira. Gadis itu terus menceritakan kisahnya sampai ada seorang laki-laki tampan seperti seorang pangeran. Laki-laki itu sangat perhatian banget ke Vira, ketika gadis bernama Vira merasa senang. Tubuh laki-laki itu bersinar seperti Bintang. Ekspresi Charlie berbinar-binar mendengar cerita yang baginya menyenangkan dan banyak motivasi.
"Wah ceritanya Bagus kak. Nama laki-laki itu, Cahya kan?"tanya Charlie memastikan dibalas angguk Lidya.
"Yup, namanya Cahya. Jika kau ingin tahu nama lengkapnya adalah Hey Newt Cahya. Unik bukan?"jawab Lidya.
"Haha, lucu banget. Aku juga sering begitu pada Nenek kalau ada sesuatu yang terjadi pada nenek, aku merasa cemas dan campur aduk gitu."kata Charlie bercerita sedikit menatap ke arah Nenek yang tengah tersenyum. Nenek mencolek hidung Charlie, "berarti Nenek sama Charlie punya ikatan batin."kata Nenek. Lidya tertawa dan menggeleng.
Awan mulai mendung tanda hujan akan turun. Charlie menyuruh Lidya cepat-cepat pulang sedangkan ia akan mengantarkan nenek kembali ke rumah. Lidya ingin ikut sama Charlie tapi Charlie menolaknya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih atas motivasinya telah membangkitkan semangat jiwa karatenya. Gadis itu mengangguk dan menatap punggung Nenek dan Charlie yang semakin lama semakin menjauh.
Orang-orang segera berteduh, kedua kaki Lidya melangkah cepat menuju ke rumah dalam hatinya ia akan berteduh di suatu tempat. Air hujan sudah turun dari langit lalu turun begitu deras. Lidya berlari berteduh di sebuah halte bus, pakaian seragamnya basah.
"Duh, basah lagi. Untung besok pakai baju batik."keluhnya melihat seragamnya basah.
"Hei,mengapa kau berdiri disitu?"ucap seseorang dingin dengan nada lantang. Lidya terlonjak kaget, mengelus dada dan menoleh siapa yang berteriak ketika hujan deras seperti ini.
"Dia lagi?"gumamnya pelan.
*Jangan Anggap kami lemah*
__ADS_1
Bersambung...