Jangan Anggap Kami Lemah

Jangan Anggap Kami Lemah
Sembilan Puluh Dua:Mata-mata


__ADS_3

  Setelah penyerangan musuh usai semua murid membersihkan dahan-dahan pohon yang menutupi akses jalan. Bangunan sekitar SMA Strength banyak yang hancur dan halaman yang kotor. Pemuda Vin itu mengepalkan tangan ia ingin sekali bertemu dengan musuh yang sukanya bersembunyi dan tidak menampakkan diri serta dan sukanya menyerang secara tiba-tiba.


  Ia yakin kalau musuh sudah ada di depan mata hanya saja belum menunjukkan diri. Aura hitam milik Vin bertambah kuat membuat siapa saja yang dekat dengannya akan merasakan aura horor yang membuat bulu kuduk merinding. Abimanyu segera berada di samping Vin untuk me-Non Aktifkan kekuatan milik Vin. Kalau pemuda itu mengeluarkan banyak kekuatan berjumlah besar akan berbahaya.


Selama ini Vin sering melatih kekuatannya tanpa ada yang tahu, sebab Vin sering berlatih pada malam hari di tempat yang sepi dan tidak pernah di jamak oleh orang atau bisa di bilang Angker. Pemuda tersebut sudah kebal dengan suasana sepi apalagi tempat yang banyak makhluk tak kasat mata. Bisa di bilang kekuatan Vin, kekuatan paling gelap dan berhubungan dengan hantu-hantu.


  Oleh sebab itu ia sama sekali tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain karena alasan takut lawan bicaranya merasa takut. Jangankan bicara hanya berada di sampingnya aja udah ketakutan seperti melihat hantu. Tetapi Vin tidak kenal buat menyerah meski ia mendapatkan kekuatan terkutuk ini entah dari mana asalnya, ia merasa bangga dan berterima kasih karena bisa menolong orang walau tidak di anggap. Itu sudah membuat Vin senang.


Apalagi waktu itu Vin menolong berapa orang yang ada di dalam bus kehilangan kendali. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menghentikan meskipun semua orang harus takut karena melihat makhluk mengerikan. Akan tetapi ada seorang gadis yang berusaha untuk mengucapkan terima kasih.


Gadis itu adalah Lidya, dia seorang gadis yang tidak takut padanya dan Vin tidak tahu apakah ia menyimpan rasa takut atau tidak. Abimanyu menghela nafas panjang melihat kakak kelasnya tersebut,"Kak Vin, Jangan mengeluarkan banyak kekuatan nanti kakak bisa---"ucapnya terpotong oleh Kevin.


Pemuda yang terkesan malas melakukan apapun dan semuanya di anggap membuang waktunya saja, melihat semua sudah tertata rapih. "Yuk, kita ke kantin perutku sangat lapar nih!"ajaknya di balas angguk Vin dan Abimanyu.


  Suasana kantin sangat ramai banyak sekali murid menyerbu minuman untuk menghilangkan rasa haus dan makanan untuk memulihkan stamina atau ke kekuatan. Kevin menghela nafas kasar melihat kantin sudah ramai seperti pasar malam.


Kevin melihat Vin yang sedari tadi diam, "Eh Vin mau beli apa?"tanyanya. Vin menoleh ke arah Kevin sejenak lalu menatap ke depan menyapu pandang tidak ada kursi kosong.


"Makanan sepertimu saja dan bawa ke kelas. Di sini nggak ada meja kosong."ucapnya singkat tidak ambil pusing.


Di dalam kelas ketiga pemuda tersebut makan bersama. Kentang detektif Lidya mengawasi ketiga pemuda tersebut dan memasang telinga lebar-lebar meski dia nggak punya telinga setidaknya bisa mendengar dari lubang kecil yang sengaja Lidya ciptakan.


"Tadi aura kegelapan dari siapa ya?"tanya Kevin membuka suara. Abimanyu menelan makanan rotinya menatap pemuda berambut hitam seperti landak.


"Itu aura kegelapan dari penjaga kegelapan."jawabnya membuat Kevin kaget sedangkan Vin hanya menatap Abimanyu santai seraya memakan makanannya hingga habis.


"Penjaga kegepalan, Dia adalah Gavin. Seorang pemuda setengah elang. Dia itu memiliki sayap elang dan kedua matanya begitu tajam seperti burung Elang. Tidak hanya itu saja dia itu pemberani."jelas Abimanyu.


"Kenapa di sebut Penjaga Kegelapan?"


"Karena dia itu memiliki pedang bawah tanah dan berjanji ingin melindungi semua dari kegelapan."ucap Abimanyu santai.


"Kenapa kau tahu sekali tentangnya?"tanya Kevin Kepo.


"Karena aku pernah bertemu dengannya setelah bertemu Kak Vin."jawabnya membuat Vin tersedak makanannya dengan cepat meminum air, meneguknya setengah. Nafasnya naik-turun.

__ADS_1


Kevin yang ada di depannya terkejut melihat Vin tiba-tiba tersedak padahal tidak ada orang yang membuat ia buru-buru. "Vin, Kau tidak apa-apa?"tanyanya memastikan.


Vin menatap Abimanyu penuh tanya dan kenapa ia tidak tahu tentang Penjaga Kegelapan yang kuat itu. "Kau bertemu dia dimana?"tanya Vin.


Abimanyu mengingat-ingat,"di depan warung baso. Ia berada di sana waktu itu duduk santai. Ya... Pertemuan singkat lah, terus ia pergi entah kemana?"ucapnya tersenyum, "terus ia tiba-tiba datang menyelamatkan kita. Mungkin dia juga udah pergi."lanjut Abimanyu, Vin menghela nafas kasar.


"Memangnya kenapa kalau dia itu pergi?apa kau ada perlu sama dia, Vin."tanya Kevin seolah tahu apa yang diingankan oleh temannya ini.


"Tidak ada keperluan. Hanya saja kalau dia ada di sini mungkin musuh kita akan menampakkan diri."kata Vin menelan air ludahnya.


Entah kenapa aku merasakan ada aura jahat dari makhluk besar lagi sama persis di titik tiga waktu itu. Apa mungkin kucing yang aku kirim menemukan sesuatu? --- batin Vin. Dahi pemuda itu berkerut menatap kedua temannya bergantian.


"Kalian berdua ikut aku!"perintahnya bangkit berdiri dan berjalan tanpa ada penjelasan pergi kemana. Kevin yang mau bertanya tiba-tiba pergi begitu saja memilih untuk mengurungkan niat bertanya dan mengikuti Vin pergi. Abimanyu sama seperti Kevin, mengikuti Vin yang tiba-tiba saja pergi.


Di dalam hati Abimanyu merasa kalau ada energi besar. Di tubuh Abimanyu pun sudah merasakan ada tanda bahaya. Kentang detektif memilih untuk kembali dan membagi tahu Lidya.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


"Apa? Kau bukan---"


Lidya tidak memiliki hak untuk marah karena beberapa imajinasi bisa saja keluar dari tubuh manusia dan berpindah ke tubuh manusia lain. Ia tidak tahu apa tujuan imajinasi-imajinasinya. Yah padahal Lidya ingin merencanakan sesuatu agar Tomma keluar dari tempat persembunyiannya.


"Berarti waktu di loteng waktu itu? Bohong?"tanya Lidya menatap gadis itu.


"Iya. Aku terpaksa berbohong. Dan sebelum ia benar-benar menjauh, dia kata... Aku percaya pada penulisku ia akan mencari solusi yang lebih baik jadi aku sudah memenuhi syaratku dan aku akan kembali."jelasnya memberitahu pesan apa yang di katakan imajinasi tersebut yang benar-benar meninggalkan tubuh gadis ini.


Lidya berbalik dan menutup matanya sejenak. "Apa yang kau rencanakan pangeran? Dia ingin sekali bertempur denganmu."gumamnya menarik nafas dalam-dalam. Ia berbalik menatap temannya itu.


"Sorry, Put. Kalau aku sempat marah denganmu. Aku nggak bermaksud----"


"Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu. Aku sendiri juga ingin semua ini berakhir. Sebagai rasa bersalah aku tidak memberitahumu, Lidya."ucap Tera memegang kedua bahu temannya menatap Lidya serius.


"Aku akan bersedia menjadi umpan buat menarik Tomma. Kau yakin kan kalau semua ini gara-gara dia!"ucap Tera menyakinkan temannya.


Lidya mengangguk yakin,"Ya, aku sangat yakin kalau semua ini adalah dia. Sebab ia sudah menghampiri ke alam mimpiku. Persetan percaya dengan tahayul yang terpenting. Aku sudah tahu semuanya!"ucap Lidya penuh semangat.

__ADS_1


Kemudian datanglah kentang detektif melewati celah pintu perpustakaan. Kedua gadis itu menoleh melihat kentang berpakaian layaknya detektif membuat Tera ingin bermain sama kentang itu.


"Wah lucunya kentang ini!"serunya berjongkok melihat seksama kentang detektif itu.


"Popopopopo!"ucap kentang itu geleng-geleng seolah tahu kalau Tera ingin menggendongnya mengajaknya berputar-putar layaknya boneka.


Lidya hanya terkekeh kecil dan berjongkok melihat detektif mata-matanya selesai bertugas.


"Kentang detektif. Apa kau sudah mendapatkan informasi dari mereka?"tanyanya membuat Tera menoleh ke Lidya. Ia terlihat sangat serius buat nyerang musuh sampai memata-matai temanya memiliki tujuan apa.


Hebat---batin Tera.


"Popopo!  Popopo!!"jelas kentang detektif itu meragakan apa yang di lihatnya membuat Tera semakin lama semakin gemes. Setelah kentang detektif itu selesai menjelaskan ketang tersebut menghilang.


"Loh kok ilang!"ucap Tera terkejut melihat kentang detektif yang lucu menghilang seperti angin membuat hatinya kecewa.


"Memangnya dia bilang apa saja sih, aku sama sekali tidak paham sama bahasa kentang."kata Tera menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dia kata kalau Vin, Kevin dan Abimanyu setelah membahas Penjaga Kegelapan. Mereka tiba-tiba pergi tanpa penjelasan apapun."jelas Lidya tersenyum.


"Kevin dan Vin. Namanya kok sama ya? Kalau di panggil Vin otomatis mereka berdua noleh barengan hahahaha."canda Tera membuat Lidya ikutan tertawa.


"Hahaha. Kau benar."kata Lidya berhenti tertawa.


  Lalu Lidya menggambar sesuatu di kertas membuat Tera kagum melihat gambaran Lidya menjadi nyata. Lidya kali ini menggambar burung dan menyuruh mereka untuk mengumpulkan teman-temannya buat rapat penting.


Burung-burung itu memutari langit perpustakaan dan Lidya berkata dengan lantang.


"Panggil semua teman-temanku yang dekat dan beberapa imajinasi lainnya untuk menyusun rencana!"teriaknya setelah Lidya memerintahkan semua burung itu. Mereka semua hilang dan membuat Tera terkejut menatap Lidya kagum.


*Jangan Anggap Kami Lemah*


Bersambung....


Ikuti terus cerita Jangan Anggap Kami Lemah. Jangan lupa tinggalkan jejak comment, vote dan tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan partnya. 

__ADS_1


__ADS_2