Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Sembilan Puluh Enam: Bala Bantuan Datang


__ADS_3

   Semua sudah berada di lokasi kejadian di mana semua orang di kendalikan oleh seseorang bagai boneka. Fitri berlari sangat kencang membuat  orang-orang disekitarnya bingung dan ambruk. Ia sangat senang kalau misinya saat ini sangat lah mudah gadis tersebut kembali berlari cepat bagai cahaya.


Ternyata ada satu orang berdiri dengan belati di tangannya dari belakang orang itu berusaha membuang muka tapi tidak bisa. Orang tersebut terus berteriak, Fitri yang penasaran memilih untuk menghampiri melihat apa yang sebenarnya terjadi. Betapa terkejutnya saat sampai di tempat itu.


Matanya membulat sempurna mulutnya menganga, ia menutup mulut dengan kedua tangannya berteriak.


"BENI!"teriaknya lantang melihat Beni sudah tergeletak penuh darah yang sudah menjadi genangan. Fitri mengepalkan tangannya ia meninju orang di depannya, pingsan. Lalu Fitri segera menolong Beni pertolongan pertama.


"Ben, ku mohon bertahanlah."ucap Fitri memohon kalau Beni mampu bertahan hidup meski harus banyak kehilangan darah. Fitri hanya bisa berdoa saja.


  Di sisi lain Yusuf melihat seluruh kota begitu banyak orang yang sudah dikendalikan oleh musuh. Yusuf tertawa terbahak-bahak ia memandang semua ini seperti permainan yang sangat nyata. Yusuf akan membuat semua orang sadar dengan tingkat keusilan yang ada di benaknya.


  Pemuda tersebut mencari kelompoknya yang tenyata sibuk mulumpuhkan orang-orang tersebut sampai pingsan. Ia melihat Radit yang tidak mood melawan musuh.


"Radit!"panggilnya membuat si pemilik nama menoleh melihat pemuda gila datang padanya.


"Apa?"balasnya malas.


"Yuk kita membuat kejailan pada orang-orang ini terus bagian akhirnya adalah tuannya yang mengendalikan orang bak boneka."katanya penuh semangat menyunggingkan seulas senyum.


Radit menimbang-nimbang dan setuju dengan Yusuf daripada ia merasa bosan di sini sebab tidak ada satu orang pun yang menghampirinya padahal dari tadi Radit hanya duduk memandangnya. Mereka seolah nggak melihat keberadaan Radit.


Kenapa musuh tidak bisa melihat Radit karena ia memilih aura penyendiri sama seperti Imagination Alone. Namun, Radit ini meski memiliki aura penyendiri dia akan terus berusaha untuk menjadi terkuat tidak seperti yang lain dan juga ini bertantangan dengan sifat malasnya.


"Baiklah. Aku udah nggak sabar dengan permainan baru ini."kata Radit mengikuti Yusuf mengarah ke tempat di mana Tya dan Veno sedang melawan musuh.


  Gadis berambut keriting itu malah tidur bersandar di dinding perusahaan. Veno terus mengalahkan orang-orang dengan menatap topeng penghipnotis yang membuat siapa saja menatap topeng tersebut akan tidur. Kalau Tya tidak gegara menatap topeng tidur Veno. Tidak, ia sendiri yang memutuskan untuk tidur dalam keadaan genting saat ini.


"Aaa, aku tidak tahu. Apa yang dipikirkan oleh Lidya aku harus bersama gadis kebo ini. Dan Radit malah memilih santai di tempat jauh. Cih."gerutunya terus menyuruh orang-orang di sana mendekat ke arah nya dan langsung tidur.


"Tataplah mata topengku ini. Biar kalian bisa tidur mimpi Indah."ucapnya terkekeh.


   Ada 6 orang yang berjalan mendekati Tya yang tidur pulas. Keenam orang itu sudah menyiapkan senjata di genggaman masing-masing buat membunuh imajinasi yang singgah di gadis tidur itu.


Salah satu dari mereka berlari dan mengangkat kayu ke atas berharap bisa memukul kepala Tya sampai hancur. Tetapi tangan orang tersebut tertahan dan dilihatnya ada genggaman tangan kuat yang menggenggam pergelangan tangannya.


Lalu munculah seorang lelaki memakai baju kesatria dan rambut panjang di biarkan tergerai. Ia menatap seorang pria paruh baya yang ingin membunuh tuannya.


"Mimpi yang indah, paman."ucap laki-laki tersebut memukul orang itu hingga pingsan. Datanglah seorang laki-laki dengan sayap malaikat dan berdiri di samping laki-laki berbaju kesatria,Liam.


"Aku tidak mengerti kenapa kita harus bersemayam di dalam tubuh manusia."katanya di balas kekehan Liam melirik ke arah temannya, Davit.

__ADS_1


"Kita kan hidup di alam mimpi dan untunglah gadis itu bisa memanggil kita ke dunia nyata buat mengalahkan musuh sebenarnya. Kalau tidak gadis itu akan terjebak di dunia mimpi kalau mati kau akan mengerti kan apa yang akan terjadi?"jelasnya singkat melirik mengarah temannya itu.


Davit mengangguk mengerti kalau Tya mati. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. "Iya. Ayo kita tidurkan mereka semua biarkan mereka merasakan alam surga sebab mereka semua tidak salah dengan masalah ini."kata Davit.


"Itu baru rekanku."kata Liam menyerang kelima orang tersisa sampai pingsan lalu Davit memberikan mimpi indah hidup di surga agar mereka tidak ingat dengan kejadian yang di ciptakan oleh musuh.


   Chalire merasakan ada aura yang tidak pernah ia rasakan selain aura senang dan kesedihan. Ini cenderung aura mati telah di kalahkan oleh musuh dengan mudah. Ia melihat Bening tergeletak tidak sadar diri beberapa meter darinya.


"Kak Bening!"panggilnya berlari cepat mengarah ke depan dan berjongkok,ia melihat ada bekas di balik kerudungnya yang sedikit terbuka, pukulan di belakang leher.


Ia melihat sekeliling ada musuh yang mau mendekat. Sling! Pedang Cahaya milik Charlie sudah mengenai orang yang tiba-tiba muncul dari belakang. Pemuda tersebut bangkit berdiri ia bisa membaca taktik penyerangan musuh.


"Pantas saja Kak Bening kalah mudah disebabkan ada musuh yang menyerang dari belakang. Bodoh!"ucap Charlie tersenyum tipis. Ia melihat semua orang mengarah ke arahnya tentu dengan kelompok.


  Charlie tertawa gembira membuat cahaya di tubuhnya bersinar seperti matahari. Memang Charlie tidak tahu asal muasal kekuatan ini di dalam tubuhnya dan membuat orang di rumahnya panik. Satu hal yang ia ingat, Lidya--gadis itu telah membujuknya dan mengubah sikap Charlie tidak cengeng karena masalah uang di pajak oleh kakak kelas.


Dan Lidya juga sempat menceritakan kisah Cahya, seorang pemuda yang sikapnya dingin dan tidak terlalu peduli dengan orang lain. Setelah pemuda bernama Cahya itu mendapatkan kekuatan yang  bisa merasakan kesedihan, kesenangan orang lain. Ia peduli dan tahu hal mengapa orang-orang memiliki sifat dan kebiasaan berbeda.


"Aku akan memberikan cahaya! Agar musuh yang hanya memanfaatkan kalian sadar!"seru Charlie mengeluarkan pedangnya, ia melihat musuh akan menyerang bebarengan.


"Berikan aku cahaya pelindung!"ucapnya. Di sekeliling pemuda itu sudah ada lingkaran yang melindungi Charlie dan Bening.


Saat orang-orang itu menyerang dan berlari ke arah lingakaran. Lingkaran tersebut mengeluarkan cahaya besar. Roro yang mengendalikan boneka-boneka melotot melihat kekuatan yang begitu besar dari arah barat. Ia seperti melihat ledakan besar tidak hanya itu saja tidak jauh dari arah barat ada benda yang terbang sangat cepat dan tawanya membuat telinga Roro sakit.


"Aku harus melarikan diri dan membiarkan sisanya dilumpuhkan."ucapnya melepaskan sisa bonekanya berbalik badan segera pergi menyelamatkan diri sebelum ada yang menghadangnya.


  Ia berlari melompat ke gedung satu ke gedung lain berharap Meika dan juga Keysa turun tangan sekarang. Roro sudah tidak bisa melakukan serangan pembalasan dendam sebab kekuatannya sudah hampir habis harus mengendalikan seluruh orang yang tinggal di sini.


Ia tahu, kalau Keysa akan marah besar tapi apa daya Roro hanya memiliki kekuatan terbatas. Roro melompat satu gedung lagi. Sudah melompat sebanyak lima gedung tiba-tiba jantung Roro berhenti sejenak lalu berdetak lemah. Ia tertunduk dan kedua lututnya menekuk, tangan kanan memegang jantungnya.


Detak jantungnya berkurang hampir kehabisan nafas tetapi ia berusaha untuk menahan rasa sakitnya. Tidak menyangka penyakit mematikan itu kambuh lagi padahal sudah lama tidak kambuh.


"Sial. Ka-kalau be-begini aku ti-tidak bisa kabur."ucapnya berusaha menahan sakitnya.


"Kau sudah tidak bisa kabur lagi, musuh."ucap seseorang membuat Roro mendongak melihat seorang gadis berambut pendek dan gadis yang memiliki body seperti barbie berdiri di hadapannya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


  Lidya, Tera dan Tio berlari menuju dimana kota di serang oleh Jangkrik berukuran besar, Kota bagian Selatan. Mereka bertiga tidak peduli dengan jarak berapa mil menuju kota tersebut.


"Kalau kita lari terus seperti ini, kita nggak bakal sampai ke sana."kata Tio seperti putus asa di sahut bantahan dari Lidya tatapannya menusuk sepertinya gadis itu sudah serius.

__ADS_1


"Kita akan cepat kesana kalau kau tidak panik, Tio!"


"Harusnya kau berfikir dari tadi. Kau kan bisa berubah wujud sesukamu."lanjut Lidya menatap lurus jengkel. Tio menepuk jidat ia tidak berpikir kalau dia memiliki kekuatan berubah wujud.


Bodoh


Kalau ia tadi berpikir sejak awal ia dan teman-temannya tidak akan capek-capek lari begini.


"Maaf. Aku lupa soal itu. Aku tahu deh, perempuan itu selalu benar dan laki-laki banyak salah."kata Tio melas. Lidya melirik Tio tersenyum miring.


Tera yang udah nggak sabaran menyuruh Tio berubah wujud. Tio menghela nafas kasar dan membatin kalau dua gadis yang bersamanya ini mau kedatangan bulan bawaannya marah terus.


"Kalian berdua pegang tangan kanan-kiriku agar kita bertiga bisa berubah wujud!"titah Tio pada dua gadis bersamanya. Mereka berdua memegang tangan Tio, pemuda tersebut tersenyum menatap ke depan ia sudah tidak sabar buat bertarung. Selama ini ia hanya bersembunyi dan tidak berani bertanggung jawab atas kecerobohannya.


  Mereka bertiga berubah menjadi burung merpati, terbang melintasi awan biru mengepakkan kedua sayap hingga ke tujuan.


    Setengah jam kemudian mereka sudah sampai ke kota bagian Selatan. Tio, Lidya dan Tera melihat kota ini tidak percaya. Lidya juga tidak percaya apa yang dilihatnya ia melihat dengan seksama dan rasa keanehan di dalam tubuhnya terasa kembali. Ini seperti di pertengkaran kucing berantem,ia bisa melihat tanda aneh serta aura hitam di salah satu kucing itu.


Sekarang keanehan itu kembali ke diri Lidya. Gadis itu bisa melihat sebelum kejadian kota Selatan jadi kota mati. Tera melihat beberapa gedung hancur serta orang-orang di sini mati tidak tersisa, sungguh ini adalah pembunuhan secara membabibuta.


Tera yakin kalau musuh ini adalah bukan manusia melainkan iblis. Tio  menghampiri salah satu orang yang tertimbun bangunan. Dilihatnya musuh yang menyerang di kota ini tidak tega ia harus melakuan tindakan keji.


Dahi Tera berkerut membantah perkataan Tio, "Mana mungkin kau bisa menyimpulkan seperti itu. Lihatlah kota ini...kota ini sudah mati!"ucapnya melihat sekeliling begitu banyak orang tergeletak tidak bernyawa di berbagai sudut.


"Apa kau tidak bisa melihatnya!"ucapnya marah menunjuk salah satu orang yang mati.


Tio tidak bisa menjawab bantahan Tera jika kalau Tio menjawab, takutnya Tera tidak paham penjelasannya. Gadis itu menoleh ke arah Lidya yang sedari tadi diam tidak membuka satu katapun, Tera ingin angkat bicara.


"Lari!"titah Lidya membuat Tera dan Tio melotot.


"Lari!"titahnya lagi tetapi mereka berdua sama sekali tidak berlari.


"Cepat Lari!"titahnya melihat kedua temanya masih belum juga lari tak ambil pusing Lidya menarik tangan keduanya berlari sejauh mungkin.


Tanah tiba-tiba berguncang hebat dan di bawah kaki mereka bertiga runtuh.


"Aaaaaa!"


Teriak mereka bertiga masuk ke lubang besar tersebut.


*Jangan Anggap Kami Lemah*

__ADS_1


Bersambung...


Hai semua, Jangan Lupa Like dan commentnya. Jangan lupa tekan favorit biar tahu updatenya "Jangan Anggap Kami Lemah" serta Votenya ya guys. Terima kasih semua para pembaca setia🤗


__ADS_2